Waria Tua di Aceh

“Apa pernah terpikir kerja di tempat lain?”

“Nggak ada yang terima saya, dek. Saya jalan diejek, saya ngomong diejek juga. Semua orang nggak terima karena saya banci!”

Lima menit kemudian hanya terdengar helaan napas kami. Lampu sorot memercikkan cahaya ke sungai.

“Di sana banyak waria mencari pelanggan!” tunjuk Angel ke arah seberang sungai sebelah kiri. Di bawah pohon yang sepi. “Banyak pria mencari waria dengan bayaran murah!”

Saya mendengus. “Kenapa tidak mencoba ke sana?”

Angel terkekeh. Lambat-laun cerita sudah berbeda. Angel tak pernah diterima di golongannya sendiri. “Bahkan, dunia waria juga mencampakkan saya!”

Karena rupa jelek?

Saya terkekeh seorang diri begitu waktu tak lagi bersama Angel. Pria yang “memaksa” saya menyebutnya waria dibandingkan pria itu – katanya – akan mencari pelanggan. Saya tidak tahu pelanggan apa. Apakah untuk salonnya atau untuk memuaskan napsu dirinya plus harga tak lebih lima puluh ribu rupiah.

Masih tersisa sedikit kenangan Angel di dalam hati saya. Entah bagaimana saya menjabarkannya. Kegalauan yang terpendam. Kekecewaan yang entah Angel utarakan kepada siapa. Kebingungan yang berujung tangisan tak berakhir.

Angel seperti benar berada di antara langit dan bumi. Di dunia ini – bahkan – sama sekali tidak ada yang mau menerima kedudukan Angel sebagai “waria”. Mungkin saja karena Angel berpenampilan seperti wanita.

Mungkin juga salah karena fisik Angel tidak setegap seperti orang lain yang berjenis kelamin pria. Mungkin juga salah karena jenis kelamin Angel adalah pria. Belum tentu juga Angel sejahtera apabila dirinya terlahir sebagai seseorang dengan jenis kelamin wanita.

Angel bertahan dalam kekurangan yang dimilikinya. Berusaha supaya sesuap nasi terkunyah oleh mulutnya dan tergiling oleh ginjalnya. Langkah kakinya yang kian ringkih tanpa tahu ditujukan ke mana.

Saat langkah itu semakin lunglai, sanak famili saja tidak mau menerima kedudukannya. Saat dirinya tak sanggup lagi menyapu bedak di wajah orang lain, rejekinya sekonyong-konyong telah lenyap dari muka bumi. Saat “goyangan” tubuhnya tidak lagi selihai waria lain, jumlah booking-an bisa berkurang bahkan hilang sama sekali.

“Saya juga mau bahagia, dek!” kalimat ini masih tersimpan rapi dalam ingatan saya. Entah di mana saya tempatkan ucapan Angel sebagai penutup penjamuan malam kami. Bahagia seperti sangat absurd sekali.

Sulit saya definisikan karena bahagia bagi Angel belum tentu sama dengan bahagia yang saya mau. Satu hal yang mesti saya garisbawahi bahwa bahagia itu sifat naluriah – manusiawi.

Kehidupan Angel sebagai waria yang telah berumur mengajarkan banyak hal kepada saya. Pekerjaan yang tidak tetap. Penghasilan yang kadang ada kadang tidak. Arah hidup yang tidak terlihat. Kemolekan tubuh tidak lagi dirasa seiring perkembangan zaman.

Waria Tua di Aceh Menyedihkan Sekali

By bairuindra

Writer | Blogger| Teacher | Pemenang Writingthon Asian Games 2018 oleh Kominfo dan Bitread Publishing Partnership: [email protected] www.youtube.com/bairuindra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *