January 26, 2020

Benarkah Wanita dengan Gelar Pendidikan Tinggi Susah Dapat Jodoh di Aceh?

Wanita dengan pendidikan tinggi, Ilustrasi – sejarahhotspot.blogspot.com
“Kok
di Cantik itu belum menikah ya?”
Pertanyaan
ini kerap sekali muncul di benak masyarakat Aceh. Pernikahan memang sama, di
mana-mana demikian. Pertanyaan “Kapan kawin?” begitu menggoda orang-orang untuk
terus bertanya. Jodoh di tangan Tuhan tidak bisa lagi dijawab benar atau tidak
karena tidak semua orang selamanya berada dalam konteks yang demikian. Orang-orang
yang cenderung mengubris kehidupan orang lain sejatinya mulut besar yang susah
dihentikan.

Soal
pernikahan pula, di Aceh terlalu rumit untuk dibicarakan. Orang-orang Aceh
tidak bermain aman saja dalam urusan menikah. Menikah tidak semudah memacari
seorang gadis atau bermain dengan si ganteng yang putih mulus. Menikah di Aceh
akan bermain soal keturunan siapa dan bagaimana latar belakang pendidikannya.
“Si
Manis itu maharnya tinggi sekali!”
Mahar.
Kamu akan menemukan hal ini sebagai dasar sebuah pernikahan. Dalam Islam memang
telah disebutkan bahwa tanda pernikahan adalah mahar namun tidak menjelaskan
secara detail mahar itu berapa dan dalam bentuk apa. Di Aceh, mahar seorang
pria menikahi seorang wanita idaman adalah emas. Emas saja tidak cukup apabila
keluarga si wanita tidak mau menerima pinangan dari seorang pria yang cuma bekerja
sebagai tukang bangunan. Strata pekerjaan sangat menentukan seorang pria
mendapatkan jodoh di Aceh. Strata pendidikan seorang gadis pun mengemukakan
dirinya sebagai pemain ulung dalam sebuah pernikahan. Gadis yang akan dilamar
dengan pendidikan tinggi sekonyong-konyong memasang ‘tarif’ tinggi pula. Wanita
yang demikian seperti tidak mau melirik pria yang bekerja sebagai tukang kebun
walaupun memiliki emas dalam jumlah banyak. Bagi wanita dan keluarga wanita
yang telah menempuh pendidikan sampai ke luar negeri, jodoh terbaik untuknya
dan bagi keluarganya adalah pria yang setara dengan dirinya.
Dan,
pertanyaan pada judul artikel ini seakan membenarkan bahwa wanita yang mencari
pria bukan sebaliknya. Wanita yang memasang sabuk pengaman terlalu erat semakin
hari makin bertambah umur. Pria yang ditolak tentu saja tidak mau berdiam diri
dengan seorang wanita saja. Bahkan, wanita dengan panjang gelarnya tersebut
bukan tidak mungkin dijauhi oleh pria karena takut dicambuk terlebih dahulu. Pria
sadar diri dan mencari aman dengan wanita yang sepadan sehingga tidak berani
mendekati wanita dengan gelar profesor. Pria merasa kerdil sebelum mengetuk
pintu karena hukum alam akan berlaku dengan sendirinya. Sekali saja wanita
dengan gelar pendidikan tinggi ini menolak, maka pria akan berlari ke pintu rumah
sebelah yang bisa saja lebih mekar dari senyuman dan tata krama.
“Dia
kan sudah S2 di luar negeri!”
Tanpa
disadari bahwa pelebelan ini begitu berlaku di Aceh. Wanita yang telah menempuh
pendidikan tinggi sampai ke luar negeri, dengan sendirinya akan mematok mahar
cukup tinggi pula. Entah beginilah pola hidup, entah karena kebiasaan
masyarakat, atau karena ego keluarga dari wanita yang demikian adanya. Emas dengan
nilai 10 mayam (1 mayam sama dengan 1.33 gram), akan dilempar melalui jendela
dari wanita yang akan naik jabatan di kampus ternama ini. Keluarga terpandang
dengan segenap keharmonisan dan keharuman anaknya paling tidak menerima emas
sebesar 20 mayam saat melamar. Belum lagi jika berbicara adat pernikahan Aceh
yang beragam, emas saja tidak cukup tanpa memenuhi kamar dengan peralatan rumah
tangga sampai puluhan juta.
Begitukah
mahar seorang gadis yang baru saja pulang dari luar negeri? Bagai dua sisi mata
uang, pertanyaan ini adakala benar. Lirik kiri dan kanan, beberapa lulusan
pendidikan tinggi belum menikah di atas usia 30 tahun. Saat rekan-rekannya
sedang bersenang-senang bersama suami dan anak, ia masih melawan ego membimbing
skripsi mahasiswa. Saat teman-teman seusianya mengurus rumah tangga, ia masih
mempertimbangkan pria tetangga yang tak mau melamar. Hasrat hati mungkin saja
ingin tetapi karena telah memasang tarif pada kali pertama, pria lain
memundurkan langkah untuk mengetuk pintu rumahnya.
Jodoh
tak akan lari ke mana namun apabila terus ditolak, jodoh akan lari ke
mana-mana. Wanita dengan gelar pendidikan tinggi mungkin saja terlalu sibuk
dengan disertasi atau memang tidak mau menerima emas dengan jumlah sedikit. Mungkin
saja mereka mengalkulasikan biaya pendidikan dan meninggikan titel luar negeri.
Pernikahan yang selayaknya mesra di tahun 30-an belum berbuah manis karena pria
yang diincar tak kunjung tiba.
Wanita
Aceh dan fenomena jodoh ini tidak bisa dipisahkan begitu saja. Dalam suatu
waktu, mereka terlihat egois dan pongah karena telah memiliki gelar tinggi. Di waktu
tertentu, mereka lupa bahwa usia terus berjalan, pria mencari idaman di rumah
tetangga. Jika memang berharap pria yang setara, yang sempurna segala rasa,
sampai waktu lebih lama jodoh itu tidak menjawab tantangan.
“Dia
tidak mau menerima si Tampan karena belum ada pekerjaan tetap!”
Olok-olok
tetangga terus berlanjut karena hidup penuh warna-warni. Kehidupan yang semakin
marak oleh keegoisan tidak akan pernah melihat ke belakang. Kehidupan yang
semakin dewasa juga tidak pernah lagi menelurkan apa da mengapa. Orang-orang
terlalu sibuk dengan kehidupan pribadi sehingga ditolak seorang wanita dengan
gelar luar negeri, segera mencari wantia tanpa gelar sekalipun. Soal bahaya itu
adalah segenap rasa yang diselami kemudian hari. Hari ini belum terasa, besok
akan dimanja karena percintaan itu bukan hari ini saja.

Benarkah
wanita Aceh susah mendapatkan jodoh jika telah memiliki gelar tinggi? Saya rasa
anggapan ini kembali kepada masing-masing yang menjalani. Soal pendidikan nggak
ada pendapat harus rendah atau tinggi. Namun soal jodoh jangan pernah menolak
sampai tiga kali. Wanita yang cenderung menolak si Tampan, si Ganteng dan si
Rupawan, besok hari akan sulit mendengar ketukan pintu dari si gagah lainnya. Maka
apa yang mesti dilakukan, biar pria seorang tukang panjat kelapa, jika baik
budinya, jika dewasa pemikirannya, nggak ada salah untuk menerima kehadirannya
dalam cinta. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *