January 22, 2020

Traveling Nggak Cuma Mimpi Jika Kamu Punya Syarat Ini

Traveling Nggak Cuma Mimpi
Kepadatan traveler di Terminal 3 Soetta – Photo by Bai Ruindra
“Aku
ingin traveling!” wajar dong kalau saya mengutarakan kalimat ini.
Liburan akhir tahun sudah di depan mata. Promosi destinasi paling menarik di
Indonesia semakin menyuarakan kedigdayaan mereka. Promo tiket pesawat pun
akhir-akhir ini semakin gencar-gencarnya. Satu kemungkinan dari semua yang
tidak mungkin, bahwa saya dapat traveling akhir tahun ini atau kapan pun
itu, jika saya…

Ada
uang; sudah pasti.
Waktu
luang; bisa ambil cuti dari pekerjaan.
Teman
jalan; traveling sendirian pun nggak masalah.
Ayo berangkat!
Saya
mau traveling gratis. Lagi. Ini dia yang ditunggu-tunggu. Mimpi apa saya
semalam harus menerima hukuman traveling gratis? Pasti ini yang akan
keluar dari ungkapan syukur jika tiba-tiba e-mail masuk merupakan
undangan jalan-jalan. Tentu, tidak semua orang mendapat surat elektronik
semacam ini. Hanya orang-orang beruntung saja. Apakah menang undian. Apakah e-mail
nyasar dari miliuner baik hati. Apakah jejak tak bertuan. Segala
kemungkinan bisa saja terjadi. Namun dari semua kemungkinan itu, saya bisa traveling
jika…
‘Saya Seorang Blogger’
Saya
bangga menjadi seorang blogger. Saya juga bangga menjadi seorang guru walaupun
masih berstatus guru honor. Saya adalah guru
blogger yang terkeren
menurut saya sendiri. Bagai dua sisi mata pisau, dua
profesi yang saya jalani ini begitu tajam menurut kaidah masing-masing. Saya
harus memadukan blogger dan guru menjadi manisan yang enak; tidak terlalu asam,
tidak begitu manis dan tidak asin yang sebagian besar orang mengatakan nanti
saya ingin kawin.
Dari
pengalaman traveling ke beberapa daerah di Indonesia. Mulailah saya
berbuih menceritakan kisah-kisah serius, lucu sampai 17 tahun ke atas namun
tetap saya cerita setelah melalui sensor khusus. Mungkin kamu mengatakan saya
sombong cerita tentang traveling. Namun saya memahami ini sebagai
motivasi bahwa dengan tidak ada uang di dalam kantong berjuta-juta saya
bisa traveling
. Poin ini yang kemudian saya ‘rudal paksa’ ke dalam
memori siswa dan siswi di sekolah. Bukti setelah itu adalah pamer barang-barang
mewah seperti smartphone high end maupun tablet mahal.
“Serius
bisa jalan-jalan dari menulis, Pak?” Muftiana, siswi saya yang selalu lupa apa
yang saya ucapkan lima menit lalu.
“Benar,
ini kan foto saya di Bali!”
“Enak
kali Bapak bisa jalan-jalan gratis!” sambung Muftiana lagi dengan ceria.
Walaupun teman-teman lain tertawa karenanya, ia tetap tidak peduli.
“Bagaimana
bisa dapat HP bagus, Pak?” Kisma lebih antusias jika saya memamerkan smartphone
terbaru.
“Kamu
harus menulis!”
“Bagaimana
caranya menulis, Pak?” Iga si juara umum lebih peka pada hal-hal demikian.
Tiga
siswi saya ini berada di kelas berbeda dan menanggapi dengan cara berbeda pula.
“Pak,
selfie dong!!!” siswi-siswi lain lebih heboh soal ini jika saya lewat.
“Pak,
ada lihat bule telanjang di Bali nggak?” rata-rata siswa akan bertanya
soal ini.
“Maka,
kamu harus ke Bali!”
“Caranya,
Pak?”
“Jadilah
seorang blogger!” lalu yel-yel terdengar penuh amarah.
Traveling Nggak Cuma Mimpi Jika Kamu Punya Syarat Ini
Pemandangan Bali yang menggoda.
Lepas
dari semua, soal blogger yang dapat traveling gratis ini menjadi
satu-satu alasan bahwa liburan nggak cuma mimpi untuk siapapun. Saya selalu
berkata kepada siapapun yang tanya, “Aku hanya dapat tiket penerbangan pulang
pergi, penginapan dan makan selama di sana!”
Dan,
mereka tidak percaya bahwa tabungan saya sedikit. Mereka hanya tahu saya traveling
secara tidak gratis.
Pemandangan dari atas awan selalu membuat kagum.
‘Saya Seorang Atlet’
“Jadilah
seorang atlet beneran!” saya selalu berujar ini saat berada di kelas
siswa yang baru pulang main bola atau kepalanya selalu ke lapangan voli.
“Kenapa,
Pak?” tanya mereka.
“Kalian
bisa jalan-jalan gratis!”
“Mana
ada,” selalu ada celutukan maut demikian. Saya pikir inilah sifat putus asa
atau tidak percaya dengan segala kemungkinan.
“Kalian
punya idola pemain bola kan? Balapan motor hari minggu deh kalau
begitu,” saya memulai. Bagi saya dan untuk mereka paham, semua orang yang
terlibat dalam olahraga adalah seorang atlet.
“Mereka
itu ke mana-mana dibayarin dan dikasih honor pula kalau menang!”
Lalu
saya mulai berandai-andai. Benar atau tidak kamu bisa mendeskripsikan lebih
lanjut. Saya mengatakan bahwa para atlet yang bermain di satu negara akan dapat
jalan-jalan gratis di negara dimaksud. Bayangkan jika dalam setahun mereka
memiliki pertandingan di puluhan negara, maka mereka dapat bersenang-senang di
puluhan negara tersebut.
“Begitu
ya, Pak?”
“Iya.
Kalian mau atau tidak?”
Ada
yang jawab mau. Ada yang jawab tidak. Ada yang masih jawab mana ada.
Sebentar lagi landing, siap-siap berkemas!
Dua
saya seorang ini selalu saya gempur tiap kali sesi hiburan di
dalam kelas. Siswa dan siswi yang gaduh, terkadang harus terpana mendengar
ocehan saya yang tidak seberapa dibandingkan dengan keinginan mereka untuk
cepat sampai ke lapangan voli. Dua saya seorang ini terbukti
ampuh untuk kamu jika ingin jalan-jalan atau traveling gratis. Profesi lain
memang banyak seperti jurnalis, pramugari sampai selebriti. Namun tiga profesi
ini membutuhkan kemampuan yang cukup andal. Kamu mau jadi jurnalis yang akan
meliput berita ke negara perang atau damai, tentu saja harus siap menerima
tantangan. Tidak hanya itu jurnalis yang ‘terkenal’ itu harus rupawan, tubuh
porposional agar ketika masuk televisi jadi gagah, cantik atau segala definisi
setelah itu.
Seorang
pramugari atau pramugara juga tidak jauh beda dengan jurnalis. Tuntutan pekerjaan
harus tampan dan cantik tentu menjadi kendala untuk kita yang biasa-biasa saja.
Belum lagi bicara orang pendek seperti saya, jauh-jauh deh mendekati
profesi begini. Terakhir, selebriti adalah figur idola. Artinya harus punya
kelebihan lebih dari orang lain. Jika tidak ganteng dan seksi, saya harus
percaya diri dengan mengeluarkan kata-kata galau sehingga terkenal. Namun,
untuk mencapai selebriti setara Syahrini atau minimal Fatin yang traveling
dibayarin semua, saya harus pindah ke Jakarta. Saya juga harus
benar-benar sangat terkenal agar lebih banyak mendapat endorse. Selebriti
yang penuh sensasi ujung-ujungnya traveling juga bayar sendiri.
Menikmati menu ‘sederhana’ ini di udara mewah sekali, lho!
Akhirnya,
tiga profesi ini saya coret jika sedang menggebu-gebu di depan siswa. Dua saya
seorang
di atas selalu saya kaitkan dengan traveling karena dua
profesi ini pula yang paling mudah dijangkau oleh siswa saya. Mereka yang gemar
membaca maka suatu saat akan menulis. Mereka yang rutin olahraga suatu saat
akan menjadi atlet terkenal dan dibawa ke mana-mana. Untuk bidang olahraga ini
pula beberapa siswa dan siswi memang telah melebarkan sayap mereka walaupun
baru keliling Aceh saja. Tetapi ini adalah modal untuk melaju lebih kencang. Kamu
yang di sana, masih berpikir bahwa traveling cuma mimpi saja? Apa solusi
terbaik untuk ini? 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *