January 21, 2020

Guru Blogger Sejalan dengan Repotnya Ngeblog, Mengajar dan Mendengarkan Ocehan Siswa

Acer Switchable Me, Acer Indonesia, Acer Switch Alpha 12
Acer Switch Alpha 12
Ngomongin dunia blogging,
kini semakin melambung tinggi di jagad maya. Apa-apa blogger yang kena getah untuk endorse sebuah produk. Karena apa? Tentu saja tulisan dari
sebuah blog akan abadi di mesin pencari walaupun backlink telah dihapus
oleh pemilik blog. Saya dan blogging sudah tidak dapat dipisahkan
lagi. Sejak kuliah sudah aktif curhat-curhatan di blog seperti Multiply
maupun kanal khusus di Friendster. Dulu itu, tiap nggak ada jadwal kuliah saya
selalu melipir ke warung internet untuk sekadar posting yang lucu-lucu
atau bergalau ria. Seiring perkembangan, pada tahun 2007, saya akhirnya membeli
laptop pertama. Harganya cukup mahal waktu itu, Rp.6.300.000 dengan bodi yang
tebal namun begitu populer. Acer Aspire – saya lupa kode tipenya berapa –
adalah pilihan saya. Layar 14 inci cukup baik untuk multitasking kala
itu.

“Kenapa
kamu nggak beli komputer saja?” Awan, sahabat saya seakan-akan protes karena
saya memilih laptop daripada komputer. Memang diakui, waktu itu komputer masih
menjadi primadona pada sebagian orang karena lebih gahar dan garang. Saya yang
tidak mau ‘ribet’ memilih laptop yang mudah dibawa ke mana-mana. Pilihan saya
kemudian terbukti sangat tepat dibandingkan pilihan Awan yang membeli komputer.
“Ayo
kita ngopi!” masuk ke tahun 2008 warung kopi di Banda Aceh telah
bertabur dengan fasilitas internet gratis, lebih dikenal dengan Wi-Fi. Di sinilah
kemenangan saya terhadap Awan. Awan jadi sering meminjam atau mengajak saya
duduk di warung kopi untuk akses internet. Satu alasan terpenting karena
menggunakan laptop – Acer Aspire – kami tidak dibatasi waktu. Secangkir kopi
kami bisa duduk sampai setengah hari bahkan seharian. Berbeda dengan duduk di warnet
yang dibatasi jam pemakaian.
Saya
pun tetap aktif menggalau di Multiply sebelum dinonaktifkan oleh pemiliknya dan
dialihfungsi ke media lain. Tahun 2010 saya mulai mengenal Kompasiana dan cukup
aktif menulis di sana. Saya mulai aktif menulis ke hal-hal yang menarik, posting
yang lebih ‘berisi’ walaupun masih kalah dibandingkan dengan kompasianer lain. Tahun
ini pula nahas tidak bisa dibendung, Acer Aspire saya mengalami kerusakan parah.
Kondisinya tidak baik setelah jatuh beberapa kali dan terpaksa disimpan sebagai
kenang-kenangan.

Kemudian, saya kembali seperti dulu, bolak-balik ke warung
internet hanya untuk posting satu tulisan. Namun hal ini tidak
berlangsung lama karena warung kopi lebih gagah yang mematikan warung internet.
Saya kemudian fakum ngeblog dalam waktu yang singkat saja. Saya membuka
diri untuk membuat blog pribadi di blogspot.com –blogger.com – pada
tahun 2011. Tentu saja malam-malam ke warung internet untuk mengetik sebuah
tulisan lalu mempublikasikannya. Baru tahun 2013 saya mendapatkan Acer  Aspire One, merah menyala, ukuran layar 10
inci, dengan harga Rp.3.200.000 cukuplah untuk membantu aktivitas ngeblog.
Notebook ini kemudian saya gunakan bergantian bersama adik yang masih
kuliah.

Baiklah.
Lalu kapan saya mengajar di sekolah? Awal 2011 sebenarnya saya telah pulang
kampung ke Meulaboh, Aceh Barat. Saya mengajar di sekolah negeri sebagai guru
bakti, guru honorer, guru yang sering mengajar dengan ikhlas dan sering pula
menjadi cemoohan rekan kerja bahkan siswa. Awal pulang kampung saya pikir
memang bukan waktu untuk menjadi blogger sampai selebblog sekalipun.
Fasilitas yang tidak memadai, saya harus ke warung internet yang jaraknya
memakan waktu 25 menit ke kota, biaya pemakaian komputer yang mahal untuk
seorang guru tanpa gaji bulanan, saya memilih menulis kapan-kapan suka saja.

Aspire
One di tangan baru saja benar-benar aktif menulis di blogger.com maupun
Kompasiana. Dua media yang tidak seimbang saya aktifkan. Seakan-akan satu
menjadi anak tiri dan satu lagi anak kandung. Namun saya masih aktif di blog blog
berbeda ini. Lalu saya membenahi segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia blogging.
Saya mulai belajar banyak hal. Saya menarik kesimpulan untuk membeli domain
agar saya benar-benar serius dalam menjadi seorang blogger sejati.
Saya
mengatur pola yang cukup berat. Pola ini yang kemudian membuat saya dapat
menyeimbangkan antara dunia blogging, mengajar dan tertawa terbahak
sampai selfie bersama siswa-siswi. Guru honor yang mencari upah dari jam
pelajaran membuat saya harus mengajar di dua sekolah. Saya tidak bisa meminta
harus mengajar sesuai bidang studi waktu kuliah. Saya harus mengajar – mau
tidak mau – sesuai dengan jam kosong di sekolah. Saya mendapatkan mata
pelajaran Teknologi dan Informasi, sejalan dengan aktivitas di luar sekolah. Rata-rata
guru honor lain tidak mau mengajarkan komputer karena keterbatasan pengetahuan
tentang ini. Akhirnya saya cukup kewalahan mengajar semua kelas.
Saya
tidak ingin berhenti karena saya tidak tahu harus berbuat apa. Pagi sampai
siang adalah aktivitas formal yang menuntut semua perfect. Siang sampai
malam nggak ada yang mau peduli apakah saya awut-awutan, di warung kopi
seharian, dianggap nggak punya pekerjaan lain selain ngopi. Tetapi lepas
dari semua itu saya bisa pamer smartphone baru yang didapatkan gratis
dari ngeblog. Saya dengan bangga dan terharu minta izin di dua sekolah
untuk traveling gratis atas berkah ngeblog.
Pulang
dari traveling itu, terakhir ke Bali, teman-teman saya di sekolah nggak
mau tahu kondisi keuangan seorang guru honor, mereka tetap saja nagih.
Kenang-kenangan dari Pantai Kuta, Bali.
“Mana
oleh-oleh dari Bali?”
“Mana
cendera mata dari Bali, Bai?”
“Mana
kain Bali?”
“Alhamdulillah,
semoga kamu bisa keliling dunia, Bai!” ada juga yang dengan legowo menerima
oleh-oleh berupa gantungan kunci. Memang, itulah yang bisa saya bawa pulang
karena keterbatasan tempat dan penghematan besar-besaran.
Lain
teman guru, lain pula siswa dan siswi.
“Mana
oleh-olehnya, Pak?” tentu saja tidak mungkin saya kasih karena satu sekolah
bisa lebih 250 orang.
“Pak,
selfie dong dengan smartphone baru!” tentu ini akan saya
kabulkan. Lalu posting ke media sosial yang mereka berteman dengan saya.

“Bapak
enak kali dapat smartphone gratis!” lalu saya akan berkuah
menceritakan bagaimana mendapatkan barang-barang gratis.

Saya
bukan artis, saya blogger tetapi saya mendapat barang endorse!
Dan,
apa-apa siswa dan siswi akan melimpahkan curahan hati kepada saya. Kebanyakan
dari mereka adalah siswi yang terlanjur kalut setelah mengambil foto tanpa
kerudung di smartphone yang telah disinkronkan akun ke penyimpanan awan.
Ada pula yang kemudian minta solusi smartphone apa yang bagus untuk
dibeli. Ada juga yang curhat ala-ala anak remaja masa kini.
“Laptop
Bapak sudah usang kali!” lain waktu mereka mengkritik notebook
saya. Mungkin saja, bagi mereka, saya yang seperti ini banyak rejeki dan mudah
mendapatkan laptop baru. Namun belum tentu demikian.
Saya
ingin mengganti laptop baru agar kehidupan nyata dan maya dapat sejalan
berdampingan. Salah satu notebook yang mendukung aktivitas saya adalah Acer Switch Alpha 12. Kenapa
dengan notebook hybrid dari Acer ini mendapatkan tempat layak?
Mengajar Lebih Nyaman dengan Acer Switch Alpha 12
Acer Switch Alpha 12 mendukung aktivitas saya sebagai seorang guru.
Hal ini karena performa dan bodi dari notebook ini mendukung pengajaran
di dalam dan di luar ruangan. Notebook hybrid adalah perpaduan antara
layar dan keyboard yang dapat dipisahkan. Saya dengan mudah mengajar di
dalam ruangan, menyambungkan ke infocus maupun mengajar di luar ruangan sambil
bermain game dengan tema teknologi.
Acer
Switch Alpha 12 telah dibenamkan Acer LiquidLoop™ yang merupakan salah satu teknologi terkini, berguna
sebagai pendingin yang menstabilkan suhu pada prosesor Intel Core i Series agar
lebih optimal. Notebook ini tidak lagi dibenamkan kipas sehingga waktu
penggunaan pun terasa lebih senyap. Satu keunggulan dari pendingin tanpa kipas
adalah tidak berdebu. Pendingin yang seperti ini sangat membantu saya saat
mengajar di luar ruangan atau menulis tanpa meja.
Proses
belajar mengajar lebih enak karena saya tidak ribet membawa keyboard
saat di luar ruangan. Keyboard docking Acer Switch Alpha 12 telah
dilengkapi dengan engsel magnet sehingga mudah dan cepat dicopot dalam keadaan
aman. Keyboard docking di notebook ini juga digunakan sebagai screen
protection
dengan lampu backlit yang mudah digunakan dalam cahaya
remang. Tidak hanya itu, notebook ini juga dilengkapi dengan kickstand
yang berguna untuk mengatur sudut hingga 165 derajat
Ukuran
layar 12 inci dengan resolusi QHD (2160 x 1440 pixel) cukup puas dalam
mengajar. Acer Switch Alpha 12 tidak hanya membantu pengajaran di kelas, namun
dalam kondisi di bawah matahari pun aman karena telah dilengkapi Acer BlueLight
Shield
, sebuah teknologi yang melindungi mata dari cahaya biru perangkat
elektronik. Saya pun bisa menggunakan stylus pen dalam aktivitas cepat
yang mampu mendeteksi sensor tekanan layar hingga 256 tingkat secara lebih
presisi. Acer Switch Alpha 12 dengan berat 1.25 kg setidaknya mampu memanjakan
waktu mengajar saya selama di sekolah.
Ngeblog Lebih Santai dengan Acer Switch Alpha 12
Charger dipinjam orang
lain padahal sedang mengejar deadline? Ini paling kesal sekali. Namun
Acer Switch Alpha 12 telah dibekali port USB Type-C dengan USB 3.1 gen
1. Saya lebih aman karena belum banyak teman-teman lain yang menggunakan
colokan listrik dengan model begini. Saat ada yang minta pinjam charger
saya cukup katakan, “Portablenya berbeda!”
USB
Type-C tidak hanya sebatas pengisi daya saja. Melalui port ini saya bisa
mengirim data dengan kecepatan hingga 5 Gbps, 10 kali lebih kencang dari USB
2.0. Port USB ini juga difungsikan sebagai output video yang menghasilkan
gambar lebih menarik untuk ditonton. Saya yang kehabisan daya di smartphone
bisa dicolokkan ke USB ini yang dapat mengalirkan daya hingga 4.5 watt.
Desain
yang menarik dan lebih ringan membuat aktivitas ngeblog lebih terjamin. Acer
meyakini bahwa Switch Alpha 12 dapat memberikan kenyamanan bagi pengguna,
termasuk blogger yang memiliki jam kerja tidak tentu. Notebook hybrid
ini akan lebih kencang dan menawan dengan Windows 10 Home 64-bit dari
Microsoft. Saya juga tidak perlu khawatir jika baterai smartphone sedang
sedikit, kamera 5 MP dari Acer Switch Alpha 12 dapat menangkap beberapa gambar
untuk media pendukung tulisan. Aktivitas ngeblog juga lebih nyaman
dengan baterai 4.870 mAh yang bertahan sampai 8 jam pemakaian normal.
Tidak
ada yang saya khawatirkan dalam memadukan aktivitas ngeblog dengan
mengajar di sekolah. Acer
Switch Alpha 12
memberikan pengalaman menarik untuk menonton video atau
bahkan main game dengan Intel® HD Graphics 520. Penyimpanan cukup melegakan antara 256GB SSD
atau 512GB SSD. RAM dalam menunjang kinerja cukup besar yaitu 4GB DDR3 atau 8
GB DDR3. Notebook hybrid dengan warna silver dari Acer layak saya
miliki nanti, jika berkah ngeblog datang lagi!
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *