January 22, 2020

Stroberi 5000 Rupiah

Pertengahan
tahun 2014, saya berkesempatan berkunjung ke Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Sebuah rasa syukur dari menulis.
Sebuah
perjalanan melelahkan bagi saya. Apalagi baru pertama kali melakukan perjalanan
jauh dengan pesawat terbang. Saya berangkat dari Bandara Sultan Iskandar Muda
pukul enam pagi, transit di Kualanamu sekitar setengah jam, lalu kembali
terbang menuju Bandara Soekarno-Hatta lebih kurang 2,5 jam perjalanan. Saya
menghirup udara pengap Jakarta pukul 10 pagi. Kemudian menunggu keberangkatan
selanjutnya pada pukul tiga sore bersama Mas Dian Mulyadi dan Zakaria Dimyati. Kami
sampai di Bandara Praya sekitar pukul delapan malam. Sungguh perjalanan yang
menarik minat saya untuk kembali melakukannya.
Kami
dijemput oleh Mas Hindra, salah satu rekan kerja Mas Dian dan Mas Jan sebagai guide.
Dari Bandara Praya yang malam itu dipenuhi kedatangan TKI dari Malaysia, kami
menuju Sembalun. Saya belum tahu di mana daerah tersebut, katanya dekat gunung
Rinjani. Baiklah. Gunung dengan anak sungai di atasnya itu.
Malam
yang panjang. Saya begitu kurang percaya diri dalam kendaraan roda empat. Alasannya;
saya mabuk perjalanan!
Sesampai
di Sambalun tengah malam, saya dan Zakaria langsung tidur di daerah yang dingin
sekali itu. Paginya kami menjumpai beberapa orang untuk keperluan liputan
selama di sana.
Nah,
pulang dari sana barulah saya merasa sangat tidak nyaman. Perut saya kembali
diaduk tak karuan. Jika sebelumnya, karena terlalu lelah dan malam hari mudah
saja saya tertidur. Pagi ini malah sebaliknya. Saya duduk diapit Mas Dian dan
Zakaria. Pikiran sudah berkunang-kunang. Mau minta berhenti, tidak ada alasan
yang jelas. Mau muntah juga tidak jadi-jadi. Mau bilang pusing pada keempat
orang di dalam mobil itu, mereka malah adem-ayem saja.
Jalanan
semakin menikung. Kepala saya berputar. Jalanan berputar. Kepala saya ikut
berputar-putar. Sesekali Zakaria membuka jendela, hawa dingin menusuk di antara
pengununan dan rumah penduduk dataran Rinjani. Zakaria memotret beberapa
pemandangan indah yang tidak bisa saya lihat dengan jelas.
Bahkan,
di dalam mobil kami tidak ada makanan apa pun. Padahal perut saya sangat tidak
bersahabat lagi. Saya ingin perjalanan ini cepat berakhir. Namun, jalan setapak
menuju puncak Rinjani saja belum terlihat. Kami masih meraba-raba di jalan
berlubang daerah Sembalun dan sekitarnya.
Hei!
Tunggu dulu. Di pinggir jalan berlubang itu, pemandangan maha dahsyat terhampar
luas. Udara semakin dingin saat jendela mobil terbuka. Dan gubuk-gubuk kecil
menawarkan buah segar. Salah satu stroberi.
Photo by Zakaria Dimyati
Saya
melupakan rasa muntah sesaat. Stroberi yang dijual di tepi jalan itu tampak
segar sekali. Mas Jan memarkirkan mobil. Mas Hindra membuka jendala lalu
bertanya berapa sebungkus stroberi yang dijual oleh perempuan berjilbab itu.
Pemandangan yang menyejukkan; Sembalun tak ubah sama dengan Aceh di mana semua
perempuan berjilbab, berbeda dengan Mataram pada hari berikutnya kami sampai di
sana.
“Lima
ribu?” mata saya membulat. Mas Hindra dan Mas Jan malah ngakak. Zakaria diam
saja.
“Nama
juga kita beli di kebunnya, Bai,” ujar Mas Dian kemudian. Sayang sekali kami
tidak sempat mampir ke kebun stroberi.
Satu
bungkus stroberi seberat setengah kilo itu cuma Rp. 5000,- saja. Seriuslah.
Saya takut dikibuli oleh Mas Hindra. Pendengaran saya jadi ikut-ikutan mabuk
perjalanan. Pertanyaan saya terjawab saat Mas Dian mengeluarkan lembaran dua
puluh ribu untuk empat bungkus buah berbentuk hati itu. Seandainya langsung
pulang hari itu juga, saya akan memboyong banyak bungkus stroberi segar untuk
dibawa pulang ke Aceh.
Rasa
stroberi yang asam manis melegakan sedikit kerongkongan saya. Di antara kami
berempat, hanya saya yang makan lebih sebungkus.
Rupanya,
jalanan semakin tak karuan. Menanjak dan berliku. Perut saya kembali diaduk. Saya
mencoba tidur. Susahnya minta ampun. Rasanya waktu berjalan sangat lamban
sekali. Saya tidak tenang. Mau muntah ditahan. Malu yang ada.
Dalam
keadaan tersiksa, saya tertidur juga. Syukurlah.
Sampai
di daerah yang saya tidak tahu benar di mana. Sudah di perkotaan. Kami berhenti
di salah satu rumah makan. Perut saya sangat tidak bersahabat lagi. Saya berlari
ke kamar mandi. Dan muntah!
Oh,
Stroberi lima ribu keluar semua!
Saat
saya kembali ke dalam rumah makan kecil itu, keempat yang lain sudah menyantap
makanan masing-masing.
“Muntah,
Bai?” tanya Mas Dian.
“Iya,
Mas. Sayang sekali stroberi lima ribu terbuang semua!” jawab saya malu-malu.
Mereka
berempat tertawa.
“Di
Aceh berapa sebungkus itu kira-kira,”
“Dua
puluh ribu, Mas!”
Mata
mereka terbelalak. “Mahal sekali, Bai!”
Perut
saya yang baik sekali itu sudah menumpahkan semua. Kami tidak mungkin kembali,
membeli banyak stroberi murah. Tepatnya, kami tidak mungkin membawa pulang stroberi
karena mesti mengejar sunrise di Mandar dan sunset di Senggigi. Setelah
hari menyesakkan hati itu.

Selamat
tinggal, stroberi lima ribu rupiah! 
Photo by Zakaria Dimyati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *