January 19, 2020

Simalakama Seorang Guru Honor

Saya seorang guru. Menyebutnya
saja bisa membuat bangga apalagi benar-benar melakoninya. Saya benar seorang
guru, guru honor, guru yang dianggap sebagai pelengkap saja di sebuah sekolah. Bagaimana
tidak, saya hanya mengajar jika tersedia jam kosong atau lebih dari guru
pegawai negeri. Tidak hanya saya, guru honor lainnya juga mendapatkan perlakuan
yang sama. Di saat isu sertifikasi semakin santer mengarak guru pegawai negeri
untuk memenuhi 24 jam pelajaran dalam seminggu, tergerus pula jam pelajaran
bagi kami guru honor. Guru-guru tersertifikasi wajib mengajar supaya
dianugerahi gaji dua kali lipat di awal bulannya, atau di rapel percatur wulan.
Sebagian guru honor lain, teman saya sendiri, malah datang ke sekolah sekadar
menampakkan diri supaya terdata sebagai honorer walaupun tidak ada jam
mengajar. Harapan diangkat menjadi pegawai negeri semakin menjadi asa yang tak
terbendung, belum lagi informasi yang beredar bahwa honorer tidak akan diangkat
lagi jadi pegawai negeri. Secara sadar atau tidak, mungkin hanya untuk
menyenangkan hati lara, kami berkata pada diri sendiri akan sebuah kesabaran
pasti ada hasil.
“Nanti, saat pemimpin
kita diganti, kebijakan juga akan berganti!”
Saya berada di
lingkungan yang sama dengan guru tersertifikasi. Keberuntungan masih memihak
kepada saya walaupun hanya sedikit saja. Saya masih mendapat jatah jam mengajar
pelajaran Teknologi Informasi (TIK). Padahal ijazah saya jelas-jelas tertera
Sarjana Pendidikan Fisika. Saya mengajar TIK karena tidak ada guru yang
bersertifikat TIK dan guru-guru lain di sekolah ini belum mahir mengoperasikan
komputer.
Saya mengajar di dua
sekolah, MTsN Blang Bale dan MAN Suak Timah, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh
Barat. Dan hanya dua sekolah ini pula yang sudah menerapkan bayaran perjam bagi
guru honor. Saya masih berada di ujung keberuntungan, selain dibayar perjam,
gabungan jam mengajar saya dari dua sekolah itu melewati batas 30 jam
perminggu. Saya tidak bisa menyebutkan besar nominal yang diberikan dua sekolah
tersebut, paling tidak cukup untuk saya beli bensin tiap hari ke sekolah. Jam
mengajar saya lebih banyak dari guru bersertifikat sebagai guru profesional,
bukan?
Saya membiarkan waktu
berjalan sebagaimana mestinya. Di saat guru pegawai negeri bersertifikasi lupa
mengajar karena harus mengurus kelengkapan pembelajaran (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran,
Silabus, Program Semester, Program Tahunan, Minggu Efektif, Kriteria Ketuntasan
Minimum), juga berkas-berkas kenaikan pangkat. Saya diwajibkan berkonsentrasi
pada pelaksanaan pembelajaran itu sendiri. Saya masuk kelas lebih awal bersama
guru honor lain. Mengajar sesuai jam yang telah diberi tanggung jawab kepada
kami. Lalu pulang di jam yang sama dengan guru pegawai negeri.
Mengajar 30 jam di dua
sekolah, saya menyiasatinya dengan sangat jeli. Berbagi hari antara dua sekolah
terkadang tidak cukup memenuhi jumlah jam. Ada kalanya dalam satu atau dua hari
saya harus memangkas pertemuan mengajar. Bila pagi sampai dengan jam istirahat
di MAN, seusai istirahat saya akan ke MTsN. Untungnya lagi, jarak yang saya
tempuh lumayan dekat dan waktu istirahat pun sama-sama mengambil pukul 10.30
WIB.
Karena masih dianggap
anak bawang, sebutan kepada guru honor, saya mengerahkan segenap kekuatan untuk
berbagai bidang ilmu di luar ijazah yang saya emban. Mengajar di MAN lebih
leluasa saya lakukan karena sudah tersedia Laboratorium Komputer, sedangkan di
MTsN saya lebih mengandalkan pengetahuan dan buku-buku sebagai penunjang. Menghadapi
lebih kurang 300 siswa dalam seminggu membuat batin saya lelah sekali. Antara siswa
MAN yang beranjak dewasa tentu saja berbeda dengan siswa MTsN yang masih
berangkat dari anak-anak menuju masa remaja. Belum lagi mengajarkan ilmu
praktik tanpa disertai sarana pendukung membuat saya kelimpungan. Terlebih, saat
siswa-siswi sudah mengenal internet, berinteraksi di facebook maupun twitter,
saya dituntut kerja ekstra menjawab pertanyaan dari mereka. Saya menjelma
menjadi seorang guru ahli komputer, mereka bertanya semua hal, termasuk
guru-guru di dua sekolah yang menggantungkan harapan bisa mengetik soal-soal
ujian dengan benar di keyboard kepada
saya.
Saat saya tidak bisa
mengandalkan komputer karena mati lampu atau alasan lain, saya memastikan siswa-siswi
bisa belajar dengan metode lain. Mengenalkan kepada mereka istilah-istilah
dasar dalam pengoperasian komputer atau mengadakan diskusi kelompok. Di MTsN yang
belum memiliki laboratorium komputer, saya mengajak siswa-siswi bermain games karena mereka lebih suka bermain di
luar kelas.
 Siswa MAN sedang berdiskusi di halaman sekolah 
Siswa MTsN bermain games
Siswa MTsN bermain games 
Konsentrasi saya
sering terpecah antara tuntutan 30 jam pelajaran. Saya butuh, seperti yang
sudah saya sebutkan di awal, hanya dua sekolah ini yang memberikan kemakmuran
bagi kami guru honor walaupun sering kali terlambat satu bulan bahkan sampai
satu semester. Saya meninggalkan satu sekolah saja, calon guru honor yang lain
akan mengantri datang melamar. Seakan, kami tidak mengindahkan teguran
pemerintah yang mengatakan tidak ada lagi kemungkinan guru honor diangkat jadi
pegawai negeri. Tapi kami tetap mengajar, karena itulah aktivitas kami di
daerah sempit lapangan pekerjaan. Paling tidak, sudah rapi setiap pagi membawa
kebanggaan tersendiri karena kami seorang sarjana.
Sebagai guru honor, selain
diabaikan oleh sekolah kami pun dianak-tirikan oleh pemerintah. Saya termasuk
salah satu guru honor dari sekian ribu guru honor yang sudah mengabdi puluhan
tahun. Satu dua di antara kami menerima tunjangan fungsional sebesar Rp. 250
ribu sebulan dan dibayar persemester. Dan jika dalam satu sekolah tidak semua
guru honor mendapatkannya, kami berhak membagi sama rata. Saya mendapatkan
sedekah dari pemerintah itu dari MTsN, dan kami membagikannya kepada guru honor
lain yang datanya belum tersimpan di Kementerian Agama Kabupaten Aceh Barat. Besaran
angka tersebut sangatlah minim untuk motivasi seorang guru yang mengajar saban
waktu mencerdaskan anak bangsa. Saya bisa memahami pengeluaran pemerintah dalam
hal ini, tetapi mereka, guru honor yang lebih tua, lebih lama mengabdi, nominal
itu sungguh sangat berarti.
Terakhir, selain isu
sertifikasi, datanglah Kurikulum 2013 yang memangkas beberapa mata pelajaran
termasuk TIK. Sebagai guru yang hanya mengajar TIK saja maka saya akan
kehilangan jam pelajaran tersebut di masa mendatang. Di saat-saat seperti ini,
saya mengharapkan suatu keajaiban datang dari mana saja. Satu sisi, kurikulum
baru tersebut bagus untuk dilaksanakan di daerah urban. Di sisi lain, kurikulum
tersebut menciptakan kebingungan kepada guru mata pelajaran dan menghilangkan
banyak harapan guru-guru honor di seluruh negeri ini. Tapi pemerintah tahu yang
terbaik untuk dunia pendidikan Indonesia yang semakin tertinggal. Mungkin kami
yang semestinya berbenah, mengepakkan sayap mencari harapan di dunia baru
lainnya.

Saya, di antara ribuan
guru honor lain. Beginilah nasib kami. Curahan hati saya barangkali lebih
bahagia dibandingkan guru honor lain. Saya masih mendapatkan imbalan dari dua
sekolah dengan dihitung perjam masuk. Guru honor lain, akan dibayar persemester
sealakadarnya saja. Seandainya mereka bisa menulis, bisa mengakses internet,
kegetiran mereka akan lebih menyayat hati! 

Tujuan pendidikan kita adalah mencerdaskan anak bangsa, dan saya akan merealisasikan semboyan itu!

*Gambar koleksi pribadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *