January 26, 2020

Semusim yang Lalu Ada Sebuah Cinta di Hatiku Untukmu

 

pria kesepian
Ilustrasi – jitunews.com

Sore
itu, berlalu saja laksana kapal perang dengan meriam penuh mesiu. Aku tertembak
dan jatuh ke dasar laut, mengapung di antara hiu yang keroncongan. Namun napasku
masih tersengal-sengal walaupun air telah masuk melalui pori-pori. Aku masih
bisa bercakap-cakap, mengeluarkan suara entah bermaksud apa. Bukan pula
pertolongan yang kuhadirkan, tetapi sebuah dialog, dengan peri, yang berbentuk
ubul-ubul dan secantik bidadari, segarang putri duyung dalam Pirates of the
Caribbean
.

“Kenapa
kamu tidak memakanku?”
Duyung
bersisik emas itu mengeluarkan aungan keras, memecahkan karang berwarna putih
susu di bawah punggungku, aku tertusuk olehnya namun aku tidak merasakan sakit.
“Kamu
tak akan sakit jika aku memakannya sampai tulang-belulang!”
“Makanlah
aku, itu lebih baik untukmu!”
“Aku
lebih senang membiarkanmu dimakan oleh cinta!”
“Aku
tidak ingin!”

Baca Juga Haruskah Aku Menikah Muda 

Aku memberontak, tubuhku melayang ringan ke angkasa, bergumul bersama awan putih. Pesawat menari-nari di rute masing-masing. Balon udara memancarkan api hampir meletus sejadi-jadinya. Seekor burung menertawakanku yang malang.
Sepucuk
cinta, aku pernah tersakiti olehnya. Sebuah perkenalan semusim yang lalu,
denganmu yang memiliki mata sebening embun pagi, hidung semancung Menara
Eiffel, semampai meliuk-liuk bagai embusan angin di sekitar aroma tubuhku. Kamu
sewangi bunga kasturi, melekat di tanganku walau cuma sekali salaman saja.
Aku
terpental. Jatuh ke lautan tak bertuan. Matamu memancarkan teduh yang kuidam
teramat panjang. Aroma tubuhmu mengeluarkan wangi menusuk sehingga napasku
terasa lebih panjang dari biasanya.
Aku
telah jatuh cinta. Perkara sakit yang dikata lebih menyakitkan daripada gigitan
taring putri duyung. Aku benar sakit. Kurayu suaramu untuk meneduh di dalam
batinku, hanya desahan sinis yang kudengar kemudian. Kusentuh kata-kata untuk
bermanja tiap pagi dan menjelang malam, berharap kamu tertidur dalam dekapan
mimpi-mimpi bersamaku. Tetapi aku, menghabiskan banyak waktu untuk menanti
jawaban darimu. Yang kemudian aku tahu, bahwa kamu membalas atas dasar melepas
ketidakenakan dalam dirimu, menghormati sesama manusia saja. Aku butuh jawaban
segera seperti aku membutuhkanmu dalam seketika. Aku ingin menyentuhmu tetapi
aku terlalu malu untuk memulai seperti yang terbayangkan di dalam khayalku.
Aku
menjerit di sepertiga malam. Biarkan aku mencintaimu seadanya. Izinkan aku
mencintaimu dengan caraku sendiri. Terlalu lama aku mengkhayal untuk bersamamu,
sedetik saja tak apa untuk dapat melihat senyum merekah di bibirmu, satu helaan
napas pun tak jadi soal asalkan aku dapat mendekap tubuhmu. Kupinta ini karena
aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Setahun yang lalu. Masa penantian
yang panjang untukku mengenal sebuah cinta. Hanya untukmu saja, tak bisa kubuka
untuk orang lain, belum untuk saat ini. Terlalu berat untukku mengenangmu dalam
cinta, teramat sukar untukku keluar dari kaku bertahun-tahun, tak mudah untukku
membuka hati menerima orang lain di dalam diriku, tak bisa kubuang egois ini
namun aku rindu. Padamu, itu saja.
Kali
pertama pertemuan itu, manismu dan manjamu membuatku candu. Aku membelai kasih
sayang dengan begitu manja. Aku melepas semua dahaga cita-cita pada sebuah
dekapan manja. Aku terbang tinggi mendengar desahan manis yang keluar dari
mulutmu. Kamu meminta, aku memberi. Kamu merajuk, aku membalas peluk.
Kali
kedua kita bertemu, kamu telah acuh tak acuh. Suaraku sering tersemat di
kerongkongan. Pelukanku kamu renggangkan karena tak ingin.
“Aku
tidak mau ribet,”
Aku
menurut, karena aku cinta.
“Kita
jalani saja,”
Aku
jalani kemauanmu. Hingga aku sadar, kamu bukanlah untukku. Pertemuan kita hanya
melepas penasaran di hatimu. Aku sungguh tidak tahu alasan kenapa kamu tidak
lagi berbalas pantun denganku. Pesan yang kukirim kemudian hari hanya melayang
di angkasa raya, mungkin saja telah tersangkut di Tower Base Transceiver
Station
(BTS) sampai aku benar-benar menatap layar smartphone
dengan mata kosong.
Segitukah
aku dalam cinta. Putri duyung tak dapat meramal. Aku bertemu dengannya dalam
sebuah mimpi. Aku hanya bermimpi bersamamu. Kuraih suatu ketika, tak terbalas
pada saat itu juga.
Semusim
yang lalu, ada sebuah cinta di hatiku untukmu, begitu dalam sampai tidurku tak nyenyak.
Khayalku terlalu tinggi, menjuntai seperti gaun pengantin, meninggi seperti sanggul.
Bersamamu, mungkin aku akan bahagia. Menurutku, tetapi belum pasti menurutmu. Kamu
punya impian bersama bayang-bayang gagah lain yang tak terjawab dalam auraku.
Maafkan
aku, telah jatuh cinta, ingin menjagamu dan mendekapmu sepanjang waktu sampai tak ada butiran debu mencium wangimu!

Baca Juga Jodoh di Telapak Kaki Ibu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *