January 19, 2020

Sebelum 40, Guru Blogger Inspiratif Telah Saya Genggam

Inspirasi datang dari mana saja. Saya pikir, memulai sesuatu yang digemari adalah hal yang wajar selama masih berada di batas kemampuan. Saat melihat anak-anak antusias mendengar cerita di kelas yang sesekali ribut, saat itu pula cerita saya menjadi lebih bernyawa. Begitu mereka bertanya tentang makna tersembunyi dari perkataan tersurat, saya dengan bangga menjelaskannya.

Maka, di sinilah kedudukan saya sebagai seorang guru dan blogger. Dua profesi yang menghadirkan kesejukan dan rasa lelah tak terperi. Namun, saya merasa nyaman dengan kondisi yang memungkinkan cerita-cerita lain hadir dengan sendirinya. Meskipun saya tidak selalu bercerita tentang siswa yang ribut di dalam kelas, siswa yang suka menganggu teman belajar, siswa yang sulit menerima pelajaran maupun siswa yang disebut bandel, saya tetap bercerita karena itulah jiwa yang membuat saya ada dalam dunia blogging.
Langkah
maju ke depan dan bicara tentang angan-angan dan pencapaian, saya telah
menghunuskan pedang ke jantung seperti Ji Eun Tak menusuk Kim Tan si Goblin
tampan. Tidak mati dan juga tidak sakit. Tetapi, malah kekuatan yang saya
dapatkan untuk ‘memamerkan’ yang terbaik dalam bentuk usaha yang nyata.
Saya
berdiri di depan kelas sebagai seorang guru, teriak sekuat tenaga dalam
mengajar, memberikan tugas sampai siswa bosan, dan juga bercerita tentang masa
depan yang akan segera mereka lewati. Di sisi lain, saya bercerita dari
kacamata seorang blogger yang jiwanya
terbang bebas, lalu menghentakkan peluru ke ulu hati mereka yang mendengar. Pun
demikian, cerita dari satu perjalanan ke perjalanan lain menjadi lebih
menggugah daripada pelajaran itu sendiri di hari yang sama.
Saya
bercerita tentang Bali, mereka terpana dengan segenap keseksian yang ada di
sana. Cerita saya beralih ke Bangkok, mereka memasang aba-aba pada sebuah tanya
tentang negeri tetangga yang terkenal dengan film hantu dan kehidupan glamor
transgender. Padatnya Jakarta kemudian menjadi cerita lain tentang perjalanan
‘gratis’ seorang guru blogger.


Tiba masa
saya mengeluarkan smartphone keluaran
terbaru dari dalam saku celana, mereka kerap bertanya tipe apa, berapa besar
Random Access Memory (RAM), bagaimana hasil foto maupun ketahanan dalam bermain
game. Di akhir cerita nanti, mereka
akan bertanya dengan lugas, “Bagaimana Bapak mendapatkan smartphone gratis itu?”
“Dari
menulis!” tegas dan penuh semangat saya menjawab pertanyaan itu. Tiap kali ada
yang tanya, tiap kali ada yang ingin tahu, tiap kali ada yang ingin belajar
bagaimana mendapatkan ‘sesuatu’ dari menulis, tak enggan saya membagikannya. Saya
bangga menyebut diri sebagai seorang yang menyukai menulis, terharu mengajarkan
menulis, dan terkenang dalam memberikan catatan penting, serta bercerita soal
pengalaman mendapatkan hadiah dalam jumlah besar dari menulis.
Bagi
mereka, itu adalah inspirasi tiada henti. Di usia yang masih belia, mereka
tentu memiliki angan-angan, khayalan tingkat tinggi maupun keinginan pada
segenap harapan yang belum pasti. Saya ingin membuka jalan – untuk mereka yang
berdedikasi tinggi – bahwa dengan menulis saya telah menjadi ‘sesuatu’ yang
menarik, terutama bagi diri saya sendiri. Saya kerap berujar, “Tidak mungkin
seorang guru honorer naik pesawat terbang!”
Benar tidak
mungkin jika ingin mengalkulasikan penghasilan bulanan yang hanya mampu
menutupi sabun mandi. Saya juga tidak mau lagi mengeluh nasib sebagai guru
honorer karena posisi ini telah membuat saya tegar, posisi di mana juga saya
melahirkan karya-karya yang dibaca banyak orang dan posisi di mana saya dengan
bangga menyebut, “Saya guru blogger!”
Saya telah
membuktikan bahwa guru honorer yang selama ini dipandang sebelah mata bisa
berprestasi dalam hal yang digemari. Inspirasi yang saya hadirkan hanya secuil
dari pengalaman panjang penulis hebat lain, atau konten kreator lain yang terus
berkarya dalam ragam bentuk keahlian. Saya ingin dikenal sebagai seorang guru
yang menginspirasi, membawa perubahan, mengubah pola pikir dan memberikan
tantangan kepada siswa-siswa di sekolah agar berbenah.
“Ayo gali
keahlian!” saya terus memotivasi mereka dengan sebutan serupa. Saya kerap
membandingkan beberapa atlet profesional yang fokus sehingga mendapatkan hasil
dari jerih payah. Saya juga memberikan arahan kepada siswa yang gemar melakukan
ini itu agar meluruskan hobi tersebut menjadi sebuah ‘pekerjaan’nya kelak. Tiada
yang tidak mungkin asalkan usaha mereka sampai ke puncak tertinggi.
Dalam
‘paksaan’ di sela-sela pembelajaran berlangsung, saya mengajarkan mereka
menulis blog. Kisah ini tentu bermula
dari pertanyaan mereka sendiri, “Bagaimana menulis di blog, Pak?” atau “Bagaimana bisa jalan-jalan gratis, Pak?” atau
“Bagaimana mendapatkan smartphone
gratis, Pak?” dan seterusnya sampai saya membuka jalan kepada mereka.
Tidak ada
alasan khusus mengapa saya mengajarkan hal ini. Namun, kembali kepada apa yang
saya bisa, maka itu yang saya ajarkan. Tidak mungkin saya mengajarkan sepakbola
sedangkan bola tak pernah saya sentuh. Tidak mudah saya mengajarkan bela diri,
sedangkan sabuk terendah sekalipun tidak terikat di pinggang saya. Saya hanya
memiliki senjata paling ampuh, yaitu menulis!
Jalan yang
tidak mudah, berliku dan berlumpur tetapi harus saya lewati. Maka, ini pula
yang saya ‘kabari’ kepada mereka
sebagai kabar burung yang tidak sedap didengar. Saya terus memamerkan prestasi
dari menulis blog, baik itu berupa
hadiah lomba dalam bentuk smartphone
maupun notebook, serta perjalanan ke
negeri yang jauh dari pelosok Aceh.
Saya ingin
mereka percaya satu hal; usaha tidak
pernah menipu hasil
!
Sebelum 40
nanti, saya ingin menjadi seorang guru blogger
yang menginspirasi. Inspirasi ini setidaknya dirasakan oleh siswa-siswa di
sekolah. Bukan karena dikenal dengan jabatan sebagai guru honorer. Saya ingin
dikenang dan diingat sebagai guru yang berbeda, sebagai guru blogger!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *