January 19, 2020

Salam untuk Non Muslim, Sejahtera di Kamu, Apakah Aku Juga Demikian?

hukum memberi salam kepada non muslim
Memberi salam kepada non muslim – kang-pp.blogspot.com
Tiap
kali ke Banda Aceh, saya selalu mampir ke salah satu toko buku. Biasanya, saya
sudah membuat list buku-buku apa saja yang akan dibeli. Toko buku ini
merupakan salah satu toko buku besar di Banda Aceh, jangan lihat ruko kecil dua
pintu namun lihat isi di dalam toko buku ini. Toko buku ini menyediakan beragam
buku. Dan tentu saja, diskon 10% untuk tiap member terdaftar dan
memegang kartu keanggotaan.

Interaksi
saya dengan pemilik toko buku berlanjut ke media sosial, terutama perpesanan
instan. Sejak awal saya datang ke toko buku ini, saya sudah tahu bahwa
pemiliknya bukan seorang muslim. Pemilik toko ini biasanya duduk sebagai kasir
dan pekerja yang tampak tiga orang adalah mereka yang berkerudung. Pertemanan
di aplikasi chatting membuat saya sering menerima pesan broadcast berisi
promo buku terbaru. Tidak hanya itu, broadcast dan status dari pemilik
toko buku yang merupakan keturunan China ini, begitu menghargai konsumen dan
juga rekan mereka yang ada di Aceh. Contohnya, lebih kurang dua tahun saya
berteman dengan wanita dengan rambut sebahu itu, saya selalu menerima broadcast
seperti; Selamat Puasa Ramadhan, Selamat Idul Fitri,
Selamat Idul Adha, Mohon Maaf Lahir dan Batin
maupun Selamat
Tahun Baru Islam
.
Namun,
saya tidak pernah sekalipun membuat status atau kirim pesan langsung kepadanya
seperti Selamat Tahun Baru Imlek atau Selamat Natal.
Saya masih memegang teguh larangan untuk membuka tabir dengan non muslim. Tabir
itu terbentang luas dari sejak saya di masa remaja, saat masih belajar kitab
kuning di pesantren tradisional, menerima pelajaran di madrasah sampai saya
kuliah di kampus Islam, ajaran itu menguatkan hati untuk tidak berinteraksi
dengan mereka yang non muslim. Sampai kini, setelah lepas dari atribut
pendidikan, pemahaman saya tentang interaksi dengan dengan non muslim yang
tertuang dalam Islam masih sangat dangkal sekali. Saya tidak memungkiri bahwa
pertemanan di media sosial, dari mereka yang tidak berdomisili di Aceh, yang
saya tidak pernah berinteraksi langsung, sebagian bukan berasal dari agama
Islam. Ada yang dekat secara personal, ada yang cuma numpang lewat
status saja. Tetapi mereka selalu saja meluangkan waktu untuk mengucapkan
selamat untuk hari-hari besar di dalam Islam. Norma yang terlarang di dalam
ajaran Islam sejatinya mereka tidak peduli. Kami di dalam Islam, teramat
panjang berdebat soal ini padahal jelas sekali bahwa kehidupan di dunia ini
saling ketergantungan.
Kita
terlalu lupa bahwa kehidupan masyarakat Islam sangat tergantung kepada mereka
yang non muslim. Namun, begitu berkaitan dengan persahabatan dengan non muslim,
hukum-hukum Islam berjajar setinggi angkasa. Padahal, zaman yang terus
berkembang dengan baik tidak selalu berkaitan dengan seorang non muslim
meracuni seorang muslim untuk menjadi bagian dari mereka. Jika saya tanya
beberapa pertanyaan, tidak perlu Anda jawab, cuma simpan di hati saja. Terlepas
siapa penemu di era kejayaan Islam terdahulu. Kita berbicara siapa yang berbuat
dan menciptakan di masa kini.
“Kendaraan
apa yang Anda pakai saat ini?”
“Berapa
sering Anda naik pesawat terbang?”
“Kapan
terakhir akan berlayar dengan kapal laut?”
Smartphone
merek apa yang Anda beli?”
“Pakaian
merek apa yang Anda pakai?”
“Tas
dari brand besar mana yang Anda pamerkan?”
“Apakah
Anda menggunakan komputer?”
“Apakah
Anda berkomunikasi melalui jaringan telepon maupun data?”
“Apakah
rumah Anda mempunyai rice cooker, televisi atau kulkas?”
“Apakah
Anda memakai underware (maaf)? Coba lihat merek apa yang tertera di
sana!”
Lalu,
kita terlalu sering berdebat namun melupakan pertanyaan-pertanyaan tersebut di
atas. Begitu ada ucapan dari saya misalnya, “Selamat Natal untukmu, Kawan!” didengar
oleh mereka yang kuat keislamannya, maka saya akan disebut telah keluar dari “ajaran”
Islam. Saya dianggap mempermainkan Islam. Saya telah diracuni oleh mereka yang
bukan beragama Islam. Maka dari itu, berkomunikasi saja pakai surat dari daun
karena smartphone itu dibuat oleh mereka yang bukan dari Islam, tak
perlu pula saya sebutkan merek namun Anda tahu benar bahwa China dan Korea
sedang mendominasi kejayaan smartphone saat ini. Di lain kesempatan, jangan
lagi pakai kendaraan karena sepeda motor, mobil, bahkan pesawat udara dan kapal
laut tidaklah diciptakan oleh orang Islam. Negeri matahari terbit misalnya,
merupakan salah satu produsen kendaraan bermotor terbesar dunia. Jika tidak
percaya, colek saja sepeda motor yang sedang terparkir di halaman rumah Anda. Di
bagian yang tersembunyi, underware yang kita kenakan saat ini, mereknya saya
tebak dalam bahasa Inggris. Jangan pakai underware jika menghujat non
muslim terlalu panjang padahal tak pernah interaksi dengan mereka. Bahkan, kain
yang Anda kenakan saat ini mesti dipilih lagi benar atau tidak dibuat oleh
seorang muslim!
Sekadar
ucapan salam saja, masihkah aturan itu baku? Salam itu bukan bom nuklir yang
telah meluluhlantakkan Niroshima dan Nagasaki pada Perang Dunia II. Bukan pula mercon
yang meletus bagai kentut. Saya selalu bertanya-tanya, kenapa urusan dengan non
muslim jadi begitu ribetnya. Apakah saya akan di kutuk jadi batu seperti Malin
Kundang? Apakah saya akan jadi Sangkuriang?
Tentu,
yang tidak boleh tetap tidak boleh. Sahabat non muslim tetap sahabat saya. Salam
yang seharusnya untuk muslim saja, tidak akan terucap untuk mereka yang non
muslim.

Adapun memulai mengucapkan ucapan selain “Assalaamu’alaikum!” kepada mereka,
seperti ucapan “Selamat Pagi!”, “Selamat Datang!” dan ucapan yang
semisalnya kepada mereka (
non
muslim), maka hukum yang tampak (bagi kami) adalah boleh. Hal ini
dikarenakan: Hadits-hadits (yang ada dalam masalah ini) hanyalah terkait dengan
larangan memulai mengucapkan ucapan “Assalaamu’alaikum!” kepada
mereka dan tidak terkait dengan ucapan selamat yang lainnya. Di dalam (memulai)
ucapan “Assalaamu’alaikum!” (kepada mereka) terkandung
bentuk pemuliaan dan penghormatan yang spesifik bagi mereka, yang tidak
terdapat di dalam ucapan-ucapan selamat yang lainnya.” (muslim.or.id, disadur
dari fatwa.islamweb.net, 04/06/03).

Saya
rasa, perkaranya cukup sampai di sini. Kehidupan yang damai bersama non muslim
tidak perlu dihancurkan karena sebuah ucapan salam. Salam bisa beragam. Salam
bisa terucap di mana saja. Media sosial yang notabene sebagai sarana menguatkan
dalam menjalin silaturahmi tidak serta-merta dijadikan ajang pamer ini tidak
boleh dan itu tidak boleh. Mudharatnya itu ada pada diri kita sendiri,
biarpun bergaul dengan sesama muslim sekalipun, jika terjerumus ke perkara
negatif, tak akan ke mana, ke situ juga. Say hai dari sahabat non muslim
yang biasanya membaca tulisan di blog tidak bisa saya abaikan karena
takut di hukum. Ini bukanlah perkara yang mendapat hukuman perdata, hukum
penjara bahkan hukum cambuk.
Bicara
sejarah, kenapa aturan Islam begitu ketat terhadap interaksi dengan non muslim?
Kita sama-sama tahu bahwa masa itu berbeda dengan masa sekarang. Nabi Muhammad
SAW. menyebarkan syiar Islam kepada mereka yang masih menyembah berhala, tidak
beragama, yang pada dasarnya merupakan karakter-karakter yang jahiliah. Bicara
interaksi dengan non muslim, sebenarnya dari dulu sudah sangat adem sekali. Rasulullah
SAW. dibesarkan oleh pamannya yang seorang non muslim. Sejarah mencatat bahwa
Abi Thalib merupakan orang pertama yang mengakui kerasulan Muhammad, membela
keponakannya sampai darah penghabisan, menjaga dengan baik sampai tak ada
seekor nyamuk menggigitnya, walaupun kemudian Abi Thalib tidak memeluk Islam
sampai ajalnya. Sebuah syair dari Abi Thalib yang menguatkan bahwa interaksi
dengan non muslim perlu dijaga saya kutip untuk Anda.

Sungguh saya sadar, bahwa agama Muhammad adalah agama terbaik di muka
bumi ini. Andai bukan karena celaan dan takut hinaan, tentu engkau akan
melihatku menerima agamamu ini dengan penuh kelapangan dada  dan secara
terang-terangan.” – syair Abi Thalib, Paman Nabi Muhammad SAW.
(konsultasisyariah.com, 20/12/14).

Ketentuan
Allah memang tidak ada yang tahu. Islam atau tidaknya seorang Abi Thalib juga
hanya Allah yang tahu. Bagi saya, komunikasi Abi Thalib yang seorang non muslim
mencerminkan kelapangan dada seseorang dalam menerima orang lain dalam kondisi
berbeda. Abi Thalib menjaga Nabi Muhammad SAW. bukan cuma sebatas paman dengan
kemenakan. Beliau menjaga Muhammad sebagai nabi dan rasul dari Islam yang
sejatinya bukan agamanya.
Tatanan
Islam tentu tidak salah. Aturan mainnya juga baku. Namun untuk saya, perubahan
zaman yang terjadi semakin pesat. Saya kenal dengan non muslim, saya
berinteraksi dengan non muslim tidak hanya melalui blog, media sosial,
tetapi juga di kehidupan nyata. Hanya saja, bagaimana cara saya harus
menyeimbangkan aturan agama dengan interaksi sesama manusia. Hubungan manusia
dengan manusia adalah utang dengan manusia, berbeda dengan hubungan dengan
Tuhan. Apabila saya punya salah sekalipun dengan non muslim, di hari akhir itu
tetaplah utang yang mesti saya minta lunasi kepadanya.
Bagaimana
jika di benak saya pernah terlintas pemikiran begini, “Saya sudah beli buku
banyak diskonnya kok masih 10% juga!” Pemilik toko buku yang seorang non
muslim tersebut tentu tidak tahu soal keluhan saya ini. Namun, saya telah
mengunjingnya seorang diri dan selayaknya meminta maaf kepadanya. Jika terus
saya diamkan, ke depan akan terulang kembali, saya juga akan menjelek-jelekkan
toko buku itu beserta pemiliknya yang seorang non muslim. Padahal, saya telah
mendapatkan banyak keuntungan dari membeli buku di tokonya.
Pemilik
toko buku ini, maupun sahabat saya di media sosial, selalu mendoakan saya saat
hari besar Islam. Doa mereka walaupun cuma kata “selamat” saja tentu hati itu
mengharapkan kami yang muslim sejahtera dan bahagia. Tiap tahun mereka
memberikan selamat, tak kurang dari satu kali lebaran, sebuah pertanda bahwa
hati mereka begitu lunak.
Ke
depan, saya tetap berada di jalan menuju ridha-Nya dan sahabat non muslim tetap
berpegang teguh pada ajarannya. Komunikasi di media sosial maupun blog akan
tetap saya jaga karena ini hubungan sesama manusia. Urusan dosa dan hukuman
yang nyata, saya serahkan kepada-Nya saja.
***
Referensi:
*Republish Kompasiana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *