January 26, 2020

Salah Klik Iklan di Media Sosial seperti Tubuh Terbakar Api dan Perang Batin Meledak Seketika

kenalan di media sosial berujung penipuan dan pemerkosaan
Kenalan di media sosial berujung penipuan – vemale.com
Begitu
mudahnya pengiklan menjual produk mereka di media sosial. Mainan media sosial
telah menguntungkan banyak pihak. Apapun yang sedang populer atau ingin
dipopulerkan, lempar saja ke media sosial, nicaya keunikan itu akan meledak
bagaikan bom.
Baca Juga
Media
sosial begitu berpengaruh terhadap perkembangan individual. Jika Nabi Muhammad
saw. menekankan belajarlah dari ayunan sampai liang lahat, efek samping dari
media sosial, mainlah ia dari ayunan sampai tak pernah bosan. Wajar apabila media
sosial telah menjadi raja. Anak usia sekolah bahkan lebih hapal akun media
sosialnya dibandingkan perkalian atau tata bahasa Indonesia.
Pengaruh
zaman tak pernah bisa diubah. Dulu kita cukup bersantai dengan perjodohan dari
orang tua. Anak muda sekarang lebih banyak bermain api di media sosial,
berkenalan, lalu ada yang ditipu sampai akhirnya ada yang benar-benar serius ke
jenjang pernikahan.
Perkembangan Media Sosial
Siapa
saja yang terlarut dalam internet pada tahun 2000-an tentu mengenal Friendster.
MIRC menjadi salah satu perpesanan instan yang mengibuli pecandunya. Yahoo!
Messenger kemudian hadir dengan tatap wajah yang lebih serius. Di akhir cerita
dari YM ini banyak sekali kisah cabul dibalik bilik warung internet karena
telah mendukung video call dan voice call.
Tahun
2009 sampai sekarang adalah masa di mana dua media sosial berkuasa dan bersaing
sangat ketat. Facebook dan Twitter menjadi dua raksasa media sosial yang
masih digemari. Naik-turun saham Facebook dan Twitter di lantai saham
dunia tak urung membuat keduanya membeku. Belakangan, Twitter diembuskan sedang
mencari suntikan agar mampu kembali berjaya.
Kehidupan
di dalam Facebook dan Twitter tentu sangat berbeda. Pengguna Twitter terkesan
lebih profesional dibandingkan dengan Facebook. Namun keduanya memiliki sisi
yang berani, tak takut diblokir pemerintah suatu negara, terbuka dan tiba-tiba
membela diri apabila sedikit salah melangkah. Kedua media sosial ini kemudian
bergerak ke urusan perjodohan, percintaan klise, dimulainya kekerasan dan
pemerkosaan. Sekali lagi, Facebook dan Twitter tetap dapat membungkam tekanan
yang datang dari pemerintah atau lembaga swasta.
Awal
kemunculan Facebook dan Twitter, pertemanan media sosial ini lebih kepada
mengakrabkan rekanan yang telah renggang atau teman lama yang tak ada kabar. Belakang,
tampilan Facebook jadi lebih berani, user friendly, gambar yang mudah
dilihat, status yang mudah dibaca dan tak ada batasan karakter, serta perpesanan
online yang memiliki tanda seseorang sedang aktif atau tidak.
Keberanian
Facebook membuat membernya juga lebih bernyali. Akun-akun abal-abal
muncul silih-berganti. Kebijakan Facebook yang datang setelah itu juga bisa
dikibuli dengan masih bertaburan akun-akun dengan nama dan foto profil
disamarkan.
Iklan di Media Sosial
Siapa
bilang media sosial seperti Facebook dan Twitter bisa hidup tanpa iklan?
Kedua media sosial ini telah disusupi iklan untuk membuat mereka bertahan lebih
lama. Iklan-iklan yang bertaburan di Facebook dan Twitter terintegrasi dengan
mudah. Twitter versi Android dan iOS bahkan disusupi oleh iklan aplikasi yang
mengharuskan pengguna membuka karena tergiur gambar dan slogan.
Kebijakan
iklan di Facebook dan Twitter yang berbeda membuat Twitter lebih mudah
mengibuli user. Iklan di Twitter tampil lebih vulgar, nyata dan seperti
wajib untuk mengekliknya. User yang semula tidak tahu, tabu, bahkan
malu-malu menjadi lebih terbuka tentang sesuatu.
Salah
klik di iklan Twitter bisa nyasar ke ranah mematikan. Akun abal-abal yang semula
hanya bermain di Facebook, Facebook Messenger bahkan Twitter itu
sendiri lantas bermain di aplikasi dari iklan yang tayang. Apa yang tayang itu?
Salah satu di antaranya adalah aplikasi Blued yang baru saja diblokir oleh
pemerintah. Sejatinya, pemerintah terlambat bangun dari tidur panjang dalam
memblokir aplikasi ini.
Blued
merupakan salah satu aplikasi perpesanan instan yang khusus diciptakan untuk
kaum pecinta sesama jenis. Sloganya jelas. Gambarnya juga akurat. Sayangnya
iklan dari aplikasi ini begitu mudah tampil di Twitter versi Android maupun
iOS. Tabu yang semula dibungkam oleh Facebook dan Twitter dengan akun
asal-asalan kemudian menjadi terbuka. Migrasi ke Blued dilakukan oleh mereka
secara sadar dan tidak sadar. Tidak pernah ada yang tahu karena iklan di media
sosial ini seseorang mencoba-coba, menyasar, bermain dengan Blued yang notabene
bisa bermain live streaming dengan kenalan baru.
Iklan
di media sosial tanpa diseleksi sungguh disayangkan mengingat betapa banyak
pengguna Facebook dan Twitter. Proses coba-coba itu tidak hanya dialami
oleh remaja saja, orang dewasa yang telah memiliki tanggung jawab juga akan
melakukan hal serupa. Di Facebook dan Twitter akun abal-abal sangat berani,
bagaimana mungkin di aplikasi Blued mereka akan berdiam diri.
Kebijakan Pemerintah
Pemerintah
bukan saja hanya mengejar pajak dari Google semata. Banyak sekali pekerjaan
rumah di ranah internet untuk diperbaiki. Indonesia akan buta segala rupa tanpa
Google. Indonesia akan tetap disegani oleh negara luar apabila berani bersikap,
bertanggung jawab dan menetralisir suasana di ranah maya.
Facebook
dan Twitter masih termasuk ‘rumah’ yang aman untuk user. Terlepas
dari lepasnya kendali seseorang, kedua media sosial ini masih lebih banyak
manfaatnya. Kehadiran iklan yang seronok, aplikasi yang satu visi seperti
tersebut di atas, membuat nilai edukasi dari internet berkurang.
Baca Juga
Pemerintah
mempunyai kebijakan menghalau iklan dan aplikasi-aplikasi yang serupa. Pengguna
internet juga mampu menyeleksi apa yang layak dan tidak layak. Iklan salah satu
media yang mudah mempengaruhi seseorang. Iklan media sosial termasuk primadona
sebelum salah klik oleh warga maya. 
hilang etika di media sosial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *