January 19, 2020
pelopor Rumoh Tiram Aceh

Rumoh Tiram Kampung Tibang, Sebuah Kado Ichsan Rusydi untuk Warga Pesisir Pantai Aceh

Rumoh Tiram Aceh Kampung Tibang, Sebuah Kado Ichsan Rusydi untuk Warga Pesisir Pantai Aceh – Kampung Tibang, alunan tsunami yang tak pernah padam sampai kapanpun. Hamparan lautan yang pernah ganas di akhir 2004 menjadi pemandangan yang semerbak rindu akan kenangan. Waduk mengelilingi kampung yang bersebelahan dengan deru ombak. Di sanalah berdiri Rumoh Tiram, sebuah kado terindah Ichsan Rusydi untuk warga pesisir Aceh.

Di Tibang ini, tsunami menderu begitu ganas. Meski 15 tahun telah berlalu, gersang masih teras, tanah lapang ada di mana-mana, dan pemukiman yang tidak merata. Entah karena pemiliknya telah tiada atau ada yang enggan untuk menapaki hari kembali di sini.

Pagi ke sore, kapal nelayan menjadi pemandangan terindah di bawah bayang matahari terbenam. Kita pikir, cahaya keemasan itu menenteram kabahagiaan yang dipungut dari mimpi-mimpi indah. Tidak demikian saat sebuah dialog dibangun dari keberanian, bertanya dalam malu dan menanti jawaban dalam suara bariton, dari mereka yang bertanah lahir di pesisir ini.

Alunan Harapan dalam Secangkang Tiram

Air di waduk begitu tenang. Namun lautan lepas di sebelahnya tidak demikian. Aroma pagi begitu romantis dalam balutan kabut tipis dan suara angin laut yang bisa membawa keberkahan. Begitu matahari sepenggalah, suasana romansa berubah menjadi dahaga tak terkira, lalu sampai ke cakrawala senja yang keindahannya terukir dengan kanvas terbaik dari-Nya.

Salbiah baru saja duduk di depan waduk kala itu. Matanya menatap air pasang yang menenggelamkan setengah dari bambu kering, yang tak lain sebagai penyangga bagi rumah tiram. Di tangannya, tertenteng ember pecah dengan pengait besi yang berisi tiram segar.

“Dari kecil saya sudah cari tiram,” perempuan yang masa kanak-kanaknya di tahun 1962 itu memulai cerita. “Orang tua cari tiram, terus saya ikut mereka karena tak bersekolah. Tiram-tiram itu kami jual untuk beli beras, lauk dan kebutuhan lain,”
Salbiah, petani tiram sejak puluhan tahun lalu.
Mata Salbiah menatap kenangan ke renung hatinya yang tak terlihat. “Saya mulai pintar mencari tiram sejak itu. Kami bisa panem tiram banyak sekali dalam seharinya. Saya tak perlu diajarkan lagi bagaimana membedakan tiram dengan bongkahan batu. Orang tua sangat bangga dengan saya waktu itu,” tampak Salbiah menyeka air mata dengan tangannya, tidak melepaskan pisau di tangan yang tengah mengupas tiram dari cangkangnya yang keras.
Tiram yang belum dilepas dari cangkangnya.

“Saya tak bersedih dengan kondisi keluarga kami, dengan itu saya bisa mandiri seperti sekarang,” Salbiah tak henti menerawang ke suatu masa yang lewat. “Saya berhenti cari tiram waktu tsunami datang, tak lama saya balik lagi, tak ada yang saya takutkan, saya yakin di sinilah rezeki yang Allah titipkan untuk saya,”

Suara deru ombak sayup-sayup terdengar yang kontras dengan air tenang di waduk. Tangan Salbiah tak henti mengupas tiram dari cangkang yang dibalut batu keras itu. Ia ketuk-ketuk cangkang tiram dengan keras, lalu dikupas dan keluar daging tiram segar yang siap untuk disantap – jika berani menyantap mentah.
Tiram segar dari waduk Kampung Tibang.

Senyum tak lepas dari wajah Salbiah. Tenang dan tabah menghampiri perempuan setengah baya itu. Lanjut dari sebuah cerita panjang, Salbiah sungguh berbeda dengan petani tiram lain. Tiap hari, lepas subuh, dirinya menjual tiram sendiri ke Pasar Peunayong yang berjarak 7,5 km dari Tibang. Ia berangkat pagi sekali dengan tiram segar yang sudah dikupas dari cangkangnya, menanti labi-labi – kendaraan umum di Banda Aceh – atau berangkat dengan becak.

Atas apa yang dikerjakan Salbiah, adalah hasil yang bisa lebih dari rasa syukur. Dalam sehari, ia bisa mendapatkan penghasilan antara Rp 100 ribu sampai dengan Rp 200 ribu. Jika waktu yang tidak menentu, ia akan menjual ke agen dengan harga yang lebih murah.

Salbiah tak pernah berlama-lama di Pasar Peunayong. Saat matahari mengintip dari timur, ia bergegas pulang. Ia siapkan kebutuhan keluarga, lalu air pasang surut ia buru-buru menuju waduk untuk memanen tiram.

Ia mulai bercerita kembali, “Dulu, saya ambil tiram di waduk lepas dengan susah-payah. Tapi karena pengalaman puluhan tahun, saya bisa dengan mudah mengambil tiram itu. Sekarang, dengan adanya rumah tiram, saya tidak kesusahan lagi walaupun sesekali harus ambil di waduk lepas karena di rumah tiram masih kecil,”

Keluh Salbiah, “Tiram sudah tidak besar-besar lagi. Mungkin, karena saya ambil tiap hari. Mau bagaimana lagi, rezeki saya cuma ada di tiram ini!”

Tak terasa, hampir separuh tiram di dalam ember plastik itu Salbiah kupas. Selain tiram, ia juga mengambil kerang jika mendapatkannya.
Kerang juga diambil jika mendapatkannya.

“Kami bersyukur sekali dengan datang Pak Ichsan ke sini,” binar di wajah Salbiah mulai cerah kembali. Lelah di hari tuanya memang tidak bisa dimanipulasi. “Saya baru tahun ini terpilih dapat bantuan dari Pak Ichsan, sebelumnya tak pernah ada,” Salbiah hanya mengandalkan tiram di waduk lepas.

Salbiah menunjuk ke ‘kebun’ tiram miliknya. Area itu terpancang bambu-bambu yang sebagian sudah patah. Di bambu itu dikaitkan ban-ban mobil bekas yang sudah dibersihkan sebagai rumah tiram nantinya. Selain bambu, kayu-kayu juga dipancang di tengah waduk yang memperlihatkan tiram-tiram menetas di atasnya. Salbiah berkata, dengan adanya rumah tiram itu, dirinya dan petani tiram lain tidak kesusahan dalam mencari tiram lagi di waduk lepas yang luas.
Rumoh Tiram dari bambu dan kayu, juga ban bekas.
“Saya sangat berterima kasih kepada Pak Ichsan!” senyum Salbiah tidak ragu sama sekali. Karena itu, soal dirinya, dan perputaran roda ekonomi yang harus berputar tak henti di Tibang.

Ichsan Rusydi Sang Pelopor Rumoh Tiram di Tibang

“Ban bekas jadi materi bagus untuk rumah tiram,” ujar Ichsan Rusydi di bawah bayang matahari senja sore itu. Ban mobil bekas di depan kami itu sebagian masih utuh dan sebagian lainnya sudah dibersihkan bagian dalam yang biasanya terdapat kawat-kawat, dan material keras lainnya.
Ban bekas yang akan dikaitkan pada pipa paralon maupun bambu di atas waduk.

Ichsan memberikan pandangan, jika ban itu dibersihkan bukan soal keindahan saja tetapi habitat tiram lebih terjaga sehingga ekosistemnya makin banyak. Selain itu, ban yang tidak menyisakan bahan-bahan tajam juga akan melindungi daging tiram dari senyawa berbahaya, dan tentu mencegah tangan petani tergores saat sedang memanem.

Sederhana. Itulah metode yang dikembangkan Ichsan di bawah Yayasan Pendidikan Kemaritiman Indonesia. Ia bersama 10 mahasiswa Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Syiah Kuala, memberikan solusi dan alternatif termurah kepada masyarakat pesisir Aceh. Ia sadar bahwa kemampuan masyarakat yang relatif enggan membeli sarana pendukung mahal, lebih baik memulai dengan yang simpel dan ringan namun efektif dan efisien.

Ban mobil bekas mudah didapatkan di mana saja; gratis dan juga murah jika dibeli. Tiram yang melekat di ban bekas ini akan terus berkembang biang dalam waktu 5 sampai 6 bulan siap panen. Usia yang tepat untuk mendapatkan tiram yang jauh lebih besar dibandingkan membiarkan ekosistem tiram di waduk lepas.

Budidaya tiram menjadi masalah yang wajib diperhatikan karena mayoritas masyarakat sekitar pesisir ini adalah nelayan, yang hidup dari ikan dan tiram. Hal sederhana akan membawa pengaruh besar kepada masyarakat.

Ichsan berujar di senja itu, kalau dirinya memberikan contoh pembuatan rumah tiram yang kemudian dipraktikkan oleh masyarakat sekitar. Penerapan metode ini sangat efektif dan meringankan beban dari petani tiram. Kemelut di hati petani tidak lagi terasa manakala tiram mudah diambil, tidak lagi mencari di dalam waduk yang kotor dan berbahaya dengan bekas benda tajam maupun senyawa kimia lain.

Masyarakat semula mengandalkan bambu karena itulah kemampuan mereka. Salbiah berujar, mereka membeli bambu dari Blang Bintang atau daerah sekitarnya dengan jarak 16,9 km dari Tibang. Satu batang bambu lebih kurang Rp 30 ribu dengan ongkos antar menggunakan becak. Rata-rata petani tiram membutuhkan banyak bambu agar rumah tiram miliknya lebih besar, dan hasil panen lebih banyak.
Tiram yang senang berkembang-biak di atas ban bekas.

Ichsan datang dengan perubahan yang membuat hela napas lebih lega dari masyarakat pesisir Aceh ini. Keluh yang dirasa oleh Salbiah dan perempuan lain yang tiap hari bernapas dengan tiram, terasa lebih mengasyikkan.

Rumah tiram sudah mulai dibangun dengan pipa paralon. Pipa paralon ini sebelumnya diisi pasir dan semen agar padat dan menjadi media keras, sehingga mudah dipancangkan ke dasar air di waduk yang mengelilingi kampung. Di beberapa tempat sudah terpancang pipa paralon dan ban bekas telah dikaitkan di sana. Di sisi lain, pipa paralon berwarna putih itu sedang dipancangkan menggunakan mesin bor.
Petani tinggal ambil tiram di ban bekas di dalam waduk tanpa perlu mencarinya lagi.

Ichsan menyakini bahwa tiap rumah tiram memiliki keistimewaan tersendiri. Sebutnya, bisa dibayangkan dalam 6 bulan ke depan bagaimana panen tiram di kampung ini. Ia mencoba mendefinisikan, jika seorang petani membudidayakan tiram dalam sehari 10 ban maka dalam setahun petani tiram akan memiliki 3.600 rumah tiram.

Umur 5 sampai 6 bulan, tiram sudah bisa dipanen. Dalam satu ban, petani bisa mengambil minimal 2 mug tiram dengan kualitas lebih baik. Dalam sehari, petani bisa mendapatkan minimal 20 mug tiram. Keesokan harinya, petani bisa mengambil tiram di ban lain, begitu seterusnya jika petani tiram mau mengambil konsep dari Ichsan ini. Petani tiram tidak memaksa untuk mengambil tiram di ban yang sama dengan ukuran kecil tetapi membuat perputaran yang lebih baik sehingga pemasukan juga lebih banyak.

Katakanlah harga satu mug tiram itu Rp 15 ribu, maka dalam sehari petani tiram bisa mendapatkan pemasukan sebanyak Rp 300 ribu. Jika perputaran konsep ini berlaku dengan baik, petani tiram akan kontinu mendapatkan hasil panen tiap hari. Dalam sebulan, petani tiram bisa mendapatkan penghasilan Rp 9 juta, dan dalam setahun bisa mencapai Rp 108 juta.

Warga kampung yang sudah berhasil adalah Dedi dan juga Kandar. Dedi sendiri telah mengambil konsep ini dengan baik dan mendapatkan hasil yang maksimal. Sedangkan Kandar, selain membudidayakan tiram juga ikut terlibat dalam pemasaran bagi dirinya sendiri maupun warga kampung yang tidak menjual sendiri hasil panen seperti Salbiah.

Namun, sekali lagi, hal ini berlaku jika petani tiram mau menerapkan konsep yang telah disarankan oleh Ichsan. Tidak tertutup kemungkinan hal itu terjadi karena program Astra di Tibang – dan juga Alue Naga – masih akan berlangsung sampai tahun 2022.

Tahun ini menjadi awal yang baik untuk petani tiram di mana Ichsan telah memberikan pelatihan kepada 108 masyarakat, yang terdiri dari petani tiram, nelayan dan juga pengolahan tiram. Mulai tahun depan, petani tiram akan mendapatkan rumah tiram, lalu diantarkan ke tempat pengolahan tiram yang dibangun di belakang masjid Alue Naga, dan juga nelayan mendapatkan dukungan penjualan ikan.
pelopor rumoh tiram aceh
Pipa paralon sedang dipancangkan ke dasar waduk untuk membentuk rumah tiram.

Di satu sisi, sembari rumah tiram dari pipa paralon ini rampung, masyarakat telah mendapatkan pengetahuan bahwa tiram tidak saja dijual mentah tetapi bisa dijadikan nuget, dimsum maupun kerupuk.

Kualitas tiram di dalam rumah tiram ini akan terjaga dengan baik. Makin hari, pertumbuhan tiram ini makin baik karena wadah yang baik. Tiram yang berkembang-biak di dalam rumah tiram tidak lagi terkontaminasi dengan zat-zat kimia lain yang tercemar di waduk. Tiram yang menempel di ban-ban bekas itu mudah diambil oleh petani manakala usianya sudah masuk masa panen.

Harapan yang dibawa Ichsan dengan dukungan penuh dari Astra diharapkan mampu membawa perubahan di daerah pesisir ini. Harapan Salbiah, perempuan-perempuan lain di sini bisa didengarkan untuk perubahan nyata. Dengan adanya rumah tiram, masyarakat bisa terberdaya!

Dialog saya dengan Ichsan di dalam video ini menegaskan bahwa keyakinan, harapan dan keikhlasan membantu masyarakat pesisir adalah senyawa yang tak bisa dipisahkan.

Ichsan Rusydi dan Rizkan Jadid mendapatkan penghargaan Semangat Astra Terpadu (SATU) Indonesia Awards 2016 untuk kategori kelompok. Kini, Ichsan melanjutkan estafet program Rumoh Tiram ini sampai 5 tahun program semenjak penghargaan diberikan.
pelopor rumoh tiram aceh
Harapan Ichsan Rusydi untuk petani tiram.

Pandangan lurus ke depan, pipa paralon itu bisa memberikan wajah baru untuk perekonomian Tibang dan Alue Naga. Tibang adalah tiram. Alue Naga adalah tiram. Keduanya saling padu, memberi senyum dan angan-angan lebih tinggi.

Asa yang digantung pada Ichsan oleh Salbiah bukan sebagai penawaran. Perempuan tua dengan pengalaman mencari tiram puluhan tahun itu, sungguh berterima kasih atas apa yang diterimanya tahun ini. Tiram adalah dirinya. Dan, Ichsan sebagai pertanda baik perekonomiannya lebih bagus beberapa waktu ke depan.
pelopor rumoh tiram aceh
Ichsan Rusydi penerima penghargaan SATU Indonesia Awards 2016.
Jangan lagi jadi angan untuk menjadi lebih baik. Semangat tak boleh pudar meskipun hidup jauh dari kaya. Asalkan ikhlas, rezeki sedikit jauh lebih berkah!

2 thoughts on “Rumoh Tiram Kampung Tibang, Sebuah Kado Ichsan Rusydi untuk Warga Pesisir Pantai Aceh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *