January 22, 2020

Romantic Dinner di Atas Kapal Pesiar Chao Phraya, Bangkok

Begitu
terompet kemenangan dibunyikan, saya girang bukan main. Ini kali pertama saya
akan ke Bangkok, Thailand. Sebuah negara yang terletak di Asia Tenggara, cukup
bersahabat dengan Indonesia dan dijuluki Negeri Gajah Putih. Saya mengira,
sebentar lagi mata dengan tatapan sendu ini akan melihat gajah-gajah berdansa
di pusat kota, berwarna putih dengan manik-manik emas di seluruh tubuhnya. Saya
sudah tidak sabar menanti momen berharga ini dan menikmati megahnya kemacetan
di negeri yang sedang berkabung atas meninggalnya Raja Bhumibol Adulyadej. Raja
yang sangat dibanggakan oleh rakyat Thailand dan merupakan raja yang paling
lama berkuasa di dunia.

Gemerlap
Bangkok langsung terasa begitu pesawat yang membawa kami mendarat di Bandara
Internasional Don Mueang. Antrian cap imigrasi yang tergesa-gesa dibumbui oleh
petugas yang kurang paham bahasa Inggris. Teman saya, Annafi, wanita berkacamata
dari Jakarta yang lupa menambahkan hotel penginapan harus berdebat sambil
terbata-bata dengan petugas imigrasi yang terus saja mengumpat dalam bahasa
Thai. Saya menunggu hampir lima menit di pinggir eskalator bersama Yogi dan
Indah, sepupuan dari Yogyakarta yang kemudian menjadi akrab dengan saya.
Jalan
berliku menuju kota Bangkok begitu menggelora setelah kami bersalaman dengan
Freddy, teman baru yang menjadi guide di sesi cuci mata di negeri ini. Gedung-gedung
seumpama kotak-kotak misteri yang diisi oleh syair-syair yang tidak bisa saya
terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Tawa lelah langsung terkesima saat kami
singgah sebentar di hotel sebelum bergegas ke hajatan utama, keliling-keliling
kota dengan teka-teki penuh sensasional. Antusias saya ditanggapi syahdu oleh
Juniawan, pria lebih muda dari Jakarta namun memiliki tubuh lebih besar dari
saya. Vika yang sudah pernah ke Bangkok sebelumnya, tampak lebih menikmati
setelah lelah terbang dari Surabaya. Dan Nurul, yang kami sebut sebagai mother
of the trip
memang sangat keibuan menanggapi kami walaupun hatinya terpisah
antara Bangkok dan Surabaya.
Siang
yang sama teriknya dengan di Aceh tidak mengurung niat saya bergegas ke seluruh
kota. Di mana-mana adalah hamparan gedung dan kemacetan yang semerbak harum
kasturi. Keliling Bangkok dengan taksi lalu berganti dengan kereta listrik, Bangkok
SkyTrain (BTS), menjadikan pengalaman semanis madu, seasam jeruk nipis dan
sepahit daun pepaya. Antrian panjang di sore hari melebur dalam kepenatan anak
sekolahan dan para pekerja. Sungai mahakarya di Kota Bangkok, Chao Phraya
menanti kami.
Di
sore itu, kami hanya keliling sungai dengan kesibukan yang membuat penasaran. Kapal-kapal
yang dijadikan sarana transportasi begitu mewah di tengah-tengah kota. Tempat perberhentian
perahu ini bagaikan terminal yang disulap dengan indahnya. Tiap-tiap kapal yang
berlayar di atas sungai ini akan berhenti untuk menaikkan maupun menurunkan
penumpang. Saya tidak mau melenyapkan kesempatan ini dengan berfoto. Gedung-gedung
tinggi di bibir sungai menjadi objek yang lebih jernih dari hasil foto itu
sendiri. Sesekali nahkoda yang mengomandoi kapal cepat yang kami tumpangi itu
menyebutkan tempat-tempat – ikon-ikon – kota yang kami lewati.
Malam
yang kemudian menyelimuti tubuh lelah kami, tak bisa ditepis untuk kembali. Malam
ini pula yang menjadi sebuah pengharapan tertinggi untuk mengecap kemewahan di
kota Bangkok. Teman saya, Fardelyn Hacky sempat berujar di media sosial dengan
bangga dan senangnya.
“Kamu
sudah ke Chao Phraya, Bai? Tempat itu adalah ikon kota Bangkok yang tidak bisa
dilewatkan begitu saja!”
Saya
tidak sempat membalas dengan segera pesan wanita ini karena jaringan internet
harus menunggu Wi-Fi hotel. Saya baru memulai sebuah canda di media sosial,
menyambung kata dengannya pada sebuah kalimat yang mengharu-biru.
“Saya
sudah ke Chao Phraya, salam katanya untukmu!”
Salam untukmu dari Chao Phraya – Photo by diarysivika.com
Mungkin,
jika sungai ini benar bisa menitipkan salam, saya juga akan menitipkan sebuah
kecupan untuk kamu yang sedang membaca ini. Sore yang menggelora dengan
kesibukan kapal-kapal pengangkut penumpang, malam hari rupanya genderang
bertalu-talu baru dimulai. Freddy yang jalannya begitu cepat membuat kami ngos-ngosan.
Saya baru tersadar bahwa itu untuk mengejar waktu, membeli tiket masuk ke kapal
yang belum saya pikirkan bentuknya bagaimana. Saya cuma menawarkan diri di
ingatan agar tidak berharap terlalu megah soal dinner. Ekspektasi saya
adalah makanan halal dengan bumbu-bumbu tidak pedas sama sekali. Namun, mata
yang terbelalak seketika membuang lelah ke muara sungai yang lebih besar dari
sungai di kampung saya yang sering menimbulkan banjir.
River
City, permulaan dari segala kemewahan bagai film romantis Korea. Di dalam
gedung yang merangkap sebagai pusat perbelanjaan ini telah ramai oleh
orang-orang. Mungkin saja mereka juga akan menikmati makan malam seperti kami. Freddy
bergegas ke salah satu sudut, di mana tiket box untuk sebuah pelayaran
didapatkan dari sana. Kami mengitari seluruh gedung, mencari kamar kecil,
berhimpitan dengan wajah rupawan di mana-mana. Saya merasa begitu kerdil karena
di segala sudut adalah mereka dengan pakaian rapi, gaun berkilauan, dan wajah
segar untuk menikmati dinner romantis. Saya baru menerka-nerka, ini
bukanlah dinner dengan makanan soto ayam atau es campur saja. Makan
malam ini akan dibumbui oleh percikan air sungai yang tak bisa tenang memeluk
kapal-kapal yang gemerlap lampu dan musik menyentak-nyentak telinga.
Freddy
tergopoh menjumpai kami di pintu kamar kecil, rupanya pria asal Indonesia yang
telah bekerja di Bangkok ini sama tak sabarnya dengan kami. Pria yang sudah
bisa berbahasa Thai ini membagikan stiker dan tiket masuk kepada kami. Stiker
berbentuk bulat telur itu harus ditempelkan di sisi pakaian manapun asalkan
terlihat saat masuk ke dalam kapal pesiar.
Jantung
saya berdetak lebih kencang. Romantic dinner di atas kapal pesiar selama
ini cuma saya nikmati di film-film romantis besutan luar negeri. Kami mengekor
Freddy yang berjalan begitu tergesa-gesa, di kemudian hari saya paham bahwa pria
itu memang begitu jalannya. Kami bagaikan semut yang menyalip orang-orang di
pintu keluar gedung ke bibir sungai. Di dekat pintu masuk ke kapal pesiar, di
saat kapal pesiar bergantian parkir untuk mengambil penikmat malam, di saat itu
pula saya merasa kepanasan dan keharuan menggoda. Di tiket masuk terlihat meja
kami 1D, yang entah ada di lantai satu atau dua kapal pesiar. Namun, untuk
masuk ke dalam kapal pesiar yang sebentar lagi menjemput kami, terdapat satu
lagi ritual yang tidak boleh dilewatkan. Wanita cantik dengan pakaian adat Thai
datang menyematkan bunga hidup di sisi kiri baju, lalu berfoto sebagai
kenang-kenangan. Suasana romantis begitu terasa begitu saya melihat
pasangan-pasangan dari barat, Asia maupun Timur Tengah berdesakan di pintu
masuk kapal pesiar yang telah parkir.
Chao
Phraya Princess II adalah kapal pesiar yang tidak terlihat di sore kami
mengitari sungai ini. Mewahnya bagaikan alunan musik yang tak berhenti saat ia
mampir sampai kami masuk ke dalam kapal. Beberapa penari menyambut kedatangan
kami di pintu masuk. Sorakan di mana-mana dan seperti ada kembang api
diletuskan seketika. Saya bahkan merasa ini bukan malam biasa, ini seakan malam
tahun baru atau malam-malam istimewa lainnya.
Langkah
berdesakan ke dalam kapal pesiar dua tingkat ini disambut oleh pelayan yang
terbata mengarahkan kami berdasarkan warna stiker dan nomor meja. Saya yang
berjalan di depan menyebutkan nomor meja dan langsung diarahkan ke lantai dua. Kekhawatiran
sebelum tahu tempat duduk terjawab sudah. Lantai dua adalah tempat terasyik
untuk menikmati kota Bangkok di malam hari. Di sudut dekat DJ memainkan alat
musik, di antara penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu barat, kami menikmati
angin sepoi-sepoi yang auranya sama dengan di Indonesia.
Di
atas meja, telah terdapat cocktail warna biru menggoda. Menu pembuka
yang dipacari dengan kentang goreng rasanya sulit untuk dilewatkan. Yogi yang
mencium dengan penuh sensasi, menyebutkan minuman iut tidak mengandung alkohol.
Saya tidak yakin sehingga tidak mencoba minuman yang kemudian dianggurkan
sampai kami usai makan malam. Saya tidak khawatir kehausan karena botol-botol
air mineral terdapat begitu banyak di atas meja.
Saat
yang dinanti tiba tak lama setelah genderang musik dikeraskan. Kapal pesiar
mulai meninggalkan parkiran di River City. Musik bertalu-talu mengiringi
perjalanan kami mengelilingi kota Bangkok yang gemerlap. Gedung-gedung tinggi
masih menyisakan cahaya lampu, mungkin saja karyawan lembur mengejar deadline.
Kapal-kapal pesiar lain mondar-mandir di sungai yang airnya bagai ombak di
lautan. Chao Phraya Princess II mulus membelah sungai yang bergelombang. Tawa di
segala penjuru walaupun musik dikencangkan dengan ritme upbeat. Orang-orang
mulai mengantri di meja prasmanan. Saya, Vika dan Nurul mengambil kesempatan
pertama dan yang lain menunggu di meja. Mata tak bisa menipu selera, namun hati
tidak tenang untuk mencicipi segala rasa. Makanan-makanan mewah dari chef
kelas atas tentu tidak bisa saya nikmati di kesempatan lain. Label halal memang
tertulis di salah satu sudut namun saya tidak berani mencoba terlalu banyak. Nasi
putih tak mungkin saya hindari untuk stamina besok hari. Sayur-sayuran yang
tidak berminyak saya jamah. Daging ayam dan sapi tidak jadi saya ambil karena
kekhawatiran ini dan itu. Lalu, udang panggang saya comot dalam jumlah banyak,
sekitar lima biji, yang memenuhi piring.
Live music menemani dentingan
piring dengan sendok. Lampu kerlap-kerlip bagaikan di dalam sebuah gedung
pertunjukan musik. Freddy bolak-balik mengambil makanan, dan ia mengambil udang
dalam jumlah banyak. Tidak mau melewatkan udang-udang itu, saya menyantapkan
lebih banyak dan membuat rasa takut akan perkara penyakit karena banyak makan
udang.
“Halal
semua, Bang!” Yogi menimpali karena saya tidak mengambil menu yang lain. Saya tidak
lantas bangkit dan mengambil menu-menu lezat lainnya. Hati saya lebih memilih
udang saja yang dipanggang dengan lebih lezat. Chao Phraya Princess II bagaikan
ratu yang memberikan kenyamanan untuk rakyatnya. Selama mengitari kota Bangkok,
musik yang menyentak, seruan di segala sudut, makanan lezat dan aliran sungai
yang bersahabat, kapal pesiar ini pun lebih tenang dan nyaman mengarungi malam.
Makan
malam romantis di atas kapal pesiar Chao Phraya, Bangkok, sebenarnya akan
romantis bersama pasangan. Namun kesempatan saya kali ini tidak bisa digadaikan
dengan apapun. Kamu yang ingin menikmati romantic dinner di atas kapal
pesiar selama 2 jam di Choa Phraya, tiket masuknya cukup mahal untuk ukuran traveling
santai, yaitu THB 1.500. Kamu tentu tidak mau melewatkan kesempatan emas ini jika
ke Bangkok. Kalau bukan sekarang, kapan lagi menikmati gemerlap malam yang
menggelora?
Lalu,
bagaimana saya bisa ke Bangkok dan menikmati makan malam di atas Chao Phraya Princess II
yang romantis? Saya mengikuti Priceza Indonesia Writer Hunt 2016 yang
diselenggarakan oleh Priceza Indonesia.
Perjalanan untuk sampai ke tahap expert writers tidak main-main. Saya harus
mengirimkan 50 artikel selama 2 bulan yang akan dimuat oleh website
Priceza. Saya sempat menyerah karena beberapa artikel ditolak, namun saya tidak
mau mengakhiri begitu saja perjalanan yang telah dimulai. Priceza Indonesia
menyediakan 8 kuota untuk penulis tercepat namun hanya 7 yang berangkat. Traveling
ke Bangkok menjadi pengalaman yang tidak bisa dilupakan karena yang namanya
gratis tetap saja manis walaupun banyak gulanya. Selain jalan-jalan dan makan
gratis, kami juga diberikan uang saku sebesar THB 5.000 untuk masing-masing
penulis.
Priceza
Indonesia merupakan salah satu situs pembanding harga yang populer. Kamu bisa
cek harga sebelum berbelanja di situs ini untuk mendapatkan penawaran terbaik. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *