January 24, 2020

Cerita Dia yang Ingin Pulang ke Aceh Pada Paruh Mei Lalu

“Bang, jadi ke Jakarta?” begitu
dia bertanya kepadaku dalam sebentuk pesan di satu baris layar smartphone itu. Mungkin, ada sebutir
kecemasan dalam nada itu. Entah apa, tetapi kemudian kutahu saat kami bertemu
sepuluh hari setelah itu. Derap nadi yang tidak bisa aku jabarkan menjadi
pendar-pendar emosi yang dibentuk oleh wajar putih memucat. Bahwa dia, butuh
teman pulang ke Aceh dengan pesawat terbang yang belum pernah ia jejaki.  

Tepatnya, dia menyebut, “Aku
ingin pulang juga, Bang!” kutahu, dia hanya sementara di Ibu Kota, melepas
rindu kepada saudara kandungnya yang telah lebih 10 tahun merantau. Pulang
adalah kata hemat penuh aroma setelah sebulan penuh merantai diri dalam
kemacetan dan kejenuhan kota metropolitan. Sebait lalu, beberapa saat sesudah
aku mendapatkan undangan ke Jakarta, aku mengabarkan kepadanya. Desir dari
Ayahnya, tetangga rumah, yang pernah menyebut bahwa putrinya ingin pulang
tetapi tidak tahu ‘jalan’ untuk itu.
Dua hari sebelum aku termangu di kursi keberangkatan Bandara
Internasional Sultan Iskandar Muda, aku kembali berkabar dengannya. Pesanku
waktu itu, “Beli saja tiket pesawat dengan nomor penerbangan ini, hari ini, jam
ini!” tegas dan mudah untukku menyebutkan. Tetapi, tidak mudah dicerna olehnya.
Tak lama, aku kembali mendapatkan
pesan singkat darinya, “Bang, tidak ada tiket pesawat nomor penerbangan itu!”
kecemasan melanda kala itu, tiba-tiba aku merasakan kecemasan yang sama. Ketakutan
dirinya tidak mendapatkan tiket pesawat, tidak bisa dia pulang denganku, tidak
bisa pula dirinya tenang sampai ke rumah yang dirindukan.
“Nggak mungkin,” aku mendesis
dalam diri. Pasti ada nomor penerbangan yang kusebut tadi. Tidak mungkin tidak
ada, toh aku juga akan naik pesawat
dengan nomor penerbangan yang tertera tersebut, pada hari yang telah kusebut,
pada jam yang pasti itu juga.
Sekadar memastikan, aku masuk ke
aplikasi Traveloka yang telah kuunduh sebelumnya. Kusebut; ini adalah pertolongan pertama situs penjualan tiket online kepada
sepupu jauh itu yang gelisah belum bisa pulang
. Aku memasukkan Kota Asal
dan Kota Tujuan serta Tanggal Berangkat. Mei itu, tidak mungkin nomor
penerbangan yang tertera di e-ticket
yang kudapat dari sponsor mendadak hilang. Aplikasi Android Traveloka berjalan
cepat, memberikan beberapa alternatif penerbangan dari CGK (Soekarno-Hatta,
Jakarta) menuju BTJ (Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh).
Pesan tiket pesawat mudah dan cepat di Traveloka.
Mataku langsung menemukan nomor
penerbangan yang sama dengan e-ticket
yang kupegang. Aku memastikan hari, tanggal dan jam penerbangan. Semua telah
sama. Lalu, aku screenshot pencarian
tersebut dan langsung kukirim kepadanya melalui pesan WhatsApp. Kuberi
penjelasan, “Ini nomor penerbangan yang harus dipesan!”
Dia hanya membalas, “Iya, Bang!” dan
kemudian tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan memesan tiket untuk pulang.
Tetapi, aku yakin sekali dia akan memesan, entah di aplikasi Traveloka atau di
agen travel lainnya. Aku tidak bertanya, aku beralasan telah membuka jalan, aku
pun tersibuk dengan packing
kecil-kecilan; karena lepas acara aku
akan menjemputnya beberapa hari di rumah kakaknya di kawasan Jakarta Selatan
.
Traveloka membantu pesan tiket pesawat di mana saja dan kapan saja.
Kutarik koper cokelat dengan gembok
kecil dua di tiap resletingnya, terseok menuju pintu toko yang masih terbuka. Salam terucap dari mulutku. Dia
bergegas tersenyum senang mendapatiku berdiri di pintu toko kelontong itu;
usaha kakaknya yang kusebut telah berhasil. Senyum cerah di wajahnya menjawab
tiap tanya yang belum kulontarkan sama sekali. Dia yang tersipu malu terus
digoda kakaknya.
“Tahu nggak? Dia itu nggak bisa
tidur sebelum kamu sampai ke sini,” ujar Yusri, kakaknya yang selama ini
curi-curi waktu mengirim pesan kepadaku. Rupanya, Yusri tidak memberi tahu
kepada dia bahwa aku telah sampai di Jakarta dan juga telah dalam perjalanan ke
tempat mereka, sekitar satu jam lalu kutekan send di layar smartphone kesayanganku.
“Mana ada,” dia tak bisa
memanipulasi gusarnya.
“Dia takut kamu nggak jadi ke
sini dan nggak bisa pulang,” Yusri tidak mau kalah.
“Nggak mungkin, kan, Bang?” dia juga
tidak mau kalah. Aku hanya mengangguk dalam lelah.
Yusri membuka smartphone miliknya dan menyodorkan
kepadaku, “Ini tiketnya,”
Aku memeriksa dan memastikan e-ticket yang terlihat itu sama dengan e-ticket milikku. Terlihat di layar smartphone itu, Yusri, memesan tiket
pesawat di Traveloka. Aku memang tidak menyebut membeli tiket di sini atau di
tempat lain. Saat aku ingin mengetahui jadwal penerbangan beberapa hari lalu,
hanya Traveloka yang terlintas di benakku. Kupikir, wajar jika Yusri memesan di
Traveloka karena aku mengirimkan gambar kepadanya dari hasil screenshot di aplikasi yang sama.
“Ini e-ticket yang dikirim ke e-mail
ya?” tanyaku.
“Iya. Apakah perlu diprint lagi?” ada bingung di pertanyaan
Yusri.
Print saja, buat jaga-jaga kalau nanti smartphone habis baterai saat check-in!”
saranku yang langsung diiyakan oleh Yusri dan dia, adiknya Yusri, Rauzah
namanya. Seorang gadis tinggi, putih, dan berperawakan bagai model. Wajahnya
tidak lagi memudar seperti pertama kutatap beberapa menit lalu. Wajahnya kini
tampak makin cerah, mungkin karena harapan untuk pulang segera tersampaikan. 
“Rauzah sudah bisa tidur malam
ini,” seru Yursi yang langsung ditepis Rauzah dengan lambaian tangannya. Mungkin,
dia memang bisa tidur. Mungkin juga, dia masih harap-harap cemas. Aku menangkap
kemungkinan kedua dari sorot matanya. Wajar jika itu terjadi. Karena, aku
berkata begini sebelum kami terlelap malam itu, “Nanti waktu check-in kursinya bisa jauh karena tiket
kita berbeda,”
“Maksudnya, duduknya jauh ya,
Bang?”
“Iya. Tapi nggak apa-apa kok. Kalau jauh nanti bisa ganti sama
penumpang lain, bisa juga kamu beranikan diri, kan, masih satu pesawat,”
Tiba di hari kami pulang, Yusri
yang mengantar kami, bersama ipar dan keponakan mereka, masih membuat
senda-gurau. “Bagaimana ini, Rauzah? Kayaknya kita nggak akan sampai ke
bandara!” gurau pertama Yusri sambil menyetir pelan menembus kemacetan.
“Jangan begitulah,” Rauzah
mengeluarkan nada tidak biasa, sulit kuartikan waktu itu antara emosi dan
marah.
“Kamu nggak lihat sendiri, ini
macet sekali,” Yusri tidak mau kalah.
Kan bisa cari jalan lain,”
“Nggak bisa keluar kita!”
Benar, seolah kami tertahan dalam
kemacetan. Aku melihat raut wajah Rauzah di belakang. Dia pias. Yusri tersenyum
puas.
“Dari sini ke bandara mana jauh
sekali,” ujarku kemudian.
“Benar, Bang?” tanya Rauzah.
“Iya,”
Yusri terkekeh. Rauzah menepuk
pundak kakaknya dengan keras. Terdengar suara teriakan Yusri yang melengking.
Selanjutnya, adalah cerita-cerita seru antara Rauzah, iparnya – istri Ipan
kakaknya Yusri, keponakannya yang berusia tiga tahun dan adik ipar mereka yang
ikut mengantar kami.
Selfie sebelum berangkat.
“Rauzah, coba kamu lihat lagi
benar nggak bandaranya?” Yusri mulai candaan kedua.
“Maksudnya apa?” Rauzah
kebingungan.
“Mana tahu kamu naik pesawat di
Bandara Halim,”
Rauzah buru-buru mengeluarkan e-ticket yang telah diprint. “Mana keterangannya?”
Aku melirik ke belakang, lalu
menunjuk ke kertas dengan logo Traveloka di bagian atasnya.
“Bandara Soekarno-Hatta,” ujar
Rauzah girang.
Kan, mana tahu kamu salah alamat,” Yusri masih saja bercanda.
“Sudah ah, Yus, kasihan Rauzah,”
ujar ipar mereka menenangkan. Kupikir, iparnya itu lebih ingin menenangkan
suasana hati Rauzah yang sedang meraung-raung tentang penerbangan kami nanti.
Kami memasuki area Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten. Yusri memarkir mobil di depan Pintu Keberangkatan. Kami turun, mereka saling bersalaman dan berujar hati-hati dalam perjalanan. Aku menanti dan berjaga waktu check-in telah mendesak. Rauzah ke Jakarta waktu itu melewati jalanan darat bersama Yusri, Ipan, istri Ipan dan dua anak mereka.
“Ayo, kita check-in!” ajakku. Rauzah mengikuti di belakang sambil melambaikan
tangan kepada mereka yang ditinggal. Aku mendorong koper seperti biasa, mengeluarkan
tiket, kartu tanda pengenal, untuk diberikan kepada petugas di pintu masuk
nantinya. Rauzah juga mengikuti arahanku. Tiap jengkal kuajarkan Rauzah untuk
melewati masa itu, di X-Ray yang terkesan rumit Rauzah melewatinya dengan
santai. Mungkin dia berdegup saat kami mengantri untuk check-in.
“Sini, aku check-ini saja,” aku meminta Rauzah berdiri di belakang. Mendorong
sedikit kopernya untuk masuk ke bagasi nanti.
“Mbak, ini tiketnya berbeda.
Apakah kursinya bisa berdekatan?” tanyaku kepada petugas check-in.
“Mohon ditunggu ya, Pak. Saya
coba cek terlebih dahulu,” ujar wanita dengan rambut sebahu itu dengan ramah.
Aku menanti beberapa menit. Rauzah
tampak gusar. Dari bibirnya sekonyong keluar isyarat, bisa? Aku mengangguk, mungkin jawabannya lebih tepat tiket dari
Traveloka yang telah dirinya print
tidak masalah, bukan seat yang akan
kami dapatkan di dalam perjalanan ini.
“Mohon maaf ya, Pak. Sistem
membaca otomatis jadi nggak bisa dipilih seatnya
lagi,” petugas check-in itu
memperlihatkan penyesalan yang mendalam.
“Oh, tidak masalah, Mbak,” ujarku
sangau.
“Tapi, nanti jika ada penumpang
lain yang mau berbagi, bisa dicoba ya, Pak!” pesan petugas check-in itu sambil memberikan boarding
pass
dan mengembalikan kartu tanda pengenal serta tiket kami.
Saatnya pulang dengan menarik
langkah ke ruang tunggu. Pemeriksaan akhir kami lewati dalam diam. Aku melihat
gurat tidak tenang di wajah Rauzah. Satu tahap dia telah melewati masa krisis
itu dengan bantuan Traveloka, yang membantunya menyamakan tiket sama denganku;
nomor penerbangan, hari dan jam yang sama. Di sisi lain, dia gusar karena seat sangat jauh dariku.
Suasana bandara yang sibuk seorang diri.
“Jangan khawatir, kita satu
pesawat, kok,” ujarku menenangkan
hati Rauzah. Aku khawatir pun dengannya. Aku berharap
dia baik-baik saja. Niat untuk menukar seat
dengan penumpang lain tidak terlaksana karena, “Nggak apa, Bang. Aku coba
berani saja!”
Dan itu telah berlalu pada paruh
Mei lalu. Rauzah telah sampai di rumah dan memulai aktivitasnya kembali dan aku
juga demikian. Kupikir, tidak ada rasa senang selain membantu orang lain meski
hanya segelintir kisah yang dihembus sekali lalu dilupakan begitu saja.
***

Catatan: informasi mengenai
pemesanan tiket di Traveloka tidak lagi tersimpan dalam bentuk screenshot maupun print out. Mengingat, perjalanan ini terjadi pada bulan Mei dan
pemesanan tiket dilakukan oleh Yusri, kakaknya Rauzah. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *