Permasalahan Mental yang Sering Dirasakan Siswa di Sekolah

Permasalahan mental

Siswa di sekolah dengan permasalahan mental? Sepertinya bukan lagi rahasia umum jika siswa di sekolah mendapatkan hal demikian.

Siswa dengan permasalahan mental itu tampaknya banyak sekali, hanya saja tidak semua siswa mau mengutarakan isi hatinya kepada orang lain termasuk guru di sekolah.

Permasalahan Mental Pada Siswa

Tahukah kamu berapa banyak siswa yang patah hati selama menjalani masa sekolah? Jika ingin melakukan survei, 8 dari 10 siswa pernah mengalami patah hati selama masa sekolah. Hal ini tentu berdampak kepada permasalahan mental.

Siswa yang didepak begitu saja oleh perasaan cintanya akan merasa galau, gusar, gelisah, dan tidak mau belajar yang berakibat permasalahan mental makin menjadi-jadi.

Jika siswa lain mengetahui seorang siswa jatuh cinta lalu bertepuk sebelah tangan, maka siswa ini akan memperpanjang permasalahan mental karena mendapat perundungan. Tak bisa dipungkiri bahwa anak-anak di sekolah sangat gemar merundung kawannya yang ditolak cinta.

Permasalahan mental karena cinta ini lumrah terjadi dan menjadi masalah yang rumit tetapi unik. Di mana masa remaja memang demikianlah daya tarik dari kehidupan anak sekolahan. Jika belum mendapatkan rasa jatuh cinta, lalu ditolak maka belum sah mendapatkan label keren.

Siswa yang mendapatkan masalah lebih rumit, permasalahan mental tentu butuh perlindungan untuk move on. Di masa mereka, cinta berbentuk hati dan berwarna merah jambu tak mungkin ditukar meksipun pada waktu dewasa nanti mereka akan menertawakan hal tersebut.

Perkara Jatuh Cinta dan Pindah Sekolah

Saya menjadi saksi ketika seorang siswa mengalami permasalahan mental berkepanjangan. Sebut saja nama siswa itu Mulyanda. Keren sedikit. Pintar pas-pasan. Mau tebar persona rasanya tidak cukup lantaran masih ada ketua OSIS yang keren, tinggi, jago berbicara di depan umum dan tentu saja digemari cewek-cewek.

Mulyanda jatuh cinta. Permasalahan mental pertama. Ia mengejar cewek yang disukai dengan segala daya upaya. Seminggu mendekati, dua minggu dicueki. Sebulan didekati tahu-tahu surat bersampul merah jambu disobek di depan kelas.

Nama juga anak muda harus kuat namun tidak demikian dengan Mulyanda yang manja. Surat cintanya yang ketahuan menjadi petaka soal permasalahan mental baginya. Mulyanda mendapat perundungan dari seluruh anak cowok di sekolahnya.

Mulyanda merasa diri. Jadi pendiam dan malu. Takut keluar kelas, lantas takut pergi ke sekolah. Padahal, anak-anak lain mungkin sudah melupakan permasalahan mental yang dialami oleh Mulyanda. Hatinya yang rapuh tidak bisa ditawar untuk kembali gagah.

Mulyanda tidak bisa menata permasalahan mental dirinya. Hal sepele di masa remaja ia jadikan petaka sampai enggan ke sekolah. Guru datang ke rumah, alasan Mulyanda sakit. Izin diberikan. Lantas, desas-desus dari siswa lain menyebutkan Mulyanda malu ke sekolah karena ditolak cinta.

Permasalahan mental yang benar-benar rumit. Mulyanda memilih pindah sekolah karena hal ringan begitu. Ia tentu tidak siap dengan keadaan ditolak. Ia tidak bisa menerima kekurangan. Ia tidak mampu memberikan hal positif terhadap dirinya sendiri.

Begitulah permasalahan mental di lingkungan sekolah. Sering terjadi tetapi banyak siswa yang melupakan hal tersebut. Namun, sikap dari Mulyanda dalam menyikapi permasalahan mental di dalam dirinya tidak bagus untuk dicontoh. Seorang anak, tanpa memandang jenis kelamin, jika sudah mendapatkan permasalahan mental bukanlah lari melainkan menyelesaikan dengan baik-baik.

Sekolah dan Segudang Masalah

Siapa bilang sekolah tanpa masalah? Bagi anak-anak, sekolah adalah masalah itu sendiri. Pagi harus bangun lebih cepat, pulang sore hari, bahkan ada yang belajar sampai malam. Tugas bertumpuk dari Fisika sampai Matematika, dan hapalan teks Bahasa Inggris yang harus bisa dengan segera.

Begitulah fenomena masalah bagi anak-anak di sekolah. Permasalahan mental bukan tidak menjumpai mereka. Permasalahan mental itu tidak diundang saat mereka ingin menyelesaikan masalah dengan masalah lain.

Bagi anak-anak yang santai sekali hidupnya, permasalahan mental yang berasal dari sekolah itu bisa diatasi tanpa membebani. Misalnya, saat mendapatkan tugas dalam jumlah banyak, ia bisa mendekati anak pintar untuk menyelesaikannya. Bukan mengutuk, menyalahkan guru, maupun tidak mau sekolah karena tugas tidak selesai dikerjakan.

Siswa yang lari dari kondisi sekolah itu adalah mereka dengan permasalahan mental tak terawat dengan baik. Sejak dini, anak-anak harus mendapatkan efek dari masalah dari masalah di kehidupan ini. Dengan demikian, di kemudian hari mereka tidak terlarut dalam permasalahan mental.

Anak-anak dengan permasalahan mental berat bisa mengambil keputusan tidak baik dengan mencederai diri sendiri. Maka, bagi mereka butuh pendampingan agar bisa mengatasi insecure sebaik mungkin. Saya menyebut anak-anak yang survive adalah mereka yang tidak saja modal pintar saja tetapi yang mampu menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *