January 19, 2020

Perang dari Seoul; Teknologi dan Entertaiment

Sungai Cheonggyecheon (sumber:www.beritaunik.net)
Siapa
yang tidak tergoda dengan pesona Korea Selatan?
Mungkin,
dulu kita hanya mengenal perang saudara antara Korea Selatan dengan Korea
Utara. Lepas dari noda tersebut, walaupun masih tetap perang dingin, kedua
negara memilih jalan masing-masing. Korea Selatan menjadi negara sekuler. Korea
Utara ngotot dengan negara komunis. Korea Selatan diam-diam menggemparkan
dunia. Korea Utara diam-diam makan dalam dan abai cemoohan dunia. Korea Selatan
gemerlap cahaya lampu di malam hari. Korea Utara malah gelap gulita di sebagian
besar wilayahnya. Korea Selatan sudah hampir mencapai taraf kecepatan internet
tingkat tinggi (5G). Korea Utara masih melarang warga negaranya menggunakan
komputer secara universal, kecuali orang-orang tertentu saja yang bisa
mengakses komputer sampai internet.
Dalam
satu dekade, Korea Selatan tak hanya berbenah di satu segmen. Negara dengan
masyarakat bermata sipit ini justru banting stir mengejar ketertinggalan dari
negara-negara maju. Pemerintah bersama warganya berbondong-bondong mencuri ilmu
dari barat. Pemerintah Korea Selatan tidak melarang warganya mengungsi ke luar
negeri selama perang saudara. Hasilnya, bisa dilihat sendiri. Ternyata,
pengungsi tersebut tumbuh menjadi orang-orang hebat dan kembali ke negara
mereka.
Korea
Selatan menempatkan warga negaranya sebagai harta paling berharga. Negara ini
paham betul bahwa sumber daya alam tidak melimpah. Jalan lain menguasai dunia
adalah menghadirkan sesuatu yang memukau, sehingga dunia takluk di tangan
mereka.
Dan
akhirnya, kita kena!
Korea
Selatan melontarkan dua senjata. Keduanya sama-sama kuat di seluruh dunia. Senjata
pertama mereka adalah teknologi dan senjata kedua adalah entertaiment
(hiburan).
Senjata Pertama
Sejatinya,
Korea Selatan bukanlah negara maju. Negara ini kering-keronta setelah perang
saudara. Para pelajar dari seluruh penjuru negeri dilempar ke negara maju lain,
baik sesama Asia, Eropa sampai Amerika. Pelajar yang sudah berhasil menuntut
ilmu tersebut secara transparan “wajib” pulang ke Korea Selatan. Selain itu,
Pemerintah Korea Selatan juga bekerja sama dengan negara maju seperti Jepang
untuk mendatangkan ilmuwan-ilmuwan dari bidang-bidang teknologi. Negara yang
semula kuno, hanya sebagai konsumen, berubah menjadi produsen. Sebuah perusahaan
yang semula hanya menjual sayuran berubah menjadi perusahaan teknologi
terkemuka dunia.
Adalah
Samsung dan LG. Dua perusahaan besar. Sama-sama di Seoul. Sama-sama musuh
bebuyutan. Sama-sama ingin menguasai dunia.
Dua
perusahaan ini sebagian dari kesuksesan Korea Selatan setelah terpuruk. Samsung
dan LG dikenal sebagai produsen peralatan elektronik seperti smartphone,
tablet, laptop, televisi, kulkas, AC
dan lain-lain. Peperangan keduanya
memang telah dimenangkan oleh Samsung. Perusahaan yang juga pemasok utama
perangkat telekomunikasi ini juga menguasi rumah sakit sampai asuransi. Apple
Inc. saja tekuk lutut pada Samsung karena produk unggulan mereka (iPhone dan
iPad) masih tetap memakai Processor buatan Samsung.
Samsung
juga masih mendominasi dunia dengan beragam merek telepon pintar. Gempuran seri
termurah dan termahal membuat dunia tak bisa berkata banyak. Memang tidak ada
yang dapat memungkiri sampai kapan Samsung bertahan dengan kedigdayaan mereka. Satu
poin yang harus digarisbawahi; karena Samsung Asia menguasai dunia!
Senjata Kedua
Senjata
kedua Korea Selatan justru lebih mampu menghipnotis lebih banyak orang. Dunia hiburan
yang terstruktur mampu mengangkat lagu-lagu berbahasa hangul disukai
anak-anak muda. Tak hanya grup band, penyanyi solo yang menghibur jutaan mata
di seluruh dunia. Drama seri Korea Selatan juga mempunyai sisi cemerlang
menarik minat penonton.
Dunia
hiburan Korea Selatan terus berkembang seiring dukungan pemerintah. Pejabat setempat
secara langsung menegaskan K-Pop sebagai “alat” supaya dunia luar mengakui
keberadaan mereka. Dukungan pemerintah tak hanya membuat dunia hiburan semakin
kokoh. Pelakon seni berbondong-bondong memperkenalkan kebudayaan mereka melalui
bahasa maupun budaya. Bahasa hangul seakan telah menjadi bahasa
internasional. Lagu-lagu dari grup band ternama di putar di mana-mana. Siapa yang
tidak kenal Super Junior, Girls Generation, 2PM, 2AM, miss A, BoA, Kim Soo
Hyun, Rain, Song Hyo Gyo, dan deretan orang terkenal lainnya.
K-Pop
dan K-Drama telah menghipnotis penggemarnya sehingga berbondong-bondong orang
ke Seoul. Saya sendiri belum pernah ke Korea Selatan. Namun satu hal yang
pasti, kebudayaan mereka benar-benar memikat. Suguhan menarik langsung terasa
begitu turun dari pesawat di Bandara Incheon. Konsep kota Seoul yang rapi. Tempat-tempat
wisata yang menarik; seperti sungai Cheonggyecheon di pusat kota sampai
panorama Pulau Jeju.
Di
sinilah letak kerja sama pemerintah Korea Selatan dengan dunia hiburan. Tertulis
atau tidak, Pemerintah menyulap tempat-tempat umum menjadi menarik seperti yang
terlihat di layar kaca.
Dari
tiada menjadi ada. Sesungguhnya, perang yang dibidik Korea Selatan sangat
melankolis. Negara ini sangat lembut menyongsong peluru. Tetapi peluru-peluru
yang mereka tancapkan mengena bidikannya. Korea Selatan menjadi negara yang
memegang peranan penting di dua elemen tersebut di atas. Bandingkan dengan
Korea Utara yang masih membatasi warga negaranya untuk maju lebih banyak langkah.
Saat ribuan warga Korea Selatan berbondong-bondong mendaftarkan bakat mereka di
agensi hiburan, warga Korea Utara bahkan belum mampu mengeja dengan benar. Saat
lulusan terbaik Korea Selatan mendaftarkan diri sebagai calon karyawan Samsung,
warga Korea Selatan masih dibatasi menggunakan komputer.
Dua
negara satu bahasa. Dalam keadaan perang dingin. Sama-sama kuat di berbagai
bidang. Lembut versus garang. Membuat dunia takut di luas negara tak lebih
besar di pulau Jawa. Lalu, bagaimana dengan Indonesia yang kaya SDM dan SDA?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *