January 24, 2020

Perahu Terdampar, Bule dan Sebuah Senja di Senggigi

Lelah
mendaki Rinjani di Sembalun terbayar sudah ketika menatap pantai Senggigi yang
ramai dan panas. Saya berdiri di antara banyak langkah dan pandangan lain. Proses
matahari terbenam di mana-mana tetaplah sama. Namun sebuah senja selalu menghadirkan
rindu terparah. Jika ditanya rindu untuk siapa? Saya tidak tahu. Rindu saja.

perahu nelayan terdampar di pantai
Perahu terdampar – Photo by Bai Ruindra
Matahari
sedang mengayuh dayungnya lebih kencang. Sebentar lagi hari akan gelap. Keramaian
semakin terasa di pantai terdekat dengan kota Mataram ini. Saya mengarahkan
kamera smartphone ke segala sisi. 

Ada perahu terdampar dan bule
berjemur dengan kancut!

Sesuatu
yang tidak wajar karena saya orang Aceh. Kok Aceh dijadikan
kambinghitam? Kenyataannya memang demikian. Di umur yang tak lagi muda, baru
kali ini saya melihat orang-orang begitu bebas hanya mengenakan underware
di bibir pantai.

Berbaur dengan orang-orang seperti kami yang bersegaram
lengkap. Mereka – bule itu – santai dan nyaman saja membaca buku di tengah hari
yang panas. Mereka juga bercengkrama dengan pasangannya, dengan anak-anaknya,
dengan kamera yang membidik ke sana-kemari.

Alangkah indahnya hidup di sini
untuk saya yang perawan. Mata saya melotot namun tak terarah lagi ke
pemandangan bule berjemur karena orang-orang di sekitar menganggapnya hal yang
wajar. Tentu saya mempunyai malu untuk itu.

Apabila bule-bule itu berjemur
dengan cara yang sama di pantai Aceh, tak lama kemudian mereka akan ditegur dan
paling parah akan diboyong polisi syariat Islam menuju tempat khusus
untuk diberikan arahan.  


Di pantai ini,
para bule dan wisatawan lokal bergerilya dengan glamornya. Padahal di lembah
Sembalun, di kaki Gunung Rinjani, Islam sangat kental sekali.

Saya berani
menjamin keislaman mereka di sana bisa melebihi kadar Islam orang Aceh. Contohnya
saja, di desa Sembalun kebanyakan wanitanya menggunakan penutup wajah (cadar)
dan itu sangat tumpang tindih begitu saya merayap ke Mataram yang telah
moderat.

Lombok dan Aceh sangat jauh berbeda walaupun sama-sama memiliki pemahaman Islam yang kuat!

Apa
yang menarik bagi saya? Aceh dikenal dengan kekentalan Islam. Lombok juga
demikian. Namun di Aceh semua wanita mengenakan jilbab karena hukum Islam telah
menuntut demikian.

Di Lombok kehidupan mereka masih sama dengan kehidupan di
kota lain, belum ada aturan untuk menjalankan Islam secara keseluruhan. Jika
Aceh digelari Serambi Mekkah, Lombok diberi gelar Negeri Seribu Masjid. Di
mana-mana masjid. Jalan beberapa langkah ada masjid lagi.

Saya
melepas pandangan ke perahu-perahu terdampar. Saya ambil gambar perahu-perahu
tanpa nelayan yang diparkir sembarangan. Perahu-perahu di Senggigi tak lain
adalah milik pelaut yang terparkir tanpa nahkoda.

Perahu-perahu ini juga
menjadi tempat para wisatawan mengabadikan foto. Perahu-perahu ini menyimpan
banyak harapan, banyak kenangan, dan banyak rejeki bagi pemiliknya.

Senja
selalu menepati janji tepat pada waktunya. Orang-orang mulai berkerumun ke
bibir pantai. Momen paling indah adalah saat matahari terbenam. Bidikan kamera
terlihat di mana-mana. Saya ikut ambil bagian dari fenomena alam tersebut.

Kamera
smartphone saya menangkap langkah gagah seorang lelaki di bawah matahari
yang mulai terbenam ke langit Bali. Langkahnya penuh harapan, itu sudah pasti. Langkah
saya pun semestinya lebih lebar dari orang itu.

Di mana kesempatan tak pernah
datang kedua kali. Begitu pun langkah saya di Senggigi. Tidak ada yang menjamin
bahwa kehidupan saya akan terulang kembali di sini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *