January 24, 2020

Penyemir Sepatu dan Sepiring Nasi Goreng

Malam itu,
seperti biasa
, bersama tiga
sahabat saya duduk di sebuah warung kopi berfasilitas internet gratis. Cuaca
Banda Aceh yang panas membuat kami memesan minuman dingin.
Hiruk-pikuk di sekitar semakin terasa. 


Kebanyakan sibuk dengan smartphone mereka. Pengemis
yang meminta-minta
, datang dan
pergi
begitu saja. Soal
pengemis, kami telah sepakat untuk tidak memberi
walau mereka memelas. Jika harus memberi, semua
harus dikasih. Sudah tidak terhitung pengemis yang datang silih berganti.

Ilustrasi.

Tiba pada
seorang anak usia
sekitar sepuluh
tahun.
Tangannya
menenteng kotak persegi panjang. Badannya sedikit membungkuk karena beban yang
dipikul. Matanya celingak-celinguk ke bawah meja. Kepalanya tunduk hormat pada
siapa saja yang disapa. Tampaknya, anak itu sedang menawarkan sesuatu.

Langkah kaki
anak itu
terhenti
di samping saya
. Wajah yang kusut, pakaian yang lusuh, dan sandal jepit usang, menyapa dengan suara yang terdengar
lebih berat dari usianya.
“Mau semir
sepatu, Bang?”  
“Maaf,
saya tidak memakai sepatu kulit, Dek,” jawab saya sambil memperlihatkan
sepatu sport warna putih kepadanya. Dua sahabat saya adalah wanita dan
seorang
pria juga tidak mengenakan sepatu kulit.
“Oh,
tidak apa-apa, Bang,” anak itu tersenyum.
“Kamu
sudah makan, Dek?”
tenya Erni.
“Belum,
Kak,” jawab anak itu polos.
“Kamu mau
makan apa?” lanjut Erni.
Anak itu
tampak bingung.
“Duduk
saja,” saya menarik kursi
untuknya lalu memanggil pelayan.
“Kamu
boleh pesan apa saja,” kata Lia yang duduk
berhadapan dengan anak itu.
“Makan
sampai kamu kenyang ya,” ujar Topan tak mau ketinggalan.
Anak itu tidak
berani memesan sesuatu. Kami sepakat untuk
memesan sepiring nasi goreng dan segelas juice alpokat.
Kami mulai
mengobrol sambil menunggu pesanan dat
ang. Anak itu menceritakan kesehariannya. Tinggal di panti asuhan
membuatnya berpikir keras untuk tidak manja. 



Sekolah memang gratis tetapi untuk
hidup mandiri – Ahmad, sebut saja namanya demikian karena saya lupa nama
aslinya – harus bekerja. Ia mengatakan tidak mempunyai keahlian khusus. Seorang
yang tidak ia kenal memberikan sekotak peralatan semir sepatu kepadanya dua
tahun lalu. Orang itu berpesan untuk menjauhi sifat meminta-minta.
Ahmad cukup senang diajak bicara. Katanya, baru malam itu ia
mendapat tawaran makan enak. Biasanya Ahmad hanya menyemir dengan imbalan tak
lebih dari sepuluh ribu untuk sepasang sepatu. 



Selesai menyemir dan menerima
upah, ia akan berkeliling lagi ke tempat yang lain. Tak pernah sekalipun ia
berpikir untuk membeli makanan enak. Ia ingin menabung untuk masa depan. Ia
berpikir bahwa tidak selamanya berada di panti asuhan. 



Ketika dewasa ia harus
berjuang seorang diri dalam mencari nafkah. Tabungan yang telah dikumpulkannya
akan dijadikan bekal untuk masuk perguruan tinggi nanti.
Pesanan untuk Ahmad datang lima belas menit kemudian. Ahmad
menyantap nasi goreng dan juice alpokat dengan lahap. Matanya
seakan-akan bercerita tentang sesuatu. Saya, Erni, Lia dan Topan menikmati saja
pemandangan asing di depan kami. 



Kenapa saya katakan asing? Karena Ahmad
berbeda dengan kami. Kami tidak mengusik kehidupan pribadi Ahmad. Tinggal di
panti asuhan dan bekerja di malam hari di usianya yang masih belia, lebih dari cukup
mendefinisikan segala sesuatu dari kehidupan keras anak ini.
Ahmad bekerja. Itulah porsi lebih dari anak kecil ini. Alasan
ini pula yang mendasari kami memberinya makan dan minum. Walau tidak ada
seorang pun dari kami berempat yang menyemir sepatu. Usaha Ahmad patut
diapresiasi dibandingkan usaha orang lain yang masih meminta-minta.
Setengah jam lebih Ahmad duduk bersama kami, dalam waktu itu
pula mata-mata di sekitar mengamatinya. Ketika Ahmad beranjak pergi, seorang pria
memanggilnya. Pria itu tidak memberi makanan enak melainkan memintanya menyemir
sepatu. Lepas dari pria itu, beberapa pria lain turut meminta Ahmad menyemir
sepatu mereka.
Tatapan Ahmad begitu dalam kepada kami berempat sebelum ia
meninggalkan tempat itu. Saya mencerna tatapannya sebagai ucapan terima kasih kepada
kami. Saya tidak tahu berapa upahnya malam itu. 



Kemuliaan hatinya tanpa meminta-minta
mendatangkan rejeki tidak sedikit. Saya melihat pria pertama yang meminta
sepatunya disemir, memberi Ahmad upah sebesar lima puluh ribu rupiah.
Siapapun anak kecil itu, jika membaca tulisan ini, saya berterima
kasihnya. Hidup ini tidak perlu meminta-minta, bukan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *