Kebun karet di hutan kami adalah daun rupiah yang telah padam!

Di Hutan Kami 1990

“Mak, aku ikut juga ke kebun karet,” ujarku dalam suara imut 5 tahun, sehabis subuh. Mak sudah bersiap untuk pergi ke kebun karet di hutan yang masih gelap, dan tentu banyak sekali nyamuk di sana.

“Kau pergi sajalah, biar Mak di rumah!” Mak selalu menjawab begitu kalau aku meminta. Mak tak pernah mengizinkan aku ikut ke kebun karet di hutan yang asyik saja di mataku kala itu.

“Mau ikut, Mak…,” nada suaraku tak berubah. Aku sebenarnya bosan tinggal selalu di rumah Nenek karena sarapan pagi pasti sagu digongseng dengan gula merah. Manis sekali dilidahku tetapi aku tak ingin lagi itu.

“Kau ini ada-ada saja. Mak pergi cari uang, kau diam saja rumah Nenek!” perintah Mak tegas.

“Aku ikut, Mak…,” suaraku mengiba.

Ayah yang sedang memakai sepatu boot khusus ke kebun karet di hutan yang terbuat dari karet menimpali, “Bawa sajalah Mak sesekali,”

Hatiku girang.

Baca Juga:

Kisah Guru Honorer yang Sukses Mencari Uang Tambahan dari Menulis Blog

Putriku, Tumbuh Kembang yang Baik Melalui Ninabobo Penuh Cinta Ayah dan Bunda

IndiHome Mengubah Tanah Basah Bekas Tsunami Aceh Bersenyawa dengan Internet

ExpertBook B7 Flip Bantu Kami Lancarkan Bisnis Pangkalan Gas LPG di Daerah Terpencil

“Tak Ayah lihat di sana banyak nyamuk dan masih gelap juga?”

“Biar Agam tahu sendiri kalau sudah di hutan nanti,”

“Apa Ayah tak kasihan sama anaknya?”

“Mak tak lihat dia merengek terus minta ikut?”

Mak orangnya lebih sering mengalah daripada berdebat panjang. Aku yang belum mencuci muka langsung dinaikkan ke pundak Ayah. Peralatan kerja Ayah semua diserahkan kepada Mak yang bawa.

Kami mengitari jalan kampung yang masih berkerikil. Suara kokok ayam sangat lantang. Santri di pesantren depan rumah kami masih berdoa panjang sehabis Subuh. Namun warga kampung sudah bangun dari tadi. Aktivitas menakik karet di dalam hutan adalah mata pencaharian mayoritas warga di sini, bahkan sekecamatan bisa aku bilang.

Aku seperti sedang berada di alam mimpi. Aku tertidur dan mungkin tidak di atas pangkuan Ayah. Aku tahu, pundak Ayah sangatlah berat menanggung beban tetapi Beliau tidak pernah protes untuk bahagia anaknya.

Kring. Kring. Kring.

Suara klakson sepeda melintasi kami. Aku tidak tahu siapa yang barusan menyapa dengan, “Kami duluan ya,”

Suara tertatih dengan langkah lebih cepat terdengar sedang mengajar kami. Lalu, suara cakap-cakapnya dengan Mak menganggu tidurku.

Aku merasa jalan menurun. Itu tandanya kami sudah meninggalkan jalanan kampung dan memasuki jalan kebun karet di hutan yang luas. Aku ingin sekali mengetahui seberapa luasnya kebun karet di hutan ini. Namun, nalarnya yang masih sempit tidak sanggup memikirkannya sampai sejauh itu.

Sesekali Mak menarik lengan baju panjang yang kupakai. “Sudah Mak bilang banyak nyamuk…,” ujarnya dengan pelan.

“Kau biarkanlah sesekali,” aku tidak tahu itu suara siapa, yang pasti orang yang aku kenal. “Lain kali anak kau itu juga nggak akan minta ikut lagi,”

“Itulah yang Ayahnya bilang tadi,” sahut Mak.

Kupikir, jalan makin tidak bagus. Seekali Ayah oleng ke kiri dan ke kanan. Kadang sebelah tangannya memegang pantatku, sebelahnya lagi memegang sesuatu agar tidak jatuh. Aku juga mendengar suara langkah Ayah yang jatuh ke lubang berair. Anehnya, saat aku membuka mata rasanya seperti masih gelap.

Kebun karet di hutan kami sangatlah indah sekali. Matahari yang sedang naik seperti malu-malu. Aku melihat sinar itu masuk melalui celan pohon, lalu menjumpai keningku yang belum berkeringat.

“Ayah, masih jauh?” tanyaku yang masih enggan membuka mata meskipun sudah mengintip.

“Sebentar lagi,” ujar Ayah pelan.

Aku melihat sekeliling. Kiri adalah rawa-rawa dengan ilalang panjang. Di sebelahnya agak menurun adalah sawah warga yang tampak sedang menguning, setelah itu kebun karet di hutan belantaran yang terlihat ranum.

Kanan adalah kebun karet di hutan yang masih jarang-jarang. Pohonnya sebagian ada yang pendek, artinya masih muda. Sebagian lain tinggi mencapai sinar matahari pagi yang kian naik.

Tak berselang lama, kami memasuki kebun karet di hutan dengan jalan yang kian jelek. Ayah tersandung berkali-kali. Aku terayun di pundaknya.

“Ayah, masih jauh?” tanyaku lagi.

“Sebentar lagi,” jawab Ayah pelan.

Di sekeliling kami sudahlah kebun karet di hutan lebat daunnya. Sinar matahari benar-benar telah tertutup namun masih menyisakan cahaya dalam terang. Aku diturunkan Ayah pada sebatang pohon karet yang telah tumbang. Daunnya di pucuk telah kering. Akarnya di bagian bawah sudah membusuk.

“Kau tunggu di sini,” ujar Mak sambil menurunkan perlengkapan kerja, dan tentu saja bekal untuk kami bertiga.

Mak dan Ayah sudah mulai menakik karet. Dari satu pokok ke pokok lain. Aku tentu sibuk sendiri. Naik turun ke batang karet. Mak dan Ayah sudah menghilang entah ke mana. Tadi Mak berpesan, “Kalau ada suara memanggil begini,” lalu Mak memperagakannya, “Kau jawab saja dengan nada yang sama,”

Lalu, aku mendengar, “Uk!”

Aku ikut menjawab, “Uk!”

Dan, bersahutan “Uk!” di mana-mana.

Indah sekali.

Namun, aku tidak tahu. Mana suara Ayah, dan mana suara Mak. Yang aku tahu, orang tuaku sangat dekat denganku di kebun karet di hutan penuh nyamuk itu!

Aku tidak tahu di usia itu, hutan di negeriku ini sangatlah ganas.

Kebun Karet di Hutan dalam Kenangan 2000

Lain cerita 10 tahun setelah itu.

“Agam, hari Minggu besok ikut Mak ke kebun karet,” ujar Mak malam harinya. Aku baru pulang les sore yang tentu sangat lelah menurut definisi anak usia 15 tahun.

“Nggak sangguplah, Mak,” protesku.

“Coba kalau Mak mau, kau ini selalu menolak,” Mak dengan nada datar berkata sambil menyiapkan cemilan malam, yaitu ubi rebus dengan parutan kelapa muda. Lezat sekali.

Aku masih menolak tetapi melihat Mak yang lebih lelah mengurus rumah tangga dan membantu Ayah ke kebun karet di hutan itu, aku mengiyakan saja. Aku sudah tahu pasti, besok memiliki tugas lebih berat dibanding cuma main-main di atas batang karet mati setelah tumbang di usia 5 tahun lalu, lalu menyahut, “Uk!” ketika ada orang yang ‘menyapa’ dengan lantang.

‘Uk’ di dalam kebun karet di hutan mahaluas itu adalah sinyal antar satu pekebun dengan pekebun lain. Nalarku tentu sudah sampai ke sana di usia hampir lepas remaja. Tiap pekebun tahu siapa tetangganya yang masuk ke kebun karet di hutan penuh ranting.

Di pagi hari, ‘Uk’ sekali untuk calling tetangga kiri dan kanan. Jika disahut, berarti ada orang. ‘Uk’ ini akan terus berlanjut pada sekian menit tertentu. Jika ada pekebun yang tidak menjawab sinyal ini beberapa kali, itu bisa pertanda buruk dan pekebun lain akan menjumpainya untuk melihat kondisi.

Di pagi Minggu sesuai perjanjian, aku masih bermalas-malasan sehabis Subuh. Mak menepuk jidatku yang terasa sangat kuat sekali. Mak tidak berujar apa-apa. Aku buru-buru memakai baju panjang, celana panjang dan sepatu boot karet.

Dalam remang, aku berjalan sempoyongan. Mak dan Ayah sangatlah cepat melangkah. Kring kring yang dulu kudengar sudah senyap. Mungkin kami kesiangan namun matahari belumlah nai sepenggalah.

“Agam, perhatikan langkah kau itu!” perintah Mak saat kami sudah memasuki jalan setapak ke kebun karet di hutan mahasunyi. “Jangan lupa kutip kayu-layu kering itu, kau taruh saja di pinggir, nanti pulang kita ambil,”

Itulah tugasku. Mengutip kayu kering dari kebun karet di hutan mahasepi ini. Aku mulai mengutip dahan yang kering lalu mengumpulkannya di pinggir jalan setapak, tentu yang tidak basah atau berlubang.

“Kau tunggu Mak di tempat biasa ya,” kata Mak sambil berjalan tergesa mengejar Ayah yang sudah tak terlihat. Mungkin sudah masuk ke dalam kebun karet di hutan penuh misteri.

Aku tidak menjawab iya, karena memang di sanalah tempat kami berkumpul. Tempat yang sudah sangat kuingat. Batang karet yang rebah sejak dulu. Berganti antara satu dengan yang lain. Menjadi pangkalan kami menunggu teman.

“Uk!” panggilku.

Mak yang belum terlalu jauh melirik dengan tatapan mata membulat. Artinya, tidak ada. Cuma peringatan orang tua untuk anaknya.

Lalu, ‘Uk!’ dari segala sudut langsung sahut-menyahut!

Indahnya irama alam dengan nada semayam dahan-dahan!

Aku terus mengutip kayu dari kebun karet di hutan penuh luka. Kayu kering yang masih berembun itu tentu sesuai ukuran, tidak kukutip yang besar karena pundakku akan lelah membawa pulangnya nanti.

Ranting-ranting yang sudah kering juga wajib aku kumpulkan. Ranting ini juga berguna, paling tidak untuk memantik api di awal pembakaran. Kayu-kayu yang sudah kukumpul, aku ikat dalam tiga bagian. Biasanya, aku membaginya sesuai ukuran masing-masing. Di antara ikatan itu, satu paling kecil yang kusiapkan untuk Mak. Namun, nantinya, Mak akan menukar ikatan itu dengan punyaku dengan alasan, “Kau sudah lelah tadi dari mengumpulkan kayu sendirian!”

Aku tentu senang hati.

Yang kini kusesali!

Nyanyian alam dari kebun karet di hutan kami tidak ada tandingan meskipun dikonversikan dengan not-not mahal. Hutan kami selalu bernyanyi dengan irama yang pasti. ‘Uk’ di sana-sini tak lain kosa nada yang akan kami kenang sepanjang masa.

Tangan Bergelantungan Pada Kebun Karet di Hutan Akhir 2004

Kebun karet di hutan Aceh tak lain penolong saudara-saudari yang sedang berjuang melawan air bah.

Siapa yang akan melupakan tsunami Aceh 26 Desember 2004? Masyarakat Aceh yang mengalami sendiri musibah besar ini tak akan mungkin lupa sampai akhir hayat. Dunia yang melihat juga bersaksi akan malapetaka yang banyak sekali cerita dibaliknya.

Dibalik cerita tsunami, tentu ada yang berjasa dalam menyelamatkan jiwa. Salah satunya kebun karet di hutan yang tinggi menjulang.

Adik Mak tinggal di pinggir pantai. Jaraknya sangatlah dekat. Di masa kecil dulu, kami sangat senang sekali main ke rumah Adik Mak. Tahu sendiri, mandi laut adalah kesenangan tersendiri untuk kami.

Kala tsunami tiba, aku pikir Adik Mak sudahlah tiada. Namun cerita kebun karet di hutan kami sangatlah indah dalam suatu kenangan. Adik Mak bercerita ketika aku pulang kampung setelah 2 tahun tsunami itu.

“Mak lari terbirit-birit mendengar suara letusan dari laut,” ujar Adik Mak yang aku panggil juga dengan sebutan Mak. “Mak dan Ayah berpegangan tangan. Tak pernah terlintas di benak kami akan musibah besar pagi itu. Mata Mak perih sekali melihat ke belakang, air laut sungguhlah tinggi sampai pohon kelapa di bibir pantai dilahapnya dengan habis,”

Adik Mak terus bercerita. Ibaratnya, kami sedang berbagi cerita menyelamatkan diri saat tsunami itu.

“Ayah dan Mak terus lari sekuat tenaga. Kami sudah pasrah saat satu persatu orang digulung air. Saatnya giliran kami tiba. Ombak besar memukul Mak dan Ayah dan belakang. Sakitnya tak terkira. Mak dan Ayah terpisah. Mak tak bisa membuka mata karena itu bukanlah air semata. Air laut bercampur lumpur sangatlah pekat. Mak digulung-gulung. Dilempar ke permukaan. Ditarik lagi ke bawah. Sungguh Mak tak bisa bernapas lagi…,”

Aku yang mendengar cerita Adik Mak juga demikian.

“Mak ditampar oleh dahan kayu, lalu diputar-putar lagi di dasar air. Mak sudah merasa tak lagi bernyawa. Namun, dalam meraba-raba Mak memeluk batang pohon besar. Lama Mak tunggu tak diseret juga oleh air. Mak naik ke atas perlahan-lahan. Batin Mak, pohon itu belum tercabut akar dari dalam tanah,”

Aku sangat antusias mendengarnya.

“Mak panjat terus. Kalau tak ada mungkin mustahil Mak bisa memanjat pohon. Tapi tangan dan kaki Mak sangat cekatan memanjat sampai ke atas. Mak menjumpai ranting-ranting. Tak lama Mak sudah keluar dari air berlumpur,”

“Pohon apa itu, Mak?” tanyaku.

“Itulah pohon karet. Mak panjat sampai ke daun-daunnya. Mak duduk di atas pohon tinggi itu sambil melihat air berlumpur menggulung apa saja yang ada di bawah sana. Mak sudah pasrah kalaulah pohon karet ini juga rubuh. Air laut di bawah sangatlah deras sekali. Entah apa-apa di bawahnya. Mak melihat orang-orang digulung, ada anak-anak, orang tua, pria dan wanita. Mereka dibawa arus ke atas lalu ditarik lagi ke bawah saat surut,”

Aku mulai merinding.

“Mak lalu mengamati sekeliling. Di atas pohon-pohon karet yang tak jauh dari Mak berlindung, beberapa orang juga sudah memanjat ke sana. Dari jauh, Mak melihat Ayah terduduk lesu di salah satu pohon karet. Mak panggil-panggil tetapi suara air laut yang sedang surut membuat suara Mak hilang ditelan bumi,”

Dalam diam aku bisa merasakan apa yang Adik Mak rasa.

“Semua itu sangatlah cepat. Air berlumpur di bawah perlahan mengering. Mak merinding di atas pohon karet tinggi. Namun tak ada satupun dari kami berani turun. Dan bersyukur kami tidak turun ketika air laut itu surut, karena tak lama setelah itu gelombang susulan datang dan menghantam semua yang ada di bawah sana!”

Aku tergugu. Sendu. Sedih dan pilu.

“Siang hari Mak baru turun setelah Ayah tahu Mak masih hidup. Mak meratapi apa yang terjadi sambil memuntahi isi perut yang sebagian berlumpur. Ayah membantu Mak turun dari pohon karet tinggi itu bersama para laki-laki lain. Kami tak saling kenal tapi kami saling tolong-menolong,”

“Pohon karet itu masih ada, Mak?”

“Pohon karet itu kuat sekali akarnya, tak sama seperti pohon kelapa yang langsung roboh dihalau tsunami. Mak ini sangat bersyukur bisa menggapai pohon karet itu, kalau tak ada mungkin kau sudahlah tidak berjumpa Mak lagi!”

Kebun karet di hutan Aceh kala tsunami memang banyak cerita. Adik Mak tentu menyimpan kenangan itu erat-erat agar bisa dibagikan kepada kami suatu saat nanti lagi. Aku yang berpikir hutan cuma wahana penuh misteri sangatlah salah. Di kejadian ini, hutan memiliki peranan penting dalam menyelamatkan manusia dari petaka.

Aku boleh menyebut #HutanKitaSultan atas musibah di Aceh 2004 silam!

Hutan di Negeriku yang Kini Asri Kembali

#IndonesiaBikinBangga salah satunya dengan kebun karet di hutan kita. Cobalah kau lihat hutan-hutan di sekeliling itu. Lebih banyak kebun karet dibanding pepohonan lain bukan? Itulah ciri khas dari hutan Indonesia.

Mak dan Ayah sampai hari ini masih menakik karet meskipun harganya jatuh bebas. Tak ada asa untuk pekebun karet di saat pemerintah berujar akan mensejahterakan masyarakat Indonesia. Pekebun karet tetaplah merana saat hasil panen tidak bisa dijual lebih tinggi. Tetapi, mereka tetap harus ke kebun karet di hutan belantara agar anak istri terpenuhi sandang pangan.

Hutan Indonesia

Hutan Indonesia

Hutan di Aceh pernah berlumpur dan ‘menolong’ banyak nyawa saat tsunami. Lihatlah sekarang bagaimana hutan di Aceh tumbuh dengan lestari tanpa perlu menguliti apa yang perlu dibuang. Tanah bekas tsunami memberikan waktu untuk berkembangbiak. Ragam tanaman tumbuh liar karena itulah khas hutan yang tidak bisa dibuang.

Saat aku ke dalam hutan kini, kebun karet di hutan kita masihlah tetap sama. Jalan setapak yang dulu cuma untuk pejalan kaki satu orang, kini sudah bisa dilewati sepeda. Aku dengarkan alam bernyanyi dari dalam hutan tanpa menyebut ‘Uk’ seperti dahulu.

Lalu, apa yang bisa aku banggakan dari hutan Indonesia?

Kebun Karet di Hutan Kami

Aku mau mengatakan, aku hidup baik sampai sekarang karena Mak dan Ayah tiap pagi pergi ke dalam hutan!

Mak dan Ayah tidak memedulikan berapapun turun harga karet perkilogramnya. Bahkan, pernah suatu masa, hasil panen Ayah tidak dibeli sama sekali. Ayah simpan karet yang sudah dipanen di dalam kolam dekat pintu masuk hutan.

Nahas datang dan pergi. Ada pencuri datang dan pergi. Ayahku tetap berhati mulia. Tidak mencari pencuri malah menyimpan lagi hasil panen dari kebun karet di hutan kami yang nanti akan dijual ketika ada yang beli.

Hutan kami masih memiliki kebun karet yang mahaluas. Mak dan Ayah tiap hari ke kebun karet dari jam 6 sampai jam 8 pagi. Lepas dari itu Mak akan membantu Ayah ke sawah, menyemai padi milik kita agar anak-anaknya bisa menyantap nasi tiap hari.

Rupanya, kebun karet di Indonesia pernah menjadi primadona. Contoh saja, di tahun 2017, luas perkebunan karet mencapai 3,66 juta hektar. Dengan luas ini, kemampuan produksi adalah sebesar 3,68 juta ton dan produktivitas 1,19 ton/hektar. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, di tahun jabatannya kepada katadata.co.id (02/07/2019).

Dalam liputan tersebut, disebutkan bahwa 85% perkebunan karet di Indonesia didominasi oleh perkebunan rakyat. Yang tak lain dikelola oleh masyarakat Indonesia secara turun-temurun, dengan volume ekspor di tahun 2019 adalah mencapai 2,99 juta ton dengan perkiraan keuntungan senilai US$ 5,10 milar.

Aku tentu bangga termasuk di dalamnya.

#UntukmuBumiku barangkali sangat cocok untuk mendeskripsikan “Romantisme ‘Winter Sonata’ ala Jokowi-Iriana di Kebun Karet” oleh CNN Indonesia yang tayang pada 09 Maret 2019. Dalam liputan ini, Joko Widodo menggandeng tangan Irinana dengan mesra saat menyurusi kebun karet. Daun-daun kering berguguran adalah tanda bahwa Jokowi mendukung pelestarian kebun karet di Indonesia.

Kebun karet di Indonesia

Kebun karet di Indonesia

Di tahun 2021, ajaib.co.id (22/09/2021) merilis ‘Prospek Usaha Karet Indonesia Masih Menggiurkan’ menyebut produksi karet sekitar 3,1 ton. Indonesia tentu bangga telah memenuhi kebutuhan karet dunia yang meningkat dari tahun ke tahun. Karet alam dari Indonesia mengalami peningkatan 0,1% di tahun 2019, yang kemudian naik menjadi 1,9% di tahun 2020. Betapa dunia memerlukan karet dari Indonesia karena memang layak diapresiasi.

Aku bangga sekali hutan di negeri kita bisa mencukupi kebutuhan harian keluarga. Memang tidak sebesar gaji kalian yang orang hebat, tetapi recehan ini telah mengantarkan aku salah satunya sebagai orang yang sukses di bidangnya; tidak kembali lagi ke hutan sebagai pekebun karet!

Kebun karet di hutan yang kami banggakan, terima kasih!

Hutan Kota Warnai Wisata Kita

Indonesia Environment & Energy Center (IEC) menulis mengenai hutan kota yang kini semarak di beberapa kota Indonesia. Hutan kota dimaksud berada di area perkotaan dengan manfaat mengurangi degradasi lingkungan kota akibat efek negatif rumah kaca. Hutan kota juga berfungsi sebagai perbaikan lingkungan hidup, dan tentu saja fungsi estetika yang telah redup di tanah padat penduduk. Laporan ini ditulis oleh Riyandi Rahmat pada laman environment-indonesia.com (23/06/2015).

Menurutku pribadi, hutan kota itu penting sekali. Hutan kita yang ada saat ini tidak ‘sedang’ berbicara soal estetika semata. Memang keindahan itu terjadi begitu saja di dalam kota jika ada tanaman hijau. Di sisi lain, polusi yang merajalela dan kurangnya pokok pohon karena bangunan bertingkat, hutan kota kemudian berubah menjadi penyerap udara buruk tersebut.

Siapa yang diuntungkan dengan adanya hutan kota? Tentu banyak sekali mengingat populasi di perkotaan tidaklah sedikit. Masyarakat kota yang enggan berkeliling hutan bisa mengandalkan hutan kota untuk mendapatkan asupan oksigen lebih murni.

Misalnya saja, di Banda Aceh terdapat Hutan Kota BNI yang terkenal dengan tanaman manggrove. Wahana wisata kota yang dekat dengan bibir pantai ini dibuat untuk menghalau ombak yang ganas. Hutan manggrove yang rimbun menjadi sarang siput dan udara segar dari daunnya yang rimbun bisa membantu menetralisir kondisi udara yang mulai polusi di kota kami.

Hutan Kota Banda Aceh

Hutan Kota Banda Aceh

Coba dengarkan alam bernyanyi dari hutan kota di dekat kau tinggal? Tampaknya nggak ada berbeda dengan suara nyanyian alam ketika kau pergi ke kebun karet di hutan Indonesia yang rimbun oleh daun luruhnya.

Aku pikir, tiap kota besar mestilah memiliki hutan kota agar asupan udara segar bisa dinikmati oleh banyak kalangan dari kelas bawah sampai ke kelas atas.

Obat-obatan dari Tanaman Liar di Hutan Kita

#DengarAlamBernyanyi memang sebuah nyanyian untuk mendukung alam dan hutan Indonesia yang mulai ditebang perlahan. Polusi sudah di mana-mana. Bahkan untuk mendapatkan obat-obatan tradisonal sangatlah sulit.

Kebun karet di hutan Indonesia adalah getahnya yang dijual. Namun untuk mengobati penyakit tertentu, seperti sariawan adalah getah pohon jarak yang paling ampuh. Getah pohon jarak memiliki cairan antiseptik sebagai obat sariawan dan gangguan mulut seperti bau maupu sakit gusi.

Wawan Syafus juga menulis jenis obat lain di muslimterkini.com yang berasal dari dalam hutan. Salah satunya adalah jambu biji (Psidium guajava) yang dapat menurunkan diare karena memiliki banyak Vitamin C. Jambu biji ini tidak buatnya saja yang aman dikonsumsi, daunnya yang masih muda malah lebih ampun mengobati diare.

Aneka obat-obatan dari hutan Indonesia

Aneka obat-obatan dari hutan Indonesia

Cerita daun jarak. Aku justru sering kalang kabut saat anak kami naik panas. Semula, aku cuma tahu daun jarak itu tidak bermanfaat sama sekali makanya tumbuh liar di hutan. Hingga ke sini, aku merasa persepsi itu mesti diubah. Daun jarak yang liar rupanya obat yang mumpuni menurunkan panas dan menghilangkan gejala masuk angin terutama pada bayi.

Anakku sering naik panas waktu itu. Begitulah bayi beradaptasi dengan lingkungan baru. Kami sering kebingunan mau mengobati dengan cara apa.

“Cari daun jarak,” perintah Ibu Mertua. Aku mulai terbiasa dengan daun jarak setelah itu.

Sedikit anak kami panas, istri berkata, “Bang carikan daun jarak,”

Saat terasa perut anaknya kembung, istriku memberi perintah, “Daun jaraknya jangan lupa ya, Ayah!”

Aku begitu merasakan manfaat dari daun jarak yang dianggap tanaman liar. Dulu, saat masih sering ke hutan, aku mendapati banyak sekali batang daun jarak di pinggir jalan masuk. Aku enggan menyentuh karena getahnya itu lengket sekali. Dan yang pasti, tidak ada kebutuhan apa-apa untuk aku menyentuh daun jarak kala itu.

Hal sepele yang sebenarnya membawa manfaat sangat besar sekali. Obat-obatan dari hutan kita ini sebenarnya sangat banyak semisal kunyit, kencur, maupun jahe. Untuk kunyit sendiri, sering istri buat dengan daun inai yang berguna sebagai obat lambung. Kalau batuk, istri sering membuat kencur daripada membeli obat batuk herbal. Nah, kalau badan terasa kurang fit, jahe yang direbus adalah minuman yang menyegarkan luar dan dalam.

Kebun Karet di Hutan Versus Kebun Sawit

Rakhmat Nurdiansyah, mahasiswa Universitas Gadjah Mada menulis skripsi di tahun 2014 dengan judul ‘Antara Karet dan Kelapa Sawit: Perhitungan Untung Rugi di Kalangan Petani Landau, Kalimantan Barat’. Skripsi ini dibimbing oleh Bapak Dr. Pujo Semedi Hargoyuwono, M.A.

Lalu apa yang dapat diambil kesimpulan dari penelitian Nurdiansyah ini? Desa Landau, di Kalimantan Barat menjadi desa yang belum terjamah perkebunan kelapa sawit. Warga setempat menolak karena masih membudidayakan karet sebagai penghasilan pokok.

Perlahan namun pasti, masyarakat Landau mulai melirik sawit dan meninggalkan karet karena ekosistemnya yang luas. Masyarakat yang menolak kehadiran sawit karena belum bertemu dengan hasil yang tepat. Namun ketika sudah menemukan jalan, kelapa sawit yang mengangkat derajat masyarakat Landau, demikian tulis Nurdiansyah dalam Abstrak skripsi yang telah diperjuangkannya.

Coba kita lihat pendapat lain. Wakil Bupati Kabupaten Kuansing, Suhardiman Amby, kepada Gatra.com memberi jawaban soal karet dan sawit. Pekebun bisa menjual olahan karet seharga Rp12.000 per kilogram ke pabrik mengolahan, namun jika ke tengkulak olahan karet bisa dihargai Rp8.000 per kilogram.

karet versus sawit

karet versus sawit

Kuansing menyoalkan memudarnya pamor karet di daerahnya tercermin dari sepinya minat pemerintah daerah membantu petani karet melakukan replanting. Situasi ini berbeda dengan kelapa sawit, dimana pemerintah daerah dapat mengandalkan dana negara (APBN) untuk melakukan peremajaan kelapa sawit, yang pada tahun 2021 dijatah Rp30 juta per hektare.

Catatan dari Gatra ini memang menarik perhatian kita. Di satu sisi, karet masih bisa diandalkan untuk mempertahankan perekonomian keluarga. Di sisi lain, perkebunan sawit terus dibuka di mana-mana oleh perusahaan besar. Bahkan, individu yang memiliki dana lebih bisa membuka kebun sawit sendiri.

Pada dasarnya, baik sawit maupun karet memiliki keunggulan masing-masing. Cerita pekebun karet tentu hasil panennya yang menguntungkan, demikian sebaliknya. Cerita masyarakat setempat, selama ada kebun sawit daerah mereka menjadi gersang karena sawit menyerap air lebih baik. Di cerita pekebun sawit, mereka mengatakan karet makin tua makin tidak bagus getahnya, sedangkan sawit makin tua makin matang dalam berbuah.

Lawan yang seimbang tetapi bagiku semua kembali kepada masyarakat setempat. Apakah karet lebih baik, atau sawit bisa membawa untung besar? Keduanya ini memang tidak bisa disandingkan maupun ditanam bersisian. Kebun karet akan mati karena air dikuras habis oleh sawit, kebun sawit akan tercemar dengan daun, dahan dan ranting karet yang cepat menua.

Jaga Hutan dengan Tebang Kebun Sawit?

Pertanyaan ini sulit dijawab. Hutan A mungkin bagus untuk sawit. Untuk B belum tentu bagus untuk karet. Apakah sawit di rumpun tetangga harus ditebang karena menguras banyak air?

Infosawit.com menyebut keuntungan sawit bisa didapat sampai 25 tahun dalam satu siklus. Perawatan dan pemanenan sawit juga jauh lebih mudah dibanding karet.

Lain halnya dengan riau.go.id, yang menyebut 1 hektar karet bisa menghasilkan 40 kilogram perharinya. Dengan hasil karet rata-rata Rp15 ribu saat liputan ini berlangsung, pekebun karet dalam sebulan bisa memiliki penghasilan sebesar Rp9,2 jutaan.

Simalakama tentu saja. Apakah sawit lebih baik? Apakah karet lebih menguntungkan? Kita sama-sama tahu bahwa kedua komoditas ini adalah milik hutan Indonesia.

sawit versus karet

sawit versus karet

Dalam kisahku tadi, kebun karet di hutan kami yang tidak terawat mungkin pemasukannya tidaklah seberapa. Namun untuk perkebunan karet yang dirawat dengan baik, pemasukan mereka justru mengimbangi penghasilan pekebun sawit yang selama ini suka menyombongkan diri.

Tugas kita bukanlah mendebat lagi antara sawit dan karet. Keduanya memiliki keunggulan masing-masing terutama bagi ‘pemiliknya’ yang tiap bulan menerima upah dari hasil penjualan.

Aku cuma mau menggarisbawahi, yang bisa dilakukan untuk menjaga hutan Indonesia agar tetap asri, aman dan terkendali adalah dengan kembali ke porsi masing-masing. Kita tahu sekarang komoditas sawit merebak, namun di sisi lain komoditas karet juga masih bisa diandalkan. Jika daerah A melakonkan perkebunan sawit, maka daerah B layak untuk perkebunan karet, tidak baik jika daerah C mencampur keduanya karena tamak.

Dengarkan Alam Bernyanyi Sebuah Mimpi Hutan Kita Berseri

leleilmanino, Chicco Jerikho, HIVI!, dan Sheila Dara Aisha adalah penyanyi dari lagu Dengarkan Alam Bernyanyi. Sebuah persembahan untuk menjaga lingkungan negeri kita yang mana saat ini menduduki peringkat pertama negara paling polusi di Asia Tenggara berdasarkan laporan dari IQAir 2021.

Lagu ini menyerukan untuk kita menjaga hutan dengan baik karena berbagai komoditas dengan ragam manfaat berasal dari sana. Perubahan iklim yang semakin parah bisa teratasi dengan adanya hutan lindung, hutan liar, maupun hutan kota sekalipun.

Hutan yang penuh misteri akan memberi jawaban akan polusi di negeri ini. Penasaran dengan lagunya? Dengarkan saja langsung di Official Music Video Dengarkan Alam Bernyanyi.

Lagu ini juga bisa dinikmati melalui Spotify dan Apple Music. Makin sering lagu Dengarkan Alam Bernyanyi diputar, makin besar royalti yang diberikan untuk perlindungan hutan di Indonesia. Mungkin ini adalah salah satu cara kita untuk #TeamUpforImpact di saat kebuntuan ekonomi dalam rangka membantu saudara lain di dalam hutan sana.

Aku juga sudah bercerita banyak hal tentang kebun karet di hutan kita yang menyemai janji-janji. Saatnya mendengar musik asyik dari Dengarkan Alam Bernyanyi karena ini akan mengubah mimpi menjadi pasti!

Sumber Bacaan

Ajaib https://ajaib.co.id/prospek-usaha-karet-indonesia-masih-menggiurkan/
CNN Indonesia https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190309220926-32-375868/romantisme-winter-sonata-ala-jokowi-iriana-di-kebun-karet
Gatra https://www.gatra.com/news-510340-ekonomi-karet-komoditi-penting-yang-kini-terancam-sawit.html
IEC https://environment-indonesia.com/manfaat-hutan-kota-yang-luar-biasa/
Info Sawit https://www.infosawit.com/news/9937/memilih-sawit–lantaran-mudah-dibudidayakan
Katadata https://katadata.co.id/ekarina/berita/5e9a51826abaa/pemerintah-bidik-peremajaan-kebun-karet-hingga-700-ribu-hektar
Muslim Terkini https://www.muslimterkini.com/ragam/pr-901135744/inilah-daftar-tanaman-obat-yang-tumbuh-di-hutan-ada-jenu-juga-loh
Riau https://www.riau.go.id/home/content/2014/01/06/1038-zulher-karet-lebih-menguntungkan-ketimbang-sawit
Universitas Gadjah Mada http://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/76127

%d bloggers like this: