Kehamilan

My Dear, Kita Hanya Berdua Menjalani Kehamilan Ini

Aku ingin sekali menulis sepucuk surat untuknya, My Dear, yang saat ini telah memasuki 5 bulan 8 hari masa kehamilan anak kedua kami. Surat cinta yang tak pernah kutulis sama sekali semasa kami berkenalan sampai ke pelaminan. Surat cinta itu rasanya tidak lagi ia butuhkan untuk melunakkan hatinya, dan juga kedua orang tuanya.

Dalam coretan ‘melankolis’ ini pula aku ingin menguatkan dirinya yang terlalu sulit untuk melewati suatu masa yang telah lalu. Kami mungkin tidak kuat, tetapi kami harus tabah dalam menjalani masa yang benar-benar berat kala itu.

Bahagia mungkin sudah tidak ada. Debat kecil yang berujung hal-hal yang tidak kami inginkan, aku diamkan saja sejenak agar permasalahan itu tidak melebar. Kadang sulit namun umpatan kasar yang cuma lewat di pinggir hati menjadi nyanyian malam bagiku sampai kini.

Sebuah Kisah Ini Dulu Sebelum Hari Ini

Kami menikah di 18 Agustus 2020. Di mana orang-orang dalam kesulitan pada masa ‘pandemi’ bahkan juga kami di sepenggal cerita ini. Haru, bahagia, sudah tentu menjadi pelipur bagiku. Dirinya yang melewati masa teramat berat tentang hubungan kami menjadi lebih lega. Aku juga demikian. Cerita pahit dan manis sebuah percintaan memang ada, untuk kita bersyukur. Kisah itu datang untuk sebuah pembelajaran tersirat maupun tersurat.

Di malam-malam awal pernikahan yang penuh suka, kami memiliki cerita yang teramat panjang untuk segala sesuatu dan masa depan nanti. Ini itu adalah sesuatu. Sesuatu atau itu. Ini tak lain sesuatu. Mimpi-mimpi yang panjang untuk pasangan yang baru menikah.

Si teman sudah memamerkan hasil test pack, kami sedikit iri. Padahal, si teman sudah beberapa bulan dalam pernikahan indahnya. Tauge dan tahu dimasak bening hampir tiap hari terhidang di meja makan. Usaha dan harap untuk segera dapat momongan itu sudah pasti.

Kami tentu tak mau menunda. Ada cerita yang berujar, “Kenapa nggak tunda dulu, nikmati masa muda berdua…,” dan itu menjadi sebuah kalimat yang kami buat sekonyong-konyong ocehan orang tak bersyukur – telah diberi jodoh.

“Aku tidak mau menunda-nunda!” My Dear berkukuh.

“Aku juga demikian!” ujarku penuh penekanan.

Alhamdulillah!

Di penghujung yang tak tentu itu, tes pack menunjukkan dua garis. Cerita yang indah untuk kami dimulai sudah. Aku mungkin protektif, kadang juga egois. Adakala juga posesif.

Dalam masa yang baru bermula, My Dear mulai terlihat perbedaan. Ia merasakan perubahan banyak di dalam dirinya. Namun sebelum itu, sebelum aba-aba terlambat datang bulan, di minggu sebelumnya, aku yang pertama sekali merasakan keanehan.

Ke mana langkah aku pijak, aku seperti sedang berada di dalam bus besar yang terayun-ayun. Di pagi hari, drama dimulai dengan sendirinya; pusing dan mual bahkan sampai muntah-muntah. Aku ‘mencintai’ makanan yang sebelumnya tak kusentuh seperti rujak maupun jeruk.

Semula, kupikir itu biasa. Mungkin karena kelelahan. Mungkin karena banyak pikiran – entah apa yang dipikirkan. Mungkin juga karena alasan ‘baru’ menikah, jadi seperti kata orang sedang dalam masa ‘demam panggung’ yang pendalaman maknanya entah menjurus arah ke mana.

Namun tidak demikian. Kami telah melewati satu fase yang pasti. Ia telah terlambat beberapa hari dan aku yang merasakan aroma pertama kehadiran buah hati kami. Dua bulan pernikahan kami waktu itu, lebih kurang dalam hitungan yang kupakai dengan jari di tangan.

Aku benar-benar demam panggung. My Dear ingin makan ini dan itu, aku segera menjemputnya. Somboi – manisan khas Medan – mesti kupesan dari daratan seberang, meskipun sampai di rumah hanya beberapa potong dikunyahnya.
Kehamilan
Aku terlalu larut dalam diri sebagai suami siaga, demikian kata orang. Sejak awal ia harus minum susu tanpa henti, dan ke dokter sesuai jadwal yang kami inginkan. Semua berjalan baik-baik saja. Benar-benar baik.

Mual dan muntah yang ia rasakan makin bertambah seiring kandungannya berganti minggu. Muntah-muntah sampai tak tertahan dan menjadi-jadi meskipun ia telah mengonsumsi pil pereda rasa mual dan muntah, serta beberapa obat dari dokter.

Dalam demikian, ia tetap memilih bekerja dengan jarak hampir 1,5 jam perjalanan. Tak terkira lelah wajahnya, dan kram perutnya begitu sampai di rumah. Dirinya tetap tak mau berdiam diri di rumah, ia meminta jalan-jalan ke sana-sini meskipun mual masih belum berkurang. Kami memberikan semua keinginan calon buah hati yang telah melewati masa 6 minggu itu.

My Dear barangkali terlalu lelah dengan pelatihan di tempat kerjanya selama seminggu. Semua bau yang berada di dapur tak pernah enak baginya. Keluar dari mobil juga langsung mencium semua aroma yang tak sedap.

Ia sering sekali kehausan dan kemudian memilih meminum air dingin. Makan nasi cuma sedikit dan roti pun masih enggan disentuhnya. Pernah makan cuma dengan mi instan yang direbus yang katanya sangat lezat. Sesekali ia minta semangka yang kemudian dimakannya dengan lahap. Saat nasi ingin dimakannya, kecap menjadi penawar yang paling lezat beserta saus cabai dicampur dengan banyak tomat yang masih saja pedas di mulutku.

Jeruk menjadi cemilan yang lezat sekali karena enak di mulut. Ia bisa makan jeruk beberapa buah untuk meredakan rasa mual berlebihan itu. Kami benar-benar tidak tahu apa-apa selain melewati masa yang indah itu.

Tiba di minggu kesepuluh, ia merasakan kram dan nyeri di perut yang tak terbantahkan. Padahal, sehari sebelumnya kami baru saja konsultasi ke dokter dan calon bayi kami baik-baik saja. Muntahnya tak terbantahkan. Nyeri perutnya juga membuatku ingin menangis. Kram yang dirasa sangatlah berat baginya untuk melewati itu.

Di minggu kesebelas, ia kesakitan luar biasa. Ia merasakan kram dan nyeri yang tak bisa kujabarkan di sini rasanya. Di pagi yang sedikit mendung, ia mengabariku baru saja terjadi pendarahan. Aku terburu pulang dari tempat kerja dengan perasaan tak tentu.

Aku mondar-mandir di rumah. Mau ke mana dan berbuat apa sangatlah tidak terpikirkan. Ke rumah sakit sungguh tidak bisa diandalkan saat matahari lewat sepenggalah. Dokter baru buka praktik di sore sampai malam hari.

My Dear sudah pucat dalam menahan sakit. Kami ke bidan di dekat rumah, katanya calon bayi kami baik-baik saja. Tetapi, bercak darah masih terus keluar. Kami ke dokter sore itu. Bukan dokter yang biasanya kami konsultasi karena dirinya cuma praktik Sabtu-Minggu saja.

Ke sana dengan penuh harap cemas. Dokter kandungan yang tidak direkomendasikan oleh banyak orang. Aku kalut tidak ada pilihan. Di depan pertokoan itu, aku menabrak trotoar sampai bagian depan mobil kami lecet. Perasaanku sudah tidak enak, menyalak entah ke sudut mana.

Tiga puluh menit kemudian, “Janin ini gagal berkembang, nggak ada cara lain segera kuret!” seenak itu sang dokter mengeluarkan kata-katanya.

My Dear langsung berubah muram. Kami keluar ruangan dengan lesu tanpa berbicara apa-apa dan tidak mengambil obat yang diresepkan – entah untuk apa obat itu – kemudian kami ketahui untuk merangsang janin keluar agar proses kuretase lebih mudah.

Di malam yang berbintang, rumah kami dirundung sendu. My Dear menahan sakit yang akan kuingat sepanjang hayat. Tidurnya tidak bisa sama sekali. Perutnya nyeri. Kram di bagian pinggul. Bercak darah sebentar-sebentar kami bersihkan.

Aku tidak ingat berapa lama kami terlelap malam itu. Kami ingin segera pagi. Ada dokter yang masuk rekomendasi meski jauh perjalanan ke sana. Di pagi yang muram, wajah pucat pasi My Dear sudah tak sanggup kulihat. Kami langsung mengirimkan pesan instan ke nomor pribadi dr. Indra, SpOG.

Benar seperti kata orang-orang, tak berselang lima menit, dr. Indra, SpOG. langsung membalas pesan kami. Katanya, langsung datang ke RSUD Sultan Iskandar Muda, Nagan Raya, Aceh, untuk mendapatkan penanganan.

Kami bergegas. Benar-benar bergegas. Perjalanan 2 jam dengan kecepatan mobil 20km/jam sampai 30 km/jam terasa sangatlah lama – dan benar memang lama sesuai kaidah kecepatan dan waktu. Tetapi bukan lama itu, lama dalam pemikiran kami masing-masing.

My Dear langsung mendapatkan penanganan lewat jalur khusus ke ruang dr. Indra, SpOG. Aura kenyamanan langsung kami rasa begitu di depan pintu. Sapanya dengan ramah membuat kami bernapas sedikit lega, meski hati tidak demikian.

USG dilakukan dengan perlahan-lahan. Wajah My Dear sudah lelah sekali menahan sakit. Lembut kata dr. Indra, SpOG. menenangkan segala gundah meski tidak sembuh, “Calon dedek bayinya sudah meninggalkan kita sejak usia kandungan 8 minggu,” ujarnya pelan.

Kami mendengarkan dalam hati yang sudah menangis.

“Aliran darahnya sudah berhenti ke janin, detak jantungnya juga sudah nggak ada. Dia masih utuh di dalam rahim cuma tidak mendapatkan asupan apa-apa lagi,” ujar dr. Indra, SpOG. sambil menggerakkan sensor USG ke beberapa sisi di perut My Dear.

“Dia minta dikeluarkan karena tubuh sudah anggap benda asing. Rezeki nggak akan ke mana, kita sehat dulu setelah dia dikeluarkan, baru kemudian kita usaha lagi,”

dr. Indra, SpOG. masih menyuarakan sepenggal kalimat lain yang mungkin menjadi memori tersendiri bagi kami. “Makin lama dikeluarkan, makin terasa sakitnya dan itu bahaya bagi ibu. Ada dua alternatif untuk ini, saya kasih obat atau melalui operasi – kuret,”

“Minum obat buat dia keluar menjadi darah dan itu prosesnya lama, kamu bisa sakit dan sembuh lebih lama juga,” kata dr. Indra, SpOG. dengan matanya menatap sendu ke arah My Dear yang tangannya tak lepas kupegangi.

“Kalau operasi, dengan istilah kuret, kamu cuma sekali merasa sakit dan rahim pun langsung bersih. Ke depan kamu nggak perlu berobat lagi, dan InsyaAllah akan segera dikasih ganti,”

Aku bertanya, apa yang menjadi penyebab dari ini – yang kusebut saja membuat mata menjadi perih.

“Kita nggak tahu sebabnya apa. Kondisi rahim bagus, ibu juga sehat. Mungkin ada kesalahan di calon bayi yang kita nggak tahu apa. Mungkin juga karena faktor dari luar, apakah salah makan, kelelahan, atau juga stress,”

“Boleh kok kalau dipikirkan dulu, apakah minum obat atau melalui operasi. Intinya sih, ini harus dikeluarkan agar ibu cepat sehat!”

Kami pulang ke rumah. 2 jam lagi perjalanan. Diam seribu bahasa selama di dalam perjalanan. Gelisah tak terkira sesampai di rumah. My Dear kian merasa sakit. Ia merintih berkali-kali. Bercak darah juga keluar lebih banyak. Mungkin karena perjalanan pulang pergi dengan kondisi jalan tidak begitu baik, berlubang di sana-sini.

“Kita lakukan kuret,” ujarku. Dan aku tidak meminta persetujuan kepada siapapun.

Kami mengirim pesan ke dr. Indra, SpOG. untuk segera melakukan kuretase. Di jam 3 sore itu, kami sudah kembali ke rumah sakit tempat dokter bekerja. Sesampai di sana, surat rekomendasi sudah dititipkan di ruang ICU, proses seperti biasanya di rumah sakit langsung dilakukan.

Menjelang magrib, kami mendapatkan kamar dan sekitar jam 9 malam calon bayi kami dikeluarkan masih dalam keadaan masih utuh.

Innalillahi. Terima kasih sudah bersama kami untuk waktu yang sangat singkat. Akan selalu kami ingat kenangan bersama kita. Doa terindah selalu kami panjatkan. Sekarang sudah sehat di sana dalam damai!

Semua menjadi gelap untukku, dan My Dear seakan telah hilang separuh nyawanya!

Hari Ini Untuk Masa Depan Kami Nanti

Akhir tahun 2020 begitu berat untuk kami jalani. Sepanjang awal tahun 2021 juga menjadi ‘petaka’ yang tak pernah henti untukku, dan My Dear yang suka berubah dengan kondisinya. Aku dibenarkan untuk diam segala urusan agar rumah tangga kami baik-baik saja. Sedihnya tak ada obat semahal apapun di dunia ini.

Masa demi masa kami lewati dalam ketegangan. Sedikit masalah langsung berdebat. Yang kami yakini itu benar terjadi. Kami percaya kepada-Nya atas karunia dan bersyukur untuk semua, bahkan kehilangan menjadi obat dengan dosis paling tinggi untuk membunuh segala duka.

Kami tegar, bukan lagi mencoba tegar. Kami makan daging, makan sayuran, dan juga minum jus tiga DIVA sesuai anjuran dr. Indra, SpOG. Dalam sehari kami bisa dua kali minum jus ini. My Dear tak pernah mau putus mem-blender tomat, apel dan wortel untuk kami minum berdua. Tauge juga menjadi menu makan siang yang lezat di rumah kami.

Kehamilan

Selain konsultasi dengan dokter melalui pesan instan, kami juga mengecek masa subur. Dua bulan setelah 1 Januari, aku ‘kembali’ merasakan di dalam perjalanan jauh dengan bus dan drama pagi dimulai tanpa henti.

Aku menjadi yakin. Ditambah drama mual dan muntah di malam hari secara rutin seminggu 2-3 kali. Belum lagi aku ingin makan rujak yang sama hampir tiap hari. Meski, My Dear belum merasakan perubahan apa-apa.

Tiba di hari itu, kami menunggu dengan cemas datang bulan sampai malam. Dan, itu terjadi. Aku berujar, “Nggak apa-apa, kita akan usaha lagi,”

Di saat ia dalam kondisi menstruasi, aku tetap merasakan dunia berputar dengan indahnya di pagi hari. Makin hari makin menjadi-jadi. Aku mual-mual dan muntah berkali-kali di tempat kerja. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Minum obat sudah. Pakai minyak angin sudah. Perut tidak sakit seperti asam lambung sedang naik.

Semua baik-baik saja. Dan kami juga menjalani hari dengan baik-baik saja meskipun My Dear cuma 6 hari masa menstruasi dari seharusnya 10 hari lebih. Kami berharap, tetapi tidak berharap. Pengalaman yang pertama juga 5 hari menstruasi baru bulan berikutnya tidak lagi.

Selama itu pula, My Dear penuh kecemasan karena drama pagi yang aku alami makin panjang. Aku tidak enak makan. Mandi pagi dalam dingin lalu mual dan muntah. Sehabis magrib juga muntah-muntah kosong. Perut tidak sakit. Mulut tidak enak. Hambar semua yang dimakan selain rujak.

Kami menanti bulan berikutnya dengan sakit kepala yang ku alami kian parah. Sebelah kiri, beralih ke kanan. Mabuk seperti aku sedang perjalanan jauh kian parah. Rasanya, aku ingin meminum obat mabuk perjalanan saja.

Dan pada saat itu, My Dear memperlihatkan dua garis di test pack. Alhamdullah. Syukur kami dalam sujud panjang.

Dengan segera, kami konsultasi dengan dr. Indra, SpOG. melalui pesan instan. Dokter kemudian menyarankan untuk minum obat dan perbanyak istirahat. Dalam pesan itu, resep yang diberikan adalah penguat kandungan; Microgest 200mg, Nobor, Methylprednisolone 4mg, Nulacta Plus, dan juga Aspilets.

Di hari itu juga, aku mulai mencari obat yang dimaksud ke semua apotek yang ada di Meulaboh, Aceh Barat. Namun sungguh, aku tidak menemukan obat yang dimaksud. Misalnya ada satu lainnya nggak ada. Ada pula apotek yang memberikan obat sejenis tetapi aku enggan mengambilnya.

Aku pulang dengan raut wajah kecewa. My Dear tampak senang di depan pintu tetapi langsung sendu melihat wajahku yang kusut, “Nggak ada ya?” tanyanya sedikit berharap. Aku mengeleng. “Mungkin obat itu cuma ada di klinik dokter Indra,” ujarnya, sama dengan apa yang terpikirkan olehku selama di jalan pulang.

Baiklah. Aku harus ke Kabupaten Nagan Raya untuk mendapatkan obat-obat penguat kandungan ini. Keesokan hari yang cukup cerah, aku mengendarai mobil dengan harap-harap cemas. Seorang teman yang menemani perjalanan 1,5 jam itu menenangkan. Katanya, pasti obat yang kami cari itu ada di sana.

Dan benar, sesampai di klinik dr. Indra, SpOG. siang itu aku langsung disambut kasir apotek dengan senyum ramah, “Ada,” sebutnya saat aku menunjukkan resep dari hasil screenshot di smartphone.

Aku langsung lega. Tak lama menunggu, aku sudah mengendarai mobil dalam kondisi yang cukup tenang dan sudah mengabari My Dear sebelum jalan pulang.

Seminggu itu, ia mengonsumsi obat yang telah diresepkan secara rutin. Kami hanya yakin. Percaya kepada-Nya. Semua akan baik-baik saja!

Tak mau membuang waktu setelah seminggu berlalu, kami langsung ke dr. Indra, SpOG. di sore itu. Sang dokter mengucapkan selamat yang tulus dalam senyumnya yang merekah.

“Kita suntik di perut ya,” kami berdua langsung tercengang, karena belum sampai pengetahuan ke arah situ.

Aku melihat My Dear yang baru saja di USG dari bawah – maaf – alatnya dimasukkan ke dalam alat kemaluan, dalam kondisi bingung. “Minimal 4 kali di sisi perut kiri, kanan, atas, dan bawah, disesuaikan saja. Seminggu 2 kali agar peredaran darah lancar ke calon dedek bayi. Nanti akan muncul bekas biru di bekas suntikan dibiarkan saja nggak apa-apa,”

dr. Indra, SpOG. lantas menyebut beberapa kebutuhan lain dan mengharamkan makanan asam dan pedas. Katanya, masa yang paling penting yang harus dijaga itu sampai 12 minggu – minggu berikutnya juga tak kalah penting tentunya. Perkembangan janin sebelum 12 minggu masih butuh perhatian lebih. Dokter meresepkan Lovenox dari Enoxaparin, yaitu obat pengencer darah yang disuntikkan di perut ibu hamil selama masa awal kehamilan.

Sekali suntik, obat ini adalah hampir Rp500 ribu. Materi masih bisa dicari, kesehatan ibu dan bayi tidak. Suntikan pertama di sore itu membuat My Dear merintih. Aku memegang erat tangannya. Nyeri di perut sudah pasti luar biasa. Jarum suntik yang ditancapkan ke pantat saja rasanya begitu nyeri, bagaimana dengan kulit perut.
Kehamilan
Aku menitikkan airmata setelah itu. My Dear dalam sabar dan tabah menahan suntikan di perutnya untuk calon bayi kami. Tiga hari setelah itu, sisi kiri yang disuntik. Kami suntik sendiri di rumah karena jarak tidak memungkinkan kembali ke klinik dr. Indra, SpOG.

Tiga hari berselang suntik lagi di bagian bawah pusar. Lalu tiga hari setelahnya di atas pusar. Bekas suntikan membentuk ruam biru di perut My Dear. Sesekali, ia meringis nyeri bekas suntikan. Tak ada kata lain selain berkata, “Sabar ya, Sayang,”

Selama awal kehamilan ini pula – sampai genap 5 bulan nanti – obat Aspilets tidak boleh putus. Aspilets berfungsi untuk mengencerkan darah dan mencegah pengumpalan sel. Minum sehari sekali disertai obat lain berupa vitamin, maupun zat besi.
Kehamilan
Di minggu ketujuh dan dua hari, kami dibuat khawatir dengan keluar flek sedikit. Di Jumat sore itu, kami langsung ke klinik dr. Indra, SpOG. dan tak lama langsung diberikan surat rujukan untuk rawat inap ke rumah sakit.

Waktu bergerak sangat cepat; yang sesekali begitu terasa lambat. Kami menginap selama 2 malam di rumah sakit dengan infus berganti-ganti tak henti. Obat ini itu – yang aku tidak tahu – disuntik ke infus, dan juga obat minum di pagi dan malam hari. My Dear terlihat lelah sekali. Aku memeluknya dalam doa tak putus untuk kami berdua dan calon bayi kami.

Bercak darah yang keluar karena – menurut dokter – bayi semakin membesar dan di hari keluar dari rumah sakit, sudah reda sama sekali. Aku bernapas lega. Meski, “Di rumah jangan banyak gerak ya, pakai pampers dan semua aktivitas di tempat tidur selama sebulan ini,” begitu pesan dokter.

My Dear juga menerima suntikan Lovenox sebanyak dua kali lagi setelah itu. Jangan ditanya bagaimana ruam bekas suntikan di perutnya. Dalam hati, aku meringis tetapi tidak bisa berbuat banyak. Nggak mungkin aku menggantikan posisi dirinya saat ini. Pekerjaan lain masih bisa aku atasi dengan mudah tetapi ‘soal ini’ aku hanya bisa merintih panjang dalam malam-malam sepi.

Sebulan itu terasa lama sekali, My Dear di kamar saja dengan semua disiapkan. Ia tidak turun dari tempat tidur. Makan juga masih memilih agar tidak kena asam dan pedas. Mandi ditemani. Makan juga disuapi. Ganti pakaian juga masih dibantu agar tidak banyak gerak.

Kram dan nyeri terasa bergantian. Ia juga sudah mulai mual dan muntah. Sehabis makan muntah. Makan sedikit muntah. Minum obat muntah. Kepala berat dan bawaannya ingin tidur sepanjang hari. Badan sesekali lemas.

Aku tetap menyuapi nasi meski ia menolak. Masih tak lupa membuatkan susu meski ia enggan. Selalu kuingatkan minum obat di pagi dan malam hari. Dan, aku keluar malam hari untuk mencari makanan kesukaannya juga.

Perlahan, kami sedikit bernapas lega setelah melewati masa 12 minggu kehamilan. Aspilets tetap harus diminum sehari satu butir selama lima bulan masa kehamilan. Aku selalu mengawasi dirinya minum obat menjelang tidur; agar tidak mudah mual dan muntah. Pernah minum obat di pagi sewaktu awal kehamilan, dirinya muntah tak terkira sampai semua makanan dan obat keluar semua dari perutnya.

Di malam yang mulai sepi, aku kerapkali memijat betisnya yang terasa pegal sekali. Sesekali menggosok-gosokan telapak tangan ke bahu, dan memijit kepalanya yang masih sering terasa sakit. Di pagi yang terburu, aku menyiapkan makan dan susu untuknya minum, dan memijit kepalanya yang sedang mengalami morning sickness.

My Dear tak bisa jauh dariku. Aku pun selalu ingin terburu-buru pulang dan bertanya, “Mau dibeliin apa?” yang selalu diikuti dengan permintaan beli ini dan itu.

Nulacta adalah obat yang diresepkan dr. Indra, SpOG. saat kami konsultasi di usia kandungan lebih 12 minggu. Obat ini juga pernah diberikan sebelumnya. Nulacta untuk ibu hamil sebagai suplemen makanan yang di dalamnya terkandung minyak ikan, asam folat, dan juga vitamin E yang berfungsi sebagai zat aktif. Nulacta ini juga diberikan untuk ibu hamil untuk meningkatkan perkembangan otak dan mata pada janin, sebagai antioksidan, membantu regenerasi sel-sel darah merah dan juga akan membantu pembentukan sel darah merah.

Pemeriksaan kandungan di usia 12 minggu itu cukup melegakan kami di satu fase – trimester pertama. Dokter berujar, satu fase tersulit telah kami lewati. Rona bahagia dari dokter kandungan kami ini memancarkan pesan yang mendalam. Tentu, soal saran dirinya sewaktu pertama bertemu dengan kami dalam waktu duka kala itu.

Memang, My Dear dan calon bayi baik dalam USG dalam kesehatan yang baik. Namun, dokter yang disegani banyak orang ini tetap meresepkan beberapa obat terutama zat besi dan vitamin yang harus diminum. “Aspilets jangan putus ya,”

“Kita ketemu lagi di bulan kelima nanti, sehat-sehat terus ya!” sumringah dr. Indra, SpOG. di akhir cerita kami saat konsultasi hari itu.

Aspilets tiap hari rasanya begitu lama. Calon bayi kami kian berkembang. My Dear selalu ingin makan ini dan itu. Orang menyebutnya ngidam, dan memang harus dipenuhi sesuai keinginan. Jika tidak, ia akan merajuk sepanjang hari tanpa sebab. Demikian, citra dari bayi yang sedang dikandungnya.

“Aku mau langsat!” sedang di luar sedang tidak musim.

Aku sangat kebingungan. Mau mencari langsat di mana. Aku berkeliling kota, pulang ke kampung, namun yang kutemui adalah rambutan dan durian. Aku pasang status di media sosial, kawan-kawan membalas sedang tidak musim.

Tiap pulang kerja, aku mengitari kota untuk mencari langsat. Tiap keluar rumah, mataku jelalatan ke semua orang jual buah-buahan, dan ke siapa saja yang berdiri di pinggir jalan sedang menjual apa. Apakah ada langsat di sana. Aku ke pasar pagi, ke sudut-sudut yang entah, tetapi langsat itu tetap tidak ada.

Baru minggu lalu aku menemukan langsat setelah sekian lama ia menginginkannya. Aku bernapas lega. Meskipun kulit langsat tidaklah seperti yang ada di dalam bayanganku. Itu juga setelah mengitari seluruh kota, dan bertemu di pojok pasar pagi dengan sisa sekilo saja. Aku langsung mengambilnya; jangan sampai keduluan orang lain!
Kehamilan
Aku menjadi lebih dewasa karena itu. Aku tahu. Paham betul bagaimana ia mengandung. Perjuangan penuh airmata yang lebih banyak merintihnya daripada tertawa. Kadangkala kami tertawa bersama saat detak jantung calon bayi itu sudah mulai terdengar. Aku lebih terharu yang juga bisa merasakan saat mendekatkan telinga ke perutnya.

Berkali-kali, aku meraba di mana calon bayi kami dan sedang apa dia di dalam kandungan ibunya. Aku bisa jahil dengan menggelitik yang membuat My Dear mengeram karena geli.

Aktivitas terus dijalani. Hari-hari kami penuh dengan drama; dan itu sesuai pribadi masing-masing dan ibu yang sedang mengandung bayi. Semua orang yang menikah dan hamil akan merasakan hal serupa. Aku tak ingin menjabarkan soal ini karena bisa panjang cerita kita.

Drama yang penuh babak itu kemudian masuk ke 20 minggu. Lima bulan sudah genap usia kehamilan My Dear yang penuh kebahagiaan untuk kami berdua. Trimester kedua yang tidak lagi mual dan muntah tetapi drama lain yang datang dan pergi sesuai mood ibu hamil.

Sesuai janji. Kami kembali ke dokter di usia kandungan 5 bulan. Penantian yang menjadi cepat dari yang kami bayangkan ketika harus minum Aspilets sehari sekali. Di hari itu pula, saat kami flashback ke belakang, rasanya sangat jauh tertinggal tetapi kami bisa melewatinya meskipun penuh drama yang jauh lebih alot daripada alur cerita drama Korea.

“Hei, kalian!” senyum dr. Indra, SpOG. saat kami masuk ke ruangannya sore Jumat itu. Dokter sudah mengenal kami dengan baik, aku yakin itu dari sikapnya. “Sehat ya?” tanyanya sebelum memulai USG. Kali itu, USG dilakukan dari luar yaitu di atas perut ibu hamil.

“Mari kita sapa dedek bayi,” kata dokter sambil menggerakkan sensor USG ke perut My Dear yang mungkin saja jadi geli karena itu.

“Hei, kamu, malu-malu ya,” ujar dokter kepada janin yang sedang menutup wajah dengan tangannya di layar desktop itu. “Sehat ya. Ini gerak-gerak dia, ini malu, ini kenapa selalu tangan di kepala, lagi pusing ya…,” dokter tak henti bersuara dengan renyahnya.

Konsultasi kandungan hari itu melegakan hati kami. Hasil USG yang diberikan juga membuat senyumku dan My Dear bertambah lebar. Dokter kemudian berpesan hal yang sama; pola makan, jangan banyak pikiran, dan tentu minum obat yang diresepkan olehnya.

“Kita minum Ossovit dan Nulacta sampai melahirkan ya,” katanya sambil menulis resep di secarik kertas, “Sehat terus, kita ketemu lagi bulan ketujuh!” tutupnya menjelang magrib hari itu.

Ossovit diberikan kepada ibu hamil dan menyusui untuk pencegahan dan pengobatan osteoporosis, suplemen, dan kalsium selama pertumbuhan dan perkembangan janin di dalam kandungan.
Kehamilan
Hari yang sedikit mendung, namun ada bintang terlihat senja itu. Kami merasakan hati yang tenang menjelang pulang ke rumah. My Dear sudah sangat rindu kasurnya. Aku pun ingin berbaring untuk meregangkan otot-otot.

Seperti biasa, kami akan memutar salawat dari smartphone maupun membaca al-quran agar calon buah hati mendapatkan nutrisi batiniah yang tak terkira mulai dari dalam kandungan. Banyak cara merawat bayi dalam kandungan agar pintar. Kami berikhtiar untuk masa depan calon bayi sejak dirinya ada. Usaha dan doa adalah modal utama. Materi yang habis bisa dicari kemudian.

Kami sudah berusaha. My Dear dengan jiwa dan raganya menjaga calon bayi kami. Dalam sakit badan dan pikirannya. Dalam lelah harinya. Dalam kesendirian di kamar sepanjang hari. Dalam kesal yang sesekali muncul tanpa sebab. Kami mesti melewatinya karena Dia tak pernah melupakan doa dan harapan kami.

Kami masih menanti 4 bulan lagi agar calon bayi ini lahir. Ikhtiar dan doa selalu terpanjatkan. Tentu, nggak mungkin mendapatkan yang terbaik tanpa usaha. Sungguh panjang usaha yang mungkin bisa aku ceritakan di sini, tetapi cukuplah sampai di titik ini saja.

Kami berusaha, berdoa, berikhtiar, karena kehamilan tidak semudah yang orang inginkan untuk menjaganya. My Dear, kita hanya berdua menjalani kehamilan ini. Sabarmu untuk ketabahanku juga melewati hari-hari yang berat. Kita akan mencapai bahagia nanti dalam pelukan yang hangat dari calon bayi kita!

About the author

Writer | Blogger| Teacher | Pemenang Writingthon Asian Games 2018 oleh Kominfo dan Bitread Publishing

Partnership: [email protected]

www.youtube.com/bairuindra

Comments

  1. Terharu dengan perjuangan Bang Ubai dan istri. Sudab ada pula yang menunggu di surga. Semoga sehat terus hingha hari H ya, lancar semuanya. Ibu dan bayi sehat selamat.

  2. Ya Allah. luar biasa banget perjuangan bang Ubai, memang benar2 ayah hebat dan siaga nih. Semoga dedek bayi dan ibunya sehat terus ya hingga ke tahap persalinan nanti. Tetap semangat ya bg, kuyakin Allah pasti punya rencana yang lebih indah dibalik ujian yang telah dilalui.

  3. Sedih kali bang kisahnya….semangat terus ya utk abang dan istri. Moga calon bayinya selalu sehat. Aamiin.

  4. Sehat-sehat selalu ya buat ibu dan calon bayinya.. Kita sama-sama berdebar dan gak sabar nunggu kelahiran dedek bayi nih..

    Aku kemaren ngidam tempoyak yang lama baru kesampaian. Tapi alhamdulillah akhirnya kesampaian

  5. Wah… ceritanya mengharukan sekali. Thanks bang Ubai untuk sharingnya. Sehat-sehat terus ya calon dekbay, istri dan juga abang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: