Mungkinkah Tamat SMA Kuliah ke Amerika?

Kurikulum Internasional

Penutup tahun 2022, secara tidak sengaja, saya bertemu dengan sahabat lama di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Saya baru saja menghadiri launching sebuah laptop megah dan mewah. Sahabat saya baru saja pulang dari Lampung untuk sosialisasi pendidikan ke Amerika. Pas sekali bisa diskusi panjang lebar, batin saya.

Kuliah ke Amerika, Siapa Takut?

Lilis Su’adah namanya. Saat ini bekerja sebagai Education USA Advisor Regional Sumatera. Lilis bertugas mensosialisasikan pendidikan di Amerika, dan mencari anak-anak Sumatera untuk kuliah ke Amerika Serikat melalui beasiswa baik tingkat sarjana, magister, maupun doktoral.
Kurikulum Internasional
Kata Lilis, tiap regional memiliki Education USA Advisor masing-masing. Nah, karena Corona telah usai, Lilis sudah boleh keliling Sumatera lagi untuk mencari anak-anak yang berminat ke Negeri Paman Sam!

Sambil menunggu boarding, kami saling bertukar kabar setelah 10 tahun tak pernah bersua. Lilis mulai bercerita terhadap kendala mencari anak-anak lulusan SMA, terutama, untuk pergi jauh ke Amerika untuk belajar.

“Salah satu kendala anak-anak SMA di Aceh, dan Sumatera pada umumnya adalah terkendala bahasa. Mereka belum terbiasa berbicara dalam Bahasa Inggris, apalagi untuk menulis esai pengantar untuk masuk ke perguruan tinggi,”

Saya menyimak dengan serius. Kesempatan ini tak boleh saya lewatkan begitu saja. Dunia pendidikan yang makin menanjak naik, nggak mungkin anak didik saya cuma berhasil masuk ke perguruan dalam negeri selagi ada kesempatan untuk go internasional.

“Di sinilah tugas kami di Education USA untuk mensosialisasikan pendidikan di Amerika tidak seribet yang dibayangkan. Bahkan, kami di Education USA dalam tanda kutip diminta untuk mencari, dan merekomendasikan anak-anak di pelosok negeri khususnya Sumatera sebagai regional yang saya pegang untuk diantar ke perguruan tinggi Amerika,”

“Dan itu tidak mudah?” tanya saya.

“Benar sekali. Anak-anak belum terbiasa dengan kurikulum luar negeri. Oh kalau sudah bisa Bahasa Inggris, sudah bolehlah pergi ke Amerika. Jauh dari itu, kurikulum di luar negeri sangat berbeda dengan kita yang lebih santai, asalkan dapat nilai bagus sudah lulus,”

“Benar,”

“Nah, di Amerika nggak bisa begitu. Tahu dong? Untuk masuk saja harus melampirkan dokumen selengkap-lengkapnya termasuk menulis esai sebaik mungkin. Anak-anak yang pintar speaking belum tentu bisa menulis lho, Bai!”

Cerita kami membawa ke ranah apa yang mesti dilakukan untuk anak-anak negeri yang tamat SMA punya cita-cita ke Amerika.

“Gampangnya sih, selain pemantapan bahasa, ikut saja kegiatan-kegiatan yang berbau Amerika!”

“Ada jaminan bisa lulus?”

“Jaminan pasti nggak, cuma sudah ada bayangan kalau pendidikan di Amerika itu seperti apa,”

Pertemuan singkat kami berakhir dengan penutup.

“Ayo, Bai, rekomendasikan anak sekolahmu kuliah ke Amerika!”

Saya cuma bisa menyengir!

Siswa Kami dan Sebuah Cita-cita

Kurikulum Internasional
Kembali ke sekolah setelah seminggu di Jakarta, dan bertemu Education USA Advisor asal Aceh, saya makin bersemangat untuk memberikan bimbingan untuk anak-anak yang sedang duduk di kelas 12. Saya tidak lagi bicara soal, apa cita-cita mereka namun mengapa tidak berpikir untuk terbang tinggi sampai ke Amerika!

Muhammad Alief Maulana, seorang siswa dengan kemampuan ekonomi lebih dari yang lain saya dorong untuk kuliah ke luar negeri. Alief tentu berminat setelah saya diskusikan dengannya kesempatan ke Amerika melalui Lilis. Namun, bahasa adalah kendala paling besar.
Kurikulum Internasional
Alief salah seorang siswa saya yang terkenala karena Kurikulum Internasional belum menyentuh sekolah kami. Tentu, dengan berat hati, Alief harus bertahan setahun dahulu di Aceh untuk memperdalam bahasa. Waktu yang terbuang sia-sia!

Kendati demikian, saya tetap mendorong Alief untuk melampaui batas pada cita-cita yang tertunda saat ini. Kesempatan akan tetap ada, misalnya kuliah dahulu ke universitas terbaik di sini untuk memantapkan bahasa, wawasan pendidikan internasional serta memetakan cita-cita. Kesempatan ke Amerika tentu saja akan terbuka lebar setelah ini.

Kurikulum Internasional Itu URGENT!

Kurikulum di Indonesia beberapa tahun terakhir adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Kurikulum 2013, dan terakhir Kurikulum Merdeka. Namun untuk sekolah berskala internasional seperti Sampoerna University sudah menerapkan Kurikulum Internasional dalam proses pembelajaran, dengan alasan alumninya bisa mudah melanjutkan pendidikan ke luar negeri khususnya Amerika Serikat.

Kurikulum yang berlaku di Indonesia tentu berbeda dengan Kurikulum Internasional yang mengacu kepada standar internasional. Kurikulum Internasional menggunakan Bahasa Inggris sebagai pengantar tiap mata pelajaran, serta peserta didik dibebaskan untuk memilih mata pelajaran sesuai bakat dan minat tidak seperti Kurikulum 2013 yang membebankan mata pelajaran sesuai ketentuan.

Pembelajaran Kurikulum Internasional dilakukan dalam Bahasa Inggris, tidak saja pengantar namun buku-buku yang tersedia juga memenuhi standar tersebut. Selama di sekolah, siswa adalah wajib berbicara dalam Bahasa Inggris tidak saja di dalam kelas bersama guru.

Pembiasaan ini tidak saja untuk memenuhi Kurikulum Internasional yang berlaku namun untuk memudahkan anak-anak jika melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Standar orang di kalangan tertentu saat ini menginginkan anak-anak mereka kuliah ke luar negeri karena pendidikan di sana, seperti Amerika Serikat, jauh melampaui batas pendidikan di dalam negeri.

Sekolah yang memberlakukan Kurikulum Internasional di Indonesia sudah mendapat kesetaraan layaknya pendidikan lain. Dalam Permendikbud Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) atau sekolah dengan Kurikulum Internasional, pendidikan di sekolah ini melalui jalur formal maupun informal berkat kerjasama Lembaga Pendidikan Asing (LPA) dan Lembaga Pendidikan Indonesia (LPI).

Kurikulum Internasional

Meski demikian, sekolah dengan Kurikulum Internasional wajib mengikutsertakan pendidikan agama, Bahasa Indonesia, dan Kewarganegaraan. Ketiga mata pelajaran ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan terhadap peserta didik. Dengan demikian, peserta didik tidak saja mahir soal pendidikan berstandar Kurikulum Internasional namun tetap memiliki karakter kuat kebangsaan.

Seperti diskusi saya bersama Lilis di awal tulisan ini, Kurikulum Internasional memiliki peran yang sangat penting untuk mengantarkan anak-anak kuliah ke luar negeri, terutama ke Amerika Serikat. Saya merasakan kendala seperti yang dialami Lilis manakala lembaga beasiswa memberikan kuota untuk lulus SMA sekian persen, tetapi tidak terpenuhi karena terkendala bahasa, maupun wawasan internasional.

Kurikulum Internasional yang diajarkan tidak saja fasih dalam Bahasa Inggris namun juga model pendidikan yang modern, potensi peserta didik tidak beracuan pada nilai melainkan pada bakat dan minat seperti standar internasional sehingga lulusan memiliki kompetensi bekerja dengan lebih mapan.

Sampai di sini, pendidikan internasional mendapatkan tempat khusus untuk anak-anak yang ingin lanjut ke luar negeri. Sejak dini diasah dengan baik, dicari celah soal bakat dan minat sehingga di masa mendatang tidak terkendala untuk terbang tinggi ke luar negeri.

Di dalam Islam saja, sejak dulu Nabi Muhammad saw., menganjurkan kita belajar ke luar negeri, “Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China” lantas apakah kita menyia-nyiakan waktu saja selagi bisa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *