Merdeka Belajar di Mata Guru Inspiratif 

Rahmat Zuliansyah seorang siswa yang lincah semasa masih di sekolah. Ia mempunyai cita-cita yang teramat tinggi untuk menjadi juara dalam setiap mimpi. Dalam banyak kesempatan, Rahmat tak pernah absen untuk mendapatkan perhatian, meskipun ia duduk di jurusan IPA, prestasinya sangat membanggakan di bidang bahasa.

Remaja yang menginjak dewasa dalam bentukan rambut seperti oppa Korea itu, menang menulis puisi tingkat daerah maupun nasional. Jika diutus dari sekolah, Rahmat selalu memegang tongkat estafet di bidang pidato, baca puisi maupun keterampilan bahasa lainnya. Bakat dan minatnya sangatlah nyata di bidang bahasa tanpa bisa saya kecualikan.

Merdeka-belajar

Namun di akhir, cerita kegalauan muncul begitu menyengsarakan hidupnya. Rahmat bisa ditebak sebagai siswa berprestasi dalam bidang akademik juga, maka layaklah masuk ke dalam kuota SNMPTN. Kebetulan, sekolah kami mendapatkan kuota SNMPTN di tahun 2021 sebanyak 40% sebab MAN 2 Aceh Barat adalah salah satu madrasah unggul dengan akreditasi A.

Merdeka Belajar Tidak Salah Pintu Masuk

“Pak, Boleh saya pilih Bahasa Indonesia?” bujuk Rahmat saat saya membimbingnya mengisi formulir pendaftaran SNMPTN melalui akun pribadinya di LTMPT.

Saya tentu bingung, namun di sisi lain menurut informasi yang saya dapat, lintas jurusan akan mendapatkan prioritas terakhir dari kampus tujuan. “Saya nggak masalah, Mat. Kamu punya bakat di bidang bahasa tetapi ini SNMPTN, persaingan sangat sulit dan lintas bahasa untuk kampus yang kamu tuju tidak diperkenankan,”

“Saya maunya lulus di situ, Pak,”

“Saya paham. Kamu bakat dan minatnya di bahasa, kan? Kamu boleh mencoba tetapi jika tidak lulus janganlah kecewa!”

“Di form kita bisa pilih FKIP Bahasa Indonesia, Pak. Artinya kan kita punya kesempatan lulus juga!” Rahmat teguh pendirian.

“Benar. Kamu bisa pilih bahasa dan sastra, lulus itu kembali kepada keberuntungan. Satu hal yang pasti, SNMPTN ini tidak sama seperti SBMPTN. Di sini, kamu diundang masuk ke rumah orang lain sesuai jalurnya. Misalnya, rumah itu ada dua pintu, satu untuk perempuan dan satu lagi untuk laki-laki. Kamu wajib mengantre di kelompok laki-laki. Dalam antrean panjang, kamu tidak dibenarkan berhimpitan dengan anak perempuan. Akan berbeda kondisinya di akhir-akhir, saat antrean di anak perempuan sisa 2 atau 3, sedang anak laki-laki masih ratusan, kamu boleh mengantre di antrean perempuan meskipun itu tidak dibenarkan!”

“Ini kan pilihan jurusan Pak!”

“Filosofinya begitu, Mat. FKIP Bahasa Indonesia tahun ini menerima 40 orang melalui jalur SNMPTN. Nah, dari seluruh pendaftar katakanlah 250 orang, 80% adalah anak IPS, sisanya 20% adalah anak IPA. Kampus akan menilai anak IPS terlebih dahulu karena itu bidang mereka, sisanya anak IPA akan diluluskan jika anak IPS tidak memenuhi kriteria dan itu akan diambil menurut nilai bahasa dan prestasi lain yang mungkin lebih tinggi dari sertifikat yang kamu punya selama ini. Piagam yang kamu pegang, belum tentu bisa meluluskan kamu dengan mudah di jurusan ini saat anak IPS memiliki prestasi yang serupa. Maka dari itu, masing-masing ada pintunya jangan salah pilih pintu masuk!”

“Saya kan berhak juga, Pak!”

“Kamu berhak. Cuma pintu kamu sekarang di IPA karena di sekolah kamu jurusan itu. Inilah yang membedakan jalur undangan dan tes, undangan adalah khusus yang memberi pintu kepada masing-masing anak yang jurusannya linear. Sedangkan tes, kamu harus mencapai nilai tertinggi agar bisa lulus!”

“Saya harus bagaimana, Pak?”

“Saya sarankan pilih jurusan linear,”

“Saya tak minat…,”

“Ya kalau nggak kecewa ambil lintas minat,”

“Saya kalau lulus matematika nanti nggak jadi kuliah,”

“Aturannya kamu nggak bisa ikut tes kalau sudah lulus,”

“Itulah, bagaimana saya…,”

“Yakinkan diri!”

“Saya yakin Bahasa Indonesia, Pak!”

Merdeka-belajar

Akhirnya, Rahmat mengambil jurusan Bahasa Indonesia di pilihan pertama dan Matematika di jurusan kedua. Saat pengumuman, saya sudah yakin Rahmat nggak akan lulus tetapi semua kembali kepada keberuntungan. Rahmat mendapatkan opsi tidak lulus!

Pria yang ceria itu memudar senangnya. Saat mengambil surat keterangan lulus untuk ikut UTBK, Rahmat tidak semangat dari matanya. Saya memantik jiwanya yang hilang.

“Kamu pasti lulus!”

Rahmat memberi senyum kecil. Namun, usaha tak pernah mengkhianati hasil. Ia lulus di jurusan Bahasa Indonesia sesuai bakat dan minatnya. Itulah definisi merdeka dalam belajar dan memilih, karena penentuan sukses itu adalah saat kamu masuk ke perguruan tinggi dengan catatan tidak salah jurusan!

Kita tinggalkan Rahmat Zuliansyah, ada Rahmad Kurnia Phonna yang teguh pendirian dalam alimnya dan sopan santunnya dalam bertutur. Definisi merdeka dalam belajar dalam diri Phonna saya pikir lebih di atas Rahmat yang sering galaunya saat bercerita.

Mungkin, Rahmat sedikit kecewa karena Phonna lulus di Fakultas Kedokteran. Tetapi, kembali lagi, jalur SNMTPN memang memilih berdasarkan pintu masuk masing-masing, dalam artian memilih sesuai jurusan yang linear sebelum mengambil calon mahasiswa lain dari jurusan lintas minat.

Phonna juga membangun sebuah diskusi panjang sebelum memilih jurusan. Raut wajahnya tegas dan ia tidak kalut dalam memilih jurusan. Sejak awal, Phonna sudah membulatkan tekat untuk memilih Kedokteran.

Tahun 2021 menjadi perjalanan panjang untuk anak-anak kami yang lulus SNMTPN, baik di Universitas Syiah Kuala maupun Universitas Teuku Umar. Kembali ke Phonna, pada dialog kami suatu waktu itu.

“Pak, saya mau ke pesantren tamat sekolah,” ujar Phonna dalam pembukaan dialog kami.

“Kamu serius, Phon? Nilai kamu bagus, rangking 1 juga di kelas. Apa nggak coba dulu SNMPTN?” saya mencoba meyakinkan.

“Saya takut tidak lulus, Pak,”

“Kamu mau pilih jurusan apa?”

“Kedokteran, Pak,”

“Mantap itu!”

“Kata Bapak harus pilih 2 jurusan tapi saya cuma mau lulus di Kedokteran kalau nggak lulus, saya mau ke pesantren lanjut mengaji!”

“Pilih saja. Untuk jurusan kedua kamu bisa pilih saja yang kira-kira kamu berubah pikiran jika lulus nanti. Kamu juga berhak untuk tidak mengambil apabila mau melanjutkan mengaji nanti!”

“Apa tidak masalah, Pak?”

“Tidak. Kamu sudah yakin di Kedokteran, saya doakan lulus!”

Phonna lulus di Kedokteran!

Merdeka-belajar

Pelajaran penting dalam memilih ‘proses’ kehidupan selanjutnya. Phonna membawa pengaruh besar kepada saya saat mengajarkan merdeka belajar kepada anak-anak lain setelah itu. Sejak awal, Phonna sudah memantapkan pilihan ‘Kedokteran’ di jurusan pertama, dan kedua salah satu jurusan yang sama sekali tidak diunggulkan olehnya dan mungkin juga kampus yang dituju.

Tekat Phonna bulat membawa hasil yang nyata sekali. Niat awalnya tidak mau melanjutkan pendidikan apabila Kedokteran tidak menerimanya, tampaknya berbanding terbalik dengan rasa kekecewaan. Ia lulus di Kedokteran bukan semata-mata karena nilai bagus, dan prestasi lain yang unggul tetapi ia memerdekakan dirinya untuk memilih sesuai jurusan dan bakat minatnya semasa sekolah.

Jelas sekali Phonna sama jalur di IPA. Ia yakin pula pada pilihan karena itulah masa depannya yang paling cerah. Saya tidak meminta berhenti di satu titik. Phonna juga telah jauh melangkah sesuai kaidah merdeka belajar di dalam dirinya. Ia tentu berhak memilih meskipun risiko sudah berada di depan mata asalkan di jalur yang benar. Maka, dari awal jangan serta-merta salah menentukan arah.

“Kerja seorang guru tidak ubah seperti kerja seorang petani yang senantiasa membuang duri serta mencabut rumput yang tumbuh dicelah-celah tanamannya!” – Imam Al Ghazali.

Saya, dan upaya memberikan yang terbaik untuk anak-anak tak lain berdasarkan acuan dari Imam Al Ghazali. Quote yang sesuai dengan pendidikan sepanjang masa. Saya menyemai ‘kebaikan’ kepada anak-anak dalam konsep mengarahkan dan membimbing mereka menuju kesuksesan masa tua. Mengajar di dalam kelas sudahlah banyak orang yang sukses melakukannya, namu mengarahkan anak-anak sesuai kemampuan dan bakat minat mereka tidaklah semua guru mau dan mampu melakukan itu disela waktu senggang mereka.

Anak-anak sukses itulah yang diinginkan oleh seorang guru. Adalah tujuan penting dari belajar sejak di sekolah tak lain membuka masa depan mereka. Makin dipompa makin bertambah ilmu. Dengan demikian kesuksesan akan menerpa seketika. Catatan saya untuk anak-anak sekolah di manapun berada, merdeka belajar itu saat kalian menentukan pilihan jurusan sesuai bakat dan minat bukan asal ikut-ikutan ke IPA atau IPS!

Merdeka Belajar Sejak Menentukan Jurusan di Kelas X

Sistem pendidikan di Indonesia kita tahu seperti itu. Jika dulu, semasa saya sekolah, pemilihan jurusan adalah di kelas 3 atau kelas XII. Saya merasa sangat terlambat untuk menentukan arah kala itu, saya kelabakan belajar IPA dengan tekun dan terkadang menyukai pelajaran IPS seperti bahasa atau ilmu sosial.

Saya lupakan saja sistem pendidikan yang tidak membuat kita merdeka belajar. Saya tidak bisa memilih. Saya dihidangkan ‘kue’ manis itu untuk dijalani sampai kemudian lulus dengan pelajaran IPA di ijazah.

Nah, beberapa tahun terakhir pembagian jurusan sejak kelas X. Mungkin menjadi salah satu jembatan untuk mengubah pandangan tetapi saya rasa belum cukup. Memang, anak-anak masih galau memilih antara IPA dan IPS di usia mereka. Di sinilah letak bimbingan dan arahan yang tepat sehingga mereka bisa membedakan, memilih, dan menentukan masa depan berdasarkan jurusan IPA dan IPS.

Rahmat menjadi salah satu ‘korban’ dari sekian banyak anak salah jurusan kala SMA. Anak-anak seperti ini tiap tahun saja jumpai, sejak 2014 membimbing mereka ikut SNMPTN. Anak-anak salah jurusan ini kemudian tidak pernah lulus jalur undangan karena salah pilih jurusan.

Di tahun 2022, saya kembali mendapati Munawarah, seorang siswa berprestasi dan Juara II Bidang Fisika Kompetisi Sains Madrasah (KSM) tingkat kabupaten tahun 2021. Munawarah berkeras hati untuk memilih jurusan ilmu komunikasi yang kemudian tidak lulus di SNMPTN.

Salah alamat begini memang petaka bagi anak-anak. Saya bersama teman operator lain, dan juga wakil kepala sekolah membuat peta khusus untuk menentukan calon siswa masuk ke kelas IPA atau IPS.

Merdeka belajar dimulai saat kami memberikan kuisioner, melakukan wawancara dan pendalaman materi lain mengenai pemilihan jurusan untuk calon siswa kelas X. Tentu tidak mudah, di bulan pertama dan kedua masih ada saja anak yang pindah dari jurusan IPA ke IPS demikian pula sebaliknya.

Anak-anak ini sebenarnya merdeka belajar!

Danial adalah salah seorang anak yang menjumpai saya dan merajuk untuk pindah jurusan.

“Pak, saya mau masuk Teknik Sipil kuliah nanti!” ujarnya dengan tegas.

“Kamu yakin tidak akan berbalik hati?” saya mencoba memberikan arahan.

“Saya yakin, Pak. Saya mau kuliah di teknik, katanya peluang kerja lebih besar,”

“Peluang kerja atau keren-kerenan doang?”

“Peluang kerja, Pak!”

“Saya tidak menentang pilihan kamu. Saya memberikan pemahaman sesuai batas kemampuan kamu juga. IPA itu jurusan yang lebih rumit dari yang kami bayangkan, teknik lagi dari apapun yang tidak pernah kamu pikirkan saat ini!”

“Saya siap menghadapinya, Pak!”

Baiklah. Saya berdamai dengan debat yang tak berujung karena saya pun nanti bisa saja diterpa isu miring jika orang tua anak bersangkutan datang ke sekolah. Pilihan jurusan itu adalah hak mereka. Mereka sudah merdeka belajar saat menentukan pilihan ini. Risiko tanggung sendiri jika nanti berubah pilihan. Saya sudah memberikan alternatif tetapi bersikeras, “Saya tidak akan ubah raport jika semester depan kamu berubah pikiran!”

“Siap, Pak!”

Lain Danial, lain pula dengan Cut. Tergopoh remaja hitam manis itu menjumpai saya dan mencoba berdamai dengan keadaan.

“Pak, saya mau kuliah di Psikologi atau Ilmu Komunikasi nanti!” ujarnya dengan napas ngos-ngosan.

“Kenapa juga kamu bertahan di IPA?”

“Itulah, Pak. Saya mau pindah ke IPS…,”

“Pindah saja,”

“Urusannya nggak seperti itu…,”

“Apa masalahnya?”

“Mama mau saya masuk Ilmu Keperawatan, atau minimal D3 Kesehatan…,”

“Wah, kalau begitu saya tidak bisa memberikan kamu alternatif terbaik,”

Jika sudah berurusan dengan orang tua saya akan diam meskipun saya paham di mana letak kemampuan seorang anak. Saya tahu, Meli sangat unggul di ilmu sosial, cuma dirinya ‘nyasar’ ke jurusan IPA sehingga nilainya belum memuaskan sejauh ini.

“Saya ada kesempatan kuliah di Ilmu Komunikasi kan, Pak?” harap Meli.

“Ada. UTBK!” tegas saya.

“SNMPTN nggak bisa, Pak?”

“Seperti tidak. Kamu dapat kuota tetapi kedua jurusan tersebut adalah ilmu sosial. Kamu bisa buktikan di IPA bisa unggul dan nanti kalau terpilih SNMPTN bisa memilih Ilmu Keperawatan sesuai keinginan orang tua. Jika tak lulus, kamu bebas mau ikut tes ke Psikologi atau Ilmu Komunikasi,”

“Kalau lulus, Pak…,”

“Di situlah rezeki kamu!”

“Saya nggak yakin bisa, Pak…,”

“Kamu buktikan pada diri sendiri bahwa pilihan kamu tidak salah. Jika sekarang kamu berpikir di IPS bisa langsung mendapatkan rangking 1, dapat SNMPTN dan lulus, namun belum tentu selepas kuliah rezeki kamu bisa sebagus itu,”

“Saya bertahan saja, Pak?”

“Menurut saya sih, iya!” saya mengerutkan kening, “Pikirkan orang tua juga, jangan diri kamu sendiri!”

Meli lantas membuktikan bahwa dirinya ‘berbobot’ di IPA. Di akhir semester pertama, Meli mendapatkan rangking 3 dari 25 siswa di kelasnya. Sebuah pembuktian memang, di mana ia menyakini bahwa ilmu sosial adalah kemampuannya, tetapi restu orang tua berkata lain dengan giat dan tekun belajarnya ia malah mendapatkan rangking di IPA.

Sungguh tidak ada yang tahu!

Berat memang tanggung jawab guru di tingkat SMA, kecuali guru yang cuma mengajar, pulang, dan menanti gaji serta tunjangan sertifikasi!

“Menjadi guru adalah panggilan jiwa. Kita akan sangat kesulitan memajukan pendidikan jika seorang guru ingin menjadi guru sekadar untuk mencari nafkah!” – Andrea Hirata dalam sosok Guru Aini.

Saya seperti dipanggil untuk membantu anak-anak melewati jembatan kesuksesan mereka. Di SMA mereka belum apa-apa dan tidak menjadi siapa-siapa. Bangku kuliah-lah yang menentukan arah dan tujuan hidup sebenarnya.

Tidak bisa saya tampik, sosok Guru Aini mencerminkan guru yang sebenarnya, tetapi di kehidupan nyata, di mana saya bekerja sebagai guru honorer yang tak pernah dianggap ada sama sekali, banyak sekali guru yang cuma datang untuk mengajar itupun tidak bisa mencerdaskan anak-anak, apalagi diminta untuk membimbing mereka menentukan pilihan jurusan SNMPTN.

Semua itu diabaikan. Yang terpenting bagi guru dengan titel profesional adalah hadir tiap hari, entah benar bahan ajar, tunggu awal bulan masuk gaji, tunjangan keluarga, tunjangan sertifikasi, dan uang makan!

Lepas dari itu. Mau anak merdeka belajar atau tidak merdeka belajar; adalah urusan anak-anak sendiri.

Saya tidak mau ambil pusing dengan itu, tidak mau pula mencampuri urusan orang lain meski gatal ingin mengkritik. Saya sebagai anak bawang cuma bisa diam dan memberikan pandangan berbeda terlebih saat jiwa keikhlasan datang untuk membantu anak-anak – entah itu untuk membantu sekolah agar makin bersinar.

Saat anak-anak lulus SNMPTN; saya berbangga. Bukan saat anak-anak mendapatkan rangking di kelas.

Demikian pula, saat sebagian anak ikut tentara atau polisi saya bersedia membantu namun dengan catatan nilai rata-rata mereka sesuai.

Tak lain, Ilham, baru saja lulus tentara tahun ini. Sejak awal sekolah, Ilham sudah menentukan TNI adalah jiwa dan raga. Ia pun sadar betul belajar tidak bisa membuatnya menjadi ‘sesuatu’ atau mencapai nilai tertinggi. IPS kemudian menjadi pilihan belajarnya selama di sekolah.

Ilham bukan anak yang neko-neko, baik dan santun meskipun nilai akademiknya tidak tinggi seperti anak sepuluh besar lain. Saya melihat tekat kuat dalam diri Ilham sejak awal masuk sekolah sudah merdeka belajar untuk dirinya sendiri, dan masa depannya.

“Saya tahu IPA bukan tempat saya, Pak,” ujarnya waktu itu. Saya membenarkan dan setuju ketika Ilham memilih IPS sebagai ‘sarana’ untuk menuju kelas yang hakiki di masa depannya.

Ilham sebenarnya tidak pernah mendapatkan nilai sampai 95 di raport. Ia mungkin tidak butuh itu. Ia cuma butuh nilai rata-rata untuk mendaftar TNI sampai di angka 85 dari semester 1 sampai semester 5. Sekitar Agustus 2021, Ilham sudah mendapatkan sekitar 86 nilai rata-rata yang lebih dari cukup untuk masuk ke TNI.

Nilai mencukupi saja rupanya tidak cukup bagi Ilham. Tiap hari, saya pun pernah melihat, dan berdasarkan pendapat temannya, ia berolahraga terutama lari di pagi dan sore untuk membentuk fisik lebih maskulin. Usaha dan doa, tetapi yang terpenting adalah merdeka belajar sejak dini diketahui oleh diri sendiri, mengantarkan Ilham menjadi salah satu anggota TNI.

Merdeka-belajar

Merdeka Belajar Saat Anak Bebas Menentukan Pilihan

“Guru adalah seorang pejuang tulus tanpa tanda jasa mencerdaskan bangsa!” – Ki Hajar Dewantara.

Saya harus memegang teguh catatan ini jika ingin ikhlas selama menjadi guru. Saat saya membantu jalan hidup orang lain, sejatinya saya akan dibantu di kehidupan lain oleh orang yang tak terduga. Saya percaya akan hal itu!

Sejak awal saya sangat rewel terhadap jurusan anak agar mereka tidak tersesat. Guru-guru yang bersikukuh bahwa anak ini cocok di IPA, atau anak itu cocok di IPS, saat pendaftaran SNMPTN mereka tidak pernah menampakkan batang hidungnya di depan anak tersebut.

Seorang anak akan merdeka belajar saat bebas menentukan pilihan sendiri, bukan batasan dari orang tua, atau pun guru yang merasa kenal bahwa anak ini sangat unggul di bidang IPA. Ilmu Pengetahuan Alam memang primadona sejak dulu karena ‘geng’ pintar. Bukan berarti anak pintar tidak boleh duduk di kelas IPS. Justru dengan adanya anak pintar di kelas IPS bisa membuka jalan kelas mereka lebih kompetitif dan berkelas di mata dunia – lingkungan tersebut setidaknya.

Sekali lagi saya berujar, masa depan anak-anak itu bukanlah saat duduk di kelas IPA atau IPS semata. Masa depan mereka adalah ketika dinyatakan lulus SNMPTN atau SBMPTN karena jurusan kuliah yang berhak untuk semua orang masuk dunia kerja.

Saya tak lupa di sekolah tertentu, lulusan ASN tahun 2021, ada guru dari lulusan ilmu hukum, ada pula dari FMIPA, dan tentu saja ini tidak sesuai dengan kaidah keilmuan. Salah alamat ini berakibat fatal di mana masuk ke kelas dipelonco oleh anak-anak, dan bisa menangis karena tidak sanggup mengajar. Akhirnya, seperti kata Guru Aini, bahwa menjadi guru karena uang banyak tetapi ruhnya tidak ketemu!

Saya belajar banyak dari yang dilihat dan dirasa, saya memberikan arahan terbaik kepada anak-anak agar merdeka belajar. Apapun pilihan mereka itulah jalan terbaik. Demikian juga dengan juara umum tahun ini, Suraiya, yang lulus di Pendidikan Kimia padahal sangat ingin masuk ke Kedokteran. Saya berujar, “Itulah rezeki!”

“Alhamdulillah, ya, Pak, bisa lulus…,” suara lembut Suraiya cukup meneduhkan.

“Di situlah kemampuan kognitif dan ekonomi keluarga. Kamu sempat ragu jika lulus Kedokteran bisa bayar SPP sampai Rp10 juta, maka keraguan kamu dijawab-Nya dengan lulus di FKIP. Tuhan memberikan apa yang kamu sanggup bukan apa yang kamu minta!”

“Insyaallah, Pak!”

Suraiya menjawab celah yang saya berikan kepadanya sewaktu mengisi formulir LTMPT. Saya bertanya kepadanya, “Kamu mau lulus SNMPTN nggak?”

“Mau, Pak,”

“Kalau begitu, ambil jurusan kimia, FKIP atau MIPA di pilihan kedua karena Kedokteran nggak bisa diubah lagi. Kamu punya kesempatan lulus di pilihan kedua dengan sertifikat juara KSM Kimia, dan juara olimpiade eksak lain. Persaingan Kedokteran cukup tinggi, maka kita berhak juga mengatur strategi!”

Strategi kami kemudian berhasil!

Merdeka-belajar

Suraiya sudah menerapkan merdeka belajar karena selama di sekolah ia sangat senang pelajaran Kimia, dan kemudian lulus di jurusan Kimia tak lain telah melakukan sinkronisasi ilmu dan update tentu saja di masa mendatang. Keraguan di awal cukup berasalan, jika lulus di Kedokteran lantas biaya tidak mencukupi bisa putus ditengah jalan. Ini bisa bahaya!

Saya tidak terlalu pintar dalam membangun sebuah teori tentang merdeka belajar seperti guru lain. Pengalaman dari saya lebih dari cukup dalam rangka memetakan merdeka belajar itu sendiri. Saya berharap, guru-guru yang ada di Indonesia bisa memberikan solusi terbaik terhadap anak-anak yang kerap kebingungan mau ke mana saat duduk di kelas XII.

Merdeka-belajar

Merdeka belajar tidak saja bagaimana sebuah metode dan pendekatan diterapkan dengan baik, itu sungguh tidak berguna manakala anak-anak salah memilih jurusan. Merdeka belajar sejatinya saat anak-anak benar masuk ke IPA atau IPS sehingga masa depan mereka lebih terarah. Dukung anak-anak untuk bisa menggunakan laptop bisnis terbaik agar belajar makin tekun!

Sudahkah Bapak Ibu guru mengarahkan anak untuk merdeka belajar?

%d bloggers like this: