“Istri yang baik adalah orang yang mampu mengatur keuangan keluarga, bukan cuma menjaga marwah seorang suami!” tutup Ustad H. Abdullah Akib pada pengajian rutin malam itu. Saya langsung teringat istri di rumah, ia tak lain menteri keuangan terbaik abad ini!

Malam Rabu tak lain satu malam di antara malam-malam lain di kampung kami yang mengadakan pengajian rutin sehabis magrib. Tiap malam itu pula, pengajian diisi oleh alim agama kondang di kota kami.

Sebuah Renungan Tentang Rumah Tangga

Malam itu, Ustad Akib terlihat lebih berwibawa dari biasanya – memang pada dasarnya pembawaan ustad ini sangat tenang. Lulusan Yaman itu memancarkan pesona yang sulit ditangkis. Senyumannya yang teduh membuat semua jamaah tunduk kepadanya.

Luas dan tegas dalam kelembutan yang pasti. Begitulah saya mendeskripsikan Ustad Akib. Dalam tiap pengajian malam Rabu, Beliau selalu membawakan tema-tema yang ringan namun pada kaidahnya sangatlah berat untuk orang awam seperti saya.

Yang saya sukai dari Ustad Akib adalah tidak bertele-tele dalam memberikan jawaban dari pertanyaan jamaah. Beliau juga sangat tenang menghadapi jamaah yang bertanya soal masalah yang sudah dijawab sebelumnya dalam penjelasan maupun dari jawaban pertanyaan jamaah lain.

Tema rumah tangga menjadi bagian penting bagi saya yang belum genap dua tahun menikah. Itulah tema yang menarik bagi saya malam itu. Saya tentu antusias, rumah tangga yang dibiduk harus benar-benar sampai ke ridha Ilahi. Sebagai nahkoda, saya mesti paham betul hal-hal kecil sekalipun dalam rumah tangga kami agar aman sentosa.

Pak Suyoso – sebut saja namanya begitu – seperti malam-malam lain, menjadi jamaah yang bertanya dengan tegas dalam suara keras. Kami maklum, aktivitas harian sebagai tentara aktif, watak dan karakternya sangatlah keras.

“Ustad, saya ingin bertanya!” hening masjid menjadi berubah dalam suara baritonya.

“Silakan, Ustad,” jawab Ustad Akib dengan sangat santun.

“Saya memang seorang suami tapi saya sangat lemah dalam mengatur keuangan rumah tangga kami. Gaji saya tiap bulan, saya serahkan semua kepada istri untuk dikelola dengan baik. Apakah itu untuk kebutuhan harian atau sekolah anak-anak kami. Yang ingin saya tanyakan, Ustad. Apakah derajat saya dianggap rendah karena mematuhi perintah istri? Apakah saya disebut sebagai seorang suami yang lemah?”

“Alhamdulillah,” tenang dan teduh Ustad Akib memberi jawaban yang lugas, “Begini, Ustad. Dalam rumah tangga memang beda-beda karakter suami dan istri. Ustad Suyoso bersyukur memiliki istri yang pandai mengelola pemasukan rumah tangga. Tetangga saya, gaji sebulan sudah habis 15 hari karena tidak patuh kepada istri,”

Seluruh jamaah menangguk-angguk, termasuk saya yang langsung teringat istri di rumah.

“Seorang suami harus membedakan definisi durhaka dengan baik. Dalam posisi Ustad Suyoso, sangatlah bijaksana dengan Ustad memberikan semua gaji kepada istri jika dikhawatirkan gaji tersebut cepat habis karena sifat laki-laki yang tidak bagus dalam mengontrol pemasukan. Ustad Suyoso memberikan semua gaji kepada istri, sama saja Ustad memberikan kepercayaan penuh kepada istri. Semua kebutuhan rumah tangga terpenuhi, keluarga juga tidak melarat dengan istri yang bijak mengatur uang tersebut. Sungguh berbeda jika Ustad menyimpan gaji di kantong sendiri, berapa banyak yang Ustad keluarga untuk rokok, berapa kali Ustad duduk di warung kopi dalam sehari, Ustad pasti segan menolak ajakan kawan makan di luar. Hal-hal begini lebih baik diserahkan kepada istri sedang suami tidak dianggap lemah, malah sangat tinggi derajatnya!”

Menteri-Keuangan-Terbaik

Saya rasa, hampir semua dari kami mengerti.

Ustad Akib menambahkan penjelasannya. “Surga istri memang dibawah telapak kaki suami, tetapi surga suami tetap dibawah telapak kaki ibunya. Dalam hal perkara Ustad Suyoso, Ustad yang harus tunduk dan patuh adalah perintah Ibu agar tidak durhaka. Sedangkan masalah keuangan tadi, sudah menjadi ranah rumah tangga Ustad dan istri,”

Benar.

“Saat Ibu minta diantar ke rumah saudaranya, Ustad tak boleh menolak. Ustad bisa menolak ajakan istri karena yang sepatutnya patuh itu adalah istri kepada suaminya bukan sebaliknya. Nah, berbeda jika Ustad ingin memberikan nafkah kepada Ibu, yang harus didahulukan adalah keluarga atau istri Ustad sendiri. Istri Ustad adalah tanggungan Ustad sendiri sebagai suami, Ibu Ustad masih ada sanak famili atau wali di sekitarnya yang bisa membantu!”

Saya mengerti lebih dalam. Jamaah lain juga demikian.

“Bisa dimengerti? Wallahualam…,” Ustad Akib lalu melanjutkan dengan pertanyaan lain yang muncul tak lama setelah itu.

Menteri Keuangan Terbaik di Rumah Kami

Sebenarnya, sebelum saya ikut pengajian dan mendapatkan pedalaman ilmu mengenai keuangan keluarga dari Ustad Akib, istri saya sudah terlebih dahulu menjadi bodyguard perihal pemasukan keuangan rumah tangga kami.

Saya tidak menyebut anggapan yang mengalir saja dalam kehidupan sehari-hari.

Gaji suami adalah milik semua, gaji istri adalah milik diri sendiri!

Tugas utama saya sebagai kepala rumah tangga adalah menggenapi semua kebutuhan keuangan kami. Dalam hal apapun, saya harus mendapatkan ‘uang’ lebih banyak agar derajat keluarga kami secara ekonomi bisa meningkat.

Kami sudah membulatkan kesepakatan tidak tertulis yang membuat keluarga kami aman-aman saja dari segi perekonomian. Saya setuju jika keuangan keluarga kami berantakan jika suami yang mengendalikan uang.

Besar kecil pemasukan saya, tak pernah tersimpan semenit saja di buku rekening pribadi. Saya langsung memindahkan dana yang masuk tersebut ke rekening keluarga. Meskipun atas nama saya, tetapi buku bank dan ATM tetap dipegang oleh istri.

Rekening keluarga sangatlah penting sampai saya menulis di kata ini. Kami seperti memiliki sebuah perencanaan yang baik dalam kebutuhan harian dan kebutuhan jangka panjang. Istri memisahkan juga rekening keluarga untuk kebutuhan harian dan rekening keluarga untuk simpanan – yang tak boleh diambil kecuali keadaan mendesak sekali.

Dalam sebulan, saya memiliki kewajiban penuh untuk mengisi kedua rekening ini. Rekening keluarga tentu tidak ada satuan baku untuk mengisinya berapapun itu. Sedang rekening yang tak boleh disentuh punya aturan wajib, yaitu jumlah nominal yang tetap harus masuk ke sana tiap bulannya. Saya pikir ini sesuai kesepatan jika kalian memiliki perencanaan yang sama, katakanlah Rp250 ribu perbulan atau Rp500 ribu, tergantung kondisi keuangan keluarga dan rekening dapur itu.

Rekening dapur meskipun tidak mengembung dan sering kempes, isinya selalu harus ada. Istri saya akan belanja tiap seminggu sekali untu kebutuhan dapur. Di saat putri kami yang cantik lahir, dana di rekening dapur ini juga terkuras dengan cepat karena kebutuhan bayi yang menggurita; yang selalu kami syukuri sebagai nikmat yang tak pernah tertandingi.

“Cari lagi job banyak-banyak!” pesan dan mungkin ‘perintah’ istri saya tiap saat.

“Sabar,” saya selalu menenangkan dan menanti agensi atau sponsor dengan nama besar menghubungi saya.

Dalam doa istri dan anak, saya menggais rezeki dari yang kecil sampai ke yang besar. Jumlah yang masuk ke rekening saya tidak pernah melihat nominal. Tak pernah bertahan lama. Jika saya lupa, istri seperti mempunyai indera penciuman khusus ‘uang’ yang dapat mengendus tabungan suaminya.

Seketika langsung terkuras!

Saya patut mensyukuri memiliki menteri keuangan terbaik dalam rumah tangga. Saya yang cenderung boros sangat seimbang dengan tata cara istri mengatur pemasukan dan pengeluaran; jangka panjang maupun jangka pendek.

Saya memang bukan perokok. Pengeluaran saya paling besar mungkin pada cemilan yang justru tidak membuat berat badan saya naik. Sambil menulis saya butuh cokelat yang manis. Sambil menonton drama Korea saya mau ditemani keriping pisau atau singkong. Sesekali saya borong minuman kaleng; dengan alasan minuman panas dalam atau susu tambah energi. Padahal, semuanya adalah ‘jajanan’ khas untuk mulut tetap mengunyah.

Istri yang mengendalikan keuangan bagai Sri Mulyani yang mengatur keuangan negara kita. Semua hal yang berbau uang diendus dengan baik tanpa terkecuali. Sehingga, dompet saya lebih sering kosong daripada tebal dengan uang warna biru atau merah.

Jika ditanya bagaimana pendapat, saya tentu bersyukur memiliki menteri keuangan terbaik dalam hidup. Selama masih lajang, segala hal yang berkenaan dengan uang adalah besar pasak daripada tiang.

Notifikasi dari akun bank Rp100 ribu, malah keluar Rp150 ribu. Begitu seterusnya tanpa perencanaan yang baik. Saat sudah menikah, sama posisi saya dengan Pak Suyoso, dan benar kata Ustad Akib, saya cuma boleh diberikan uang jajan harian karena saya ‘laki-laki’ yang suka semaunya saja.

Istri meminta saya beli Pampers anak dengan merek M yang terkenal cukup mahal. Saya senang berbelanja untuk putri kami – apapun itu. Saya ke pusat perbelanjaan, tentu beli Pampers dengan ukuran M karena bayi kami belum genap enam bulan.

Saya ambil Pampers. Saya ambil beberapa jenis buah. Saya ambil cokelat. Saya ambil cemilan lain. Saat arah ke kasir, kayaknya ada yang kurang. Tadi saya lihat ada boneka lucu. Cocok untuk mainan bayi kami. Tapi, di sudut sana ada stiker Barbie yang kayaknya bisa disimpan lama. Di dekat rak buku tadi, ada beberapa permainan masak-masakan yang berwarna merah jambu dan lucu-lucu. Kayaknya kalau dibeli semua nggak masalah.

Sampailah saya di rumah. Bahagia pasti karena sudah belanja yang ‘dibutuhkan’ bayi kami dan saya pastinya.

“Ayah beli apa saja banyak sekali?” istri saya mulai curiga.

“Pampers,” jawab saya singkat.

“Mana ada Pampers sebesar itu bungkusannya?”

“Paketannya memang besar,”

“Sini Bunda lihat!”

Saya pasrah. Bukan mengalah. Dituntut keadaan dan waktu.

“Ya ampun. Boneka baru saja beli kemarin!”

“Itu kan lucu,”

“Stiker ini untuk apa, anak kita masih bayi!”

“Itu kan lucu,”

“Masak-masakan ini nanti saja belinya kalau anak udah bisa main!”

“Itu kan lucu,”

“Lucu-lucu. Nggak ada yang lucu!”

“Nanti kan habis kalau nggak diambil sekarang,”

“Memangnya orang jual cuma satu doang?”

“Nggak ada yang sama lagi…,”

“Begini kalau Ayah yang belanja. Nggak sesuai kebutuhan saat ini. Disuruh beli lain, beli lain lagi. Disuruh beli Pampers 1 yang kecil dibeli yang besar. Nggak ada habis-habisin uang belanja yang belum saatnya!”

Saya cekikikan.

“Paling besok disuruh belanja lagi,”

“Paling besok Bunda paskan uangnya nggak ada lebih-lebih!”

“Ya…,”

Dialog sebentar manfaat jangka panjang. Sejak dulu istri selalu memberikan uang pas kalau disuruh saya belanja. Mungkin hari itu lupa atau memang sengaja. Saya pikir inilah kesempatan ‘hambur-hamburkan’ uang dengan sebaik-baiknya. Padahal kalau dilihat dari sisi manfaat memang tidak ada. Tepatnya belum terlihat hilalnya.

Boneka baru saja beli, Kuda Poni dan Unicorn. Stiker Barbie memang butuh waktu lama untuk dimainkan. Masak-masakan paling sebentar disimpan dalam 2 tahunan. Dari sudut pandang istri, itu mubazir. Dari sudut pandang suami, biasa saja.

Hal-hal kecil begini, yang kiranya ‘perlu’ atau ‘memang akan dibeli’ suatu saat nanti bisa disiasati dengan baik jika istri yang mengendalikan keuangan agar tidak keblablasan.

Saya tahu yang saya lakukan itu boros. “Tadi siapa suruh belanja yang belum saatnya? Ikan belum beli, bawang habis, cabai merah habis, kentang habis, telur habis…,”

Sama saja istri menyuruh saya lihat-lihat isi kulkas yang telah kosong.

Perkara tidak mudah dan kondisi ekonomi tidak akan membaik selama suami yang pegang kendali. Saya tidak tahu suami-suami lain di luar sana. Saya cuma merasa kalau selama saya yang pegang uang, dalam sekejap ludes sudah tabungan kami!

Tips Jaga Keuangan Keluarga dengan Baik

Bu Anah anaknya masuk perguruan tinggi tahun ini melalui jalur SNMPTN di Jurusan Teknologi Informasi. Beliau sering minta pendapat saya mengenai perkuliahan yang ‘murah’ tetapi tidak akan memihak jika melihat pangkat dan jabatannya adalah IV/A.

Dan benar saja, biaya UKT atau Uang Kuliah Tunggal anak Bu Anah adalah sebesar Rp4,5 juta persemester. Bu Anah merasa sangat tinggi untuk biaya kuliah tersebut. Tetapi saya memberikan pandangan sesuai aturan yang berlaku saat ini.

“Bu, di rumah listrik berapa Ampere? Tagihan listrik berapa sebulan? Foto rumah bagaimana? Jenis pekerjaan orang tua apa? Semua itu dihitung saat masuk ke perguruan tinggi,”

“Berarti tidak sama seperti kita kuliah dulu?”

“Jauh berbeda, Bu. Sekarang SPP itu mengacu kepada kemampuan orang tua si anak. Kemampuan orang tua itu pertama kali dilihat dari rekening listrik. Kenapa dari sini? Pengeluaran rumah tangga yang pasti adalah dari rekening listrik ini. Makin besar biaya yang dikeluarkan menandakan kalau rumah tangga Ibu memiliki barang elektronik lengkap seperti Kulkas, AC, Televisi, atau lain-lain yang semuanya itu membebani. Bayar listrik orang yang cuma punya Rice Cooker saja dengan orang yang punya segalanya sangatlah berbeda. Itu yang langsung terbaca batas kemampuan ekonomi sebuah keluarga!”

“Oh begitu,”

“Ibu bandingkan saja dengan anaknya Bu Aloha atau Rahmad yang lulus tahun lalu,” saya membandingkan. “Bu Aloha sebagaimana kita tahu, rumahnya sangat besar. Tiap kamar punya AC. Belum lagi perangkat elektronik lain yang sangatlah lengkap. Anak Bu Aloha lulus di Jurusan Bahasa Inggris tetapi SPPnya sampai Rp10 juta. Rahmad yang lulus di Kedokteran cuma bayar SPP Rp7,5 juta karena keluarganya cuma 2 Ampere listrik dan biaya yang dikeluarkan sebulan nggak lebih Rp50 ribu!”

“Makin banyak bayar listrik makin besar SPP?”

“Makin banyak bayar listrik makin kaya, itu lebih tepatnya!”

“Kaya itu kan relatif…,”

“Justru penilaian ini yang masuk ke ranah kaya miskin, Bu. Listrik saja bisa Rp500 ribu atau Rp1 juta sebulan. Belum lagi kebutuhan harian lain, bensin mobil, makan enak, pulsa internet. Sudah pasti lebih tinggi!”

“Benar juga,”

“Tentu!”

Dialog yang terjadi beberapa hari lalu itu dapat saya ambil kesimpulan bahwa makin berganti tahun, makin besar kebutuhan yang dikeluarkan. Di tahun 2022, biaya kuliah berada di angka Rp80 jutaan, di tahun 2032 atau sepuluh tahun ke depan untuk jurusan yang sama – misalnya Kedokteran – bisa mencapai Rp250 juta!

Mengerikan sekali, bukan?

Saya sangat setuju dengan perencanaan keuangan ala menteri keuangan terbaik kami. Dari sekarang, saat anak masih bayi sudah harus memiliki trik jitu agar biaya pendidikan anak nanti dapat terpenuhi dengan baik.

Kita bekerja siang malam adalah untuk anak bukan? Kamu ikhlas nggak harta yang dikumpulkan puluhan tahun harus dibagi ke saudara atau dihibahkan ketika mati? Banyak pandangan bisa menjadi rancu tetapi hasil keringat sungguh berbeda dengan pendapat hari ini yang egois; akan berubah sewaktu-waktu karena watak manusia.

Saya belajar dari banyak kondisi selama membantu anak-anak masuk perguruan tinggi melalui SNMPTN maupun SBMPTN. Saya tidak saja sebagai pembimbing selama mereka memilih jurusan tetapi pendamping untuk memutuskan apa yang layak pada tempatnya.

Saya tidak menganjurkan anak kurang mampu mengambil Kedokteran. Nekat boleh, kalau tidak lulus KIP Kuliah bisa membingungkan. Saya tidak menyarankan anak-anak yang pintar menghitung masuk ke jurusan bahasa karena akan merugikan kemampuannya.

Anak-anak yang lulus kemudian mencurahkan isi hati mereka.

“Padahal di FKIP tapi SPP Rp 4jutaan,”

Saya tanya berapa bayar listrik.

“Rp300 ribu, Pak,”

Wajar.

“Lulus di Statistika tapi SPP gratis,”

Tanya kenapa?

“Lulus KIP Kuliah, Pak!”

Cerita ini saya rangkum untuk masa depan rumah tangga kami. Tahun 2022 saja biaya masuk universitas begitu tingginya, bagaimana dengan 16-17 tahun ke depan? Saya tidak sanggup membayangkan ketika putri kami lulus Kedokteran, misalnya, harus masuk dengan biaya tinggi.

Saya berujar kepada istri, “Bantuan pemerintah, KIP Kuliah, atau apalah namanya nanti, tidak mungkin kita dapatkan!”

Tanpa saya sebut alasan, dengan taraf ekonomi keluarga kami saat ini, dengan pekerjaan istri sebagai abdi negara, dan juga dengan rezeki saya yang bagai Bulan Purnama, kami harus jeli dan cermat untuk masa depan anak.

Menteri keuangan terbaik keluarga kami telah merumuskan jangka panjang dengan baik. Tabungan dan asuransi kesehatan maupun pendidikan anak. Pelajaran ini berlanjut ketika Ramadan.

Ramadan dan Bagaimana Istri Mengelola Uang Masuk

Yang saya ceritakan di atas adalah pelajaran dan pengalaman terbaik dalam sebuah rumah tangga jika ingin keuangan baik-baik saja. Kamu bisa memetik manfaatnya sebelum ke bagian di bawah ini, atau memikirkan kembali bagaimana cara aman keuangan terlebih selama Ramadan.

Waktu memang tidak terduga. Pak Suyono mungkin berkiprah pada kebutuhan harian yang terstruktur di tangan istrinya. Ketika Ramadan barangkali tidak kebingungan untuk kebutuhan harian.

Tentu berbeda dengan Bu Anah yang mengeluarkan biaya lebih besar; kebutuhan Ramadan dan lebaran, serta SPP anak kuliah dan sewa tempat tinggal selama di sana.

Jika beradu begini siapa yang tidak bingung?

Istri saya benar-benar mencatat detail pengeluaran kami dari pertama Ramadan sampai ke akhir begini. Salah satu yang paling menguntungkan adalah semua baju lebaran sudah dibeli jauh-jauh hari. Selama Ramadan ini pula, kami cuma memikirkan apa yang enak untuk menu sahur maupun berbuka.

Peran penting istri saya tentu karena kebiasaan yang telah kami pupuk bersama. Pemasukan yang segitu saja sedang pengeluaran selama Ramadan berkali lipat. Tiap sore setidaknya kami mengeluarkan Rp50 ribu, dan itu tidak aman untuk kondisi keuangan yang ditata rapi.

Istri saya sudah menjatah pengeluaran harian kami selama bulan Ramadan tak boleh lebih dari Rp50 ribu. Selama 30 hari puasa, kami cukupkan Rp1,5 juta saja untuk kebutuhan sehari-hari. Istri membuat penghematan yang luar biasa sehingga saya jadi ingin tak ingin untuk makan ini dan itu.

“Paling nanti Ayah tinggal,” dan benar, saya cuma beli-beli saja tetapi kalau sudah berbuka semua yang dibeli tinggal kenangan.

Plot dana yang sudah dicanangkan jauh sebelum Ramadan tampaknya berhasil. Dengan makan yang diamankan segitu baik, pengeluaran lain mengikuti. Kami menyiapkan dana Rp1 juta untuk biaya tak terduga selama Ramadan, misalnya untuk gas, air minum isi ulang, dan tentu pulsa internet kami berdua.

“Pelit sekali, Anda!” saya menyindir yang dibalas dengan, “Kalau bukan karena istri pelit, Ayah sudah hambur-hamburkan uang ke mana-mana!”

Tiap sore selama Ramadan, saya cuma dikasih Rp30 ribu sampai Rp50 ribu saja. Cukup nggak cukup, saya harus mencukupkan untuk beli semua yang masuk ke dalam list. Jika hari ini nggak perlu beli ikan, cuma sayur saja. Saya dikasih Rp20 ribu. Kalau misalnya harus beli ikan, beli dalam jumlah sedikit yang cukup untuk berbuka dan sahur. Bukaan lain paling dibeli kalau ada sisa uang tadi berupa beberapa potong kue.

Bila saya tak sengaja membeli kebutuhan berbuka itu seribu saja, istri akan berujar, “Besok cuma dikasih Rp49 ribu!”

Benar sekali. Besoknya saya belanja dengan uang Rp49 ribu!

Selama Ramadan ini pula, beberapa pemasukan tambahan langsung masuk ke buku rekening abadi. Tidak ada tambahan dana untuk belanja Ramadan karena telah diplotkan khusus jauh-jauh hari. Pokoknya, saya tidak boleh royal dengan lihat ini beli, lihat itu beli!

Menteri-Keuangan-Terbaik

Saya rasa, inilah pentingnya perempuan dalam mengelola keuangan keluarga selama Ramadan. Kamu yang butuh trik? Saya bagikan di bawah ini!

  1. Dengarkan apa kata istri soal sistem keuangan keluarga karena sebuah rumah tangga ‘sehat’ secara finansial saat istri menjadi bendaharanya.
  2. Minta catatan kepada istri apa saja yang mau dibeli jika disuruh belanja ke pasar atau ke swalayan agar lebih hemat pengeluarannya.
  3. Serahkan tanggung jawab keuangan sepenuhnya kepada istri karena lebih menguntungkan daripada dikelola sendiri oleh suami.
  4. Jangan merasa egois karena suami bekerja sedangkan istri cuma mengambil keuntungan semata, uang yang dikelola istri adalah kebutuhan rumah tangga dan masa depan anak juga.
  5. Ada baiknya memiliki beberapa buku rekening di mana dipisah untuk rekening dapur, rekening abadi dan rekening anak, bahkan masalah kesehatan juga masuk ke dalam pertimbangan khusus misalnya dengan memilih asuransi yang tepat. Asuransi Astra barangkali bisa masuk ke dalam rekomendasi perempuan yang sedang mengatur keuangan keluarga selama Ramadan ini.

Hemat bukan berarti pelit. Keluarga yang baik-baik saja manakala istri sudah mengatur semua lini kebutuhan berdasarkan pemasukan. Jangan coba-coba membantah hal ini kecuali kamu ingin masa depan anak mengalami kesulitan, dan jaminan kesehatan di hari tua menjadi mengerikan.

Ramadan dan Pemilihan Asuransi

Biaya pendidikan anak tentu masuk prioritas jangka panjang. Namun, selama Ramadan ini kesehatan mesti mendapat perhatian lebih tinggi. Saya dan istri sama-sama memiliki riwayat sakit asam lambung yang cukup membingungkan kalau sedang kambuh.

Selama puasa ini pula, kita mesti berhati-hati sekali agar tidak kumat sakit. Istri saya sudah menjaga dengan baik performa keluarga kami termasuk keuangan seperti yang sudah saya sebutkan. Istri kemudian memilih Garda Healthtech buat jaga-jaga jiak ada anggota keluarga yang sakit.

Garda Healthtech sendiri memiliki program unggulan yaitu Asuransi Kesehatan Rawat Jalan dan Asuransi Rawat Jalan Cashless. Kamu bisa memilih jenis asuransi sesuai kebutuhan ya. Jangan pernah meragukan kondisi kesehatan selama Ramadan, maka dari itu kita butuh penanganan cepat agar kembali sehat. Salah satunya dengan memiliki asuransi.

Orang yang masuk rumah sakit tidak dipilih berdasarkan taraf ekonomi. Semua orang memiliki kesempatan untuk masuk ke rumah sakit, yang beda adalah antisipasinya saja. Dengan memiliki asuransi lengkap, perawatan yang didapat juga lebih cepat dan menguntungkan. Ayo beralih ke Garda Healthtech sekarang juga!

%d bloggers like this: