January 19, 2020

Masihkah Kita Menggenggam Falsafah Hidup dari Sujud Padi?

Falsafah Hidup dari Sujud Padi?
Falsafah Hidup dari Sujud Padi – dream.co.id
Falsafah
hidup dari sebatang padi, semakin berisi ia semakin menunduk (sujud). Tafsiran
untuk falsafah ini boleh berbeda-beda. Niat tidak memberikan argumen apapun
terhadap kehidupan padi juga bukan larangan. Hidup
manusia tidak pernah bisa ditebak. Minggu ini, kita diterjang badai cukup kuat.
Jas mahal tidak licin disetrika, ranah hukum bermain. Sayangnya hal ini terjadi
pada Dirjen HAM, Mualimin Abdi, menuntut Fresh Laundry sebesar Rp.210 juta
karena alasan sepele.

Baca Juga
Kalau Jalan-jalan Lagi, Bawa Pulang Pesawat Terbang Ya

Lembaran
lebih lama, Ario Kiswinar mengaku ke media bahwa ia adalah anak kandung dari
motivator Mario Teguh. Sayangnya di kasus ini, sang motivator bahkan tak berani
tampil di media seperti saat memberi semangat hidup kepada orang lain
berdasarkan teori-teori.
Kasus
yang sedang perkasa, gugatan seorang wanita kepada guru spiritual, Gatot Brajamusti.
Sayangnya, Gatot membuat opini publik terkesan tidak baik terhadap agama Islam.
Tiga
tokoh, tiga smash, terpukul bagai angin topan dan rata dengan tanah bagai
tsunami.
‘Dia Bisa Apa’
Kalimat
ini bisa berupa pertanyaan maupun pernyataan. Sederhana namun mengena sampai ke
tulang rusuk. Mualimin berangkat dari pertanyaan ini untuk menuntut laundry
pakaian. Kekuasaan yang dimilikinya sekonyong-konyong tak akan terpatahkan. Atas
dasar hukum, teori hukuman berat, pasal-pasal berlapis, ganti rugi dan segala
jenisnya, Mualimin lupa akan hukum sosial yang sedang berlaku di dunia ini.
‘Dia
bisa apa’ juga berlaku keras pada kehidupan Kiswinar. Mario Teguh yang telah
berada di atas awan dengan petuah-petuahnya, wajar saja merasa superpower.
Kiswinar yang tidak memiliki senjata laras panjang, mudah saja didepak oleh
Mario Teguh kembali ke dasarnya. Mario Teguh menutup mata terhadap hukum
sosial. Padahal dari kehidupan sosial ini pula namanya melambung tinggi.
Gatot
memiliki senjata begitu ampuh dalam menjerat korban. Wanita itu bisa apa jika
agama dijampi-jampi dengan narkoba dan seks. Gatot menutup semua perangainya
dengan benteng agama. Gatot yang bertitel guru spiritual sangat lupa bahwa
Tuhan tidak tidur sama sekali. Hukuman Tuhan berlaku begitu saja. Satu pukulan
dari hukuman itu, mendatangkan hukuman-hukuman yang lain.
Hukum
sosial zaman dulu hanya sebatas mulut ke mulut. Hukum sosial masa kini ada di
tangan media sosial itu sendiri. Ketiga tokoh ini pintar bermain api, terbakar
sendiri, terkapar, sampai benar-benar lenyap dari muka bumi. Media sosial
memberangus semua kemunafikan. Pro dan kontra tercipta begitu saja. Ocehan
serius dan datar membuahkan pemikiran akan keputusan. Tendangan dari hukum
sosial lebih berat dibandingkan penjara seumur hidup yang bisa keluar
“main-main” saat bel jam istirahat.
Hukum
sosial biasanya menguak tindakan yang lain. Mualimin, Mario Teguh maupun Gatot
baru saja membuka tabir. Gatot lebih maju selangkah, dari narkoba sampai ke
pelecehan seksual. Mario Teguh terbirit-birit entah ke rimba mana karena takut
cambuk Tuhan lebih besar karena menelantarkan darah daging. Bagaimana dengan
Mualimin. Apakah masih bertahan dengan ‘dia bisa apa’ atau menunggu media
membuka tabir yang diungkitnya sendiri?
Makin Hebat, Ia Makin Egois
Orang
hebat berangkat dari pangkat, jabatan, dan ketenaran. Tiga hal ini sangat
berpengaruh kepada seseorang. Tiga hal ini pula seseorang dengan mudah
melontarkan ‘dia bisa apa’ kepada orang lain. Orang yang kurus, orang hebat
akan mengatakan ‘dia bisa apa’. Orang yang gemuk, orang hebat juga akan
menyebutkan pernyataan yang sama. Orang yang pincang lebih dari itu anggapan
dari orang hebat ini.
Di
mata orang hebat yang egois, semua orang adalah rendah di matanya. Apapun yang
orang kerjakan, ucapan dari orang lain, tetap saja bukan pembenaran dari
dirinya. Sanjungan demi sanjungan dibutuhkan untuk menunjang kehebatannya. Makin
disanjung, ia makin hebat.
Tiga
orang hebat di atas, terlalu lama terlena dengan apa yang didapat. Hukum karma
yang berasal dari Tuhan telah dimainkan. Kesalahan kecil di masa lalu muncul ke
permukaan akibat ulahnya sendiri. Tidak mungkin kasus salah setrika muncul
begitu saja tanpa sebab-akibat. Janggal sekali Mario Teguh kabur tanpa mau
menemui Kiswinar. Gatot menanggung malu akibat bermain-main dengan agama.
Hidup
akan sengsara karena dosa kepada orang lain. Hablumminannas (hubungan
antarmanusia) adalah paku yang menancap. Tuhan tidak menjamin maaf
antarmanusia. Orang yang meminta maaf, ia telah mengambil falsafah dari sujud padi.
Padi yang kian berisi, menguning, semakin menunduk (sujud). Sujudnya padi
kurang lebih sebagai kerendahan hati di dalam dirinya.

Baca Juga Benarkah Anak Perlu Liburan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *