January 19, 2020

Malam dan Sepotong Kenangan dalam Tubuh Waria di Negeri Syariat Islam

“Bagaimana, Bang?” dia tergugu. “Aku sudah tidak tahan, tapi
aku takut!”
Saya merayap malam yang kini
terbelenggu dalam pendar-pendar cahaya tengah kota. Tentu, saya pun tidak ada
alasan untuk membuatnya ‘mengaku’
pada sesuatu yang tidak hanya tabu tetapi akan dicaci maki suatu waktu – dalam
waktu yang lama. Saya menanti, tidak memberi jawaban, karena pada beberapa
pandangan, saya merasa ngilu untuk menerima setiap hentakan nada-nada dari
kalimatnya yang serak.

Ilustrasi – sumber: tempo.co
“Kamu mau mulai dari mana, dari
situ kita akan mengakhirinya?” bukan pertanyaan, saya hanya memberikan anggapan
pula. Tetapi dia, memiliki pandangan-pandangan dari sudut mata yang mengalir
butir-butir kerinduan. Saya ingin tahu dia rindu tentang apa, saya juga ingin
menyelami mengapa rindu itu begitu kekal abadi dalam fana.
“Apa tidak apa-apa, Bang?” dia
khawatir, saya meradang dalam gamang. Apa
tidak apa-apa?
Tentu akan kenapa-kenapa jika cerita itu bermuara entah ke
mana. Saya tidak tahu bagaimana nanti mengakhiri sebuah pertikaian, bahkan
kesenduan dari mereka yang semerbak hujat akan sebuah kehidupan orang lain.
Jika demikian, keputusan telah
dibuat semena-mena, karena dia tidak tahu ke mana arah menepikan sedih, entah
bagaimana sehingga cerita ini saya mulai dari sini!
***
Senjakala, sebut saja namanya
dengan sebutan itu. Karena jika nama dirinya tersebut, maka cemoohan akan
merayap ke sendi-sendi terdalam dalam hari-harinya kelak. Bahkan, pembenaran
yang terburai airmata tidak akan mampu menutupi kekejaman mereka yang terbahak
di atas penderitaan orang lain. Kehidupannya baik-baik saja, bahkan bisa saya sebut
sangat normal sebelum tsunami tiba. Dia bahagia dengan apa yang dijalani dan
melupa apa yang tidak bisa dirinya dapat, termasuk kasih sayang dari seorang
ayah. Kekalutan itu, kengerian itu, mungkin ketidak-pastian dari dalam
hidupnya, arah yang melintang, membelok ke jalan terjal, belum lama ini
terjadi.
– Bang, kalau kamu sudah sampai di
Banda jangan telepon ke nomor aku ya. Nanti langsung ke kos aku saja, aku nggak
bisa jemput ke bandara! –
Saya begitu terkejut menerima
pesan itu. Ini tidak biasa. Ini karena apa-apa. Buat apa susah-susah dia
mengirim pesan kepada saya padahal waktu itu, saya masih berada di Bangkok,
Thailand. Saya menerka-nerka, di tengah kemacetan Kota Bangkok, di antara liuk
air di Sungai Chao Phraya, orang-orang yang cuek dalam Bangkok Sky Train, dan lalu-lalang orang-orang rupawan di negeri
Gajah Putih itu, tak mampu membuat saya nyaman kembali. Saya menyadari
keganjilan yang Senjakala alami. Ini tidak biasa dan pasti ada sesuatu yang dia
sembunyikan.
Pesan singkat yang dia kirim
kepada saya menguak perkara yang semestinya tertutupi secara tiba-tiba. Saya
tiba di Banda Aceh pada cakrawala telah menjemput malam. Angin kencang terasa
pengap dalam perjalanan saya ke kos Senjakala. Hidupnya seakan telah berada
pada waktu senjakala, di mana sedikit senggolan ia akan terjatuh, tersungkur
bahkan lebih dari itu, kehilangan napas saat bangkit dari derita.
“Aku nggak butuh perhatian dari
orang-orang, Bang!” ujar Senjakala seperti menghardik saya saat tiba di kosnya.
Saya yang masih merasakan jet lag
dari perjalanan jauh, Bangkok ke Jakarta, lalu Jakarta ke Banda Aceh, masih
belum genap menyisakan lelah. Pikiran saya masih kalut untuk mencerna tetapi
saya harus mendengar saja. “Orang-orang itu nggak peduli sama aku, terserah.
Pria itu nggak anggap aku anak sejak kecil, aku nggak peduli. Tapi, ketika aku
kayak begini, mereka menghujat, mereka mencaci, mereka menghina, mereka
menampar aku dengan kata-kata. Di mana mereka saat aku susah? Kapan mereka ngasih uang jajan untuk aku? Kapan
mereka kasih makan aku?”
Saya tahu, siapa mereka, siapa orang-orang
yang dimaksud olehnya. Terlebih pria yang seharusnya ia sebut Ayah. Pria yang
kemudian saya ketahui tak pernah menampakkan jati dirinya lagi sejak
meninggalkannya dan saudara-saudaranya, bersama Ibu, saat dirinya masih
kanak-kanak.
“Aku nggak ngapa-ngapain, Bang!” tegasnya. “Aku cuma lewat, aku nggak pakai make-up, aku kayak begini, aku biasa
saja, tapi mereka menangkap aku!”
Senjakala mulai terisak. “Memang
sial aku malam itu, motorku mogok saat mereka datang!”
Saya mengarah ke satu kompas
kehidupan di dalam dirinya. Ini sesuatu yang menjadi tanya dari dalam diri saya
sejak di Bangkok.
“Jam berapa?”
“Jam 2 lewat,”
“Tapi, cuma kamu yang ditangkap?”
“Cuma aku. Yang lain berhasil
kabur padahal mereka lengkap semua!” maksud ‘lengkap’ itu adalah menggunakan
pakaian wanita dan memakai make-up. “Mereka
nggak peduli aku kayak apa, mereka tetap bawa aku ke kantor itu!”
“Tapi, kamu tidak kena hukuman, kan?”
“Mereka nggak tangkap aku lagi
transaksi, jadi aku cuma kena wajib lapor, tapi smartphone aku disita. Semua ada di sana, foto-foto aku dengan
rambut panjang, aku dengan pakaian wanita, aku dengan make-up!”
Saya mendengus. Kepanikannya
mulai tampak.
“Kamu nggak sempat hapus?”
“Nggak sempat. Mereka cuma kasih
kesempatan sekali aku hubungi dia yang nggak mau kuhubungi itu. Saat itu pula
aku hapus semua kayak BlackBerry
Messenger
, Line, WhatsApp dan Facebook, tapi foto-foto….,”
“Dan, dia datang?” tanya saya
hati-hati.
“Dia datang. Dia marah-marah. Dia
memaki aku. Dia membuat seolah-olah aku manusia paling hina di dunia ini. Dia
lupa aku lahir dari spermanya!”
Kasar. Amarah. Begitulah yang
saya baca dari raut wajah Senjakala. Kasih sayang yang tak pernah ia miliki.
Keinginan yang sejatinya ingin ia gapai tetapi tak mungkin bermuara ke mana.
Saya sebenarnya tidak memedulikan bagaimana kondisinya tetapi saya iba mengapa
ia harus menjadi begitu, menjadi waria, seperti itu jika kamu menyebut kepada
mereka yang demikian perangainya!  
***
Mengulang kisah yang lewat, pada
awal tsunami, mungkin pertengahan 2005, saya bertemu dengannya yang terbahak di
depan kos saya. Dia pindah ke kamar di sebelah dengan segenap kemelut yang
kemudian tersibak satu persatu. Dia duduk manis di dalam kamar kos tanpa berbuat
apa-apa. Dia keluar malam hari lalu pulang dengan lesu. Dia bekerja sebagai
penjaga warung telepon (wartel), lalu berpindah ke kios kecil untuk menjual
pulsa saat telepon umum tidak lagi bernyawa. Dia juga sempat berpindah-pindah
kerja ke tempat-tempat yang saya tidak ketahui letaknya. Saya yang sibuk kuliah
dan bekerja pada masa itu begitu cuek dengan kehidupan pribadi orang lain.
Dan, di situ semua bermuara
menjadi nyata akan kehidupannya kelak. Dia tergopoh masuk ke kamar kos saya
hampir dini hari. Saya yang baru pulang siaran malam di salah satu radio
rasanya ingin segera mengusir dirinya. Tetapi, dia mempunyai kabar baik,
menurutnya dan membuat kening saya berkerut.
“Aku jadian sama dia, Bang!”
Tidak mungkin. Mana mungkin dia
jadian sama sosok yang gagah perkasa demikian. Mana mungkin sosok gagah itu mau
sama dia. Mana mungkin cowok yang dideskripsikan dalam kata-kata ‘sempurna’ itu
mau menjalin kasih dengan sesama, ah, sudahlah. Saya bingung memikirkan
kata-kata yang sesuai, juga saya tidak mengucapkan selama untuknya karena lelah
begitu menyesak dada. Di bait lain setelah itu, dia datang dengan raut wajah
sendu.
“Bang! Dia itu cemburuan!” dia
memulai pembelaan pada senja saat dia – mungkin – dengan kekasih tampannya
telah jadian hampir dua bulan. “Dia main pukul dan tampar. Tahu nggak apa yang
dia lakukan kemarin malam, dia tampar aku padahal aku lagi jalan sama kawan. Di
mata dia, aku nggak boleh jalan sama siapa-siapa selain sama dia!”
Perkara yang rumit. Mungkin saja
tidak jika melihat kemesraan mereka setelah itu. Dia sering membawa pulang makanan
ringan begitu malam. Dia pun sudah ada uang jajan dari pacarnya yang rupawan. Entah
bahagia apa yang kemudian merengkut kepercayaan mereka sampai akhirnya putus. Lalu
dia mulai menjalin kasih dengan si itu dan si itu. Saya tak mudah mengabadikan
semua kenangan dalam kata-kata. Saya mengiyakan. Saya melupakan. Pacar-pacarnya
pun saya tidak tahu bagaimana wujudnya, dia hanya menyebut gagah, tampan,
perkasa dan lain-lain, dari segala definisi seorang pria.
Di awal 2008, barangkali karena
kesibukan saya yang padat mengejar ketertinggalan kuliah dan pekerjaan di radio
serta tentor bimbingan belajar, kami sulit sekali komunikasi. Tiba-tiba, dia
datang dengan kebahagiaan yang merebak, menggebu-gebu sampai benar-benar syahdu
untuknya namun bukan untuk saya. Dia berubah, sama sekali telah mengubah
penampilannya menjadi ‘baik-baik’ saja dengan kondisi yang saya lihat begitu
seketika.
“Kamu baik-baik saja?”
“Aku nyaman dengan keadaan kayak
begini, Bang!”
“Apa ini pelampiasan?” maksud
saya karena nggak mungkin menemukan pekerjaan lain.
“Aku baik-baik saja dengan
begini!”
“Kamu nggak cari pekerjaan lain?”
Senjakala mendengus. “Ini
pekerjaan aku!”
Pekerjaan apa yang dia maksud,
aku bingung menjabarkannya sampai sejauh ini. Dia memanjangkan rambut. Dia bersolek.
Dia mengukir bibir dengan gincu merah. Dia memakai sepatu hak tinggi. Dia
memakai pakaian wanita lalu menemani malam di persinggahan remang dengan tangan
melambai!
Di waktu yang berbeda, di saat
semua orang sibuk dengan apa yang dikejar. Saya lalu benar-benar paham saat
dirinya menepi dalam sudut. Bukan sekali dua kali ia mengejar kerja ke warung
kopi, menjadi sales, penjaga toko,
atau apapun yang pernah ia hinggapi. Semua sama memberi jawaban, bahwa dirinya
tidak mampu bekerja.
“Aku dianggap lemah, Bang!”
Pilihan yang tidak mungkin saya
tebak akan ke mana. Tetapi pilihan itu kemudian bermuara kepada apa yang ingin dia
capai. Dia kembali ke semula, bekerja seperti yang ‘enak’ didefisini segala
kata. Dia menepi ke sudut-sudut kota saat jam malam membuat orang-orang bahagia
dalam mimpi-mimpi mereka.
“Pelanggan aku banyak, dari semua
kalangan!” saya tidak meminta detail tetapi cukup tahu maksudnya. Pelabuhan
yang dia arungi kian bermuara ke sisi keinginannya. Tetapi dia tidak berubah.
Kehidupannya tetap kacau seperti sediakala. Dia tidak berkecukupan. Dia tidak
juga berada di atas awan meskipun tiap malam menerima banyak ‘tamu’ dengan
bayaran tinggi.
“Si Nona – nama samaran temannya
– sudah bisa beli sepeda motor dan tinggal di kontrakan mahal!” iri di hatinya
ketika menceritakan kisah temannya, si Nona, entah siapa nama pria itu.
“Si Nabel – juga dengan bukan
nama sebenarnya – sering keluar negeri bareng
pacarnya!” tidak hanya iri, namun luka yang membara dari kata-kata yang keluar
dari mulutnya.
“Aku kayak begini saja, aku
selalu sial. Orang bilang aku cantik, tapi tetap saja aku nggak sanggup kayak si
Nona, aku nggak dapat pacar kayak si Nabel, aku harus bekerja sampai pegal
seluruh badan!”
“Sanggup bagaimana?” tanya saya.
“Dia sanggup terima tamu banyak
dalam semalam, nggak ada lelahnya dia main!”
‘main’ ya begitulah arah yang
dituju. Saya menyelami apa yang dialami Senjakala seperti kata-katanya. Dia
terusir dari satu kos ke kos lain karena tidak sanggup membayar biaya bulanan.
Dia menahan lapar sepanjang hari karena tidak ada selembar pun di kantong
celananya. Dia harus puasa berhari-hari karena tidak ada ‘tamu’ yang bisa
digaetnya untuk menyicipi sesuap nasi. Dia lantas sakit, terkapar di rumah
sakit berkali-kali. Operasi lambung. Operasi usus buntu.
“Aku capek, Bang!” ujarnya kini.
Di mana masa tak lagi bermuara baik kepadanya. Usai kejadian malam itu, dia tak
lagi memoles diri dengan make-up atau
pakaian wanita. Dia berjalan sebagaimana kehidupan normal. Berlari ke sana-sini
untuk mendapatkan sesuap nasi. Tetapi dia tidak tahu ke mana akan mewujudkan
bahagia yang selama ini mengekang dalam dirinya.
“Aku kayak dikutuk oleh Tuhan,
apa-apa yang ingin aku capai selalu ada rintangan. Aku nggak bisa bahagia
sekali saja!”
“Jangan berkata begitu, Tuhan
punya janji lain untuk kita!”
“Tapi, aku nggak dapat apa-apa. Aku
selalu sial, aku selalu dapat hambatan, aku selalu menerima hukuman!”
“Ada masa untuk kita bersabar,”
“Aku sudah sabar, Bang. Aku
selalu sabar bahkan sejak dia meninggalkan kami waktu kecil dan kawin dengan
wanita lain!”
Saya yang menjadi bingung. Saya yang
kalut untuk memecahkan harmoni menjadi melodi yang benar-benar indah didengar. Saya
sudah tidak tahu menjalin keindahan, biarpun saya membagi sedikit berkah dari
menulis untuknya tetapi itu hanya mampu membuat kehidupannya bertahan dalam
satu dua hari. Setelah itu, tentu dia harus memikirkan kembali tentang isu
perut yang tidak boleh kosong dalam waktu lama.
***
Saat saya menceritakan ini,
Senjakala tak ubahnya manusia yang hidup di alam Alice and Wonderland. Dia bercita-cita bahagia tetapi itu hanya ada
di dalam angan-angannya saja. Dia tak lagi mengubah diri menjadi pribadi
berbeda, dia tidak lagi memakai sepatu hak tinggi, dia juga tidak lagi mencari
‘tamu’ untuk membuka pintu rezekinya. Dia terkurung dalam kamar pengap tanpa
ada waktu untuk keluar. Dia terkatung-katung dalam lautan manusia bahagia. Dia
mengharap iba. Dia menginginkan kasih. Dia membutuhkan belaian dari apa yang
selama ini sulit digapainya.
Senjakala – mungkin kamu menyebut
telah kembali ke kodratnya. Mungkin juga saya bingung menjabarkan apa maksud
dari semua itu. Saya hanya merasa tidak ada perubahan sama sekali dari dalam
diri Senjakala. Dia masih menggapai-gapai angan. Dia masih menari-nari dalam
kegamangan. Dia masih kalut mencari jati diri dan sesuap nasi.
“Kamu jangan kembali ke sana,”
ujar saya sebelum meninggalkan kosnya. “Kamu harus optimis ada pekerjaan lain di
luar sana yang menanti kehadiranmu!”
Senjakala tidak mengangguk, juga
tidak mengeleng. “Aku cuma takut ditangkap lagi dan dihukum cambuk!”
“Maka, kamu jangan mengulang
kisah yang sama!”
“Tapi, apa yang harus aku
kerjakan?”
“Tebalkan telinga, biarkan orang
lain menghujat. Kamu akan mendapatkan yang terbaik setelah itu!”
Saya hanya memberi sesuap ucapan
dalam asa. Tetapi palu yang telah diketuk tak mudah dicabut. Senjakala masih
sama seperti mencari pekerjaan halal dahulu. Dia melamar ke sana-sini. Dia dibuang
karena dianggap lemah. Dia melamar lagi ke tempat lain. Dia masih tidak bisa
dipercaya untuk bekerja sebagai seorang ‘lelaki’ pada umumnya.
“Aku selalu dianggap lemah!”
“Pasti ada pekerjaan untuk kamu.
Pasti ada jalan untuk menemukan itu!”
“Aku tidak tahu ke mana, aku cuma
pintar pakai make-up!”
“Bukan itu tujuan. Bukan itu
satu-satunya jalan. Kamu sudah menjalani dan sudah merasakan hasilnya. Itu
bukan jalan kamu. Jalan kamu ada di tempat lain!”
“Tapi, apa? Aku tidak bisa
apa-apa!”
“Orang lain juga berpikir tidak
bisa apa-apa sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan!”
“Aku tidak tahu,”
“Jangan gengsi dan malu. Itu
kunci kamu saat ini!”
Dan, perlahan tetapi pasti.
Senjakala menuai hasil dari sabar. Meskipun, dia kerapkali mengirim pesan malu
dan takut dilihat orang rendahan. Dia juga tak jemu mengirim ijazah Paket C
untuk mendapatkan pekerjaan layak. Dia mondar-mandir dari satu pintu ke pintu
lain untuk mengikuti proses wawancara. Lalu hinggap di salah satu warung kopi
yang makin hari bersemak di kota kami.
“Apa kamu juga menganggap pelayan
di warung kopi sebagai profesi rendahan?”
“Tidak!”
“Mereka bekerja dengan halal,
mengapa kamu tidak mencoba untuk itu!”
Berlalu waktu, mengubah semua
pandangan, mengubur sendu yang selama ini bertalu-talu. Senjakala bekerja.
Pekerjaan yang halal tanpa harus mengayunkan tangan ke sisi gelap malam, tanpa
perlu memburu waktu di dini hari, tanpa memakai atribut hak tinggi maupun make-up tebal. Dia hanya membawa nampan
atau sebuah tanya, “Mau minum apa?” atau “Mau pesan apa?”
Itu cukup. Untuk mengurung
kenangan dalam lupa. Saya percaya di satu saat nanti, dia akan lupa pada masa
di mana kenangan pahit mengiris sendu tubuhnya dengan ngilu.
Kamu yang di sana, ini sepenggal
cerita. Jika pun menghujat dalam kata, jangan sampai tersurat dalam suara.
Hidup kita berbeda, hidup kamu, hidup saya dan hidup Senjakala. Jalan yang kamu
lalui barangkali mulus seperti jalan teraspal, jalan yang Senjakala lalui masih
terjal di mana-mana yang membuatnya rentan terjatuh.
Sepenggal kisah, sebuah hujatan,
tetapi begitulah jalan hidup bermuara ke mana tujuan. Angin malam di sini bisa
lebih dingin daripada angin malam di sekitarmu. Lalu, lupakan kisah ini seperti
angin yang terbang ke kerinduan pada suatu kenangan!
***

Inspirasi dari kisah nyata, tokoh cerita adalah narasumber terpercaya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *