January 27, 2020

Mahasiswa PascaSarjana Ini Peduli Songket Aceh yang Hampir Punah

Warisan
budaya tanpa sengaja telah punah dengan sendirinya. Percaya atau tidak,
kenyataan yang terjadi demikian. Pergeseran makna konsumtif menjadikan brand
kedaerahan terkikis dengan sendirinya.

Tentu sering mendengar nggak level
pakai produk daerah
, atau kuno ah pakai pakaian daerah. Alasan-alasan
yang serupa menjadikan warisan budaya ini semakin tak kondusif dan terlupa
begitu saja. Termasuk anak-anak muda Aceh yang cenderung menyukai fashion kebarat-baratan
di bawah bayang syariat Islam sekalipun.

songket aceh
Azhar Ilyas, Penggagas Komunitas Songket Aceh – portalsatu.com
Memang,
tidak semua laki-laki ingin menjadi pacarmu eh maksudnya tidak semua
anak muda Aceh lupa pada warisan budaya. Azhar Ilyas, seorang mahasiswa
pascasarjana di Universitas Syiah Kuala menjadi bagian terpenting dalam
melestarikan warisan budaya di Aceh,
Songket Aceh


Tahu dong
bagaimana sibuknya mahasiswa S2. Diktat-diktat, kebut tesis eh kebut jodoh juga
bagi yang belum kawin. Pemuda yang satu ini malah sibuk
ngurusin Songket
Aceh.

“Songket Aceh memiliki kekhasan sebagai
mahakarya kerajinan budaya Aceh yang telah diwariskan secara turun-temurun
sejak ratusan tahun silam. Di masa lampau, Songket Aceh dipakai oleh para
bangsawan atau orang tertentu saja karena proses pembuatannya yang sangat
panjang. Selain itu, Songket Aceh juga bagus-bagus dan beragam warna dan
motifnya.” Azhar Ilyas. 

Azhar
membagi waktu antara kuliah dengan promosi Songket Aceh, baik melalui media
sosial maupun blog miliknya. Azhar begitu mencintai warisan budaya yang telah
ada di Aceh sejak abad ke 17.

Salah satu daerah yang masih menenun Songket Aceh
adalah di desa Siem, Aceh Besar. Di sana juga terdapat selembat Songket Aceh
yang usianya ditaksir 170 tahun lebih. Luar biasa bukan?


Salah
satu motif Songket Aceh yang dipercaya pernah dipakai oleh pejuang Aceh adalah Bungong
Kalimah
. Motif ini berisikan kalimah tauhid di mana mengisyaratkan bahwa
sejak dulu masyarakat Aceh telah percaya kepada Tuhan yang Esa yaitu Allah.

Motif
Aceh memang sebuah simbol dari sekian bentuk kepercayaan dalam rangka mencintai
pencipta. Namun hal ini tentu sangat berimbas kepada akidah seseorang karena
Songket Aceh dipakai, membaca kalimat yang tertera di sana akan mengingatkan
kepada Tuhan dalam setiap hela napas.

Azhar
sangat percaya bahwa warisan budaya Aceh ini akan semakin dikenal apabila anak
muda yang gagap teknologi mengenalkannya ke dunia. Bersama blogger Aceh, Azhar
menggagas Komunitas I Love Songket Aceh (ILSA) yang kemudian menjadi sarana
mempromosikan Songket Aceh ke dunia luas.

Promosi dilakukan melalui media
sosial seperti blog, facebook, twitter, instagram maupun kegiatan-kegiatan
offair yang menghadirkan pakar dalam bidannya guna mengupas lebih tajam
mengenai songket ini.

Songket
Aceh memang hampir punah, namun di Dekranasda Kota Banda Aceh terdapat galeri
Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang merupakan tempat untuk belajar menenun
songket ini. Dalam bahasa Aceh kegiatan menenun disebut pok teupeun
sedangkan alat tenun disebut teupeun.
Tidak
mudah bagi seorang anak muda yang supersibuk menjalankan kegiatan ini. Apalagi
kegiatan promosi Songket Aceh murni panggilan jiwa. Tak ada istilah pekerjaan part
time
bahkan full time dalam menggalakkan Songket Aceh semakin
dikenal luas.

Jiwa Azhar tak dapat dipisahkan lagi dari warisan budaya ini. Ia
mempunyai sebuah impian tentang adanya galeri besar yang memuat songket khas
ini. Bahkan, ia ingin kain tenun Songket Aceh dihargai sebagaimana kain tenun
lain di pasaran. Sehingga kekhasan Aceh tak hanya berupa pelaksanaan Syariat
Islam maupun maupun meugang.

Ini lho kain tenun khas Aceh yang patut
diapresiasikan!

Semangat
Azhar dalam menerobos “pasar” yang semakin gagah patut diberi penghargaan
lebih. Waktu Azhar cukup terbuang untuk kegiatan Songket Aceh maupun tesis yang
katanya hampir terbengkalai.

Keduanya sangat penting. Keduanya bermanfaat bagi
dirinya dan banyak orang. Keduanya berada pada lingkaran yang wajib ia
perhatikan tapa terkecuali.

Usaha
Azhar yang gigih ini saya berikan tepuk tangan yang meriah. Bagaimana dengan
Anda? Adakah sedikit waktu untuk menyemangatinya? 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *