January 24, 2020

Kursi Kuning di Ruang Tunggu Keberangkatan Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali

Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali
Kursi kuning yang menggoda di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali – Photo by Bai Ruindra
Buru-buru,
saya dan Sandi ke Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, di pagi
11 September 2016. Udara pagi yang sejuk, perut yang telah terisi dengan menu
sarapan spesial di Bliss Surfer Hotel
, siap saja menerima penerbangan
bersama Garuda Indonesia, menuju Jakarta lalu ke Banda Aceh.
Saya
dan Sandi berpisah di pintu keberangkatan. Saya yang memiliki jadwal
penerbangan pukul 09.00 waktu Bali, harus segera melakukan check in. Sandi
harus sabar menunggu di siang hari dan katanya berimbas delay selama 2
jam. Saya baru mendarat di Aceh, Sandi juga baru saja mendarat di Surabaya
sebelum melanjutkan perjalanan ke Malang keesokan harinya.
Saya
langsung saja mengantri di konter check in Garuda Indonesia yang telah
berstatus open. Tentu saja setelah mengalami pemeriksaan awal di pintu
masuk. Antrian yang memakan waktu sepuluh menit itu saya gunakan untuk menengok
kiri kanan. Luasnya Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai ini semakin terasa.
Saya
mulai harap-harap cemas seperti jetlag, ada-ada saja memang namun itu
menjadi keharusan dalam diri saya sebelum memulai penerbangan. Tiba saat
menyerahkan print out tiket dan kartu identitas kepada petugas yang
ganteng itu, saya semakin didera cemas. Meledak-ledak sampai lupa tengah berada
di keramaian dan kesibukan masing-masing orang mengejar waktu agar tidak ketinggalan
pesawat.
Boarding pass saya
pegang dengan semangat. Mual yang mendera seakan-akan memuncak sampai ke batas
tertentu. Pikiran yang kalut kian berkonsentrasi penuh karena saya harus menuju
pintu ruang tunggu yang tertera, Gate 1C. Di mana dan bagaimana saya harus
sampai ke sana, saya mesti menapakkan kaki di lantai licin bersama calon
penumpang lain yang semua terburu-buru.
I
Gusti Ngurah Rai di Bali ini memang termasuk bandar udara internasional, tidak
hanya sebutan saja namun juga kesibukan yang saya rasakan. Orang-orang yang
menuju satu arah, sama dengan saya, hanya mencari pintu ruang tunggu untuk
merasa aman. Saya mulai melangkah. Kembali bermain dengan pemeriksaan barang
dan orang. Tali pinggang dilepas. Smartphone dimasukkan ke dalam
keranjang untuk melewati mesin X-Ray yang gagah dan angkuh. Ransel juga
ikut-ikutan terdorong masuk. Saya juga harus membentang tangan melewati ‘pemeriksaan’
ketat ini.
Bandar
udara kelas internasional ini membuat mata terpana. Ciri khas Bali masih sangat
terasa sampai-sampai saya lupa rasa mual yang mendera. Saya arahkan kamera smartphone
ke segala sisi. Setiap sudut yang terasa manis ini tidak mungkin saya lewatkan
begitu saja. Gambar-gambar di baliho besar memperlihatkan Pesona Indonesia yang
melankolis dan manis. Patung-patung berdiri genit dengan peran sebagai penari
Bali profesional. Lampu temaram menjadi suasana romantis di sepanjang lorong
menuju ruang tunggu keberangkatan.
Toko-toko
souvenir yang berjajar seperti saya berada di dalam gedung pusat perbelanjaan. Aneka
barang dijual; makanan dan pernak-pernik khas Bali yang enggan saya tanya.
Firasat
tidak baik mendera isi kantong jika berbelanja di bandara. Arena bermain
anak-anak terlihat begitu menggoda dengan kursi, boneka dan mobil-mobilan. Saya
terus melangkah cepat.

Herannya,
saya kok tidak menemukan pintu keberangkatan sesuai dengan gate
yang tertulis di boarding pass. Pegalnya terasa seperti mengitari
Terminal 3 Ultimate Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Rasanya nggak
sampai-sampai ke tempat duduk yang membuat badan saya lebih manis dalam kusut.
“Itu
dia!” seru saya saat melihat papan nama berwarna kuning dengan tulisan putih di
dalam kotak merah persegi empat. Arah panah naik ke atas. Saya harus melaju ke
situ. Lorong yang remang, toko souvenir yang sepi pengunjung membuat saya
benar-benar terasa sendiri. Nikmat di satu sisi namun kesepian di sisi lain.
Orang
yang lewat tidak memedulikan saya. Ada yang mendorong koper ukuran 15 kilogram.
Ada yang santai dengan tas kecil. Ada pula yang kesusahan dengan ransel besar. Anak-anak
berlarian menuju gate yang telah terlihat nyata di depan mata.
Departure
Gate
1C!” seru saya dalam hati, pura-pura pintar berbahasa Inggris. Di sini
saya akan menunggu penerbangan dengan sabar. Deretan kursi terlihat rapi. Saya melangkah
persis ke depan tulisan Pintu Keberangkatan 1C. Kiri adalah kamar kecil dan di
dekatnya terdapat komputer untuk akses internet. Belakangan, saya coba akses
namun koneksi bermain cantik sampai saya lelah menanti loading dan baru
terbuka lima menit kemudian. Saya bergaya buka blog dan melihat tampilannya di
desktop itu. Cantiklah untuk ukuran blog dari blogger newbie traveler.
Kanan
dari saya berdiri adalah pintu keluar menuju pintu pesawat. Dan di depannya,
kursi kuning itu berhadap-hadapan dengan manja. Ah, seandainya sedang jalan
berdua, duduk di atasnya dengan secangkir teh di pagi hari tentu terasa lebih
syahdu. Khayal yang membahana ke langit Bali dan nyangkut di antara atap
bandara karena tak rela lepas landas menjumpai rindu kepadanya.
Kursi
kuning ini tergolong unik dan menarik. Kursi ini seperti berada di dalam sebuah
rumah kecil dengan atap segitiga. Atapnya yang seperti piramida terlihat
seperti kayu alami. Lampu putih yang hidup dari dalam kotak kayu persegi
panjang menambah aroma romantis dan kehangatan. Meja kayu mengilap sangat cocok
untuk menopang lengan lelah. Di bawah kursi yang empuk terdapat colokan listrik
untuk siapa saja yang butuh pengisian daya alat elektronik.
Saya
mengintip ke arena ‘permainan’ pesawat terbang. Tampak kokoh gapura dengan
patung penjaga kiri dan kanan. Sayangnya, kami tidak turun melalui pintu bawah
namun langsung menuju ke dalam corong ke pintu pesawat. Petugas bandara telah
bersiap untuk membuka pintu keberangkatan. Suara panggilan terdengar indah
sekali. Saatnya pulang, kapan-kapan mungkin saja akan kembali, bisa saja di
waktu honeymoon nanti!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *