January 24, 2020

Konservasi dari Sadar Diri Beranjak ke Kehidupan ‘Abadi’

Dulu, masa kecil yang selalu
merasa bahagia, saya merajuk kepada Ibu untuk diajak ke kebun karet. Imajinasi
saya sebagai kanak-kanak, kebun karet itu adalah taman bermain dengan segenap
‘kawan’ yang berceloteh dalam bahasa mereka masing-masing. Ibu abai terhadap
saya yang merengek. Ujarnya, “Kebun karet
bukan tempat bermain bagi anak kecil!”

Lantas, Ibu berlari kecil
mengejar Ayah yang telah mendayuh sepeda. Ayah sama sekali tidak menoleh saya
yang histeris dengan pengetahuan sendiri, bahwa Ibu tidak memedulikan
kepentingan saya waktu itu. Ibu pun acuh kepada saya dan berjingkrat sedikit
lalu duduk aman di belakang Ayah yang terus mendayuh sepeda perlahan-lahan.
Cerita itu, tidak sampai pada
satu hari saja. Di hari setelahnya, lalu di hari berikutnya lagi, saya masih
merengek untuk dibawa serta ke kebun karet. Bayangan saya, di sana masih banyak
‘kawan’ yang menanti daripada di rumah bersama Nenek yang kerapkali ditinggal
tidur. Saya bosan mencongkel kerikil di halaman rumah. Saya malas berlarian
sendirian sekeliling rumah. Saya pun selalu kalah tarung saat bermain petak
umpet bersama teman-teman yang lain; entah mereka memang sengaja menjahili saya
yang usianya lebih muda.
Di hari entah kesekian dari
rayuan gombal menurut definisi anak-anak itu, Ibu membungkus saya dengan kain
dan ditariknya ke kebun karet. Jalan setapak yang kami lewati begitu indah dan
menakutkan di sisi berbeda. Keindahan itu dari pohon-pohon karet tinggi
menghijau, suara daun-daun yang seakan bersenandung dengan melodi terstruktur, burung-burung
bercicit di kejauhan, Elang terbang menukik dari celah daun pohon karet, monyet
melompat dari satu batang pohon ke batang lainnya dengan girang, dan air
berwarna hitam pekat mengalir di parit yang dibuat oleh pekebun. Ketakutan saya
begitu bertemu dengan ladang yang sepi sementara kacang siap panen tumbuh
mekar, sunyi yang mendadak terjadi saat suara alam berhenti, dan saat Ibu
meninggalkan saya di bawah batang pohon yang lebih rimbun daunnya.
“Kamu jangan ke mana-mana, Ibu
menakik karet di pohon sebelah. Kalau ada apa-apa, kamu cukup bersahut sekali
saja!” bergegas, Ibu langsung meninggalkan saya dan menakik karet dari satu
batang ke batang lainnya. Alam yang dingin di sekeliling terasa masih begitu
perawan dengan jati dirinya. Air yang mengalir di parit tak jauh dari saya
duduk, berirama ke dataran lebih rendah. Sesekali, terdengar orang bersahut dan
dibalas oleh orang lain dan terus diteruskan oleh orang lain lagi.
Di mana-mana, adalah batang pohon
yang tumbuh dengan mekar, subur sebagaimana mestinya, dan berair sebagaimana
keinginannya. Daun-daun yang jatuh dari pohon sepertinya sulit sekali kering
karena tertutup dari sinar matahari. Batang pohon yang patah karena usia tampak
masih ‘segar’ meskipun tidak lagi bernyawa. Ke mana arah mata saya memandang,
pohon-pohon kokoh dengan kekuasaannya. Ranum daunnya melebat sampai saya tidak
tahu di mana Ibu menakik karet. Saya bersahut dengan suara kecil, Ibu menjawab
sekali, lalu dibalas oleh orang lain, dibalas lagi oleh orang yang lain di jarak
yang lebih jauh sampai kemudian berhenti. Selang beberapa menit, saya kembali
bersahut, Ibu menjawab dan dijawab kembali oleh orang lain, seterusnya sampai
kembali hilang dari pendengaran saya.
Nyamuk menjadi teman yang karib.
Maka kesimpulan dari saya dibungkus dengan kain karena sengatan nyamuk hutan
benar-benar membuat kulit terbakar. Saya menampar pipi. Tidak berbekas jasad
nyamuk di sana. Saya menampar kembali, hanya rasa sakit yang terasa. Ingin rasanya
saya membakar obat nyamuk, atau membakar daun-daun di dekat itu agar pasukan
nyamuk berhenti mengajak perang dengan aliran darah di badan saya. Namun, Ibu
pernah berkata, bahkan sampai saat saya dewasa sekalipun berujar demikian. “Jangan buang sepuntung api pun di dalam
hutan, karena dia mudah membakar gambut kering lalu menjalar ke mana-mana!”
Mungkin, begitulah pengalaman
yang tak perlu aljabar dari bangku kuliah manapun. Pelajaran terpenting dari
seorang wanita yang membesarkan saya, juga dari Ayah yang jarang berbicara,
tentang kehidupan ‘abadi’ di dunia ini sebenarnya kita yang memulai, dari kita
yang sadar diri bawah kehidupan – lingkungan sekitar – adalah kita yang
mengarahkannya ke mana tujuan.
Kebakaran hutan di Aceh Barat – Photo by Bai Ruindra

Pelajaran penting dari apa yang
Ibu saya ‘larang’ baru kini saya rasa benar adanya. Saya merasa sendiri perih di
mata dan hidung kesusahan mendapatkan oksigen bersih ketika Aceh Barat diterpa
kebakaran hutan belum lama ini. Jarak pandang yang berkabut begitu saya keluar
rumah di pagi hari. Langit menjadi gelap karena asap yang kian sulit dibendung.
Debu-debu tampak beterbangan sampai masuk ke kamar saya. Di sekolah tempat saya
mengajar, beberapa siswa dan siswi tumbang. Mereka dilarikan ke puskesmas untuk
mendapatkan pertolongan tercepat. Proses belajar terpaksa terhenti dengan siswa
dan siswi dipulangkan lebih cepat mengingat kondisi di sekolah yang dekat
dengan lokasi terbakarnya hutan, makin pekat oleh asap. Kabut asap begitu cepat
menyebar, cnnindonesia.com (24/07/2017), menyebutkan bahwa 60 hektar lahan terbakar
di Aceh Barat. Disebut, sebab dari kebakaran tersebut karena warga setempat
yang membakar hutan secara tradisional untuk membuka lahan perkebunan baru.
Kabut asap yang berdampak kepada siswa di sekolah – Photo by Bai Ruindra

Entah karena ‘sepuntung api’ atau bukan, atau disengaja atau bukan, saya merasa
bahwa hutan terdekat dengan rumah kami, hutan yang dulu pernah saya injaki
sewaktu kanak-kanak, telah tidak lagi ‘perawan’ dan meradang dalam kepungan
kekecewaan. Hampir dua minggu berita tentang kabut asap di Meulaboh dan
sekitarnya menghiasi media massa cetak, online
bahkan elektronik. Sampai kini saya – kami – masih harap-harap cemas soal
lingkungan yang mudah berkabut dan jalan tertutupi asap. Berbagai pendapat
digulir seenaknya, berbagai pandangan masuk ke ranah debat, namun kehidupan
kami tetap begitu, mengalir ‘abadi’ dalam patah-patah membenarkan apa yang
telah carut-marut.
Kabut asap di Aceh Barat – Photo by Bai Ruindra

Musim kemarau yang panjang
menjadi sebab lain kebakaran yang mudah menjalar. Hutan yang dulunya
benar-benar sempurna sebagai tubuh perawan makin ke sini begitu mengiba kepada
tangan manusia agar berhenti menyakiti. Manusia yang tidak pernah puas terus
melakukan hal-hal sedemikian untuk kepuasan batin dan derajat hidup lebih baik.
Jika mengukur kepada masalah kerusakan hutan itu sendiri, ngekul.com
(03/08/2016), menjabarkan bahwa orientasi masyarakat soal hutan adalah
kepentingan ekonomi berkepanjangan di mana pembukaan lahan secara terus-menerus
dilakukan, mudahnya pembukaan lahan secara tradisional dengan melakukan
pembakaran hutan, sistem perkebunan yang berpindah-pindah sehingga membutuhkan
lahan baru untuk dibuka, penegakan hukum yang belum maksimal soal pelanggaran
maupun kejahatan di dalam hutan seperti perambahan lahan, ilegal logging dan lain sebagainya.
Lahan yang ditinggal setelah ditebang dan dibakar beberapa waktu lalu – Photo by Bai Ruindra

Lalu, kapan hutan kita yang
rindang sedari dulu kembali segar?
Pertanyaan ini justru menjadi hal
yang tabu di saat kebakaran hutan, seperti kasus di atas, adalah hal yang
wajar. Pola masyarakat yang berpindah-pindah untuk membuka lahan perkebunan
yang menggiurkan tak terbendung, lalu masyarakat yang semula memusatkan diri
kepada hasil karet kini beralih ke sawit semenjak harga karet kian tergerus
pangan yang lain. Masyarakat yang memiliki lahan tersertifikat dengan sukacita
membuka lahan perkebunan untuk menyambung hidup. Biarpun subsidi dari
pemerintah soal papan dan pangan telah ada, keseharian dari itu lebih besar
tantangannya. (aceh.antaranews.com, 11/01/2017).
Masalah masyarakat yang tak bisa
diminta berhenti karena kebutuhan demi kebutuhan sehingga masyarakat yang
semula tabu, lantas sama sekali tidak memedulikan isu konservasi sumber daya alam.
Alam yang semula enak dihirup aromanya kian hari masih semak untuk menciptakan
oksigen bersih. Masa kanak-kanak saya yang ke kebun karet penuh suka, sekarang
malah ranting kering bekas terbakar adalah pemandangan mengharu-biru. Ini persoalan,
tentu saja. Jika di dewasa ini kembali ke kebun karet kami yang telah terbakar,
maka cicit burung tidak lagi mudah didengar, suara gesek daun menjadi sunyi dan
mungkin saja parit yang berisi air berwarna hitam khas hutan itu telah sirna.
Konservasi dan Sebuah Keharusan Lingkungan Hidup
Bicara konservasi rasanya begitu
berat untuk mengamalkan dengan baik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebut
konservasi sebagai pemeliharaan dan perlindungan sesuatu secara teratur untuk
mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan jalan pelestarian. Definisi konservasi
sumber daya alam dijabarkan pula oleh bangazul.com (01/02/2013), yaitu penghematan
penggunaan sumber daya alam dan memperlakukannya berdasarkan hukum alam.
Bicara teori selalu mudah namun
untuk berangkat ke keharusan menjaga lingkungan hidup agar selalu kondusif,
tidak semudah membalik telapak tangan. Saat saya tersengal-sengal menghidup
udara berdebu, saat itu pula saya membayangkan tentang kehilangan taman bermain
di hutan untuk pasukan nyamuk yang begitu menyengat jika disuntik jarumnya. Hukum
alam tidak tertuang dalam perdata maupun perdana, tidak pula melewati penjara
di atas bukit maupun di bawah gunung. Hukum alam terjadi jika, bagaimana dan
seterusnya, dari secuil masalah kemudian membesar.
Kata ‘harus’ untuk konservasi
sumber daya alam karena kita hidup dengan alam, setiap hari kita berinteraksi
dengan polusi di alam bebas ini, karena alam adalah sumber kehidupan terpenting
bagi manusia. Saat kabut asap menyerang, serangannya lebih besar daripada
sengatan nyamuk untuk seorang pekebun di kebun karetnya yang asri miliknya. Tiap
hari adalah pasukan nyamuk di telingannya, tetapi udara yang dihirup lebih
segar, lebih adem, lebih bertenaga meski mereka pulang dari kebun karet
menjelang azan dhuhur.
Kebun karet yang Ayah dan Ibu
saya takik – sebelum pensiun karena harga terjun bebas – adalah bagian yang
tidak ada habisnya. Hukum alam yang berlaku di sini adalah makin ditarik
getahnya, si pohon karet makin girang mengeluarkan hasil bumi. Makin tua
batangnya, makin bergetah pula isinya ke dalam tempurung kelapa sampai tumpah
menjuntai ke tanah. Jika disebut pekebun karet ini tidak menghemat dalam
memperlakukan sumber daya alam, maka anggapan tersebut telah salah. Entah sejak
kapan bermula, orang-orang masih tetap ke kebun karet untuk menakik getahnya
meski harga telah turun sekalipun. Mereka menjaga kebun karet sebagaimana hukum
alam menjaga peradaban yang bernama ‘konservasi’ yang secara tidak sadar telah
mereka lakoni sejak waktu lama.
Sumber Daya Alam dan Kepentingan Kehidupan Manusia Dengannya
Kita, butuh bertahun-tahun untuk
melakukan regenerasi sebatang pohon karet agar benar tumbuh maksimal dan
menghasilkan hasil unggul. Kebun karet adalah sumber kehidupan manusia
bertahun-tahun lamanya. Masyarakat yang hidup dari kebun karet tidak sedikit di
Aceh ini. Tidak hanya saya yang dapat menikmati hidup ‘mewah’ saat ini dari
pontang-panting Ayah dan Ibu ke kebun karet sejak subuh. Ada banyak dari kita
yang lain menikmati keringat orang tua dari panen karet yang tak seberapa.
Karet bisa saya sebut sebagai
sumber kehidupan manusia yang tak terbendung kisahnya. Mungkin ini hanya secuil
tetapi begitu masuk ke ranah konservasi maka karet adalah bagian terpenting
dalam pelestarian lingkungan. Tak terkira airmata mereka yang buru-buru ke
kebun karet usai subuh, saat kebunnya dilahap api. Mereka telah menjaga,
mengumpulkan dahan untuk berteduh dan memulai tarikan di pohon karet meski
airnya tak sepenuh dahulu. Tetapi para pekebun karet tidak mengubah pola dengan
menebang bahkan ‘membakar’ kebun karet lalu ditanam dengan pohon baru. Kesabaran
mereka adalah bagian dari ‘konservasi’ lain dari sumber kehidupan manusia yang
tiada batas.
Kepentingan manusia terhadap alam
tidak hanya oleh Ayah dan Ibu saya sebagai pekebun karet. Mereka yang lain,
tiap waktu dengan alam adalah bagian dari hukum alam itu sendiri. Pekebun karet
tahu saat hujan getahnya tidak keluar, bahkan ini masuk ke dalam pelestarian
lingkungan yang lagi-lagi urusan berat dari ‘konservasi’ yang telah disebut
berkali-kali. Tanpa disadari sekalipun, masyarakat yang awam telah menjalankan
pola dari konservasi yang sejatinya berangkat dari teori-teori. Kepentingan
dari konservasi telah diterapkan oleh masyarakat awam ilmu ini sejak mereka
pertama kali menarik pisau ke batang pohon karet. Mereka tahu bagaimana
menyabit dengan benar, bagian mana dari pohon yang tidak boleh ditakik, pohon
mana yang daunnya luruh lebih banyak maupun pohon mana yang mengeluarkan getah
lebih besar atau sedikit, mengapa batang pohon karet tidak boleh ditebang
sembarangan, atau di mana posisi yang tepat menanam bibit unggul yang baik.
Tahukah kamu bahwa kebun karet
itu ditanam seperti siswa sedang upacara bendera di Senin pagi. Mereka berbaris
rapi, tegak mengacung langkah, semangat tumbuh dengan air cukup, dan berbagai
urusan lain atas kepentingan menaikkan derajat ekonomi pemiliknya. Pola
penanaman kebun karet yang telah diterapkan oleh nenek moyang kita telah
menjadi tolak ukur bagaimana pelestarian ‘konservasi’ itu terjaga dengan baik.
Hukum alam yang tidak tertuang
dalam teori kampus ternama ini terus diterapkan oleh masyarakat. Penting atau
tidaknya ‘konservasi’, kedekatan mereka dengan alam tak tertutup sampai di mana
akan bermuara. Tak terkira pula, sarjana mana, doktor mana bahkan profesor mana
yang lahir dari ‘kebun karet’ ini. Sumber kehidupan manusia yang berasal dari
hutan ini terlindungi secara hukum alam. Maka, sumber daya alam ini harus
dijaga sebagaimana menjaga diri kita sebagai manusia bermartabat, eksploitasi
dari sumber daya alam ini harus berimbang antara kebutuhan dan kelangsungan
hidupnya, tidak merusak yang ada dan mengembangkan yang baru demi memberi
dukungan kepadanya.
Solusi Konverasi dalam Kehidupan Manusia
Di mana-mana adalah hutan untuk
mata pencaharian. Saya sadar bahwa keberadaan hutan telah tergerus untuk
kepentingan ekonomi. Tetapi, dalam konservasi maka dibutuhkan dukungan untuk
melestarikan kembali sumber daya alam hayati di sekitar kita. Sama-sama menjaga
adalah solusi terbaik dalam melestarikan kembali lingkungan. Saya mungkin tidak
bisa menyebut, “Jangan buang puntung
rokok di dalam hutan!”
tetapi sadar diri di atas segalanya sebelum kerugian
terjadi.
Kesempatan kita saat menyeru
konservasi adalah bagaimana interaksi manusia dengan lingkungan. Orang tua kita
lahir dari pekebun karet maka tak semestinya mereka keluar dari ‘hutan’ ini
untuk menggais rejeki di tempat berbeda. Kesempatan membuka lahan perkebunan
baru karena faktor ekonomi yang tak kunjung usai. Pengaruh zaman yang mengubah
sistem ekonomi dan kebutuhan menjadi akar yang kuat.
Di sini, di saat kabut asap masih
tersisa akibat hujan turun dua hari terakhir, ada alasan mengapa lahan dibuka
terus-menerus. Pekebun karet yang semula merasa aman dengan keuangan mereka
beralih ke pembukaan lahan untuk menanam sawit yang lebih menjanjikan
akhir-akhir ini. Belum lagi pekebun karet yang harus rela menjual kebun mereka
untuk perusahaan yang membuka pabrik sawit. Mereka yang semula menakik karet
kemudian menjadi pekerja di kebun sawit milik orang lain.
Kebun sawit yang terbengkalai karena hasil panen tidak memuaskan – Photo by Bai Ruindra

Miris ini terjadi begitu saja,
tetapi jika konservasi masih diingini maka mereka yang telah satu jiwa dengan
hutan harus dieratkan kembali. Di hati pekebun karet, agar mereka tidak
menebang dan membakar lahan di hutan, kenaikan harga jual getah karet menjadi
jawaban dari kerisauan. Harga getah karet perkilogram yang menyentuh Rp. 5000
tidak sebanding dengan sandang pangan yang harus mereka beli tiap hari. (aceh.antaranews.com,
11/01/2017).
Pemilik ‘konservasi’ yang
mengaungkan pentingnya isu ini harus benar-benar mampu memberi jawaban. Kami
yang di sini telah lelah dengan kabut asap sejak dua tahun terakhir. Saya juga
masih ingin melihat Ayah dan Ibu kembali ke hutan untuk menakik karet. Setidaknya,
orang tua kami di sini bisa selalu menjaga kebun karet dari kepunahan. Kebun
karet yang tidak terawat karena ditinggal pekebun akan kembali bersenyawa
dengan dinaikkan harga panen. Hutan yang dulunya sunyi, bisa kembali
bersenandung dengan sahutan pekebun. Irama ini yang dibutuhkan dalam menjaga
konservasi bukan saja merujuk kepada ‘taman’ baru yang menjanjikan dan
mengangkut pekerja abadi di dalamnya.
Saya sadar, kebun karet sangat
berarti bagi kehidupan kami. Seperti liukan Tari Saman, maka sedemikian
indahnya dayung sepeda dari Ayah yang kembali ke kebun karet tiap pagi. Ayah
dan Ibu dengan kawan-kawannya yang lain, hanya segelintir kisah yang
menghidupkan konservasi sebelum saya lahir. Bagian ini tidak bisa diubah karena
telah menjadi satu jiwa.
Kebun karet yang asri, idaman pekebun yang sampai kini masih menakik karet – Photo by Bai Ruindra

Di kesempatan lalu, saya telah menulis
tentang Mr. Jali yang menjaga habitat Gunung Leuser dengan baik. Perjuangan
tanpa pamrih dalam tubuhnya sebagai ‘guide
telah bersarang akan kebersihan, kepekaan sampai menjaga lingkungan hutan
lindung tersebut dengan bijaksana. Secarik sampah saja akan dipungutnya dan
setiap pekebun yang membuka lahan baru akan ditegurnya untuk mengelola yang
sudah ada terlebih dahulu. Tiap kata darinya adalah penggalan demi penggalan
dari makna ‘konservasi’ yang selama ini sangat tabu. Masyarakat kita yang – kembali
lagi – berangkat soal kepentingan ekonomi, terus mengerus hutan demi
sayur-mayur menghijau. Kisahnya bisa dibaca kembali di
sini
!
Dan, konservasi yang kita ingini
sebenarnya telah tercoreh cukup lama hanya saja siap dan tidak siap untuk
menjaga lebih baik lagi. Dukungan dari berbagai pihak akan memberikan harapan
pula kepada mereka yang selama ini berjuang sendiri mengonservasikan alam dalam
dirinya – pekebun karet itu sendiri. Di sisi lain, masih banyak sumber daya
alam yang menjadi sumber kehidupan. Ditulis atau tidak, mereka ada, di
mana-mana dan sepatutnya dijaga habitatnya! 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *