January 19, 2020

Kokoh Melingkari Iman

Siapa
yang tidak kenal Masjid Raya Baiturrahman? 
Masjid
yang terletak di pusat kota Banda Aceh merupakan salah satu ikon wisata religi kota
seramoe Mekkah. Sejarah mencatat, Masjid Raya Baiturrahman pernah
dirusak oleh Belanda namun kembali direnovasi guna menarik simpati warga Aceh
kala itu.

Masjid Raya Baiturrahman

Tetapi, warga Aceh tetap teguh dalam mengusir penjajah sehingga
Belanda gigit jari dan harus pulang kembali ke negaranya tanpa bisa mengambil
alih pemerintahan Aceh.

Masjid
ini termasuk salah satu masjid terindah di Indonesia dan di Asia Tenggara. Dari
tahun ke tahun, masjid ini sudah direnovasi sehingga semakin cantik dipandang
mata.
Seseorang
belum dikatakan ke Banda Aceh sebelum menginjakkan kaki di halaman Masjid Raya.
Berfoto di depan Masjid Raya Baiturrahman lumrah dilakukan karena di sinilah
tempat wisata dimulai. Masjid yang terletak di tengah kota menjadi salah satu
tempat kembali jika tersesat di kota yang tergolong kecil ini.
Berulang
kali saya menginjakkan kaki di Masjid Raya Baiturrahman, berulang kali pula
memotret berbagai sudut. Saya tidak bisa menampik, masjid ini selalu menyisakan
sesuatu untuk diabadikan. Sampai waktu tak tentu, kejayaan masjid ini akan
abadi.

Bagi kami orang Aceh (muslim pada umumnya), masjid adalah tempat
kembali. Semua masalah dapat terselesaikan di dalam masjid. Semua perkara dapat
dipecahkan di dalam masjid.

Kedamaian
selalu tertinggal begitu melaksanakan shalat sunnah dua rakaat, maupun shalat
wajib (jika berbarengan dengan waktu shalat lima waktu). Mengelilingi masjid
ini pun terasa enteng karena kewajiban sudah ditunaikan.

Itulah keistimewaan
kita – sebagai muslim – tidak ada batasan untuk beribadah di masjid mana saja. Berkunjung
ke masjid, kita adalah tamu yang patut mengucapkan salam dengan cara tersendiri
(salah satunya shalat sunnah).

Setelah
shalat sunnah maupun shalat wajib. Ayolah kita berkeliling halaman masjid yang
sejuk. Di bawah menara menjulang tinggi adalah pilihan terbaik untuk berteduh. Di
bawah pohon palem yang semakin menanjak adalah tempat khusus untuk memandangi
sekeliling masjid.

Jepret sana-sini adalah keharusan. Saya tidak hanya berpuas
diri memotret suasana “sibuk” di perkarangan masjid kebanggan kami ini. Sesekali
narsis juga tidak masalah. Berselfie dengan latar belakang menara Masjid
Raya Baiturrahman yang terbengkalai.

Ya.
Menara ini pernah sangat kokoh sebelum tsunami. Di antara kami pernah naik ke
puncaknya, melihat seluruh kota Banda Aceh bahkan kepulauan Sabang nan indah. Sayangnya,
bangunan di belakang saya ini sudah tidak seperti dulu lagi.

Setelah tsunami,
pintu menara tidak pernah dibuka lagi untuk umum. Selintas berita, kerusakan
yang terjadi cukup parah sehingga tidak dibiarkan masyarakat umum menginjaki
tangganya mencapai puncak tertinggi.

Menara
ini tetap kokoh. Dia pula saksi kengerian konflik dan tsunami Aceh. Menyaksikan
referendum
Aceh pada tahun 1999. Menemani ketakutan kami saat tsunami
di 2004 silam. Dan beragam kisah lain yang tidak bisa diucapkan olehnya.
Kisah
penting dari semua kisah manis itu adalah detik-detik saat azan berkumandang. Lima
kali dalam sehari. Sekali di hari Jumat. Takbir di dua hari raya. Panggilan Ilahi
adalah alunan merdu yang didengar menara ini.

Kokohnya menjulang udara juga
menemani kokohnya iman ribuan langkah yang memasuki Masjid Raya Baiturrahman,
tiap hari tanpa cela. Doa-doa yang dipanjatkan seakan-akan diamini oleh menara
bisu ini. Tiada yang tahu. Niscaya seluruh benda di Bumi sedang bersenandung
kepada-Nya.

Siapa
pun Anda, jika ke Banda Aceh, sempatlah melirik menara “usang” ini. Kesepiannya
tak bertepi. Kesaksiannya tak terdefinisi. Menari ini akan menjadi teman, smartfren bagi Anda; yang
memperdengarkan syahdu bumi Aceh melalui caranya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *