January 23, 2020

Kisah Wanita Diperkosa dan Hamil Seorang Diri

wanita diperkosa
Ilustrasi – loop.co.id
Aku
tidak tahu harus memulai dari mana. Aku tidak ingat dan tidak tahu apa yang
terjadi padaku dalam konsep ilmiah. Aku banyak lupa.

Kata orang aku tidak
waras. Orang-orang lebih banyak menjauhiku karena pikiran selalu tidak seimbang
dengan badan.

Aku mengerjakan ini tetapi pikiranku berada di tempat lain. Aku sedang
bersama seseorang tetapi kemudian aku lupa pernah mengenalnya.

Kukisahkan
tentang ini setelah 16 tahun. Aku malu? Oh tidak. Rasa malu itu tidak pernah
kurasa karena aku selalu memandang sama apa yang terjadi. 



Aku cuma tahu
orang-orang membicarakan tentangku dan tak lama setelah itu aku akan lupa. Orang-orang
bilang aku mengidap suatu penyakit, aku tidak merasa sakit apapun. Jiwaku baik
dan badanku sehat.
Enam
belas tahun lalu, pada malam yang enggan memihak kepadaku. Aku seorang diri di
rumah karena kedua orang tua sedang bepergian ke rumah saudara mereka.

Jangan kamu
tanya saudara dari sebelah siapa, Ayah atau Ibu, aku sungguh tidak
mengingatnya. Aku tidak hapal saudara dari pihak Ayah dan Ibu dengan baik
sebelum melihatnya langsung.

Aku hanya tahu mereka telah pamit usai magrib dan
tiba-tiba gerimis mulai turun. Saat itu rumah kami belum ada aliran listrik. Aku
duduk di sudut menghadap ke jendela dalam remang.

Aku menunggu Ayah dan Ibu
pulang. Gerimis yang mulai panik turun dengan sangat lebat. Malam yang pekat
tampak putih oleh hujan.

Pohon-pohon bergoyang di depan rumahku. Sebuah bayangan
melintas dan tiba-tiba telah ada di dalam rumah.

Dia
Amir, tetanggaku yang telah menikah. Istrinya sedang hamil dua bulan. Amir datang
bercakap-cakap dengan panjang lebar. Ia ingin menghiburku yang ketakutan
seorang diri.

Aku cukup senang dengan kedatangan Amir karena kami memang sudah
sering bermain bersama, sejak kecil kami biasa berdua ke mana-mana. Ia seperti
menerima kekuranganku dan membelaku jika ada anak-anak lain menghujat.

Perhatian
Amir kemudian baru kupahami betul sebagai seorang teman setelah ia menikah
dengan Mala. Aku, Fatimah yang malang ditinggal Amir karena pria itu memilih
wanita yang sempurna.

Aku berbicara saja tidak begitu jelas di hadapan banyak
orang.

Amir
duduk bersila di sampingku. Menghiburku yang sendiri. Aku tidak khawatir ketika
Amir mulai meraba-raba dan menjamah apa yang seharusnya tidak boleh
dilakukannya.

Aku pikir itu biasa saja dan tidak membawa pengaruh besar dalam
kehidupanku kemudian hari. Baru setelah Amir pulang, saat hujan reda, aku
merasakan sakit yang luar biasa di selangkangan.

Darah bercucuran dan aku mulai
panik. Aku takut kedua orang tuaku tahu apa yang telah terjadi. Aku mulai
membersihkan diri dan menangis menahan gejolak ini.

Pagi
hari yang dingin itu, aku cukup bahagia dan ingin segera menemui Amir. Namun kuurungkan
niatku karena begitu pintu terbuka, di depan sana Amir tengah bercengkrama
dengan Mala.

Sedikitpun Amir tidak melirik ke arahku. Aku tidak tahu sakit
seperti apa yang kuderita. Aku merasa dada sangat sesak.

Aku tak mampu menangis
atau pun berteriak. Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk
menjelaskan apa yang terjadi hingga dua bulan setelah itu aku mual-mual, panas
dingin dan ingin makan banyak.

Ibu
menghardikku dengan pertanyaan-pertanyaan. Sama seperti hari-hari sebelumnya,
Ibu tak pernah mengeluarkan kata-kata terindah kepadaku.

Ibu hanya mengeluarkan
kata-kata yang sama. Selalu itu saja.

“Saya
malu punya anak seperti kamu!” entah sudah berapa kali Ibu mengeluarkan kalimat
ini.

Aku kemudian paham itu kalimat pamungkas karena Ibu malu telah
melahirkanku sebagai seorang anak abnormal.

Malu
Ibu semakin tersirat di wajahnya begitu mengetahui anaknya hamil. Aku hamil
tetapi aku biasa-biasa saja melihat ini.

Aku mendengar orang mencemooh tapi aku
tidak tahu maksudnya bagaimana. Aku mendengar bentakan-bentakan Ibu tetapi aku
tidak mampu mencernanya dengan baik.

Aku menerima tamparan Ayah tetapi aku
tidak mampu membalas, dan untuk apa kubalas. Aku cuma bisa berujar satu kata.

“Amir..,”
Itu
saja. Dalam lirih dan perih. Dalam keadaan bahwa aku tidak sadar seutuhnya,
menurut mereka yang mendengar. Aku dibilang mengada-ada.

Aku tidak mabuk
alkohol tetapi pikiranku benar-benar tidak bisa kujalankan sebagaimana kamu
jalankan dengan benar.

Aku
terasing di rumah sendiri. Ibu dan Ayah telah menganggapku sebagai anak
durhaka. Dan Amir? Kamu ingin tahu tentang pria itu. Amir sama sekali tidak
menggubris aku yang telah dinodainya.

Amir tidak mengakui bahwa dirinya yang
telah merenggut keperawananku. Aku juga tidak punya bukti untuk menjelaskan
kepada siapapun bahwa Amir yang telah berbuat hina kepadaku.

Aku tahu orang itu
adalah Amir. Aku cukup mengenal Amir. Amir satu-satunya teman pria yang dekat
denganku dan hanya dia yang datang ke rumah malam itu.

Mala
melahirkan dan tak lama setelah itu aku juga melahirkan. Mala melahirkan anak
laki-laki, aku pun demikian. Anak laki-laki Mala banyak yang timang-timang tiap
waktu.

Aku laki-laki ku yang malang hanya ada di dalam pelukanku setiap waktu. Perlahan-lahan
Ibu iba. Ibu kemudian menaruh benci kepada Amir walaupun tidak diucapkan secara
terang-terangan.

Ibu mulai menutup pintu, menutup jendela, memalingkan muka
bayi tak bersalah itu, jika Amir melintas di depan rumah kami.

“Aku
tahu dia tak ikhlas!” selalu kata-kata itu yang keluar dari mulut Ibu jika Amir
melintas di depan rumah kami, sengaja atau tidak. Aku tidak paham maksud ikhlas
dari kalimat Ibu.

Aku akan lanjut menyusui agar bayi itu sehat dan cukup gizi. Aku
pun tidak tahu berapa lama bayi itu cuma berada di dalam rumah dan tak keluar
sama sekali.

Aku tidak mengadakan pesta aqiqah dan turun mandi
besar-besaran seperti Amir dan Mala. Aku bersabar di balik jendela mengintip
kericuhan tamu undangan di rumah Amir.

Anak laki-laki itu cukup senang dan
bahagia dipangku oleh banyak orang. Anak laki-laki ku, cuma menatap
langit-langit dengan mata berkedip dan bibir menyebutkan sesuatu.

Aku
tidak pernah mampu berkomunikasi dengan baik, tak akan pernah sampai kapan pun.
Aku lebih sibuk dengan dunia sendiri daripada mengurusi banyak urusan orang
lain.

Bayi itu menangis aku diamkan saja sampai Ibu yang menenangkannya. Semua kebutuhan
anak itu hanya Ibu yang tahu.

Aku
baru kelimpungan saat usia anakku tiga tahun. Ibu meninggal karena penyakit yang
aku tidak tahu namanya. Aku harus membesarkan anak seorang diri.

Aku tidak tahu
harus berbuat apa. Aku tidak bersawah seperti orang lain. Aku tidak punya kebun
di belakang rumah.

Aku tidak punya keahlian tangan seperti Mala yang pintar
menjahit. Aku tidak punya apa-apa selain Ayah. Ayah juga mulai sakit-sakitan. Tanggung
jawabku terbagi dua antara anak kecil dan orang tua. Anakku, Imam, tidak rewel
dan lebih banyak diam.

Imam seperti menyimpan rahasia cukup besar dan
menanggung beban teramat berat. Ayah lebih banyak maunya dan butuh dalam waktu
cepat.

Aku sangat kelelahan menghadapi tabiat Ayah dan sedih melihat Imam yang
tak banyak bicara. Hati kecilku merasa Imam akan sama denganku. Keturunan tak
akan jauh berbeda.

Aku memiliki IQ jongkok – begitu kudengar dari orang-orang –
dan Imam mungkin saja menerima harta karun itu dariku. Tanda-tandanya sudah ada
sehingga aku merasa sangat bingung untuk membuat Imam berharga.

Perlahan,
waktu terus bergulir. Aku kehilangan Ayah pada usia Imam tujuh tahun. Imam
masih seperti biasa, tidak banyak bicara dan akan mengeluarkan kata-kata jika
ia benar-benar butuh bantuanku.

Aku tidak bisa berdiam diri saja. Tidak ada
yang bisa kuharapkan selain bekerja lebih giat karena Imam telah masuk sekolah
dasar.

Aku bekerja apa saja. Aku mencuci dan menyetrikan baju orang lain yang
membutuhkan bantuanku. Dari satu rumah berpindah ke rumah lain. Tiap hari aku
mencuci dan menyetrika, kadang juga memasak.

Imam
tidak pernah bertanya tentang ayahnya sampai usia sepuluh tahun. Belakangan aku
tahu, Imam telah bosan dihina-hina teman-temannya di sekolah.

Anakku itu sangat
jauh berbeda denganku. Semua di luar kekhawatiranku. Sejak kelas satu sudah peringkat
pertama. Imam unggul dalam berbagai bidang studi dan olahraga, khususnya
sepakbola.

Anak-anak yang sering mengejek Imam kebanyakan perempuan. Hatiku terasa
begitu sesak begitu mengetahui Imam berteman baik dengan Aris, anak Amir dan
Mala.

Aku tidak tahu bagaimana cara melarang karena tiap kali ingin
kusampaikan, Imam dan Aris telah bermain di depan rumah. Mereka main hujan
bersama.

Mereka main mobil-mobilan berdua. Mereka saling menendang bola di
depan rumah jika tidak bermain di lapangan kampung yang jaraknya dua ratus
meter.

“Benarkah
ayah Imam sama dengan ayah Aris, Mak?”
Imam
yang pendiam selalu mengeluarkan kalimat tepat sasaran. Imam tidak akan
mengulang pertanyaan yang sama atau mengganti dengan pertanyaan lain sebelum
aku menjawab.

Imam akan bersabar menunggu jawaban dariku bahkan sampai
berhari-hari aku belum memberi penjelasan.

Imam yang pintar dalam banyak hal
sangat dewasa dan mudah mencerna apa yang disampaikan orang kepadanya.

Imam tentu
percaya omongan di luar sana dan melayangkan pertanyaan kepadaku untuk
memastikan saja. Tak lebih dari itu. Sebuah kepastian.

Mau tidak mau aku harus
menjawab walaupun di kemudian hari, sampai kapanpun, Amir tidak akan pernah
menjadi wali untuk Imam.

Amir tidak pernah mengakui Imam anaknya walau ia tahu
itu darah dagingnya. Amir tidak menikahiku sampai kini sehingga tidak ada
pertalian antara aku dengannya.

Dan terakhir, Imam lahir di luar pernikahan yang
sah.

Aku
diperkosa!
Oh,
baru di umur Imam 16 tahun aku berani mengeluarkan kalimat itu. Saat Imam tahu
ia lahir dari sebuah kekerasan. Saat Imam mengetahui lebih banyak persoalan
dariku.

Saat Imam menanggung beban seorang diri mengenai perwalian. Saat Imam
seharusnya dengan bangga mengenalkan kedua orang tua kepada calon istrinya
nanti.

Aku
menyelami apa yang ada di dalam pikiran Imam dari kerut di keningnya. Imam tak
pernah mengeluarkan sepatah kata pun. Imam mewarisi tabiat entah dari mana.

Bukan
dariku atau dari Amir. Imam lebih banyak berdiam diri saat harus melakukan
sesuatu yang berhubungan dengan seorang ayah. Imam bahkan berani tegas kepada
siapapun yang bertanya mengenai ayahnya.

Sorot mata Imam sulit kuartikan jika
melihat Amir. Imam tanpa memberikan isyarat benci atau suka kepada Amir. Imam
juga tidak pernah mau bertegur sapa lagi dengan Amir begitu ia mengetahui fakta
sebenarnya.

Tatapan mata Amir yang sungguh berbeda. Amir tampak menyesal dan
aku tidak butuh lagi karena Imam telah besar, kubesarkan seorang diri!

Hubunganku
dengan Amir tak pernah baik. Hubungan Imam dengan Amir tidak bisa kujelaskan,
mungkin Imam pernah berbicara dengan Amir di luar pengetahuanku.

Hubungan Imam
dengan Aris biasa-biasa saja. Mereka berdua tahu satu ayah. Mereka berdua
berbeda. Aris hidup dalam kemewahan. Imam sebaliknya.

Aris memenuhi segala
kasih sayang. Imam hanya memilikku seorang. Di sisi lain, mereka saling
melengkapi.

Mungkin pengaruh pertalian darah, mungkin pengaruh psikologis
karena sejak kecil sering berdua. Entahlah. Aku tidak tahu.

Aku
wanita malang di mata banyak orang. Aku seorang yang memiliki IQ rendah. Berhakkah
aku hidup bahagia? Paling tidak dengan Imam, anakku!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *