February 19, 2020
kehidupan gelap spg

Kehidupan Gelap SPG Ditawar Puluhan Juta Satu Malam Saja

Dia hanya satu, di antara berjuta kupu-kupu yang ingin cepat pulang ke kandangnya. Saya tidak tahu berapa banyak kupu-kupu serupa Dia yang merintih.

Menghentak-hentakkan kaki meminta pertolongan saat tubuh laki-laki ganteng. Gendut. Jelek. Gagah atau sejenisnya menindih tubuh Dia tanpa ampun.

Saya sangat awam tentang data perempuan seperti Dia yang merajuk-rajuk manja pada laki-laki di warung kopi. Atau tempat umum lainnya supaya membeli rokok dari mereka.

Saya hanya menulis tentang Dia yang termenung di salah satu warung kopi selepas dinasnya di sore hari. Dengan pakaian santai Dia menyeruput kopi Aceh yang membuatnya tak bisa tidur semalaman nanti.

“Kopi tidak berpengaruh pada saya, Bang!”

Lantas? Karena kemelut pikirannya yang ingin segera berlabuh ke tempat lebih aman yang membuat Dia tak bisa tidur. Tentang masa depan yang diungkit Dia walaupun dia mengaku begitu sensitif sekali membicarakan ini.

“Apakah ada yang mau dengan saya jika mereka tahu kisah ini?”

Saya? Diam saja.

Jodoh bukan urusan saya. Tetapi manusia selalu menuntut sesuatu yang normal. Yang lumrah dalam masyarakat. Yang diterima agama dan adat-istiadat.

Dia?

Profesinya mungkin benar, tetapi pekerjaan “sampingannya” tidaklah menarik untuk diperbincangkan. Banyak hal yang membuat saya enggan mengetahui lebih banyak lebel perempuan malam ini.Pilihan hidup boleh apa saja namun urusan rejeki tetaplah ada.

Profesi sebagai perempuan panggilan entahlah berada di posisi berapa dalam kitab yang isinya hanya perempuan saja di hati saya. Bukankah Dia masih bisa bertahan hidup sebagai SPG rokok saja?

2 thoughts on “Kehidupan Gelap SPG Ditawar Puluhan Juta Satu Malam Saja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *