January 23, 2020

Kalau Jalan-jalan Lagi, Bawa Pulang Pesawat Terbang Ya

 

Salah satu momen berlibur bersama kedua sepupu di bibir pantai.

“Kalau
jalan-jalan lagi, bawa pulang pesawat terbang ya!”
Haikal
sudah mulai request oleh-oleh begitu tahu saya akan traveling. Haikal
yang berusia tujuh tahun begitu peka dengan makna jalan-jalan. Tentu, sepupu
saya ini telah dimanjakan pada hari-hari sebelumnya. Seiring waktu, usia yang
bermain, banyak yang dilihat, merasakan banyak persoalan, anak-anak cenderung
mudah meminta. Wajar sih karena saya juga memberi, seperti awal
September saat saya ke Bali, Haikal sudah jauh-jauh hari minta dibelikan
pernak-pernik yang dimauinya, padahal waktu itu saya belum memegang tiket ke
Denpasar.

“Jangan
beli baju lagi, helikopter atau pesawat!” Meskipun, saya juga membeli baju
bermotif Bali. Memang, saya tidak membeli pesawat atau helikopter, namun sepeda
unik yang saya dapatkan cukup melegakan hatinya. Jika sebelumnya oleh-oleh itu
langsung patah-patah, berserak ke mana suka, kali ini Haikal benar-benar jeli
menjaganya.
Keinginan terbesar Haikal adalah pesawat terbang tetapi sepeda ini tidak membuatnya kecewa.
Sekadar
oleh-oleh saat berpergian, saya masih bisa menyanggupinya. Namun urusan
pertanyaan dan pernyataan lain, saya hanya bisa menggantung tawa.
“Kapan
ya bisa naik pesawat?”
“Mau
naik pesawat!”
“Mau
lihat pesawat!”
Imajinasi
anak-anak terlalu manis untuk dilupakan. Haikal pun demikian. Terlebih saat
satu orang saja di dalam sebuah keluarga pernah merasakannya, anak-anak
cenderung mencatat bahwa keluarga mereka lebih hebat daripada teman-temannya. Haikal
sudah pandai bersilat lidah saat bersama teman-teman, dengan bangga menceritakan
bahwa saudaranya telah pulang naik pesawat.
Hati
teriris mendengar keinginan Haikal untuk dapat naik pesawat. Bukan karena
Haikal hanya seorang sepupu, lebih karena saya selalu ‘dibawa orang’ untuk naik
pesawat. Salah satu berkah dari menulis yang tidak bisa saya abaikan. Namun,
urusan saya dengan Haikal dan Wilda, kakaknya, tidak usai begitu saja. Sampai
saat ini, saya memang belum bisa menerbangkan mereka ke mana-mana. Keliling-keliling
kampung, jalan-jalan sore, maupun acara besar seperti 17 Agustus, mereka berdua
kerapkali menjadi model terbaik dan penguras isi dompet.
Inilah yang menjadi liburan terbaik!
“Anak
kamu ya?” tanya orang yang saya kenal begitu Haikal dan Wilda duduk manis di
belakang. Saya sadar betul bahwa kedua kakak beradik ini sangat dekat secara
personal. Apapun yang saya makan selalu saya sisakan untuk mereka berdua. Soal
liburan – lebih tepatnya jalan-jalan santai ala kami– mereka selalu mengekor.
Saya
membuat keduanya senang, itulah liburan terbaik. Bahkan, saya pernah berniat
untuk membawa Haikal suatu saat nanti, naik pesawat seperti yang diimpikannya.
Jelang Buka Puasa
Hampir
tiap tahun, jelang buka puasa adalah waktu terbaik untuk jalan-jalan. Ini liburan
yang paling mengasyikkan di mana saya bisa ke tempat-tempat menarik bersama
keduanya. Baik Haikal maupun Wilda begitu antusias tiap sore. Suntuk di rumah;
main mobil-mobilan, nonton Upin & Ipin atau Adit, Sopo & Jarwo, main
bola, main boneka, bertengkar, sampai menangis, jalan sore menjadi alternatif
terbaik.
Jalan
sore di bulan Ramadhan hampir sama dengan liburan pada musimnya. Suasana Aceh
yang ramai jelang berbuka tidak hanya ditandai orang-orang yang lalu-lalang
saja, para penjual menu berbuka pun terlihat di sepanjang jalan. Sesuai selera,
kita bisa mampir ke salah satu lapak. Haikal yang tidak puasa sama dengan orang
berpuasa, lihat es campur mau makan, kelapa muda juga mau, martabak pun mau. Ngidam
mata yang sebenarnya tidak akan habis dimakan apabila dipaksa beli. Wilda yang
puasa, jarang minta banyak karena selera makannya tidak seperti adiknya.
Liburan
kami jelang buka puasa menuju ke tempat-tempat yang asyik untuk nongkrong.
Haikal yang seleranya lebih mainstream sukanya lihat orang mancing,
perahu yang terparkir atau pelabuhan yang belum dibuka untuk publik. Mau tidak
mau, Wilda harus ikut daripada digebuki oleh adiknya.
Berdiri di perahu nelayan dengan rasa khawatir akan tenggelam.
Bibir
pantai juga menjadi salah satu objek liburan kami. Deru ombak dan matahari yang
terbenam menjadi dua hal yang menarik. Haikal dan Wilda sama dengan anak-anak
lain, suka sekali bermain di lidah ombak yang ganas. Sebisa mungkin saya
menjaga keduanya untuk tidak mandi laut. Di kiri dan kanan adalah orang lain,
anak-anak, anak muda, maupun orang tua, yang sama memetik santai jelang
berbuka.
Pelabuhan yang belum dibuka untuk publik ini menjadi objek menarik dalam mengambil foto.
Pekan Kebudayaan Aceh
Ini
liburan yang sebenarnya jika mengambil makna dari definisi secara harfiah. Pekan
Kebudayaan Aceh, Kabupaten Aceh Barat dilaksanakan akhir Agustus. Sudah jauh
hari Haikal ribut sendiri untuk ke PKA. Apalagi saat anak tetangga sudah
pulang, berbagi cerita dan kaos oblong yang telah disablon, Haikal makin getol
memaksa ke PKA.
Liburan
memang ajang untuk menghabiskan uang. PKA yang ramai sengaja kami curi waktu di
pukul 10. Jam segini menjadi waktu terbaik untuk anak-anak berkeliling, saya
juga lebih leluasa mengenalkan Haikal dan Wilda pada budaya Aceh, masuk ke stand
polisi, keluar stand tentara atau memakai seragam pemadam kebakaran. Nilai edukasi
yang tinggi di PKA menjadi liburan paling menarik selain isi dompet yang terkuras
perlima menit sekali. Es krim yang sudah dimakan sekali, minta lagi tiga puluh
menit kemudian. Baju tentara yang dijual lebih mahal, wajib beli jika tidak
Haikal akan ogah ngapa-ngapain lagi dan tidak mau diajak jalan ke
mana-mana. Haikal yang tidak mempan dirayu juga meminta jam tangan antik. Sesi akhir
dengan makan bakso dua porsi. Wilda lebih banyak menurut setelah dipasang inai
dan kaos oblong dengan tulisan PKA.
Wilda sedang dipasang inai di PKA dengan senangnya.
Liburan
di PKA menjadi sebuah keharusan bagi saya. Anak-anak yang terbiasa dibawa ke
tempat-tempat seperti pantai maupun taman bermain lainnya, mesti dikenalkan
dengan nilai-nilai budaya dan edukasi. PKA yang dilaksanakan di daerah cukup
baik untuk memupuk kesadaran kepada anak. Angan-angan anak-anak, juga Haikal,
tentu ingin memegang senapan laras panjang, pegang pistol, lihat polisi secara
langsung, dokter dengan senyumnya, maupun aktivitas lain. Praktik langsung ini
mendekatkan anak-anak dengan kehidupan yang sebenarnya.
Awalnya,
Haikal sangat malu-malu untuk menyentuh senapan di stand tentara. Wajar karena
ramai anak-anak lain dan orang tua. Bujuk rayu saya akhirnya membuat Haikal mau
mengangkat senapan dan berujar, “Berat sekali!!!”
Akhirnya berani juga bergaya dengan laras panjang.
Di
stand lain, Haikal sudah lebih berani dan antusias. Saya kenakan baju karet
yang biasa dipakai oleh tim sar, Haikal tidak lagi celingak-celinguk. Saya dudukkan
di atas perahu dan memberikan dayung, Haikal sudah mau bergaya.
Ayo, siapa yang butuh pertolongan!
Haikal
berubah jadi banyak tanya. Siang hari yang semakin panas tidak membuatnya lelah
seperti Wilda. Haikal bahkan memutar balik melihat patung polisi dan tentara
yang menjadi ikon di depan stand masing-masing. Liburan ini tidak hanya
menumbuhkan keingintahuan tetapi juga keberanian. Materi dan tenaga yang
terkuras tidak seberapa dibandingkan dengan tawa yang terlihat jelas di wajah
kedua anak ini.
Saya
memang bukan orang tua mereka, sejenak bersama keduanya membuat hari-hari saya
berbunga dan lelah karena aktivitas seharian tidak lagi terasa. Bagi saya,
anak-anak butuh liburan yang memiliki nilai edukasi selain bermain saja. Banyak
kisah liburan saya bersama kedua kakak beradik ini namun tidak cukup untuk
diceritakan di sini.
Mungkin,
saya benar bisa liburan bersama Haikal suatu saat nanti, menonton MotoGP dan
kemenangan Marc Márquez yang memesonanya tiap minggu. Haikal tak akan ke mana-mana sebelum
MotoGP usai di hari Minggu. Ia juga mengoleksi kaos yang sama dengan Márquez yang dipakai saat
menonton MotoGP!
Haikal yang bergaya seperti Márquez, semoga suatu saat kita bisa menyaksikannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *