January 22, 2020

Suatu Ketika, Guru Komputer Ajarkan Siswanya Ngeblog

Laboratorium
komputer begitu pengap ketika saya membuka kuncinya. Gorden berwarna biru
melambai-lambai mesra kepada angin yang masuk melalui – entah dari mana. Sakelar
lampu saya tekan ke atas, seketika remang yang menjadi-jadi di pukul 07.30 itu
mengubah posisi duduk ke lebih terang. Komputer server saya hidupkan dalam beberapa menit menyala karena termakan
usia. Mungkin terlalu banyak data tetapi juga tidak karena di sana hanya
kumpulan tugas-tugas siswa dalam bentuk Microsoft Word, Excel maupun Power
Point. Serta, beberapa slideshow yang
saya simpan untuk mendukung pembelajaran.

Saya
termangu beberapa detik, menelusuri tiap sudut yang kusam dengan warna dinding
dan berdebu di atas monitor maupun meja komputer klien. Lantai keramik seolah-olah
tak pernah kena air pel. Mungkin juga diabaikan karena ini tempat ‘umum’
sehingga suka-suka piket kapan mau menyapu dan mengepel. Saya sekonyong-konyong
berteriak kepada beberapa siswa yang lewat, terburu, mengejar hapalan pagi di
perkarangan sekolah, untuk mengambil sapu di kelasnya. Entah tak mendengar atau
terburu, siswa itu tak kembali dengan sapu di tangannya.
Hal biasa,
jika engkau diabaikan siswa di
sekolah. Bahkan, bicara anak-anak zaman now
yang engkau sebutkan terlalu sibuk
dengan media sosial dan game online.
Maka, jangan salahkan guru jika dalam keseharian mereka lebih banyak ‘bengong’
di dalam kelas daripada menerima pelajaran singkat. Demikian pula hari itu,
bahkan hari-hari yang lewat nantinya, saya menunggu dan terduduk diam tanpa
irama menanti siswa datang.
Tiap kali,
saya berujar, “Jika pintu lab terbuka, langsung masuk saja!” namun berkali-kali
pula saya diabaikan oleh siswa sendiri. Tiap pagi, saya terbirit-birit mengejar
mereka ke kelas, ke kantin, bahkan ke parkiran sepeda motor, “Ayo masuk ke
kelas!” dan seribu alasan mereka “Belum makan,” atau mungkin, “Belum datang,”
Saya
teramat terbiasa dengan deadline
sehingga mengabaikan yang selalu excuse terhadap
apapun. Sebut saya suatu ketika, “Waktu itu kita yang kejar, di antara seratus
cuma seorang saja yang selalu terlambat, maka saya buang keterlambatan itu!”
Dinamika,
berbagai alasan, demikianlah keadaan di sekolah, tidak hanya di sini, tetapi di
mana-mana saya yakin akan serupa. Mungkin di sekolah engkau yang hebat, pintu pagar langsung ditutup pukul delapan.
Namun, di sekolah kami di rimba ‘belantara’ pintu pagar terbuka dari pagi
sampai pulang sekolah. Maka, jangan engkau
tanya betapa mudahnya siswa datang terlambat ke sekolah. Tetapi, patut engkau sesali satu hal; adalah dia lagi, dia lagi, dia lagi, yang
memiliki peringkat nomor satu atau dua terakhir dari rangking sebenarnya di
dalam kelas!
Tiba saya
memulai. Entah itu ricuh. Entah komputer menyala dengan sendirinya. Entah
mungkin pintu laboratorium akan berderit sebentar lagi menerima seorang siswa
yang terlambat. Pelajaran komputer tak lain sebuah mata uji idaman siswa-siswa
saya. Alasannya tentu saja bersenang-senang dengan perangkat keras dan lunak di
depan mereka. Di waktu senggang usai materi pokok, saya biarkan mereka
melakukan apa saja dan mendiamkan mereka main game sebatas bongkar-pasang kartu atau ganti baju boneka Barby. Toh, game-game sekelas DotA
(Defense of the Ancients) atau GTA (Grand Theft Auto) tidak akan pernah ada di
komputer sekolah.
Meski
nanti, di Kurikulum 2013 pelajaran ini dikucilkan karena dianggap ‘tidak
penting’ walaupun ujian akhir pakai komputer. Catatan penting bahwa – kami yang
paham siswa-siswa bisa pakai komputer atau tidak bukan peraturan seenaknya
saja. Catatan lain adalah, pelajaran komputer itu praktik – psikomotor
– bukan teori dari Bumi ke Bulan
. Tanpa praktik jangan coba-coba,
bahkan orang yang mengaku bisa komputer beberapa bulan tak pegang lenyap sudah
ilmunya!
Dan saya
adalah guru komputer meskipun bukan tamatan sarjana komputer. Di ruang yang
sering pengap, saya menghardik, saya menghujat, saya mencambuk siswa, “Paling
tidak kalian bisa mengetik!” atau juga, “Lulus dari sini kalian bisa hidupkan
dan matikan komputer!” bagaimana jika
pelajaran ini dihilangkan? Ya sudah, merabalah mereka yang tak punya komputer
dan biaya les yang mahal!
Di tingkat
akhir, kelas tiga menengah atas. Saya mencambuk siswa-siswa dengan pelajaran
penting nggak penting. Mungkin engkau
mengira pelajaran ini tidak penting sama sekali karena tidak akan mengangkat engkau yang hebat jadi pegawai. Mungkin engkau menganggap materi ajar ini
hanyalah isapan jempol belaka, tetapi tampak nyata bahwa ‘mereka’ di sana yang
tidak bergantung hidupnya dari gaji pemerintah dan perusahaan besar, adalah
yang tiap hari berada di depan komputer. Mereka adalah konten kreator;
orang-orang kreatif dalam membuat tulisan, animasi bahkan video.
Dari sini
saya memulai sebagai materi ajar kepada siswa-siswi. Saya ingin membuka jalan,
memberi tahu, mencoba mereka cicipi dan rasakan nikmatnya nanti. Jika engkau bertanya, sebelum itu saya jawab
saja, belajar menjadi konten kreator di luar sana, di kota-kota besar, telah
mahal biayanya. Saya hadirkan kemudahan. Membentak dengan beberapa pandangan.
Menatih mereka mencari tahu dan mengajar yang tidak tahu.
Mungkin
lagi, engkau berkilah. Siapa sih yang tidak bisa internet zaman ini?
Oh, mungkin saja maksud engkau itu
adalah smartphone dengan game online, Youtube, media sosial,
baca-baca berita, mengunduh dan menginput data. Ini hanyalah bersifat
konsumtif. Kita pemakai. Kita penikmat. Tetapi, bukan pemberi ‘suaka’ terhadap
konten-konten yang selama ini engkau
pamerkan kepada banyak orang.
“Kalian
bisa jadi begini dan begitu!” ujar saya sebagai pemantik semangat pagi. “Lulusan
kuliah di daerah kita banyak sekali, kampus tempat kuliah juga begitu banyak,
namun hanya sebagian dari mereka yang kemudian mendapatkan pekerjaan layak,”
Siswa-siswa
menyimak. Entah tahu arahnya ke mana. Entah bingung. Saya mau, mereka paham
karena kelas dua belas adalah masa paling rentan untuk mengubah posisi hidup
menjadi lebih baik. “Tak sedikit dari lulusan kampus terbaik sekalipun, pulang
kampung halaman, menanti tes pegawai negeri atau menjadi tenaga honorer seperti
saya!”
Mulai
panas, gaduh seketika. “Kalian mau memilih yang mana? Apakah menanti dapat
pekerjaan dengan terus meminta jajan kepada orang tua? Atau SPP kuliah terus
dibayar oleh orang tua?”
Maka
jangan. “Jadilah seorang yang kreatif, gunakan internet sebagai sarana untuk
itu!”
“Karena
mudah, kamu bebas mau duduk di warung kopi mana di Aceh ini karena internet
gratis dalam secangkir kopi!”
Mulailah
cara yang mudah itu. Engkau tentu
tahu Raditya Dika, bukan? Jauh sebelum terkenal sebagai selebriti atau mungkin
juga Youtuber kondang, pria ini adalah penulis blog rasa bunga-bunga asmara yang lucu dan nikmat. Kumpulan kisah
lucunya di blog kemudian diterbitkan
menjadi buku, best seller, lalu merambahlah
dia ke Youtube dengan konten-konten serupa. Meledak. Kini, dia dikejar-kejar
‘setoran’ karena kreatifitas tanpa batas.
Saat saya
mulai membuka slide Power Point,
sedikit khawatir bahwa siswa-siswa di depan adalah mereka yang memiliki
cita-cita pemain bola andal, dokter bedah plastik atau guru dengan tunjangan
sertifikasi berlimpah. Saya membuka tabir, karena masa ke masa, belum tentu apa
yang diidamkan tercapai maka mulailah dengan ‘sedikit’ aroma berbeda. Saya
ingin mereka membuka mata, ragam profesi tidak membatasi dalam membuat konten
di internet.
Materi
singkat saya berikan sebagai candu untuk mereka memulai. Lantas, praktik
langsung mulai dari membuat surat elektronik sampai akun blog terjadi begitu saja. Mudah. Simpel. Ringan dan gesit. Namun,
lepas dari itu adalah konten. Engkau mau
memasukkan apa ke dalam blog yang
indah itu? Engkau ingin berbagi
tentang apa?
“Kamu tulis
tentang lutut yang sakit setelah main bola kemarin sore!”
“Tulis saja
kamu ditinggal pergi pacar karena telah gemuk!”
“Nggak
masalah. Mulailah dari hal-hal terdekat denganmu, biasakan dengan itu sebelum
kamu benar-benar ‘profesional’ nantinya!”
Kita,
kadang terlarut dalam khayalan tingkat tinggi, ingin langsung terbang padahal
sayap belum utuh. Saya mengubah pandangan itu, kepada siswa-siswa ini. Biar
mereka mulai dari awal. Biar mereka merasakan perihnya karena dengan itu indah
pada masanya akan terjadi. Saya ‘pamer’ sedikit kepada engkau bahwa masa eranya Multiply, warna-warni template sering saya ganti untuk mengindahkan tulisan berupa puisi,
curahan hati patah hati, maupun cerita pendek yang gagal dipublikasikan media
massa. Multiply raib entah ke mana, tulisan-tulisan saya ikut dengannya.
Beranjak
waktu, saya mengenal Kompasiana sebagai blog
warga, lalu BlogDetik, sampai kemudian benar-benar aktif menulis di akun
personal menggunakan Blogger. Waktu terus berpacu, saya terus mengejar personal branding dalam dunia literasi
maya yang kian hari kian digempur oleh konten-konten beragam dari blog individu maupun kanal berita. Kemudian,
travel blogger menjadi salah satu
sosok yang dipandang indah oleh pemberi rejeki kepadanya. Blog-blog traveling
bertebaran di mana-mana. Saya bukan traveler,
saya guru, maka sedikit sekali pelajaran yang bisa dibagikan tentang
perjalanan.
Makin ke
sini, blog komunitas yang menawarkan
pembayaran menggiurkan tak bisa dielak. Jika akun blog personal adalah suka-suka lalu dapat hadiah, maka saya beralih
ke UC News untuk mendapat pemasukan dan ke Steemit untuk membangun komunitas
lain yang – mungkin – suatu saat bisa ‘kaya raya’ dengannya!
Perjalanan
panjang. Melelahan. Saya ingin berhenti. Tapi, engkau tahu? Sekali engkau candu
dalam menulis – membuat konten lainnya – maka tak mudah untuk meletakkan ‘pena’
itu!
Pada
siswa-siswa di sekolah saya minta izin libur beberapa hari setelah menerima e-ticket sebuah perjalanan dari buah
karya. Kembali dengan siswa-siswa, saya meminta mereka menjadi objek foto
karena permintaan sponsor atau sedang ingin menulis sesuatu tentangnya. Maka,
wajar jika saya tantang mereka untuk membuahkan karya, melalui blog, perlahan-lahan sebelum nantinya
menuai hasil yang sempurna.
Suatu
ketika, guru komputer mengajar siswanya ngeblog,
mungkin tidak wajar karena saya bukanlah ahli CMS, master Google Adsense, peraih
keuntungan besar dari UC News atau Steemit, juga bukan guru Bahasa Indonesia
yang paham sekali kaidah kepenulisan. Saya adalah saya, begitu saja dan
mengajarkan dari pengalaman yang entah diterima atau tidak.
Jika engkau membaca ini dan menganggapnya
sebuah kecemasan, engkau belumlah
melihat betapa cemasnya siswa-siswa tentang masa depan mereka. Saat lapangan
pekerjaan makin rumit, jalan itu menjadi terang dengan konten kreator. Engkau melarang materi ini, saya tidak
mau siswa-siswa tidak memiliki bekal nantinya. Paling tidak, jika mereka
kuliah, ada cara untuk menutupi SPP dan biaya makan sehari-hari!
Ketika guru
komputer mengajar siswanya ngeblog,
ketika itu pula saya tahu perjalanan mereka masih sangat panjang. Begitu tirai
jendela laboratorium komputer saya tutup, pintu dikunci kembali, siang telah
terik, saat itu pula catatan dari sebuah pengalaman dimulai!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *