January 24, 2020

Guru Honor, Mereka yang Bodoh Tidak Beruntung

Begitu sebut pria setengah baya yang tidak kuketahui namanya. Aku diam dalam alunan lagu-lagu dangdut Aceh di perjalanan pulang dari Banda Aceh. Ingin sekali aku hantam mulut pria itu dengan pedang tertajam abad ini. Namun, aku tidak mampu berkata banyak. Aku juga tidak menaikkan ke permukaan bahwa diriku juga seorang guru honorer. Nanti, aku akan semakin terhina di matanya, aku akan disebut ‘mereka’ yang bodoh dan tidak beruntung, tidak seberuntung dirinya yang telah mengabdi puluhan tahun sebagai pegawai negeri sipil. Dan aku, tidak meratapi nasib karena ocehan rendahan dari dirinya yang menua dan berpendidikan tinggi. Bagiku, dia hanya bergurau atas dasar kebodohan dirinya sendiri yang belum kesampaian.
Pembagian hadiah lomba blog yang diselenggarakan untuk siswa kelas XII, lomba diadakan seadanya dan hadiah berupa buku-buku koleksi pribadi.
Tak sengaja, obrolan pria
setengah baya itu dengan temannya yang lama tak bertemu. Asap rokok mengepul ke
seluruh mobil yang kami kendarai. Santai sekali pria setengah baya
berpendidikan tinggi dengan status pegawai negeri ini membuat batuk kepada
balita di depan kami. Balita itu berkali-kali mengeluh hidungnya perih namun
tak peka juga pria setengah baya itu untuk iba di ego dalam dirinya. Aku menarik
masker putih dari dalam ransel di depan, kututup mulut dan hidung untuk tidak
terinfeksi penyakit dari pria setengah baya itu. Sakit hatinya boleh saja
kudengar kepada ‘mereka’ yang bodoh dalam status guru honorer.
Bermula dari sebuah tanya dari
temannya yang lebih muda, pria setengah baya itu mulai menggebu-gebu dalam
kenaifan hatinya. Tanya temannya, “Bang, tahun ini apakah tidak dibuka tes
CPNS?” tanya yang lumrah dan biasa saja – mungkin – karena temannya itu bekerja
di swasta dan pria setengah baya itu sebagai pegawai negeri sipil, dianggap
lebih paham isu ini.
Emosi meledak, asap rokok mengepul
ke seluruh mobil, pria setengah baya itu menjawab, “Kuota CPNS sudah diisi oleh
guru-guru honorer yang bodoh itu!”
“Bagaimana maksudnya itu, Bang?”
“Guru-guru bodoh itu minta
diangkat jadi CPNS, maka tak ada alokasi bagi mereka yang pintar baru lulus
kuliah ikus tes!”
“Mana bisa, Bang, mereka disebut
bodoh?”
“Jika tak bodoh mereka sudah
lulus CPNS waktu itu tes!”
Kan tes CPNS sudah tak dibuka tiap tahun, Bang!”
“Ya mereka bodoh kenapa tak lulus
waktu itu?”
Semburat emosi yang mendalam, oh,
bukan, semburat itu adalah sifat merendahkan dari nada, mata dan semua yang
kubaca dari pria setengah baya itu. Dadaku berdetak tak keruan. Aku mendekam
dalam amarah yang meledak ke mana-mana. Aku tak berhak disebut bodoh olehnya. Aku
tidak mau disebut tidak beruntung oleh dirinya yang sama sekali tidak
mengetahui apa yang kurasa dan kualami bahkan prestasi apa saja yang pernah
kuraih, di luar batas aku sebagai guru honorer yang bodoh menurutnya.
Perjalanan kami masih panjang untuk
sampai ke Meulaboh, Aceh Barat. Lima jam dalam dekapan kata-kata pria setengah
baya itu akan menjadi candu yang memabukkan. Sejujurnya, aku sudah tidak tahan,
aku ingin menghempaskan sepi ke dalam tidur, aku ingin membunuh sedih dalam
mimpi-mimpi, namun suara terbahaknya membuatku terbengkalai dalam mata
terbelalak. Aku sangat ingin melepaskan diri dari cengkraman emosi yang dia
bangun sendiri untuk menjatuhkan guru honorer yang bodoh dalam pandangannya. Aku
sengaja diam karena tidak ada pembelaan yang mesti aku curahkan ke dalam semua
amarah yang barangkali tak sengaja dilontarkannya.
Aku guru honorer, lalu aku harus
berbuat apa sampai diakui oleh ‘mereka’ yang mengatasnamakan ‘pria setengah
baya’ dengan pengalaman hidup lebih banyak dari kami. Keberuntungan hidup tak
selalu berada di sisi keajaiban menjadi pegawai negeri sipil dengan kebingungan
tiap bulan. Guru honorer malah tidak ambil pusing saat gaji tidak ada karena
sudah segitu hasil jerih payahnya. Tak ada urusan dengan bank, tak ada ketukan
pintu dari penagih utang, tak ada keelokan tubuh dengan pakaian mewah dengan
bayaran bulanan agar lunas. Namun hidup seadanya, pasrah kepada keberuntungan
tidak berada dalam garis hidupku.
Aku guru honor, lalu aku menulis
dan melanglang buana ke tanah basah milik mereka yang bahagia tanpa
mengeluarkan uang dari hasil mengemis sebagai guru honorer. Aku tidak tahu
bagian mana dari keberuntungan yang belum kuraih. Aku menari di atas tanah
basah karena segitulah lingkaran yang mampu kutarikan. Aku melangkah di jejak
langkah setapak seukuran tubuh, karena begitulah kesanggupan yang kudapatkan.
Aku bodoh? Aku tidak tahu. Aku tidak
memahami dengan baik ucapan pria setengah baya itu. Akan diriku yang kini
berada di titik nadir, sebentar ditendang akan jatuh ke jurang malapetaka, maka
sebenarnya ucapan pria setengah baya itu benar adanya. Kenapa aku mengatakan
demikian, karena tanpa kusebut pun  di
mana-mana posisi guru honorer adalah ‘hina’ dalam berbagai kacamata. Anggapan
yang bertele-tele, keberuntungan yang tak ada, menjadi sebuah petaka untuk guru
honorer di mata ‘mereka’ yang sempurna cara hidupnya. Namun, begitu guru
honorer berprestasi di luar pagar sekolah, adalah sebuah ‘ejekan’ bahkan
dianggap angin lalu karena guru honorer itu ‘tidak bisa apa-apa’ melainkan
mengajar banyak jam di sekolah – bahkan melebihi guru pegawai negeri itu
sendiri, dan juga mengajar tidak sesuai dengan ijazah strata satu yang
dimilikinya.
Kebodohan yang kubuat sebagai
guru honorer karena tidak seberuntung mereka yang telah menjadi pegawai negeri.
Aku tidak mau membela diri karena benar saja kami adalah ‘mereka’ yang
dilingkari oleh kebodohan bertubi-tubi. Meski, apa yang telah kuperbuat
bersarang di ingatan dalam waktu lama tetapi kondisi di mana ‘kamu belum
beruntung’ karena tidak memiliki slip gaji adalah petaka bagi mereka yang tiap
bulan menandatanganinya.
Pria setangah baya itu mungkin
sedang tertidur nyenyak saat ini, tetapi bagiku, perkataannya adalah jawaban
atas sendu berkali-kali. Aku bodoh, kami bodoh, lantas bodohkah anak didik yang
diajarkan mata pelajaran oleh guru honorer? 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *