January 22, 2020

Guru Gamer, Kenapa Tidak?

Banyak cara untuk tergiur dengan game. Bukan faktor keberuntungan seperti filosofi hidup yang selalu digaungkan oleh mereka yang paling bahagia di dunia. Dunia game yang gemerlap hadir di sisi lain hati seseorang karena ingin mendapatkan hiburan, ingin mendapatkan tantangan bahkan penasaran terhadap trik demi trik si pencinta game dalam tubuh tokoh yang dimainkan. Banyak pula pilihan game yang bisa dipilih menjadi alternatif bagi siapa yang baru memulai atau sudah profesional di dunia gaming. Mereka yang mendapat jatah amatir akan bersenandung dengan game kelas ‘teri’ atau merenggut anak bawang di game kelas atas yang selalu kena peluru atau sasaran kibasan pedang lawan. Mereka yang bergelar gamer profesional telah malang melintang di dunia persilatan untuk mendapatkan pundi-pundi sampai miliran rupiah.
Saya pernah berujar – bahkan
selalu berujar pada tiap kesempatan – kepada siswa dan siswi di sekolah, “Jika kalian ingin jadi bandit, jadilah
bandit yang sebenarnya jangan setengah-setangah!
” atau “Jika kalian ingin jadi gamer, jadilah pemain
ulung jangan setengah jadi!
Guru gamer, kenapa tidak?
Memang, ini tidak lantas menjadi
api yang meledakkan tabung reaksi di dalam kelas. Mereka yang mungkin tidak
tersentuh dengan ucapan saya, atau menganggapnya angin lalu tidak mudah
memutarbalikkan fakta bahwa di lingkungan kami baru Play Stations (PS) yang
mudah mereka mainkan. Alasan utama yang kemudian menjadi kuat adalah tidak
tersedia sarana mendukung agar mereka mampu bermain atau menjadi pemain ulung
dalam sebuah game tingkat dewa. Belum
lagi berbicara orang tua yang tidak mau membeli notebook untuk mereka bermain game
karena tabu soal gamer bukanlah
pekerjaan mengingat tidak ada kantor yang dihinggapinya atau gaji bulanan yang
berada di angka yang sama tiap bulan.
Saya lalu menangkis bahwa profesi
gamer telah menjanjikan dengan
menyebut beberapa gamer Indonesia
yang telah menang di banyak penghargaan dunia. Nama seperti Clarissa Punipun
maupun Chandra Liow masih sangat asing bagi mereka. Meski, keduanya dikenal
sebagai gamer dan Youtuber terkenal
di Indonesia. Lalu, saya memulai imajinasi bahwa dalam menciptakan satu tokoh
atau mengalirkan ide cerita dibutuhkan tim yang kuat agar permainan terbentuk.
Cerita Strong Woman Do Bong-soon saya sisipkan untuk mengawali bagaimana
prosesnya sebuah game. Drama Korea
Selatan yang dibintangi oleh Park Hyung-sik, Park Bo-young dan Ji Soo ini
mengangkat tema tentang proses kreatif seseorang menciptakan game. Hyung-sik sebagai pemilik
perusahaan game memiliki karyawan
yang kreatif dan menyeleksi ide-ide sebelum dijadikan sebuah game. Proses yang tidak mudah ini saya
paparkan untuk membuka jalan bahwa permainan yang selama ini siswa saya mainkan
tidak seperti menghadirkan ice cream di
tengah terik matahari.
Lalu, mulailah kami bercerita
tentang DOTA 2, Call of Duty: Advanced Warfare, Grid 2 sampai Games of Thrones.
Semua punya cerita dan siswa saya terlibat di dalamnya melalui penyewaan PS di
sekitar tempat tinggal mereka. Games yang
telah saya sebutkan lahir untuk versi desktop
setelah melewati penyempurnaan di banyak bagian. Misalnya, grafis yang lebih
cerah, kualitas game yang semakin
baik sehingga hanya bisa dimainkan melalui notebook
dengan spesifikasi tinggi. Saya menyambung semua bagian yang diceritakan oleh
siswa yang membuat mereka berpikir keras, kenapa saya tahu, mengapa saya
mengerti dan bagaimana saya paham soal permainan mereka sedangkan game itu bukan bagian dari kehidupan
seorang guru.
Mungkin, sudah begitu pemikiran
mereka di mana guru bertugas mengajar mata pelajaran dan menyiapkan segala
kebutuhan yang berkenaan dengan sekolah. Barangkali, mereka beranggapan tidak
pantas seorang guru mengetahui seluk-beluk game
sampai memainkan game tertentu. Tetapi,
saya tahu dan ingin membuka memori mereka bahwa gamer yang serius bisa menjadi ‘sesuatu’ di suatu saat nanti. Hanya
saja, gamer ini butuh batu loncatan
untuk mencapai taraf tertinggi agar mampu bersaing dengan gamer lain.
Guru Gamer, Butuh Notebook Kelas Dewa
Kini, bisa disebut bermain game adalah sekadar hiburan untuk saya.
Tetapi, bukankah dari hiburan atau senang-senang ini bisa menghasilkan sesuatu
jika dilakoni dengan serius? Hari ini boleh saja kamu menganggapnya butiran
debu, tetapi di masa mendatang kamu bisa tercengang dengan apa yang mereka
lakukan dalam diam.
Gamer hanya membutuhkan sebuah notebook
untuk memuluskan langkah mereka. Sudut ruangan yang remang akan menjadi saksi
nyata kesuksesan seorang gamer. Saya
yang baru memulai, bermimpi tinggi tidak masalah asalkan tokoh dalam game seolah-olah menjadi nyata di dalam
grafis terbaik notebook tingkat dewa.
Main game dalam remang tidak masalah dengan ASUS ROG Zephyrus GX501.
Seiring pengembangan game oleh pengembang, sejalan dengan itu
pula produsen notebook menghadirkan notebook gaming tingkat dewa untuk
mengalahkan musuh-musuh. Grafis yang baik senantiasa seirama dengan gerak mouse di medan perang. Kecepatan kinerja
akan membuahi sisa-sisa perjuangan sampai darah penghabisan. Maka, notebook kelas dewa adalah pilihan
seorang gamer, termasuk guru gamer seperti saya!
Ini bukan masalah pemula, kawan. DOTA
2 tidak akan sejalan dengan notebook
biasa. Games of Thrones akan tersendat-sendat jika dimainkan di notebook bukan gaming. Mobil-mobil balap akan terhenti lajunya dalam Grid 2 jika
mesin notebook cepat panas. Maka telunjuk
saya mengarah kepada ASUS ROG Zephyrus GX501, notebook gaming tertipis di dunia dengan spesifikasi gahar!
Nanti, saya tidak lagi bingung
membuat perangkat pembelajaran saat notebook
berhenti bekerja, tidak lagi galau memikirkan slideshow bahan ajar saat notebook
cepat habis baterai. Keluarga terbaru ROG ini memberikan suguhan yang lebih
besar daripada yang saya pikirkan selama ini. Sebentar saja bahan ajar akan
siap saya kerjakan karena CPU dari Intel®
Core™ i7-7700HQ mampu bekerja dengan kecepatan tinggi. Saya pun bebas untuk
segera balapan ‘liar’ di Grid 2 atau mengadu pedang dalam Games of Thrones.
ASUS ROG Zephyrus GX501 Sahabat Guru Gamer
Saya bukan gamer tetapi ingin memainkan game
dengan sentuhan magis dari notebook
terbaik. Kilau cahaya dari keyboard
ASUS ROG Zephyrus GX501 tidak hanya pemanis tetapi menambah tenaga dalam
mengatur amunisi agar tepat sasaran. Touchpad
yang berada di sisi kanan tidak menganggu jari yang melentik di atas
deretan huruf dan angka. Numpad yang
senyawa dengan touchpad tampil manis
dan elegan dengan cahaya tersendiri saat disentuhnya. Kilau cahaya ini
memberikan konstribusi kepada saya saat menyelesaikan tugas sebagai guru atau
saat menembakkan lawan dalam Call of Duty. Sasaran tembak saya klik di atas pancaran biru keyboard yang terus menyala penuh
kelembutan dalam tubuh gahar yang dimiliki oleh notebook ini.
Wajah kusam, mata lelah seorang gamer, itu biasa!
Logo ‘mata’ ROG begitu silau
dengan merah menyala. Gagahnya senada dengan kesempurnaan dalam bodi tipis
tersebut. Meski bagian lain dari bodi belakang itu tidak mengilap tetapi mata
tersebut cukup mewakili intepretasi siapapun itu terhadap dirinya. Tak bisa
saya bayangkan bagaimana deru mobil balap di Grid 2 dalam layar 15,6 inci
dengan tipe IPS FHD pada kerapatan1920
x 1080 pixel. Mobil-mobil akan saling
kejar mencapai finish sementara di
lain dalam diri saya memikirkan bahan ajar untuk esok hari. Tetapi, permainan
ini tidak bisa saya pause
karena DDR4 2133 MHz 24GB mengacu
melebihi ekspektasi saya terhadap kinerjanya.
Logo ROG yang berwarna merah.
Saya begitu bangga memangku notebook dengan berat 2.2 kg ke mana suka. Di sekolah saya
menentengnya dengan memamerkan logo ROG ke segala sisi. Tampaknya, pengaruh
media sosial seperti Instagram cukup menusuk hati siswa-siswi. Belum kesampaian
waktu saya membawa fisik ROG ini ke hadapan mereka, tersebut sudah di ucapan
mereka tentang Zephyrus yang selama ini bertengger di akun Instagram saya.
Mereka tahu ROG, mereka paham dunia gaming
semakin gahar dan mereka sadar bahwa bermain game itu bisa menjadi sesuatu. Sesuatu sekali itu kapan ada
waktu untuk bermain game tanpa henti.
Dengan apa yang dimiliki oleh Zephyrus, notebook
ini tidak hanya berjalan bersama gamer
tingkat dunia tetapi sejalan pula dengan gamer
pemula.
Bagaimana Zephyrus bersahabat
dengan guru? Ibarat virus ia menyebar ke segala sisi dan benar terjadi bersama
guru yang gemar bermain game. Profesi
guru gamer tampaknya akan menantang
sekali mengingat sebagian besar siswa bermain game – yang telah saya sebutkan di atas. Interaksi guru gamer dengan siswa akan lebih dekat
mengingat kehidupan siswa tidak pernah jauh dari hiburan ini. Profesi gamer yang makin menjanjikan menjadi
bumbu-bumbu bagi guru dalam menaikkan tahta siswa yang telah bermain game sampai ke level paling tinggi.
Zephyrus adalah sahabat guru yang
berperan ganda sebagai gamer. Cobaan
terberat bukan lagi saat berada di dalam kelas tetapi saat mengangkat pedang
dalam game. Guru yang paham benar
akan trik bermain game begitu mudah
mencuri hati siswa. Guru yang tahu banyak game
akan mampu menarik siswa ke dalam pusaran pembelajaran yang lebih efektif. Di
akhir semester nanti, boleh saja guru gamer
mengadu kekuatan bersama siswa sebagai utang janji jika mereka mampu belajar
dengan tekun.
Zephyrus adalah jawaban. Ia
elegan. Ia manis. Ia mencuri perhatian. Ia tipis. Ia gahar dan gagah. Ia
dibutuhkan oleh guru gamer yang
selama ini belum mampu memantik hati siswa untuk tekun belajar sambil bermain. Notebook ini akan membangun interaksi
guru dan siswa yang selama ini bermain game
sendiri-sendiri. Interaksi setengah hari, kemudian beralih satu hari lalu
berhari-hari karena guru dan siswa telah memiliki satu kesatuan.
Namun, syarat main game adalah belajar terlebih dahulu!
Bolehkah Guru Jadi Gamer?
Guru harus mengikuti perkembangan
zaman. Poin ini yang tidak dimiliki oleh sebagian besar guru. Selama interaksi
saya dengan sesama guru, mereka hanya fokus mengajar, urusan administratif,
gosip di kantor dan pengembangan diri atau sekadar mengetahui cerita luar hanya
sedikit sekali. Maka, saat siswa-siswi meninggalkan guru dalam bidang
teknologi, bagian ini dianggap tidak penting oleh guru yang telah dewasa. Alasan
tentang ini karena guru merasa tahu segala padahal saat smartphone tidak bisa diapa-apakan, guru berani bertanya kepada siswa!
Dunia game juga ikut perkembangan zaman ini mau tidak mau harus dipahami oleh
guru muda. Siswa-siswi lebih leluasa bertanya kepada guru muda atau lebih mudah
berbagi kepada guru yang lebih muda karena lebih banyak tahu. Guru menjadi gamer sah-sah saja mengingat aktivitas
mengajar hanya setengah hari. Guru gamer
punya waktu lebih banyak untuk mengetahui trik dalam game yang kemudian menjadi ‘bahan ajar’ di dalam kelas.
Bahkan, guru gamer menjadi guru kesayangan siswa mengingat aktivitas ini
dilakoni siswa hampir tiap hari. Siswa yang pulang sekolah mampir di PS akan
paham betul gerak dalam game. Jika
hari ini mereka mati di sudut kanan, maka besok mereka akan menghindari sudut
tersebut karena tahu ada musuh yang menembakinya di sekitar itu. Jika babak
awal mobil mereka tersungkur karena senggolan mobil lain, maka di babak
selanjutnya trik kecepatan maupun banting stir akan mereka terapkan.
Guru gamer setidaknya harus tahu trik dan tips bermain game yang baik. Saat Zephyrus dihadapkan
kepada siswa, maka guru sudah tahu bawa pedang dalam DOTA 2 akan melayang meski
tidak ditarik oleh tokohnya. Lalu, trik selanjutnya adalah siapa yang dapat
nilai 90 sampai 100 diperbolehkan main game
usai jam pelajaran. Tentu, siswa akan tergiur akan hal ini. Belum lagi jika
lawannya adalah guru mereka di mana sifat ingin mengalahkan akan muncul
seketika.
Kenapa ASUS ROG Zephyrus GX501 Layak untuk Guru Gamer?
Rasanya, guru gamer memang harus memiliki ASUS ROG
Zephyrus GX501. Alasan yang cukup kuat adalah notebook gaming tertipis di dunia ini mudah dibawa ke sekolah. Guru
gamer harus memperlihatkan notebook – logo ROG – di depan siswa
untuk memulai pertandingan usai jam pelajaran.
Begitu Zephyrus didudukkan di
atas meja guru, maka siswa akan memulai kur panjang dan mengebut untuk siapa
cepat menyelesaikan soal. Lantas, bukan saja siapa cepat tetapi siapa yang
cepat dan benar akan memiliki hak paten dalam bertarung mengalahkan guru. Guru
punya banyak cara dan alasan untuk menaikkan nilai siswa. Demikian juga dengan
alasan guru gamer layak memiliki notebook ini.
ROG Zephyrus GX501 notebook gaming tertipis dunia.
Dan, memotivasi siswa dalam
belajar melalui game adalah alasan
terkuat lain bagi guru gamer. Siswa
akan berlomba mencapai nilai tertinggi, guru juga berlomba dalam dirinya untuk
bermain ‘aman’ dalam sebuah permainan di Zephyrus. Saat palu kemenangan
diketuk, siswa akan terbahak jika mereka berhasil mengalahkan guru. Besoknya,
mereka akan mengulang kembali dengan menjawab soal-soal lebih serius untuk
bermain DOTA 2, Grid 2, Game of Thrones atau Call of Duty: Advanced Warfare.
Saya sudah tidak sabar menjadi
guru gamer bersama ASUS ROG Zephyrus
GX501, notebook gaming tertipis di
dunia!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *