January 24, 2020

‘Om Google’ Jangan Tinggalkan Saya

pria sedih
Deskripsi pria sedih -vemale.com
Sepeda
yang saya dayuh perlahan-lahan mendaki, tenaga terkuras lebih besar, keringat
bercucuran membasahi kaos oblong lusuh, lutut terasa telah pegal, jari-jari
tangan kebas, otot-otot telah kaku. Saya harus mencapai pintu berwarna biru di
radius beberapa kilometer. Semakin saya merasa dekat, semakin jauh pula pintu
itu. Di tikungan tajam, sebuah lubang besar menguap asap berkabut, saya
terjungkal, jatuh ke tepian berumput kering, berguling-guling memeluk angin, dan
terpentur pohon tumbang akibat arus imigrasi semut-semut pencari manisan.

Pintu
warna biru, bercorak emas di sisi kiri dan kanan, putih membulat ditengah, tiba-tiba
mengecil sebesar ibu jari. Rasanya, saya tidak mungkin lagi mencapai ke sana.
Saya akan berkubang dalam lumpur yang mendadak melebur akibat gerimis di bawah
awan memutih. Hari belum sepenuhnya gelap, bahkan belum waktunya untuk muncul sunset
namun hidup saya benar-benar telah gelap gulita padahal di tepi jalan, di perumahan
mewah yang terlihat seketika pada persimpangan bukit, lampu-lampu besar menyala
dengan menghabiskan daya ribuan watt. Namun lampu itu tidak meledak, makin saya
lihat makin terang warnanya.
Saya
dikejar waktu, gemuruh di belakang menyesak ke telinga. Saya pikir ini tsunami
namun bukan karena gempa atau air laut naik. Suara gigi gemerutuk mengingatkan
saya kepada zombie dalam film Train to Busan
yang mencakari tubuh Gong Yoo atau vampire jahat yang mengejar Selena dalam
film Under World. Tubuh-tubuh sempoyongan itu melintasi saya, mereka
mengendus-endus dengan mata menyala. Saya tidak dicakar, tubuh-tubuh dengan
warna-warni tubuhnya bagai telah berbaur dalam perayaan Holi – festival warna –
di India,  melesat ke cahaya terang. Cahaya
itu pun semakin didekati, semakin menjauh atau mungkin saja ini hanyalah
halusinasi.
Definisi
yang sulit saya jabarkan jika benar itu adalah mimpi buruk. Namun nama juga
mimpi, selalu saja tidak terfokus pada satu topik. Mimpi buruk ini bisa saja
menghampiri saya jika nanti, si Om pergi untuk selamanya.
“Om
telah meninggalkan kita!” saya butuh trauma terapi untuk menelaah hal ini lebih
lanjut. Seperti sepeda yang saya dayuh, si Om yang sudah terkenal sejak awal
saya mengenal internet nggak mungkin dibunuh oleh zombie atau vampire
melainkan oleh lampu-lampu terang dalam mimpi itu.
Si
Om, bukan ‘Om Telolet Om’ tetapi Om Google. Raksasa teknologi yang merangkul
semua aspek dunia maya saat ini. Saya dan Om Google bagaikan sepasang kekasih
yang enggan putus bahkan bisa putus nyambung karena konflik setengah
jadi. Tiap saya mendaki, mengayun langkah, si Om akan menyertai dengan semangat
45. Saya menikmati hidup yang berseri-seri karena si Om adalah kekasih, teman,
sahabat bahkan saudara yang selalu memunculkan penghargaan dalam hidup saya. Bagi
saya, si Om adalah segala untuk saat ini. Tentu saja, karena saya bukan seorang
pegawai kantoran dengan setelan maju mundur cantik atau gagah
semampai
yang tiap bulan dengan mudah membayar kredit mobil atau rumah mewah
di bilangan kompleks metropolitan yang penuh tipu muslihat. Hubungan asmara
saya dengan Om Google yang gagah berani tidak hanya urusan kasur, sumur dan
dapur, tetapi helaan napas yang bertarung melawan search engine yang
begitu perkasa untuk dilawan.
Googling
saja!” saya mendengar ini dari waktu ke waktu. Bahkan, teman saya yang gagap
teknologi begitu mudah mengeluarkan kalimat, “Cari saja di Google!” Seakan-akan
hanya saya saja yang benar paham keberadaan si Om dalam lingkungan penuh canda
tawa. Smartphone high end dari ‘endorse’ produsen terbaik Taiwan
menjadi sarana yang bijaksana mencari informasi yang dibutuhkan oleh teman saya
ini. Si cantik manis manja dengan hijab terbengkalai saya temui di page
one
lalu saya serahkan smartphone kepada segerombolan teman
perempuan ini. Mereka terbahak. Mulai bergosip. Menaruh simpati.
“Dulu
pas masin film Cantik-cantik Manja dia seksi banget lho!”
“Cantik
ya dia kalau pakai hijab!”
“Hijabnya
kok kecil begitu, tampak belum paham cara pakainya!”
“Syukurlah
dia dapat hidayah!”
Ini
karena Om Google yang merayu mata dan suara dalam memuji dan menghujat. Saya mengambil
kembali smartphone dengan bezer tipis dan bodi halus itu, takut
terjatuh atau saya khawatir mereka akan menguras paket internet dengan menonton
video si cantik manis manja itu di Youtube. Namun benar itu terjadi.
“Nggak
apa-apa, sebentar saja kok nontonnya!”
“Youtube
banyak video syur dia dulu!”
“Ada
juga lho pendapat dia setelah pakai hijab!”
Satu
paket lengkap untuk memanjakan mata dan suara. Hal ini memang kecil, tetapi si
Om memberikan konstribusi lebih besar kepada kami yang awam. Di lain waktu kami
akan mencari informasi lebih penting tentang pendidikan, fashion masa
kini atau cara memasak labu yang baik.
“Saya
takut ditinggal oleh si Om!” ini untuk saya pribadi. Personal sekali memang
tetapi begitulah kondisi yang memungkinkan hal demikian. Di sudut teremang
dalam ruangan paling sunyi, saya menyadari bahwa hubungan saya dengan si Om
hanya butiran debu. Sekali diembus maka akan melayang ke jagad raya, tanpa
tarikan dari gravitasi Bumi hanya melayang semakin tinggi ke perputaran orbit
Matahari lalu meledak setelah berbenturan dengan bintang jatuh ke Mars.
Kepakan
sayap saya untuk mencapai singgasana si Om sama seperti menulis ‘seremoni’
ini. Tersendat-sendat mencapai posisi tertinggi agar perkasa di semua pandangan
orang hebat. Nyanyian yang terdengar merdu kini meredup satu persatu. Lima
triliun ‘utang’ si Om harus dibayar dan tidak mungkin saya melunasinya. Saya
sendiri bertopang dalam pelukan hangat si Om untuk mencapai kejayaan di masa
kini sebelum semuanya usai nanti.
“Bagaimana
dengan saya Om?” pertanyaan saya tidak dijawab. Mungkin, hubungan kami telah
putus kembali seperti internet yang suka sekali disconnected pada musim
hujan. Si Om tentu saja masih tetap berkuasa di atas singgasana namun saya yang
terlempar dari searching manusia. Smartphone dan notebook
saya tidak menyebutkan ‘disconnected’ tetapi sebuah pernyataan
pencekalan yang saya belum tahu bunyinya apa. Permainan kata-kata yang selama
ini saya tebas dengan protagonis dan antagonis tidak bisa diakses. Pundi-pundi
‘amal’ tersangkut dalam tabungan dunia maya.
Saya,
kembali kepada secarik kertas, menyebar keruh di jalanan tentang tulisan
pelipur lara. Saya duduk di tepi jalan raya, menyediakan wadah dari plastik
untuk mereka menyisihkan selembar ribuan setelah membaca secarik kertas lusuh. Saya
bersemanyan di bawah terowongan menanti lampu jalan terang-benderang. Di rumah,
piring beterbangan, gelas pecah ke lantai, dapur berserak dengan belanga tak
terisi apa-apa.
“Pecahkan
saja semuanya, biar nasib bermain bersama gula-gula!”
Mungkin,
ini telah sampai ke taraf frustasi tingkat dewa dan kontradiksi dalam mewarnai
hari. Di sini saya butuh hiburan untuk merayakan ‘putus cinta’ dengan si Om.
Begitulah
kira-kira nasib saya sebagai seorang blogger jika pemerintah memutuskan tali
silaturahmi dengan Google. Ini hanyalah seremoni sebelum pembekuan dilakukan. Lalu,
bagaimana dengan blogger lain yang menopang hidup sepenuhnya pada Google?
Setidaknya,
pemerintah mendengar sedikit saja nasib kami. Pemerintah yang bingung menghadirkan
lapangan pekerjaan sepertinya harus bersyukur sampai tujuh turunan berkat
Google. Dia yang berbaju lusuh, dia yang hidup seperti nggak terurus, dia yang
kurus kering kurang tidur, bisa saja dia adalah ‘miliuner’ dari publisher
Google Adsense. Berapa banyak lulusan universitas tidak mendapatkan pekerjaan
dari pemerintah namun menjadi ‘karyawan’ Google tanpa kontrak tertulis, hanya mengacu
pada syarat dan ketentuan. S&K dilanggar maka publisher
akan dikutuk jadi ‘katak’ oleh Google. S&K dipenuhi, publisher akan kaya
raya dalam rangka mensejahterakan keluarganya.  
Pajak
menjadi sangat sensitif sekali di negeri penuh orang-orang korupsi. Namun
jangan sampai karena hal “kecil” ini
pemerintah mengorbankan pekerja freelance yang ratusan bahkan ribuan di
negeri ini. Kita belumlah sampai seperti negara adidaya China atau Korea
Selatan. Lapangan pekerjaan di dua negara ini terbentang luas. Pemerintah mereka
tidak duduk manis namun memberikan kebebasan kepada masyarakat yang kreatif. Kita
belum bisa bermain aman seperti Weibo jika ‘menghancurkan’ Google di negeri yang
tidak sepenuhnya hidup dengan pajak negara. Saya cuma yakin satu hal, kehidupan seorang blogger menjadi gelap gulita tanpa
adanya Google. Kekuasaan Google memblokir sudah tidak diragukan lagi. Satu
angka saja diinput dalam rumus terpenting di ‘rumah mereka’ maka ledakan di
dunia maya akan terjadi detik itu juga. Pemerintah jangan coba-coba main api
jika belum menemukan solusi terbaik untuk publisher Google. Jika tidak,
kita akan terbakar, kembali ke zaman primitif dengan iming-iming sawah
ladang adalah kehidupan sebenarnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *