January 24, 2020

Gadget Bagi Siswa SD adalah Teman Sehati

Sejujurnya, saya sangat peka
terhadap penggunaan gadget bagi
anak-anak. Bahkan, bisa disebut saya sangat cerewet terhadap penggunaan
perangkat elektronik tersebut secara berlebihan. Saat anak-anak yang lain
dibiarkan oleh orang tua mereka terlibat aktif di depan smartphone atau komputer tablet,
dengan penetrasi jaringan internet kencang, saya lebih memilih menonaktifkan
data seluler atau mengaktifkan mode
airplane
.

Kecerian anak-anak tidak boleh diganti dengan gadget – antaranews.com
Anak-anak saat ini tidak pernah
bisa dipisahkan dari gadget, terutama
komputer tablet yang dijual lebih
murah. Orang tua pun dengan senang hati membeli komputer tablet ini karena kebutuhan gaya hidup, ikut perkembangan
lingkungan atau karena rengekan anak tiap pulang sekolah. Orang tua melakukan
berbagai cara agar anak-anak mereka dapat memegang komputer tablet. Sebagian dari orang tua bahkan
bangga saat anak-anaknya mencapai level tertinggi dalam sebuah permainan. Di sisi
lain, anak-anak lebih paham soal setting
dari gadget dibanding orang tua yang
telah ‘ketinggalan zaman’ ini.
Bagai buah simalakama, penggunaan
gadget bagi anak-anak seolah butuh
tak butuh. Tetapi, bukan berarti orang tua harus membatasi hal-hal demikian
karena masa terus berubah, teknologi semakin berkembang, informasi semakin
mudah didapat dan anak-anak pada pengembangan karakter maupun pengetahuan
sangat butuh pembaharuan tersebut. Orang tua – orang dewasa di dekat anak-anak
– yang kemudian paham betul bagaimana membatasi interaksi anak-anak dengan gadget tersebut. Bukan pula soal gaya
hidup yang harus dipenuhi tetapi penggunaan gadget
akan berlangsung secara kontinu di masa mendatang. Anak-anak akan terus
terlibat dengan gadget, apakah untuk
menjalankan hobi atau kebutuhan pekerjaan kelak.
Orang tua mengeluh tidak dapat
mengoperasikan komputer – perangkat elektronik dengan baik – maka jangan
berlaku hukum ini kepada anak-anak. Anak-anak yang masih duduk di bangku
Sekolah Dasar (SD) tak terlepas dari ini. Bagi anak SD, gadget adalah teman sehati. Di mana gadget mampu memberikan banyak jawaban dari semua keinginan
anak-anak. Seorang anak yang tidak memiliki gadget
juga bisa mengoperasikan perangkat ini karena bergaul dengan anak yang
memilikinya. Aktivitas yang dekat dengan saya ini terjadi pada pola hidup yang
demikian kompleks. Dua sepupu saya, Haikal (8 tahun) dan Wilda (10 tahun) adalah
objek khusus bagi saya dalam pengunaan gadget.
Bicara sedikit tentang mereka. Keluarga
kami memang bukan tipe yang mau memberi terhadap semua keinginan anak. Kami
telah membatasi dengan tidak membeli gadget
untuk mereka. Tetapi, pada apa yang tidak dicegah terjadi begitu saja. Saya
memiliki smartphone dan komputer tablet. Paman saya memiliki smartphone. Adik saya juga demikian.
Ayah mereka juga memiliki meski jarang ada di rumah.
Pelampiasan mereka adalah saya,
sebagai orang yang mudah didekati meski saya cerewet di beberapa bagian. Saya
kemudian membangun ketidaktahuan mereka dengan tidak mengajari hal-hal yang
tidak perlu, seperti di mana bagian untuk menghidupkan internet, apa yang harus
dilakukan jika internet mati dan lain-lain. Anak-anak seusia mereka, sekali
diajar langsung memahami sampai ke akar-akarnya karena pembelajaran berlangsung
secara praktek. Saat mereka bertanya, saya akan menjawab tidak ada internet. Mereka
memahami dalam kapasitas sebagai seorang anak SD, meski tidak tahu apa maksud
lebih mendalam tetapi karena perkembangan yang demikian mereka tahu apa
tujuannya. Mereka lantas tidak menghardik karena gadget yang mereka pegang adalah milik saya. Lalu, mereka bermain
seadanya tanpa konektivitas internet.
Solusi apa yang saya berikan
untuk mereka? – solusi ini juga berlaku untuk anak-anak lain, siapapun mereka
harus dijaga dari penggunaan gadget
berlebihan.
Pertama, saya tidak
memasang kartu SIM pada komputer tablet
yang sering saya tinggal di rumah. Haikal dan Wilda bebas bermain dengan
perangkat ini, apakah memainkan beberapa permainan yang telah terinstal atau
menonton video yang sebelumnya telah saya simpan. Games yang saya unduh pun hanya sebatas pada permainan ringan saja
seperti My Tom atau Ludo King. Video yang saya simpan adalah film-film anak
seperti Barbie atau Power Rangers. Meski tidak ada aturan tertulis, tidak ada
yang protes mengenai apa yang tersimpan di dalam komputer tablet ini. Adik-adik saya seolah tahu bahwa Haikal dan Wilda belum
layak untuk menerima ‘beban’ lebih berat.
Kedua, saya mengandalkan Youtube Offline. Jika orang tua bijak, apapun
bisa dilakukan untuk membatasi anak dalam gadget.
Youtube Offline salah satu pilihan terbaik di mana video tersimpan tanpa perlu
koneksi internet. Komputer tablet saya
hubungkan dengan jaringan Wi-Fi untuk mendapatkan update video secara berkala. Video yang saya unduh adalah bagian
dari gaya hidup mereka sendiri seperti Upin & Ipin, Adit Sopo Jarwo maupun
Marsha & The Bear. Belakangan, saya menyimpan salah satu reality show populer Korea Selatan, The
Return of Superman, episode Ko Seung-jae. Seung-jae, anak lima tahun ini
mendapat perhatian dari didikan ayahnya, Ko Ji-young. Nilai edukasi yang tinggi
dari program ini setidaknya mampu mengubah pola pikir kedua sepupu saya
tersebut. Saya melihat pendidikan anak dalam program ini sesuai dengan
komposisi mereka sebagai anak-anak. Cara didik yang baik tetapi dekat dengan
anak seperti kemandirian, kesabaran, kepekaan, persahabatan dan lain-lain yang
harus dicontoh oleh kedua sepupu saya ini. Senangnya, Haikal dan Wilda menyukai
reality show ini.
Ketiga, clear history adalah kewajiban
penting. Pada dasarnya saya tidak memerlukan hal demikian karena tidak ada
riwayat yang merisaukan dari browser
maupun Youtube. Tetapi, saya tetap menghapus riwayat terutama di Youtube agar
Haikal dan Wilda tidak dapat melacak jika tak sengaja internetnya terhubung ke
sana. Orang tua harus benar-benar peka terutama terhadap Youtube di mana media
sosial ini akan langsung merekomendasikan tontonan serupa. Misalnya, saat kita
banyak menonton Upin & Ipin, maka film anak sejenis akan dikaitkan ke akun
kita. Bisa dibayangakan jika ada jenis tontonan ‘unik’ yang ditonton, maka
begitu Youtube dibuka langsung terlihat gambar-gambar ‘asyik’ tersebut. Saya
memang telah mematikan internet, tetapi saat saya tidak di rumah tiada yang
tahu adik saya menghidupkan portable
dari smartphonenya.
Keempat, mode anak di
satu sisi memang perlu tetapi tidak saya terapkan. Haikal dan Wilda begitu
kritis sehingga penguncian aplikasi tertentu akan menimbulkan tanda tanya. Mereka
akan mencari tahu dan membuat penasaran yang tidak penting bagi perkembangan
aktivitas selanjutnya. Komputer tablet
yang seolah khusus untuk hiburan mereka telah saya batasi seperti tertuang
dalam poin 1 sampai 3. Mode anak ini berlaku di gagdet orang tua atau gadget
yang khusus dibelikan untuk anak-anak – meski saya tidak menganjurkan gadget khusus untuk anak.
Kelima, satu jam adalah
batasan maksimal Haikal dan Wilda menggunakan komputer tablet. Awalnya memang saya biarkan mereka bermain games sepuasnya, menonton sejenuhnya,
sampai kemudian mereka tidak mau melakukan hal serupa. Haikal lantas sibuk
bermain bola sore hari. Wilda tak mau ketinggalan main masak-masakan. Namun
bukan berarti mereka lupa, mereka tetap pakai komputer tablet ini untuk menonton Seung-jae, Upin & Ipin maupun Barbie.
Keenam, beberapa aplikasi
edukasi saya unduh untuk kebutuhan mereka misalnya tata cara mengaji, belajar
membaca, sampai bahasa Inggris dasar. Anak-anak lebih senang belajar dengan audio
visual maka aplikasi yang terunduh mudah mereka pahami. Banyak sekali aplikasi
yang tersedia di Play Store harus benar-benar diseleksi oleh orang tua. Saya
mengunduh terlebih dahulu sehingga Haikal dan Wilda tidak paham bagaimana cara
menginstal aplikasi. Hal ini penting sekali agar mereka tidak terbiasa membuka
toko aplikasi dan memasang aplikasi-aplikasi lain di luar kendali.
Penggunaan gadget yang baik bagi anak-anak tak pernah lepas dari peran orang
tua. Meski saya bukan orang tua Haikal dan Wilda, saya memposisikan diri
sebagai bagian dari kepekaan tersebut. Haikal yang sudah hapal episode Upin
& Ipin pernah bertanya tentang penggunaan komputer tablet di salah satu episodenya. Saya kemudian memberi alternatif
seperti yang tertuang pada poin nomor enam. Di mana proses pembelajaran yang
terjadi di episode tersebut bukan untuk bermain tetapi belajar sambil bermain
dengan gadget.
Fenomena anak-anak paham gadget telah menjadi rutinitas yang tak
terbatasi. Anak-anak paham karena ini masanya, hanya saja bagaimana pola asuh
yang benar dari orang tua. Enam poin yang telah saya terapkan memang kecil
sekali, bahkan bisa disebut hal biasa tetapi akan berdampak luar biasa kepada
anak-anak. Orang tua terkadang abai terhadap hal ini dan membiarkan anak-anak
terlihat aktif di dalam dunia maya.
Indonesia Hottest Insight
menyebut bahwa 40 persen anak di Indonesia telah paham teknologi atau disebut
juga sebagai active internet user,
survei ini dilakukan pada tahun 2013. Tahun 2014, Kementerian Informasi dan
Unicef menyebut bahwa anak-anak mengunakan gadget
untuk kebutuhan informasi, hiburan dan menjalin relasi sosial. Anak-anak
cenderung memiliki akun media sosial untuk interaksi bersama orang yang telah
dikenal maupun belum sama sekali. Selain itu game online juga menjadi salah satu kebutuhan dari anak-anak generasi
ini. (liputan6.com, 17/03/16).
Ernest Doku, ahli telekomunikasi
dari uswitch.com menyebut bahwa sekitar dua juta anak di bawah usia delapan
tahun telah memiliki komputer tablet.
(republika.co.id, 14/01/17). Bahaya yang mengintai antara lain pengeluaran yang
besar dari game online berbayar. Orang
tua yang membelikan anak-anak gadget
beralasan bahwa dengan perangkat ini mudah memantau anak-anak. Orang tua yang
sibuk dapat menjalin komunikasi lebih instan dengan anak tanpa perlu bimbingan.
(blog.unnes.ac.id, 05/11/15).
Survei lain dilakukan oleh Joan
Ganz Cooney Center di Amerika Serikat, di mana 27 persen anak-anak usia lima
tahun mengalami peningkatan kosakata melalui aplikasi edukasi. Dalam survei ini
juga menyebutkan 17 persen anak-anak usia tiga tahun juga mengalami peningkata
kosakata. Dalam hal ini, penggunaan gadget
yang bijak dapat menumbuhkan kesadaran akan kepentingan pendidikan. Anak-anak
tidak pernah tahu tanpa bimbingan orang tua. Orang tua yang memilih aplikasi
mana yang cocok untuk anak-anak, berapa lama anak-anak boleh berinteraksi
dengan gadget, maupun tontonan apa
yang layak mereka saksikan.
Penggunaan gadget yang baik bagi anak-anak adalah tidak melepas mereka dengan
perangkat ini. Saya sendiri telah melewati masa-masa kritis mereka,
keingintahuan terhadap hal-hal baru, tetapi karena saya batasi, akhirnya kedua
sepupu ini tidak melampaui batas ketidaktahuan mereka. Saya selalu menyarankan
kepada orang tua – bahkan siapapun yang membaca ini – untuk menerapkan enam hal
saja seperti yang telah saya sebut. Anak-anak akan memahami dengan sendirinya
tanpa perlu melarang. Anak-anak paham posisi apa yang layak untuk mereka.
Saya sama sekali tidak
menganjurkan untuk melepas anak – membeli gadget
khusus – dengan jaringan data diaktifkan. Jangan pernah lupa bahwa bahaya
sebuah gadget saat internet aktif. Anak-anak
bebas mengunduh, menonton dan melakukan apapun meski tidak diajarkan oleh orang
tua. Orang tua yang saat ini cenderung membiarkan anak bersama gadget, saya rasa sudah boleh menarik
kembali keputusan tersebut. Berkali-kali saya sebut, enam hal di atas adalah
hal penting. Anak dapat belajar, anak dapat bermain, anak dapat melakukan
apapun, namun orang tua berhak memiliki opsi khusus. Orang tua yang layak
mencari solusi untuk anak-anak. Posisi orang tua lebih penting dibandingkan
guru mengingat penggunaan gadget
bukan di sekolah.
Ibarat memakan sebuah Apel manis,
anak-anak akan melahap sampai habis. Demikian juga dengan gadget. Orang tua yang memberi, melepas anak sendirian dengan gadget maka jangan salahkan anak-anak
usia SD menonton hal-hal negatif, membaca informasi sensitif karena hal ini
tidak bisa diblock. Anak-anak akan
menyentuh responsifnya layar gadget
tanpa henti. Anak-anak akan mengeklik gambar yang unik dan asyik. Anak-anak akan
terlarut dalam dunia maya tanpa batas. Anak-anak akan terlibat dengan mereka
yang tidak dikenal. Semuanya mungkin, semuanya terjadi begitu saja.
Maka, stop hal-hal demikian. Buat mereka tidak tahu, buat mereka tidak
peka, buat mereka tidak terlibat, maka mereka tidak akan membiasakan diri untuk
melihat, merasakan dan mengalami hal-hal yang tidak kita ingini. Anak-anak
perlu diajarkan bermain gadget.
Anak-anak tidak dilarang untuk bermain game.
Anak-anak tidak dibatasi menonton kartun kesukaan mereka. Semua batasan itu
milik kita. Kita yang mengarahkan peluru itu ke mana sasarannya. Siap atau
tidak siap orang tua yang memiliki peranan penting penggunaan gadget yang baik bagi anak. Siapkah Anda
menerapkan enam hal yang saya sebut? Jika siap, Anda akan mendapatkan hasilnya
dengan segera. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *