January 24, 2020

Cukup Xiaomi, Redmi 5A ‘Telah’ Merusak Pesta Orang Lain

Manakala sebuah bom meledak, sekecil apapun akan menjadi bias lalu viral di media sosial – internet. Tak perlu jauh melirik, satu kata saja yang mengandung racun akan segera menggelegar karena imbas dari dunia maya tak seorang pun mampu menjawab pasti. Bahkan, untuk saat ini seorang penjahat bisa menjadi suci, seorang alim bisa menjadi pencuri. Begitu saja, mengalir tanpa henti sampai merasuk ke jiwa mereka sebagai candu!
Redmi 5A – okezone.com
‘Candu’ yang kini menggegoroti
akhir tahun adalah sebuah perusahaan kecil, semula diledek lalu menjadi
termehek-mehek kepadanya. Entah siapa dan mengapa, tetapi tanya itu terjawab seketika kala dirinya membuktikan eksistensi
dengan mengorbankan ‘nyawa’. Tentu, bertanya-tanya dari kita mengapa piawai itu
menjiwa dalam diri mereka. Alasan tentang perusak hubungan, peledak granat di
ladang penuh bunga, bukan pelipur lara untuk mereka yang meradang, tetapi
sebuah ‘kenekadan’ datang karena ia mau rugi.
Akhir tahun yang perih,
terbelalak, terengah-engah, namun tak bisa ditampik tamparan telak dan tidak
terduga dari Xiaomi. Secara resmi, perusahaan China ini meluncurkan Redmi 5A di
pasar Indonesia yang kalut, gusar, gundah-gulana, galau sekencang remaja putus
cinta, dan tergiur sentuhan promosi. Begitu emosi terbawa, mudah saja mereka
yang datang dari entah mana-mana membeli karena kasihan atau memang butuh barang murah – meski murahan itu telah menjadi universal.
Redmi 5A adalah ‘bom’ yang
meledak di akhir tahun 2017. Indonesia sebagai negara berkembang, penikmat gadget murah dunia, menjadi ladang
terbaik untuk melemparkan emosi jiwa tersebut. Xiaomi bisa saya sebut memiliki
strategi yang tak terduga, tergesa-gesa namun penuh pertimbangan. Saya pikir, perusahaan
yang sejak awal kemunculannya dikenal sebagai ‘pembobol’ tabungan orang banyak
ini, telah merencanakan sejak lama strategi membobol cinta kasih dari pecinta gadget Indonesia.
Di saat produsen lain melesat
dengan produk high end­ yang
dipromosikan besar-besaran, menggunakan artis maupun membeli slot iklan di
media online. Xiaomi malah datang
penuh percaya diri dengan Redmi 5A seharga Rp 999.000. Pasar Indonesia yang
jemu dengan pemberitaan dan ulasan produk bagus tetapi harga di atas 10 juta,
langsung mencuit tentang smartphone
ini. Shock terapi itu bukan karena
harga yang terjangkau tetapi produk ini seharusnya berada di rentang harga
lebih tinggi.
Keteteran, pasti di benak
produsen lain. Ketakutan jelas sekali. Namun ketakutan dari Xiaomi terasa
berbeda saat mereka mengenalkan prosesor Snapdragon 425  yang menjadi otak Redmi 5A. Tentu, prosesor
yang mahal dari Qualcomm ini tidak ada di smartphone
dengan harga tak sampai satu jutaan. Kejutan yang cukup manis karena smartphone ini juga memiliki RAM 2GB,
media penyimpanan internal sebesar 16GB, baterai 3000 mAh dan kamera utama 13MP
serta kamera depan 5MP.
Di spesifikasi tertulis demikian,
pada sebagian besar produsen menjual produknya di atas 1,5 sampai 2 juta. Saya memprediksi,
Xiaomi seakan ‘memenggal’ kepalanya sendiri jika Redmi 5A tidak laku, bahkan
jika laku pun mereka siap-siap menutupi kerugian – karena sebagian besar tahu
benar bahwa Qualcomn tidak mendiskon prosesor secara gamblang. Memang mungkin
Xiaomi menutupi ‘kelakuan’ Redmi 5A dengan model lain atau jenis usaha lain
tetapi tidak tertutup kemungkinan bahwa perusahaan ini hanya ingin mengembalikan
namanya yang pernah terpenggal.
Redmi 5A dijual murah – kompas.com
Kita ketahui bahwa, Xiaomi
terpental ke posisi tak tentu setelah dikejar oleh rekan senegaranya. Di dunia,
nama Xiaomi seakan telah lenyap meski mereka telah melahirkan produk di kelas
atas. Tak mau mengambil keangkuhan dari produsen asal Kanada atau Finlandia,
Xiaomi melangkah cukup gesit, mencuri start,
melerai perang, mengundang tatapan, dan akhirnya mereka bermain ‘aman’,
terkendali, harap-harap cemas di pasar Indonesia dan juga di negari asalnya,
China.
Ini karena kita mudah dirayu dengan harga ‘murah’?
Tentu juga tidak. Smartphone dengan
harga sampai 20 juta juga dibeli oleh pemuja gaya hidup di negeri penuh gosip
penyenang hidup ini. Tetapi, meski klaim smartphone
20 juta itu laku keras di mana-mana masyarakat kita yang notabene ‘penabung’
ulung tidak mau mengeluarkan dana berlebih; tepatnya
smartphone itu kegunaan cuma untuk itu-itu saja kok
. Jadi, akhirnya memilih
smartphone dengan harga murah karena ngopi di warung masih terasa lebih
nikmat dan paket data internet makin hari ditawarkan kian mencekik.
Redmi 5A saya sebut, mulus saja
di jalanan becek Indonesia. Meski belum sepenuhnya benar, dengan nama ‘besar’
Xiaomi yang masih dipuja oleh penggemarnya, Redmi 5A adalah babak penentuan
akhir untuk Xiaomi kembali ke red carpet
pasar Indonesia. Mampu atau tidak Xiaomi mencuri kembali potongan kue yang
hampir diluber habis oleh rekan senegaranya, hanya waktu yang mampu memberi
jawaban lewat kunang-kunang malam.
Mimpi Xiaomi adalah nama besar. Demikian,
saya sebut ambisi dari Redmi 5A. ‘Laba’ sedikit dari produk ini tampaknya tak
jadi soal karena ke depan, mereka akan rela membagi ‘diskon’ untuk
produk-produk lain daripada nyungkep di
sudut kamar tak berlampu. Lalu, Redmi 5A dipromosikan lebih kencang daripada
seri lainnya karena sekali sentuh, dengan jiwa muda, termehek-mehek, pengguna
Indonesia yang berada di garis keras ini langsung tergiur. Bahkan, rela tidak
jajan harian untuk mendapatkan sebuah produk ‘terbaik’ di kelasnya tersebut –
menurut pemahaman mereka dan analisa dari pakar lainnya.
Bayangkan saja, untuk anak muda
masa kini yang diberi jajan harian sampai Rp 50.000, hanya butuh 20 hari agar
dapat meminang Redmi 5A. Tak perlu menambah beban kepada orang tua. Atau juga
untuk mereka yang menabung sehari Rp 30.000 sebulan sudah bisa meminang Redmi
5A. Bahkan, tidak ada yang tahu dua bulan ke depan produk ini mendapat diskon
lebih bersahabat lagi. Salah satu kunci best
seller
itu adalah banyak permintaan, meski harga murah tetapi laku keras
maka tak ada alasan untuk tidak memproduksi kembali.
Pesta Xiaomi akhir tahun bagaikan
balon yang meletus di atas kue ulang tahun di rumah tetangga. Balon itu berisi
permen manis yang langsung menjadi rebutan mereka yang sedang bernyanyi selamat ulang tahun. Pesta Xiaomi adalah
ketakutan orang lain. Khawatir panjang bagaimana dan apa solusi untuk menendang
Redmi 5A keluar dari posisinya. Xiaomi yang menjadi ‘anak emas’ Qualcomm tentu
enteng menjawab bahwa mereka cukup kuat dengan prosesor terbaik. Pengaruh ini
yang ditakuti oleh produsen lain yang belum mampu mencicipi manisnya kerjasama
dengan Qualcomm.
Tendangan akhir tahun sangat
perlu di hampir seluruh dunia. Strategi Xiaomi saya acungi jempol dan
benar-benar tepat sasaran. Di Indonesia bukan ‘akhir tahun’ yang mengenakkan
tetapi libur panjang usai ujian. Smartphone
di bawah 1 jutaan adalah kado terbaik untuk anak-anak yang baru saja
mendapatkan rangking di sekolah. Juga, menjadi kado yang manis di libur panjang
anak-anak sekolahan bagi mereka yang ingin berlibur atau memilih sebuah smartphone baru. Tepatnya waktu ‘bom’
itu meledak menjadi momentum yang tak terperikan dari Xiaomi. Dunia maya telah
mereka genggam, tinggal balon-balon udara beterbangan di atas toko-toko yang
menjual Redmi 5A.
Tampaknya, belum ada kata ‘cukup’
untuk melerai kegesitan Xiaomi di masa mendatang. Akan ada saja strategi mereka
untuk mencuri sepotong kue manis. Bahkan, mereka mau ‘bunuh diri’ asalkan kue
tersebut kebagian. Saya kira, Xiaomi telah banyak belajar dari mereka yang pernah kalah di perang
telepon genggam. iPhone China ini
akan seperti apa kelanjutan kisahnya nanti? 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *