January 19, 2020

Segenggam Rupiah untuk ‘Jajan’ Anak Negeri

Pagi itu, matahari menukik dengan cepat sekali. Siswa-siswi yang terlambat tampak berlari menuju kelas masing-masing. Mereka menarik ransel lebih kencang dalam langkah tertatih, agar tidak ada buku berserak dari resleting yang mungkin saja terbuka. Wajah pias tentu terlihat jelas. Siap-siap berdiri di halaman sekolah dengan tiang bendera sebagai ‘pemanggang’. Celingak-celinguk mereka yang terlambat, ke segala arah. Mereka mencari di mana posisi kepala sekolah yang biasanya bersembunyi di sudut tak terduga. Diam-diam. Mengendap-endap; siswa-siswi dan kepala sekolah saling kejar dalam ketidaktahuan. Sampai akhirnya, kena!

“Kamu terlambat!?”
berhadap-hadapan dengan kepala sekolah di depan pintu kelas adalah nahas yang
tiada ujung. Satu langkah lagi, ia hampir saja mengucapkan salam kepada guru
yang sedang menerangkan pelajaran. Senyum guru di dalam kelas – yaitu saya –
bukan lagi sebagai pelipur untuk siswa yang terlambat. Padahal, jika sudah
berada di dalam kelas, saya tanyakan alasan terlambat, nasihat sesaat, bebaslah
tugas siswa itu dari beban panjang.
Namun, jika tertangkap basah oleh
kepala sekolah yang sedang patroli, mereka tidak bisa berkutik. Seorang siswa
akan dikuliti kesalahan demi kesalahan; mulai dari baju yang tidak masuk ke
dalam celana, celana yang kekecilan bagian bawah, sepatu tidak warna hitam
sampai rambut yang panjang. Siswa yang terlambat mengikuti langkah kepala
sekolah ke depan tiang berbendara, tak ada alasan untuk menolak hukuman
sementara guru di kelas sudah 15 menit menerangkan pelajaran.
Berlalu begitu saja, hampir tiap
hari ada siswa maupun siswi yang terlambat ke sekolah. Jika bernasib baik,
berhasil masuk ke dalam kelas dan menjabarkan alasan-alasan yang mungkin, bisa juga
tidak mungkin, kepada guru.
“Saya beli nasi tadi, Pak!” ujar
seorang siswa yang berhasil masuk tanpa melewati ‘pos’ ronda kepala sekolah.
“Saya isi bensin tadi, Pak!” ujar
siswa lain dengan alasan yang masuk akal.
“Saya telat bangun, Pak!” alasan
yang biasa, klise, dan terus mengalir jika tiap hari terlambat.
Namun, dari semua alasan itu
adalah; membeli nasi di warung dekat
sekolah
. Antrian beli nasi yang panjang, waktu yang berburu dengan cepat,
nasi tak dibeli akan membuat perut meradang. Maka, saya tidak mempermasalahkan
mereka yang memberikan alasan tersebut meski terjadi begitu terus. Daripada mereka
pingsan, mereka lapar, tidak konsentrasi, saya biarkan 10 menit untuk ‘menyimpan’
uang jajannya kepada penjual nasi pagi itu.
Siswa dan siswi saya adalah
sebagian kecil dari generasi saat ini yang terlibat aktif dalam tukar-menukar
rupiah. Bicara cinta, tentu mereka mencintai rupiah lebih dari apapun yang
dimiliki sejauh ini. Saya termasuk guru yang kerapkali mendengar keluh-kesah
siswa dalam banyak hal. Soal cinta rupiah ini, terlihat dari beberapa siswa
yang pandai sekali mensiasati uang jajan. Ada dari mereka yang membeli nasi
pagi Rp.5000 namun tidak menghabiskan jajan sebesar Rp. 10.000 saat jam
istirahat. Ada pula yang juga membeli nasi pagi, tetapi tidak sanggup menahan
jajan di jam istirahat, bisa menghabiskan Rp.2000 sampai Rp.3000 bahkan sampai
habis semua jajan yang diberikan oleh orang tua.
Dari mereka yang menyisihkan uang
jajan dari hari ke hari, saya pikir telah mencintai rupiah – masa depan mereka –
akan hal-hal sensitif setelah itu. Duduk bersama beberapa siswi yang memiliki
perencanaan itu, saya mengulik tentang hal demikian.
“Suka simpan saja, Pak. Kan kalau disimpan banyak nanti bisa
beli pulsa internet, hehehe!” saya terkagum seketika, toh mereka nggak mesti meminta uang lagi untuk kartu paket atau
pulsa internet di zaman smartphone
ini.
“Buat jaga-jaga saja, Pak. Saya
nggak tahu besok Ibu ada uang atau nggak,” pemikiran yang lebih dewasa. Sehari dirinya
simpan Rp.1000 saja, dalam sebulan bisa menyimpan Rp.30.000. Jika lebih,
barangkali simpanan itu sangat membantu keuangan dirinya dan orang tuanya.
“Buat bekal kelas tiga, Pak, kan kami ada rencana mau jalan-jalan,”
alasan lain yang masuk akal karena memang tiap tahun siswa-siswi kelas tiga –
dua belas – akan melakukan liburan sebelum ikut ujian akhir nantinya.
Di lain waktu, saat saya
memberikan tugas tetapi harus diprint
atau mungkin harus mengopikan materi ajar, saya memberikan alternatif kepada
mereka. Saya memang tidak menyebut, bahwa mencari uang itu sulit. Tetapi, saya
memberikan sebuah kebiasaan untuk mereka dalam hal ‘menabung’ meski kemudian
dibelanjakan untuk kebutuhan sekolah.
“Nah, saya ada tugas untuk kalian
kerjakan. Tugas ini harus kalian perbanyak sendiri,”
Keluhan langsung terdengar di
barisan siswa. Mereka keberatan, sudah saya duga. Kericuhan terjadi sesaat
sebelum saya kembali menenangkannya.
“Saya tahu, saya paham, kalian
susah sekali meminta jajan tambahan. Tapi, kalian bisa siasati dengan menabung
tiap hari. Tugas ini kalau dikopi habisnya sekitar Rp.6000, dari jajan itu
seminggu ini kalian sisihkan Rp.1000 saja,”
“Nggak mau, Pak!!!” siswa-siswa
masih keberatan.
“Kalian masih bisa jajan, kok, cuma dikurangi saja dalam seminggu
ini. Nanti, setelah tugas ini selesai dikopi, kalian bisa bebas mau menyimpan
lagi sisa uang jajan atau menghabiskan semuanya!”
“Itu kan buat kami kelaparan, Pak,” suara melengking dari siswa yang
biasanya ribut di kelas kembali terdengar.
“Saya misalkan, kamu dikasih
jajan Rp.10.000. Agar kamu bisa mengkopi materi ini, juga tidak ‘kelaparan’
kamu pilih kue yang besar-besar, minum dalam bungkusan besar atau air putih
saja,”
“Nggak kenyang, Pak!!!” masih
tetap protes.
“Jangan didengar, Pak, anak cowok
memang begitu!” Suara teriakan kembali menggelegar saat protes dari seorang
siswi terdengar. Singkat dari cerita itu, sebagian besar siswa dan siswi
menuruti arahan saya dan berhasil mengkopi materi ajar yang tidak tersedia di
pustaka sekolah. Mereka yang tidak mengkopi, kalang-kabut mencari contekan saat
ulangan harian dan ulangan tengah semester.
Di cerita lain,
sambung-menyambung dari apa yang sebenarnya tidak terpikirkan oleh saya
sendiri. Seorang siswi datang menjumpai saya dan dengan bangga memamerkan buku
tabungan miliknya.
“Pak, saya berhasil menabung di
bank!” ujarnya terharu. Saya pun demikian. “Saya turuti saran, Bapak, kan, terus saya lihat sudah banyak uang
jadi saya putuskan simpan di bank saja!”
Menabung sejak dini salah satu bentuk cinta rupiah.
Apapun itu, jika lama ditumpuk
akan menggunung. Saya hanya ‘menyarankan’ untuk mereka mencintai rupiah dengan
caranya masing-masing. Saya tidak meminta pula untuk mereka menyisihkan jajan
tiap hari, dalam jumlah banyak, tetapi apa yang telah dilakukan oleh siswi ini
patut saya apresiasikan. Saya salut dengan usahanya melakukan itu dan saya juga
bangga dengan apa yang dilakukannya, menahan ‘lapar’ seperti definisi
siswa-siswi lain yang tiap hari menghabiskan uang jajan mereka.
“Kamu tidak jajan?” sengaja saya
tanya kepadanya.
“Jajan, Pak!”
“Kamu sarapan? Nggak beli nasi di
warung” – seperti kebiasaan siswa-siswi lain.
“Saya bawa bekal, Pak! Tapi…,”
Tapi?
“Kalau nggak lapar, saya nggak
jajan lagi waktu istirahat!”
Cinta rupiah yang seorang siswi
ini lakukan membentang harapan ke langit yang sulit saya jabarkan bagaimana lukisan
awan di sana. Pemikirannya sudah diluar ekspektasi saya sebagai seorang yang
telah dewasa; di mana sulit sekali memasukkan selembar seribuan dalam celengan
berbentuk ikan mas. Lalu, saya mencari tahu tentangnya yang ‘nekad’ membuka
buku bank. Meski sisihan rupiah tiap hari sudah bisa ditabung di bank, tetapi
statusnya sebagai pelajar mungkin akan kesulitan dengan ADM bank tiap bulan,
jika tidak ada tabungan yang masuk ke rekeningnya secara berkala.
“Saya juga dapat BSM, Pak!” ujarnya
dengan girang. BSM sendiri adalah bantuan siswa miskin yang memengang Kartu
Indonesia Pintar (KIP) atau terdata sebagai keluarga kurang mampu dengan
beberapa persyaratan. Hal ini tentu sangat membantu aktivitas menabungnya di
bank. Sejumlah dana yang masuk dan ditambah lagi dengan tabungannya sendiri,
saya bisa pastikan bahwa masa depan siswi ini akan lebih cerah begitu duduk di
bangku kuliah.
“Apa kamu tidak ambil BSM itu?”
“Ambil, Pak, kalau perlu baju
sekolah atau sepatu, mungkin,” mungkin, mungkin juga tidak diambilnya. Saya tidak
lantas membuka buku tabungannya, hanya meminta senyum saja untuk diabadikan. Saya
malah berharap kisah siswa seperti ini menginspirasi banyak siswa lain. Tidak mudah
mencintai rupiah di kala kebutuhan begitu banyak. Gaya hidup yang tak ada
habisnya di masa remaja. Tetapi, saat dirinya berhasil menyimpan BSM dan
menyisihkan uang jajan, adalah sebuah haru yang menderu di hati saya dan sulit
untuk diungkapkan.
Kamu ‘cinta rupiah’ tidak saya
sebutkan di hadapannya. Barangkali, dia tidak mengerti lebih dalam maksud
perkataan saya itu. Namun apa yang telah dilakukan olehnya, sedikit sekali nilainya
dalam beberapa pandangan, niscaya siswi saya ini telah mencintai rupiah sebagai
mata uang – alat tukar – untuk mendapatkan sesuatu di masa depannya kelak.
Mereka tersenyum untuk masa depan.
Cinta rupiah tidak mesti dengan
menabung dalam jumlah banyak. Dimulai dari hal kecil, maka hasilnya tidak akan
pernah menipu kita di masa mendatang! 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *