cerpen-terbaik
Edukasi

Cerpen Terbaik: Separuh Cinta dalam Sedingin Kopi Gayo

Separuh Cinta dalam Sedingin Kopi Gayo – Kusesap kopi yang mendingin di atas meja kayu hampir lapuk. Kueratkan ikatan syal karena dingin pagi begitu menusuk. Celana jin yang kupakai tampaknya tidak mampu menghangatkan getaran tiap sendi. Dua lapis baju ditambah jaket tidak bisa juga memberikan kesegaran untuk sedikit mencium aura panas yang entah ada di perempat jalan mana.

“Mereka bicara bahasa Aceh saja ndak bisa!” pekik Mak di telepon semalam. “Bagaimana mungkin kau ndak mau mendengar, Agam?” maksudnya, mendengar omongan Mak yang telah mengeluarkan puluhan lusin kata tanpa jeda. Mungkin, aku yang tidak bisa menebak titik atau koma karena suara Mak berbaur dengan emosi yang tidak bisa kugambarkan dengan pasti.

“Bahasa itu bisa dipelajari, Mak,” ujarku dengan suara setenang mungkin.

“Ndak bisa. Mak ndak mau dengar kau mau cakap apalagi,”

“Mak…,” liriku.

“Pokoknya, pintu rumah kita ndak akan Mak buka untuk dia,”

Baca Juga:

Aku menarik napas yang terasa bagai menghirup udara bersalju lebat. Di sekelilingku, hanya pohon-pohon tinggi, kabut mengelebat, dan awan tampak begitu dekat dengan kepala, mungkin hanya sepenggalah saja. Kebun Kopi menari-nari di depan mata. Siap dipanen dalam sejuk sampai malam nanti. Tak ada aroma panas membaur diri di Dataran Tinggi Gayo ini.

Wajahku telah begitu pucat. Tak kurang, tiga tahun lalu aku melepas kangen dengan keluarga di Meulaboh. Belahan barat Aceh yang terasa selalu panas meski gerimis sesekali mengundang rindu pada rasa yang bertalu-talu. Kutaksir, wajahku tidak lagi separuh sawo matang dengan bola mata sedikit membiru dan alis lebat. Aku seperti rasa pria hambar dengan bibir yang juga tidak lagi semerah dulu.

Kuteguk kopi yang kini telah dingin. Tak berselang menit, kopi mendingin di atas puncak yang dekat dengan awan bergumpal. Mungkin karena ini pula di sini terasa lebih dingin dan juga lebih sering turun hujan daripada daerah lain di Aceh. Satu dua pekebun mulai merapatkan barisan ke rimbun batang kopi. Mereka akan memanen. Aku sebentar lagi, turun ke sana untuk menyapa lelah mereka, setelah lupa pada lara yang kian menggebu untuk diungkapkan.

“Kita masih orang Aceh, Mak,” desakku. Aku tidak tahu alasan apa untuk menyakinkan orang tua. Kuyakin, kala itu Ayah hanya diam dan menuruti permintaan Mak.

“Mereka Gayo, Agam! Ndak lupa kau ada perbedaan antara kita dan mereka?”

“Agam ndak lupa, Mak. Ndak pernah lupa. Tapi mereka sama dengan kita, orang Aceh!”

“Aceh mereka itu Gayo, bukan Aceh yang sama dengan kita,”

“Mak…,”

“Kau lupa janji waktu Mak izinkan ke Gayo malam itu? Ndak ada Mak bilang kau nikah sama gadis Gayo. Mak cuma bilang, kau bawa si Cut Aja Jelita ke sana sebelum ada orang lain di hati kau itu. Ndak ada kau ingat kata-kata Mak,”

“Cinta itu ndak bisa dipaksa, Mak,”

“Ndak ada yang ngomong cinta, Agam. Cinta itu datang sendiri kalau kau sudah nikah sama Cut Aja Jelita!”

Aku menarik napas lebih panjang. Seluruh persendian di dalam tubuhku terasa membeku. Ada wajah Mak di awan bergumul dengan suara cicit burung pagi yang mungkin sedang sesat. Kupindahkan pandangan kembali ke kebun kopi. Satu dua wanita berkerudung mulai memetik kopi dengan telaten. Aku tidak tahu apakah ada dia di antara mereka di sana. Aku tidak mau pula menerka-nerka karena suara Mak masih melekat di kepala.

“Adat kita dan mereka beda, Agam,”

“Ndak masalah itu, Mak, kami bisa memahami satu sama lain,”

“Kau bisa, Mak ndak bisa. Apa kata orang kampung kalau dia ndak bisa bahasa Aceh. Apa kata si Usman yang nikah kemarin dengan mayar 25 mayam emas. Apa kata Syarifah Munawarah kalau calon istri kau ndak ada dipakai inai,”

Aku terjerumus ke dalam pusaran yang jauh melengking daripada yang kubayangkan saat masih kanak-kanak. Mereka masih Aceh, Mak! Pekikku dalam lara yang kubuang percuma.

Aku menafikan luka ke dalam angan-angan yang mungkin saja masih ada sejumput bahagia. Di suatu persimpangan, aku selalu dikalutkan oleh dua arah yang berbeda, kiri dan kanan. Surga dan neraka. Orang tua dan calon istri. Adat dan kebiasaan. Aceh dan Gayo!

“Gayo dekat dengan Aceh, Mak,” suaraku hampir memekik.

“Kau semua dekat, ndak sama dengan kami di sini,”

Aku tahu perdebatan itu tak kunjung usai jikalau masih kumainkan suara hati. Kubiarkan bahagia terluka. Kusenjakan keinginan-keinginan di waktu matahari menukik agar tidak secepat mungkin membawa suka. Aku menggebu asa, menjemput gelora yang tiba-tiba terasa terhuyung di pagi yang kian dingin. Aku tidak terpengaruh dengan aroma kopi. Aku juga tidak berani menyebut kesalahan dari nasihat Mak sebagai malapetaka suram di waktu yang lama ke depan. Aku cuma terpaku. Kelu. Di antara kabut di sekeliling yang kian merebak. Dia datang dengan anggun dan senyum dikulum malu.

“Munaksirah pikir, Bang Agam sudah di kebun,” ujar gadis di depanku itu. Senyumnya melebar dari wajah putih pucat. Kerudungnya dibawa angin dengan semena-mena. “Ada yang mau Munaksirah sampaikan, Bang,” ujarnya lagi tanpa menunggu derita hatiku yang kian menggebu. Kebiasaannya, tidak pernah sekalipun menunda-nunda rasa di dada untuk diungkapkan segera.

Angin pagi terasa membekukan pori-pori yang berkeringat dingin meski bintiknya tidak terlihat jelas. Mataku kian berkabut meskipun di depan dalam jarak beberapa meter adalah kabut tipis yang diterbangkan angin. Kebun kopi bergoyang-goyang dibawa angin yang mungkin bijihnya jatuh tak bertuan, lupa dipungut, dan akan membusuk sampai panen berikutnya sehingga menjadi batang kopi yang tak diinginkan hadir ke dunia.

“Kau mau kopi?” tanyaku tanpa berpaling kepadanya yang sudah duduk di samping kanan.

“Sudah di rumah, Bang,” jawabnya lirih, matanya sama denganku melihat ke depan dengan lurus. Bedanya, aku dalam tatapan remang berkalut rindu pada apa yang entah mungkin bisa kugapai. Dirinya barangkali berbunga-bunga suka yang akan segera diungkapkan kepadaku. “Semalam, Ama (Bapak)[ Bapak] dan Ine (Ibu)[ Ibu] ngobrol panjang soal Abang,”

Aku mengelus dalam yang terasa makin sesak. Inginku sebut, semalam aku juga bicara, atau berdebat, panjang lebar dengan Mak tanpa sebuah kesimpulan bagiku tetapi ada kepastian dari Mak. Jauh di Meulaboh yang lagi musim kemarau dengan panas tak tertahan, Mak mungkin sedang membantu Ayah di sawah kami yang hanya beberapa petak saja dengan batang padi yang barangkali sebagian kosong dan berisi.

“Ama dan Ine setuju hubungan kita,” ujarnya dengan mantap, rona matanya berkelebat irama akan masa depan kami nanti dalam bahagia. “Munaksirah mau bilang kalau Abang sudah siap, Ama dan Ine bisa dijumpai,”

“Munaksirah sudah yakin?” tanyaku kemudian, yang sebenarnya bukan tanya itu yang harus keluar. Ada kalimat lain yang menggantung tetapi tidak tahu apa yang mesti kuucap.

“Ine bilang, Abang nggak perlu sibuk soal mahar, ikut saja adat di Gayo,”

Itu yang tidak mungkin, Munaksirah! Aku memengkur, tidak ada yang kulihat selain rumput menghijau rapi, dalam berdesak mereka tentu senang dengan dinginnya daerah ini, tumbuh begitu subur layaknya tanaman lain.

“Kita menikah pakai adat Gayo saja biar nggak ribet, kayak adat di Aceh,” aku seolah merasa Munaksirah mirip dengan Mak dalam menyebut Aceh dan Gayo. Ada pemisah antara keduanya. Bukan titik. Juga bukan koma. Munaksirah sekonyong-konyong berada di daerah yang bukan Aceh sama sekali, mungkin di luar pagar provinsi ini, atau juga di ranah lain yang tidak sanggup kujangkau.

“Abang kan, Aceh,” ujarku tanpa sadar. Rasanya ingin kukutuk kalimat yang muncul menjadi gumpalan kabut saja.

“Munaksirah nggak bilang Abang bukan Aceh,” Munaksirah tampak gusar menanggapi sikapku. “Kita nikahnya di sini, terus pesta pakai adat Gayo, pulang ke Meulaboh baru kita pakai adat Aceh,”

Aku paham maksudnya. Aku tahu arah ke mana sebuah pendapat itu. Di sisi anganku yang kian terkubur oleh keinginan segera bahagia, aku tidak kuasa membantah. Dua perbedaan yang telah terlihat. Dua bagian yang harus kususun dalam teka-teki yang rumit. Dua keluarga yang mungkin Ayah dan Ama dia tetapi Mak dan Ine akan membela pendapatnya masing-masing.

“Adat kita di Aceh, kalaupun kau ndak punya emas, keluarga akan kawinkan juga kau dengan mahar emas, bagaimanapun caranya!” kata-kata Mak bagaikan petir di malam dingin berbintang. Mak tahu aku akan sanggup menyiapkan mahar emas sampai puluhan juta tetapi dalam ego Mak, terdengar bahwa keluarga telah menyiapkan emas meskipun belum terlihat satu gram pun.

“Di Gayo pakai mahar emas juga, Mak,” ujarku meyakinkan.

“Ndak bisa, Mak ndak setuju kau nikah cuma 2 mayam emas saja, kau harus nikah dengan mahar 20 mayam emas,”

Aku mengerling ke arah Munaksirah yang juga memandangku. Mulutnya kembali terbuka, “Abang mau pakai mahar emas boleh, mahar lain juga nggak masalah tapi kita ikut kebiasaan di Gayo saja biar Abang juga nggak kesulitan,”

“Emas saja bagaimana?” aku kembali mengutuk kalimat yang keluar.

“Di Aceh memang begitu adatnya kita ikuti saja,” ujar Munaksirah yang kembali menekan seolah Aceh itu sangat jauh dari pandangannya sebagai gadis Gayo yang belum sekalipun menghirup udara panas di belahan bumi lain. Aku akan sulit menyatukan perbedaan itu nanti. Soal ini, tidak lagi tentang rasa kopi, tidak pula soal dingin yang tak pernah sembuh di Dataran Tinggi Gayo. Aku telah dihimpit oleh dua wanita yang beda generasi, beda keinginan dan keduanya memiliki tempat tersendiri di hatiku.

“Kamu sendiri bagaimana?” tanyaku dengan nada yang sulit kutebak.

“Munaksirah ikut adat Gayo saja,”

Ikut adat Gayo?

Hawa dingin merebak tiba-tiba. Di sini memang dingin tapi lebih dari itu. Bibirku terasa kering. Dehidrasi di tempat yang salah dan aku sama sekali tidak ingin minum air putih dalam jumlah banyak. Keningku berkerut seperti lipatan baju kusut. Aku butuh kemarau panjang di sini. Aku mau matahari tidak hanya mengintip di balik awan tetapi menebarkan energi lebih besar sampai panas tak kentara menyembunyikan duka di mataku.

“Kita bicarakan nanti saja, Munaksirah sudah kasih tahu Ama dan Ine soal ini, nggak perlu khawatir soal mahar dan lain-lain,”

“Kita yang akan menikah,” maksudku, kami yang seharusnya memutuskan mahar atau adat mana yang dipakai. Tetapi, ini telah lain, beda dari inginku, beda dari inginnya, dan beda dari apa yang tidak dapat kusentuh sama sekali.

“Iya, kita juga wajib patuh apa kata orang tua,” ujarnya lagi dengan yakin.

Artinya, aku harus pulang? Ke Aceh? Seperti katanya.

Batang kopi yang rimbun tidak memperlihatkan sesiapa yang sedang memetik bijihnya yang menua. Tiap waktu, hampir sepuluh tahun, aku menikmati seduhan kopi, mencium aroma bijih kopi yang tua dan matang, dipanen dengan semerbak bahagia. Aku, tentu, tidak mungkin menua dalam kesendirian, tapi, sekali lagi, ini bagaimana?

“Bagaimana jika kau ikut dulu ke Meulaboh?” tanyaku tiba-tiba.

“Bukankah lebih baik keluarga Abang yang ke sini?” dia balik bertanya, yang membuatku selalu ingin berpaling darinya tetapi tidak bisa. “Ama nggak akan izinkan, kita belum nikah!”

Mak juga nggak akan mau ke Gayo! Ujarku dalam sendu yang sebenarnya bisa tersurat tetapi tidak jadi.

“Ama dan Ine sudah kenal sama Abang, Mak dan Ayah belum kenal kau dengan baik,”

“Apa itu penting, Bang?”

Penting?

“Yang nikah kita bukan mereka!”

“Mereka orang tua kita,”

“Apa Abang lebih sayang mereka dari Munaksirah?”

“Ya!”

Keheningan yang muncul menjadi sebuah penyesalan. Dia akan mulai menyalahkan. Dia akan mulai membangun pendapat-pendapat. Tentang ini, yang akan kutakutkan saat berhadapan dengan Mak suatu saat nanti. Pada pembuka hubungan kami, aku selalu diam mendengar dirinya yang membenarkan apa yang terucap dalam sekejap.

“Apa gunanya kita menikah kalau begitu?” suaranya mulai naik, mulutnya tidak lagi mengeluarkan asap karena dingin di sini, tetapi telah hilang seiring panas hatinya.

“Kita menikahi dua keluarga, bukan cuma kita, tetapi mereka,” aku mulai meraung dalam penjelasan yang entah sebenarnya perlu atau tidak. “Kita sangat beda dari orang lain. Kau seharusnya sadar, kita menyatukan Aceh dengan Gayo, bukan hanya pria dan wanita dewasa yang dimabuk cinta!”

“Dulu Abang setuju hubungan kita baik-baik saja. Kenapa sekarang Abang berubah begitu saja?”

“Abang tidak berubah, Abang punya keluarga sama seperti kau,”

“Nyatanya, Abang nggak sesayang itu sama Munaksirah,”

“Nggak akan kau lihat Abang di sini tanpa Mak dan Ayah!” suaraku meninggi. Aku cukup bosan saat bicara tentang sayang, tentang cinta, yang diego masing-masing selalu benar. Nanti, aku jadi yakin kalau cinta yang sebenarnya lahir begitu indah saat telah menikah meski itu dengan orang berbeda.

Dia tersudut dalam bisu. Mataku menyalak tajam. Seumur hubungan kami, ini kali pertama suaraku begitu tinggi ke oktaf yang tak kuketahui pasti. “Abang lelah kalau kau terus bersikap begitu,”

“Abang mau bilang Mak dan Ayah nggak setuju hubungan kita?”

“Abang nggak bilang begitu,” tebakannya yang selalu benar membuatku benar-benar bingung, “Abang belum mampu meyakinkan Mak dan Ayah,”

“Artinya, mereka nggak setuju!”

“Kita Aceh dan Gayo,”

“Apa salahnya dengan Gayo?”

“Kita sama, orang tua kita belum tentu mau menerima perbedaan itu,”

“Ama dan Ine terima Abang, kenapa Mak dan Ayah nggak mau terima Munaksirah?”

“Abang nggak bilang Mak dan Ayah nggak terima. Abang butuh waktu, Abang butuh cara untuk menyatukan perbedaan itu,”

“Kita ikuti saja adat Aceh kalau begitu!”

Aku terpengkur. Sikapnya. Dalam ego miliknya. Tiada daya yang membuatku merujuk kepada bahagia dalam beberapa kata. Tak pula, kala itu aura panas memelukku meski matahari tidak lagi malu-malu di atas kepala.

“Kita pikirkan nanti caranya,”

“Nggak perlu. Terserah sama Abang. Kami ikut saja adat Aceh kalaupun keluarga di Gayo tidak setuju!”

Raut masam di wajahnya menandakan gelora yang belum sepenuhnya keluar. Aku terus bermaya dalam pikiran yang kalut. Aku terlalu bingung memikirkan keputusan. Belok kiri putus hubungan saudara di Gayo. Belok kanan aku akan dihampus dari silsilah keluarga di Aceh. Menikah cuma sehari, kami pertimbangkan adat cuma untuk beberapa jam. Lebih dari itu, mungkin seperti kata Mak, bahasa yang sulit dimengerti yang akan berkalang sampai waktu menua dan beranak-cucu.

“Abang pulang dulu ke Meulaboh…,” ujarku tertahan. Ada kalimat yang ingin diburai tetapi tak mudah kuucapkan. Dia diam menerima sikapku tetapi protes di matanya tidak bisa disembunyikan. Lima menit dalam diam, dia pamit pulang karena mau ke kebun. Ama dan Ine pasti menunggu jawaban darinya.

Aku pulang. Sebentar saja. Aku akan kembali karena kebun kopi menanti dan pekerja harus kubayar upahnya tiap bulan. Tetapi nanti, aku tidak tahu bisa membawa kembali badan seorang diri atau berdua dengan yang lain. Kata hatiku, Mak tengah menyiapkan kejutan saat kusebut akan pulang dalam waktu dekat.

Aku akan pulang. Aku juga akan kembali. Ke tanah Gayo meski itu tak sendiri!
***

Writer | Blogger| Teacher | Pemenang Writingthon Asian Games 2018 oleh Kominfo dan Bitread Publishing Partnership: [email protected] www.youtube.com/bairuindra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *