January 23, 2020

Catatan Istri Diselingkuhi Suami Mata Duitan

Aku
cukup bahagia hidup sejauh ini. Pekerjaan tetap sebagai pegawai negeri. Suami yang
tampan dan sangat perhatian. Bahkan, dia begitu cemburu kepadaku.

Apapun yang
aku lakukan selalu diketahuinya tanpa kuketahui bagaimana cara dia mengetahui
hal itu. Bisa kukatakan, aku adalah wanita terbahagia saat ini.

Walaupun kami
belum dikaruniai seorang anak tetapi kami sangat menikmati masa-masa indah
selama delapan pernikahan.

Ilustrasi.

Suami
masih belum memiliki pekerjaan tetap meskipun dia baru saja menyelesaikan
megister. Dia bekerja ini dan itu sesuai dengan
passion dan bisa
menghasilkan uang untuk menunjang aktivitasnya yang semakin hari tampak beken
di mata orang. 



Padahal, sifat perlente dalam dirinya tak lain karena aku
menyuapi semua kebutuhan dia sebagai suami tercinta. 



Gajiku sebagai pegawai
negeri lebih dari cukup. Bisa kukatakan sembilan puluh persen biaya kuliahnya
adalah aku yang tanggung. 



Pakaian mahal dan bermerek yang dikenakannya adalah
aku yang membeli. 



Dia merengek ingin memiliki mobil karena teramat malu dengan
kawan-kawannya yang telah mengendarai kendaraan roda empat. 



Aku tak mau
menyia-nyiakan waktu, kuturuti keinginan suami. Aku mengambil kredit di bank
dan mencolek sedikit simpanan lalu kuboyong mobil plat merah ke rumah.
Kebahagiaan
suami adalah bahagia aku juga. Begitupun saat dia sakit lambung kala itu.

Kami
bahkan pulang pergi ke Kuala Lumpur untuk mengobati penyakitnya. Bukan tanpa
alasan aku dan dia ke luar negeri untuk berobat.

Desas-desus yang kudengar di
sini, banyak orang yang sembuh setelah terbang ke negeri jiran. Aku tak mau
membuang kesempatan ini.

Dia adalah sesuatu yang tak mungkin kuabaikan. Pucat wajahnya
sama dengan pucat wajahku juga. Kurus badannya akan menular ke kurus badanku
juga.

Dia tidak tidur menahan sakit, aku pun melakukan hal yang sama.

Namun
tiba-tiba, setelah semua kumiliki sempurna dia mulai bertingkah. Semula kukira
wajar dia kirim pesan maupun telepon tiap saat.


Nanyain apa yang aku
lakukan dan dengan siapa padahal dia sangat tahu bahwa aku sedang dalam
pekerjaan.

Sifat posesifnya semakin hari semakin menanjak naik. Tak hanya itu, uang
jajan yang kukasih tak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

Dia bahkan
memegang kendali kartu ATM milikku. Aku nggak ambil pusing karena sangat
percaya kepadanya. Kepercayaan yang kemudian kusesali karena tabiat dia yang
ternyata tak pernah puas.

Di
sini kuakui, kekurangan dalam diriku karena gemuk. Dia bosan dan malu
menggenggam tanganku ke mana suka karena orang-orang akan berprasangka tak
baik.

Dia mencari kesenangan di luar rumah dengan memamerkan semua milikku.

Dia
mengendarai mobil dengan angkuhnya di belakangku bersama wanita yang belum
kuketahui jelasnya.

Dia tertawa-tawa di pusat perbelanjaan maupun rumah makan
mahal dengan tabungan di rekeningku.

Aku
curiga kenapa tabungan cepat terkuras padahal dia sudah selesai kuliah. Aku diamkan
mungkin memang dia butuh.

Aku curiga kenapa mobil kami selalu membekaskan aroma
berbeda dari parfum yang kusemprotkan pada diriku atau dirinya.

Begitu sebuah
tanya kulontarkan, dia memetik emosi sampai ke langit ketujuh. Dia marah-marah
tanpa sebab padahal aku cuma mengeluarkan sebuah pertanyaan saja.

Kok
agak beda ya wangi mobil kita, Bang?”
Dia
tak menenangkan istrinya. Dia pula tak beralasan mengganti aroma pengharum di
mobil, misalnya. Dia hanya berkata, “Kau terlalu cemburu!”
Cemburu
yang bagaimana menurutnya? Aku tak membalas sikapnya yang posesif. Bahkan terhadap
rekanku yang masih muda dia menahan cemburu buta.

Padahal jelas-jelas rekanku
sebentar lagi akan menikah dengan kekasih wanitanya. Namun aku tak
membesar-besarkan masalah itu.

Mungkin
aku teramat sensitif kepada hal-hal sepele yang menyangkut suami, yaitu dia. Aku
mencium aroma berbeda karena ketakutan tersendiri dalam diriku.

Dia selalu
curiga aku selingkuh. Dan kemudian dia sering menerima telepon lalu membual
tawa membahana sampai larut malam.

Tanpa kutanya, dia mengatakan seorang teman
menelepon karena ingin curhat. Curhat yang akhirnya selalu terjadwal.

Aku masih
percaya – setengah percaya – dalam waktu yang lama sampai sebuah pesan kubaca
tak sengaja. – Abang kapan pulang ke mari? Adek kangen banget lho! – Begitu
kira-kira pesan yang kubaca saat dia tertidur pagi hari. 



Aku teriak sekuat
tenaga. Tak kupedulikan tetangga mengangga. Tak kuhiraukan apapun selain sebuah
kepastian.

“Apa
maksudnya ini, Bang???” pekikku.
Dan,
kamu tahu apa jawabnya? Dia benar-benar telah berubah menjadi manusia paling
beringas, tamak, rakus, emosional dan segala jenis keburukan lain yang ada di
dunia ini. Semua melekat kepadanya.
“Aku
bosan sama kamu!”
Segitukah
hati seorang pria? Apakah pria lain juga demikian?
Pengakuan
yang selanjutnya adalah sebuah pernikahan. Dia menikah tanpa sepengetahuanku. Dengan
wanita itu. Seorang pekerja swasta. Seorang janda beranak dua.

Seorang wanita
tinggi semampai. Seorang wanita cantik jelita menurutnya. Seorang wanita yang
lembut kasih sayangnya, baginya. Seorang wanita yang telah memberikan semua
hasrat kepadanya. Sedangkan aku?

Mesin
uang saja baginya?
Semua
telah kuberikan kepadanya. Apakah dia tidak terbuka hati untuk itu? Tak sempat
kubalik pertanyaan demi pertanyaan aku malah terusir dari rumahku sendiri.

Itu
juga rumahku, aku yang membeli rumah itu dengan simpanan yang tak kukasih tahu
kepadanya waktu itu.

“Kuantar
kau ke orang tuamu. Aku tak sudi melihat rupa kau yang begitu saja tak berubah!”
Aku
tertatih. Pulang ke rumah orang tuaku. Ke Ayah. Pria yang juga telah melakukan tabiat
yang sama dengan suami – enggan kusebut namanya kini – semasa mudanya.

Ayah menduakan
ibuku sewaktu aku masih di dalam kandungan. Menikah dengan ibu tiri yang kini merajuk
kepadaku jika tak ada pemasukan dari usahanya membuka kios kelontong.

Aku
terpuruk. Itu sudah jelas. Aku tidak makan. Histeris setiap saat. Bekerja tak
semangat. Aku dilanda frustasi teramat dalam. Rasanya mau kubanting semua yang
ada di dalam diriku.

Kucabik-cabik raga untuk melupakan semua yang kurasa. Aku tak
lagi senang. Aku tak terbungkus lagi dalam bahagia. Semua telah usai. Dan gemuk
badanku turun drastis.

Proses
yang tak kuingini berjalan begitu cepat. Semua harta dibagi dua.

Dia ngotot untuk
tidak membagi padahal jelas-jelas rumah, mobil dan bahkan seluruh tubuhnya
berisi uang dari kerja kerasku. Dia membantai aku dengan kalimat demi kalimat
yang tak bisa diterima akal sehat.

Naif sekali pria berpendidikan pascasarjana
mengeluarkan kata-kata tak berbobot. Aku terima umpatan-umpatan itu. Aku terima
saat dia mengatakan aku mandul.

Dia seakan-akan lupa perkataan dokter kandungan
yang mengatakan dirinya tak kuat untuk bertarung dalam perang sesungguhnya untuk
mencapai mulut rahim.

Aku
tidak masalah. Aku masih punya gaji. Biar aku egoistis tetapi aku tak pernah
menggantungkan hidup kepadanya.

Aku survive untuk melanjutkan hidup
tanpa dia. Kulihat kiri dan kanan yang terus mengabdi pada hidup, aku pun
demikian.

Tekadku kemudian adalah mempercantik diri. Terserah orang mau bilang
aku balas dendam karena dikata tak cantik dan gemuk oleh pria yang pernah menjadi
suami itu. Aku benar-benar butuh sesuatu yang baru.

Beban
psikologis dan latihan rutin seperti lari dan gym membuat bobotku turun
cukup banyak. Aku sudah bisa tertawa saat bersama rekan kerja atau di tempat gym.

Aku memulai hidup yang baru. Aku telah move on walau belum penuh
seutuhnya. Dan dia?

Datang
menjengukku. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Di mana pula wanita yang
dia bangga-banggakan? Kenapa pula dia membuntuti langkahku?
“Kamu
kekurangan uang, Bang?”
Seandainya
berani, kulabrak dia dengan pertanyaan itu. Namun aku tak pernah sudi. Kulihat wajahnya
saja sudah muak.

Aku tak mau berhadapan lagi dengannya setelah sekian aroma
perih yang ditebarkan sampai aku tak mampu beranjak.

Salah dia sendiri memulai
apa yang sebelumnya dia yakini aku yang berbuat. Deritanya jika tak punya uang
setelah mencampakkan aku.

Pulang saja ke istri kedua itu jika butuh pelukan
hangat. Tak usah tebar pesona pada kehangatanku yang dianggap angin lalu tak
berbekas.

Catatan
ini kutulis untukku yang tertipu dengan tabiat manja dari pria. Sekarang siapa
yang lemah di antara kita?
***
Untukmu, terima kasih telah mengizinkan kisah ini dibagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *