Boleh Buka Masker untuk Kunjungi Bali dan 5 Tempat Wisata Lainnya di IndonesiaSaya termasuk orang yang bermimpi tinggi. Cerita saya soal negeri dongeng yang cuma di alam mimpi kala itu, benar tersampaikan begitu saja tanpa saya paksakan untuk hadir.

Impian Saya Ke…

Taufan ngakak saat saya berujar, “Aku ingin ke Bandung, dengar cerita dosen yang baru pulang kuliah dari sana, katanya Bandung itu keren banget!”

Cerita yang terburai begitu saja di tahun 2005 mungkin.

“Apa kau yakin bisa sampai ke sana?”

“Ya nggak tahu sih. Mimpi-mimpi saja dulu kan nggak masalah,”

“Memang impian kau ke Bandung itu apa?”

“Kotanya sejuk, banyak tempat wisata bersejarah, dan belanja-belanja!”

Taufan makin terkekeh.

“Dan, ada kampus keren juga di sana. ITB, Telkom, Unpad, UPI, apalagi ya…,” saya tampak memikirkan sesuatu padahal memang tidak ingat.

“Sekalian saja kau kuliah di sana!”

Tentu saja, saya kuliah seperti biasa. Cakap-cakap di warung kopi itu hanya sepintas saja dan saya melupakan begitu saja. Bandung tinggalkan kenangan yang begitu saja. Ingin saya memang ingin tetapi tidak pernah tersampaikan saat itu.

Lain cerita ketika seorang teman di organisasi membawa pulang oleh-oleh, “Jakarta cantik banget, macetnya parah tapi ada sesuatu yang menarik di sana!”

Aku kembali berseloroh santai saat bersama Taufan, “Keren juga ya kalau bisa ke Jakarta,”

Taufan menimpali, “Nggak jadi ke Bandung kau?”

“Jakarta juga, mana tahu bisa ke Bandung setelah itu,”

“Mimpi terus!”

Benar cuma mimpi. Saat orang lain bicara Bali itu indah, saya malah ikut-ikutan ingin kesana suatu saat nanti. Pokoknya, saya terkesan dengan kota-kota yang saat itu belum ada istilah boleh buka masker di tempat wisata.

Impian tetaplah impian. Saya tidak punya prestasi yang menjanjikan saat kuliah. Ikut organisasi cuma sebatas cari kawan, tidak sampai saya ikut musyawarah nasional keluar Aceh, karena saya bukan siapa-siapa. Kerja di LSM lagi-lagi saya cuma anak bawang, saya ya sudah berpikir bekerja sebagaimana niat awal untuk biaya kuliah. Sempat mampir sebentar di ‘radio’ juga masuk kelas bawah, tidak sampai dibawa ke mana-mana apalagi keluar daerah.

Mimpi traveling saya pendam baik-baik. Tidak mungkin saya bisa mengikuti niat itu dalam posisi saat itu, dan kini tanpa menulis. Saya tidak pernah terpikirkan, berkat kata yang diulang-ulang benarlah menjadi doa.

Taufan sampai bosan mendengar Jakarta, Jakarta, Jakarta, lalu Bandung ke Bali, mungkin Yogyakarta. Doa dalam kata itu dikabulkan di tahun 2014. Saya naik pesawat pertama sekali dengan perasaan yang gemetar, bimbang namun harus kuat. Saya ke Lombok!

Bukan Jakarta, bukan Bandung atau Bali; terlebih dahulu!

Sunset di Senggigi, Lombok

Saya menulis, Guru Kami, Pahlawan Semesta yang Tak Mengenal Waktu Mengajar untuk lomba blog yang diadakan oleh Dompet Dhuafa. Tentu, saya tidak memiliki harapan terlalu tinggi untuk menang apalagi juara pertama.

Itulah kekuatan doa. “Aku ingin sekali naik pesawat!” ujar saya pada Taufan saat kami makan rujak sore hari di dekat Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar.

“Akhirnya kau naik pesawat juga!” pekik Taufan saat mengantar saya ke bandara belum subuh untuk mengejar pesawat pagi ke Jakarta.

“Iya…,” suara saya bergetar, antara haru dan juga khawatir naik pesawat seorang diri dari Banda Aceh ke Jakarta. Saya belum ada pengalaman apa-apa, mungkin nanti muntah bagaimana, atau saya pusing, bisa malu-maluin selama dalam perjalanan.

“Serahkan semua sama yang di atas, Dia sudah kabulkan kata-kata kau itu!”

Pesawat yang berangkat dari Aceh ke Jakarta landing di Bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 10 pagi. Di Terminal 2 Kedatangan saya meraba-raba seorang diri. Mas Dian dari Dompet Dhuafa, dan Jack pemenang lomba video dalam perjalanan ke bandara.

Mas Dian sudah memberikan arah saya tunggu di mana. Saya menunggu, dalam harap-harap cemas. Saya menerka-nerka, yang mana Mas Dian, yang mana Jack. Tetapi, tidak satupun yang mencoba menyapa saya.

Usai makan siang nasi soto Rp50 ribu, yang membuat saya shock saat membayarnya, saya disapa oleh Mas Dian dan tak lama Jack datang. Kami boarding dan terbang ke Nusa Tenggara Barat lepas siang. Saya merasa nyaman dan aman setelah bertemu kawan, meskipun baru kenal.

Lombok salah satu wisata impian banyak orang. Kami ke lembah Rinjani dan berakhir ke Senggigi. Boleh buka masker saat itu karena memang belum ada istilah pakai masker. Di mana-mana orang bebas tanpa penutup mulut.

Boleh-Buka-Masker

Rinjani sangat tinggi tetapi kami tidak ke sana. Kami ke salah satu perkampungan di atas puncak yang dinginnya tak bisa saya definisikan. Dari sini saya melihat di mana-mana adalah masjid maka wajar jika Lombok disebut negeri 1000 masjid.

Turun dari lembah Rinjani kami ke Senggigi. Sunset yang begitu indah menjuntai ke Pulau Bali. Ah, saya pun ingin kesana suatu saat nanti. Senggigi mungkin pantai yang biasa saja bagi saya yang anak pantai tetapi panorama indah, angin semilir yang berbeda, dan orang-orang berjemur dengan santainya membuat pemandangan sangat kontras.

Kanvas sunset yang diukir oleh-Nya tak tertandingi dengan langit lain senja itu. Orang berlari mengejar matahari seperti sedang menepi ke Bali. Pulau yang dikunjungi banyak bule itu tampaknya tak pernah tidur. Sekonyong-konyong, saya melihat kerlip lampu dari pulang yang tertutupi lembayung senja.

Boleh-Buka-Masker

Lombok adalah cerita pertama dan kisah awal saya naik pesawat. Berkah yang tak tertandingi sebagai seorang blogger dan penulis. Saya tidak mau berhenti sampai di Senggigi saja. Saya ingin lebih. Saya tidak meminta kepada-Nya, cuma berusaha merangkai kata seperti yang sudah-sudah sampai kemudian mendapatkan undangan eksklusif dari ASUS Indonesia apalagi untuk launching laptop bisnis terbaik!

Saya ke Jakarta!

Panorama Malam Jakarta

Malam di Jakarta entah kesekian saya rasakan setelah pertengahan tahun 2015. Saya tidak membenarkan ucapan diri sendiri atau Taufan; Jakarta lagi, Jakarta lagi!

Tetapi, sejak 2015 sampai terakhir 2019 saat boleh buka masker di mana-mana, Jakarta adalah penorama yang selalu saya rindu.

Kemacaten. Gedung tinggi. Mal. Tanah Abang. Grab. Go-Jek. Dan, bandara!

Jakarta menjadi impian ke nomor berapa tetapi malah berkali-kali saya singgahi. Saya sudah berani tentu saja, saya ke mana-mana bisa sendiri selepas acara ASUS dengan launching laptop bisnis terbaik atau smartphone. Saya berjumpa saudara atau ke mal bersama kawan-kawan lain.

Saya kemudian memiliki kawan dekat dari beberapa daerah. Temu kangen yang unik adalah di kawasan Jakarta Central Park, Jakarta Barat. Hotel berwarna biru dengan mal di sekitar dan jembatan ramai orang-orang foto menjadi kenangan bagi saya.

Boleh-Buka-Masker

Orang kampung seperti saya tentu saja sangat ingin menikmati gedung tinggi di Jakarta. Saya terbiasa, dan membiasakan diri untuk menekan lift, atau berbicara lebih santun dibanding hari-hari yang sedikit kasar. Saya mengikuti gaya hidup orang-orang Jakarta yang meletakkan ransel di bagian depan.

Kali pertama ke Jakarta saya memilih Masjid Istiqlal sebagai pelepas rindu tak bertepi. Saya salat 2 rakaat sudah sampai di Ibukota. Saya mengucap syukur karena bisa menikmati kemacetan Jakarta tak terkira. Saya menikmati semua kepadatan orang-orang, kepadatan lalu lintas yang tak terbendung karena inilah Jakarta. Inilah kota yang ingin saya kunjungi. Inilah Ibukota yang banyak artis di sini!

Boleh-Buka-Masker

Banyak sekali cerita saya tentang Jakarta di blog ini. Kamu mungkin bisa mengulik lagi di masa boleh buka masker dulu. Saat orang-orang menghabiskan uang mereka berwisata ke Jakarta, saya dibawa cuma-cuma berkat menulis. Lagi-lagi saya bersyukur dan berharap ini memotivasi banyak orang.

ASUS menjadi bagian penting hidup saya menjejaki Jakarta. Saya menikmati panorama yang tidak mungkin ada di kampung. Menikmati semua kesegaran yang ada di Ibukota. Demikian juga ketika 2018, saya diundang Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo) untuk menyaksikan langsung Opening Ceremony Asian Games 2018.

Boleh-Buka-Masker

Jakarta menjadi lengkap dalam hidup saya, setelah Masjid Istiqlal lalu berpindah ke Kota Tua, dan masuk ke Gelora Bung Karno untuk menyaksikan sebuah event berskala internasional yang mungkin akan terulang 50 tahun lagi di Indonesia. Saya menjadi bagian penting dari ini!

Malam di Jakarta yang semerbak lampu. Indah suatu-waktu dan bikin rindu!

Bule di Bali

Bali adalah impian semua orang. Demikian juga dengan saya. Semula, saya cuma memikirkan kehaluan saja saat mendengar Kota Denpasar. Tahun 2016 berkata lain. Bali adalah impian yang tersampaikan.

Boleh-Buka-Masker

Saya menjejaki Nusa Dua Bali yang megah dan mahal. Sore ke Pantai Kuta dengan banyak sekali bule berjemur. Tak lupa ke tempat bersejarah seperti Pura Ulun Danu Bratan atau ke Pura Taman Ayun. Saya menikmati kekentalan agama di sana.

Jejaki Bali menjadi bagian penting dalam hidup saya. Boleh buka masker kala itu karena belum menjadi keharusan dan tren pakai penutup mulut dan hidung. Di semua tempat wisata yang saya lihat adalah bule. Mereka bebas memainkan peran di mana-mana, berfoto dengan santainya dan bertanya kepada orang pribumi tentang sesuatu hal.

Boleh-Buka-Masker

Jika kamu ingin melihat bule, maka ke Bali adalah tempatnya. Apalagi sekarang boleh buka masker di tempat wisata termasuk Bali. Sunset di Pantai Kuta salah satu terindah menurut saya. Pesawat yang take-off dan landing berada di siluet matahari terbenam.

Ada rindu di sana. Ada rasa yang tak terucap. Ada asa yang ingin diraih. Bule-bule sangat santai membaca buku sambil berjemur, bule berselancar dengan mahirnya, mereka tertawa lepas saat melepaskan lampion, mereka berteriak sekuat tenaga di bibir pantai melepas beban hidup, mereka mandi pasir bersama sanak-keluarga, mereka seperti memiliki Pantai Kuta!

Boleh-Buka-Masker

Pariwisata pulih kala itu karena belum pandemi. Boleh buka masker di keramaian dan di mana-mana orang bercengkrama dengan baik. Saya tentu tidak mungkin melupakan tentang Bali dan kenangan manis hingga sampai ke sana!

Ke Bandung Lautan Api

Universitas Telkom itu dimiliki oleh TelkomGroup bukan sih? Saya kurang wawasan terkait ini, tapi saya yakin benar kalau universitas tersebut bagian dari TelkomGroup, seperti halnya IndiHome.

Bandung yang saya impikan jauh-jauh hari tersampaikan juga. Dalam percakapan iseng dalam grup WhatsApp, akhirnya kami memiliki Bandung sebagai tempat jalan-jalan di pertengahan tahun 2019. Usai acara launching laptop di Jakarta, kami langsung berangkat ke Bandung.

Memang, kami tidak memiliki jadwal berkunjung ke Universitas Telkom. Kami jalan-jalan saja menikmati panorama dan alam Bandung yang sejuk.

Boleh-Buka-Masker

Jalan Asia-Afrika menjadi jalanan padat tetapi sangat terstruktur. Hotel kami berada di sekitar sini dan dengan mudah berkunjung ke Museum Asia Afrika yang penuh sejarah serta bertemu dengan hantu jadi-jadian malam hari di depannya, tak lain keunikan yang tak bisa saya abaikan.

Alun-alun Kota Bandung terlihat ramai meskipun matahari terik. Orang-orang bermain di rumput buatan dan saya sempat singgah di masjid yang ada di sana.

Boleh-Buka-Masker

Benar seperti kata dosen saya dulu, Bandung itu unik. Rata-rata bangunan yang saya jumpai adalah jenis bangunan lama. Sejarah mengukir dengan baik apapun yang ada di kota ini. Seniman berserak di malam hari dan orang yang berjualan pun tak kalah ramainya dengan harga sangatlah murah.

Kota Dilan itu benar-benar romantis jika melihat beberapa tempat. Saya tentu tidak pernah menyesal memiliki keinginan ke Bandung dulu. Akhirnya tersampaikan juga meskipun dalam waktu yang sangatlah lama!

Tak apa!

Belanja Murah di Yogyakarta

Tentu, tujuan saya ke Yogyakarta bukan untuk berbelanja. Namun saya mesti berbelanja!

Saya ke Yogyakarta dalam rangka tidak terpikirkan sama sekali. Saya berangkat secara tiba-tiba dan pulang pun sangatlah cepat. Saya memanfaatkan kesempatan sekali itu untuk main ke Malioboro meskipun tidak sempat ke Candi Borobudur.

Ke Yogyakarta mungkin bisa belanja-belanja dalam jumlah banyak. Waktu itu, saya belum kenal banyak orang di tahun awal 2015 belumlah pula saya ke Jakarta. Saya pikir Malioboro adalah tempat yang asyik untuk belanja, belum tahu ada tempat lain yang lebih menyenangkan.

Boleh-Buka-Masker

Namun, begitulah cerita. Untuk saya, belanja di Malioboro tetaplah murah dibanding dengan Aceh maupun Jakarta. Saya belanja batik dan pernak-pernik lain dalam satu kotak sedang. Sudah lebih dari yang saya pikirkan waktu itu. Bolehlah untuk oleh-oleh!

Saya ingin mengunjungi Yogyakarta saat pariwisata pulih dan boleh buka masker lagi. Saya belum puas menjejaki kota ini apalagi sekarang sudah mengenali beberapa teman dan dekat dengan mereka. Kami sudah memiliki rencana jika pandemi usai, Yogyakarta menjadi tempat untuk bersenda-gurau!

Tanah Basah Tsunami Aceh

Aceh terkenal internet stabil karena di mana-mana adalah warung kopi!

Pariwisata pulih sudah lama di Aceh. Mungkin pandemi cuma sebentar dirasa kemudian diabaikan karena dapur tak bisa berhenti mengepul. Aceh memiliki segenap rindu yang tak bisa saya definisikan dengan cara apapun.

Tanah basah tsunami ini memendam rindu bertalu-talu. Saat saya pergi jauh, Aceh adalah tempat yang paling saya rindu. Di Yogyakarta tak saya lihat warung kopi masih buka sampai jam 12 malam. Di Aceh begitu banyak sekali warung kopi buka sampai lewat tengah malam. Internet tak putus, main game terus dan bercerita masa depan dalam secangkir kopi tak urus mereka yang kurus.

Orang-orang takut menyebut Aceh karena Syariat Islam. Jangan khawatirkan soal itu, kami memang memiliki ribuan masjid dari pelosok sampai jantung kota, tetapi kami tidak mengusik mereka yang beda keyakinan. Orang dari berbagai elemen datang dan bebas beribadah sesuai agama yang dianut.

Jangan memanaskan keadaan karena Aceh yang jauh ini. Kami terbuka untuk kamu yang ingin melihat Masjid Raya Baiturrahman lebih dekat, sejarah yang abadi di Museum Tsunami dan yang tak mungkin diangkat lagi ke tempat asal PLTD Apung.

Boleh-Buka-Masker

Secangkir kopi tak cukup jika bicara pariwisata pulih di Aceh. Saya menikmati hari-hari yang indah di Aceh karena begitulah keadaan di sini dalam sendu dan rindu sepanjang waktu. Kamu bisa menikmati beberapa tulisan saya tentang Aceh di blog ini; yang teramat sering saya menulisnya.

Di Aceh internet bukanlah lagi barang tahu. IndiHome sudah terpasang di rumah-rumah, tak saja di warung kopi semata. Akses WiFi cepat dengan mudah oleh siapa saja dengan biaya relatif murah. Aceh bisa dibilang Bangkit Bersama IndiHome karena di setiap pelosok adalah orang bermain internet. Mudah, cepat dan gampang aksesnya!

Saya rasa, bicara boleh buka masker saat pariwisata pulih di Indonesia ini tak akan pernah usai. Banyak sekali tempat yang layak dikunjungi, tinggal memilih mau ke mana dan kapan waktunya!

%d bloggers like this: