January 19, 2020

Begini Tipe Wanita yang Mencampakkan Harga Diri Pria

Sabtu
selalu menarik untuk kongkow-kongkow. Tempat mangkal paling asyik
dan menguras isi dompet adalah warung bakso. Siapa sih yang nggak suka
bakso? Biar dikata banyak inilah, itulah, bakso tetap saja langganan mereka
yang kenyang dan lapar beneran!
Ilustrasi.

Kami
duduk manis menanti bakso disajikan. Aroma kuah bakso lumayan sedap. Para pembeli
datang tak keruan. Beragam usia menikmati sebongkah bakso dengan lahap
diselingi gelak tawa. 



Di kelompok kami pun tawa itu tak padam. Entah karena
suara perut atau memang suara isi hati yang ingin melepas lara. Celutuk-celutuk
kian menjadi-jadi sampai si Cantik kembali mengeluarkan “fatwa”nya yang
aduhai.

“Aku
males banget ke gym lagi, cowok-cowok itu pasti lihatin
aku terus pas pulang!”
Kawan-kawan
si Cantik yang merasa diri cantik pun menimpali seadanya. Saya mengetuk-ngetuk
meja sambil menunggu semangkuk mi ayam, berhubung rasa bakso tidak begitu
diterima dengan baik oleh perut.
“Pacarku
pun ngelarang,” sambung si Cantik. Cerocosnya kian panjang. Maksud si
Cantik komporin hal-hal begitupun entah untuk apa. Si Cantik terdengar
cukup bangga dengan kondisi apapun yang dimilikinya. Saya tak mau menilai
sebatas fisik karena itu sangat relatif. Cantik menurut saya belum tentu cantik
menurut orang lain.
“Bagaimana
pendapatmu, Bang?” tanya si Cantik.
“Apa
cowok itu kerjaannya cuma melototin cewek cantik?” geram juga saya
dengan anggapan-anggapan si Cantik. Wajar dong saya membela kaum
sendiri. Toh, nggak cuma kali ini saja si Cantik buat tingkah.

Berulangkali
si Cantik merasa bahwa dirinya sangat didiam-diamkan oleh semua pria. Poin cowok-cowok
yang lihat dia terus sepulang gym
itu nggak masuk akal bagi saya. Saya
balik bertanya karena saya merasa bahwa tempat gym bukan untuk
pamer-pamer  diri bermake-up
tebal. Lagian pria yang dimaksud si Cantik berapa orang sih?

Apakah semuanya
ganjen? Apakah semuanya nggak setia? Apakah semuanya mata keranjang? Apakah
semuanya jomblo? Apakah semuanya sudah menikah? Ingin saya utarakan rentetan
pertanyaan tersebut namun urang saya lakukan.

Bahkan, pertanyaan berikutnya
muncul. Apakah cuma dia saja yang “cewek” di tampat gym itu? Apakah
hanya dia saja yang merasa diperhatikan? Bagaimana dengan cewek lain?

Selera orang – pria – beda-beda lho Cantik!

Salah
besar jika si Cantik berhenti gym karena diperhatikan pria-pria yang dia
maksud.
Ocehan
si Cantik di warung bakso itu tidak bisa saya percaya seutuhnya juga didukung
dengan perkara lain. Pada kesempatan sebelum ini, si Cantik dengan tegas
menjelaskan bahwa rata-rata pria ganteng itu mantan dia!

Hampir semua pria yang
ada di akun facebook si Cantik adalah mantan pacar yang telah dia buang,
walaupun pria ganteng tersebut sedang menggendong bayi. Manipulasi data si
Cantik ini terkuat saat seorang cantik lain sengaja memancing di air bening.

Temannya
si Cantik ini, juga teman saya, berteman dengan pria yang lumayan ganteng di
facebook dan “mantannya” si Cantik. Saking kesalnya teman saya dengan
cerita-cerita si Cantik yang mengaku kencan di tempat-tempat romantis dengan
pria ganteng tersebut, teman ini dengan tegas bertanya kepada si pria. Jawabannya?

Siapa dia?

Waktu
itu, kami tidak mempersoalkan kejadian ini. Tidak pula menganggap angin lalu. Pengakuan
pria ganteng yang tidak mengenal si Cantik menjadi cambuk untuk kami menilai
dirinya lebih dekat. Kejadian demi kejadian lain pun menyusul. Si Cantik dengan
bangga memaksa kami mendengar ucapannya.
“Oh,
dia. Mantan aku tuh!
“Dia
cemburuan makanya kami putus,” ucap si Cantik seminggu sebelum pacaran dengan
pria lain.
“Ego
kali dia, kuputusin saja!”kata si Cantik sebulan putus dengan si
cemburuan.
Seakan-akan
tak ada hari baginya untuk sendiri. Si Cantik seperti dikangkangi oleh pria
manapun yang dikenalnya, padahal belum tentu pria itu mau dengannya. Seolah-olah
hanya dia wanita yang layak dilirik pria, sedangkan wanita lain ke laut
aja!
Kembali
ke warung bakso di mana meja kami telah penuh terisi mangkuk. Suara si Cantik
cukup dominan di antara kami. Tiba-tiba seorang pria tegap, dada bidang, kulit
mulus dan wajah putih bersih berdiri di meja kasir. Pria itu sedang memesan
bakso rupanya.
“Aduh…,
aku pernah dekat sama abang itu!!!” pekik si Cantik tertahan.
“Siapa
sih yang nggak pernah dekat sama kamu,” ujar teman kami yang tinggi
semampai.
Samperin
terus,” ujar yang lain.
“Perlu
bantuan? Aku siap kok!” tawar teman kami yang ceria.
“Apa
perlu kutanya dia kenal atau nggak sama kamu!” kata teman yang mengetahui si
Cantik sering berbohong.
“Jika
semua pria dekat sama kamu, berapa banyak sperma mereka di rahim kamu sekarang?”
tanyaku. Semua diam. Si Cantik merah padam. Sekonyong-konyong pertanyaan saya
menggariskan fakta teramat perih. Pria punya harga diri kok Cantik! Nggak asal
wanita kami caplok!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *