January 26, 2020

Kenapa Anak Kecil Selalu Menangis Saat Pangkas Rambut? Ternyata Bukan Takut Pisau Cukur Lho

anak kecil nangis pangkas rambut
Anak kecil nangis pangkas rambut – helenamantra.com
Dia
menangis tersedu-sedu. Meraung tak keruan. Meraih manja kepada ibunya yang
tertawa terbahak. Mainan di tangannya dilempar ke lantai. Berserak, pecah satu
persatu. Tangisannya makin menjadi-jadi. Dia seperti lupa bagaimana caranya
untuk mereda tangis yang kunjung beranak airmata teramat banyak. Anak kecil ini takut sekali pada pisau cukur,
tampaknya.

“Lihat
ke cermin, adik akan tambah tampan!” suara wanita itu menghangatkan Dia yang
masih belum reda tangisnya. Dia seperti tak terima, atau memang tidak mau
menerima suara lembut ibunya. Dia mana tahu tampan itu bagaimana. Dia belum
mengerti apa-apa maksud tampan dalam definisi orang dewasa. Dia tentu saja
nggak menuju ke arah menarik perhatian lawan jenis karena terlalu tampan. Dia
ingin sekali terlepas dari jerat maut di sore itu. Jatah main bersama
teman-teman kecil di lingkungannya telah terenggut. Jadwal minum susu sore
telah kering. Kasur empuk tempat tidur telah tertinggal bersama guling dalam
galau.
“Sedikit
lagi ya…,” pria yang mencakar kepala Dia dengan mesin cukur sudah berulangkali
mengatakan hal yang sama. Semenit yang lalu pria dengan perawakan pendek,
berisi sedikit, rambut cepak itu telah merayu kalimat sedikit lagi
sebagai senjata pamungkas. Dia tidak mau terima, teriakannya mengalahkan musik
dangdut yang diputar oleh warung kopi sebelah kiri dan meredam musik rock
dari agen travel sebelah kanan. Dua tempat tersebut seperti sedang menggelar
konser dadakan menghibur Dia yang enggan disentuh rambut yang telah menutupi
telinga.
“Ayah!!!,”
ini entah kali ke berapa Dia memanggil ayahnya. Di batinnya, tentu saja pria perkasa
itu akan menghalau dan bisa saja ‘membunuh’ mereka yang menyentuh tubuhnya dan
mengabaikan pengaduannya. Dia berharap ayahnya datang dengan cepat dan
menggantikan posisi ibunya yang terus merayu dengan sebutan tampan.
“Lihat
ini, bagus kan?” abangnya yang berusia sepuluh tahun juga memberikan
semangat kepada Dia yang memanyumkan mulutnya. Airmata telah menjadi make-up
yang membuat dirinya meleleh dalam ketampanan. Sesekali wanita itu menghapus
airmata dengan telapa tangannya. Namun Dia terus mengeluarkan airmata yang
mungkin saja akan menjadi mutiara seperti airmata duyung dalam dongeng
senjakala.
Pria
yang terasing bagi Dia mengambil gunting untuk merapikan anak-anak rambut yang
berdiri kekar.
“Jangan!!!”
Dia berteriak sekuat tenaga. Mencakar-cakar. Mencari perlindungan kepada ibunya
yang masih saja mengeluarkan kata tampan. Di akhir tangis membara saat itu, Dia
kembali memanggil ayahnya. Hati kecilnya begitu terusik karena tidak mendapat
pertolongan dari wanita yang sebenarnya adalah pelukan terhangat dalam segala
waktu.
“Abang,
coba lihat bakso kita sudah digoreng!” seru ibunya kepada si abang. Anak dengan
tubuh kurus itu melintas, menuju ke pintu, melirik ke sebelah kiri. Di sana
penjual bakso goreng sore telah buka lapak dan beberapa pembeli sedang
mengantri.
“Belum,
Bu!” entah benar belum entah karena si abang ini tidak tahu. Saya menyeringai. Si
abang ini bertanya saja tidak kepada penjual bakso bakar, bagaimana langsung
mengatakan belum. Di sana antrian tiga orang terlihat dengan lelah di antara
asap dan memudarnya warna bakso yang sedang dibakar.
“Nanti
kita makan bakso bakar, enak kali…!” seru si abang kepada Dia yang
memasang wajah marah superhero. Si abang memungut mainan yang berserak,
memberikan kepada Dia. Satu dikasih, satu dilempar kembali. Dia mengerem tangis
sejenak namun beranjak lagi ke nada tinggi begitu melihat pria muda itu
membayangi pisau cukur di depan matanya.
“Nggak
mau!!!” Dia terisak kuat. Mungkin telah menangis hampir sepuluh menit lamanya. Wanita
itu menggendong Dia dan memberikan kecupan manja. Tangisnya mereda. Pria yang
tampak bagai panglima perang musim dingin, mengarahkan pisau cukur ke leher dan
jambang Dia. Dia meronta-ronta. Baginya, ini adalah penculikan kelas berat yang
mengakibatkan fisik dibabat habis. Keterlibatan ibunya justru membuat hati
kecilnya begitu teriris sampai sakit ke tulang dalam tubuh.
“Mungkin
dulu saya gendong juga ya,” ujar wanita itu mengenang masa sebulan lalu –
mungkin – saat memangkas rambut Dia di tempat yang sama. Dia benar-benar
berhenti menangis dan mendekap dalam pelukan ibunya. Pria itu memainkan pisau
cukur ke leher bagian belakang, mencukur anak rambut yang gagal masuk ke dalam
mesin pembasmi.
Isak
tangis Dia sudah tidak lagi terdengar. Mungkin saja telah tertidur. Pria yang
tadi kerepotan karena kesibukan show tangis Dia mulai tenang
menyelesaikan pekerjaannya. Anak-anak rambut yang masih berdiri dipotong dengan
sekali cut. Bagian jambang yang nggak beraturan telah dibentuk secara
vertikal dan dirapikan di bawah telinga. Kepala Dia tampak begitu plontos namun
memesona ibunya yang memuji.
“Lihat!
Tampan kan?”
Saya
mengaminkan dalam hati. Overacting Dia barusan mengajarkan saya banyak
hal tentang cukur rambut. Tidak hanya dia, kenapa anak kecil selalu menangis
saat pangkas rambut? Dari Dia saya tahu bahwa anak kecil sejatinya tidak takut
kepada alat tetapi kepada orang, si tukang pangkas. Rayuan tukang pangkas
sampai berbuih tidak mau diterimanya. Dia mencari perlindungan kepada ibunya
namun tidak didapatkan sehingga memanggil ayahnya. Dari awal Dia duduk di atas
kursi panas itu, matanya tak henti melihat tukang cukur. Ke mana tangan tukang
cukur ke situ pula matanya terarah. Begitu ibunya menggendong, Dia berhenti
memainkan nada-nada tinggi karena show itu telah bertemu dengan titik
aman.
“Bang,
mau pangkas kan?” tanya tukang pangkas itu yang baru saja selesai
beres-beres.
“Oh,
iya!” dikira saya mau ikut akting menangis di sini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *