January 21, 2020

Secangkir Kopi Aceh Saja Tak Bisa Dibayar Pakai Uang Elektronik #AmanBertransaksi

“Maaf,
Bang, kami belum bisa menerima pembayaran melalui kartu fla
zz!” tegas kasir dengan jilbab biru
itu
mantap. Rasanya, secangkir kopi langsung terasa pahit meskipun telah
ditambahkan gula lebih dari dua sendok. Hari itu, saya terburu pulang, gerimis
tiba-tiba menggoda siang yang begitu terik. Tak mungkin saya balik ke warung
kopi karena memang tidak ingin.

Saya merongoh kantong dan menarik selembar dari sana namun
belum cukup membayar kopi dalam gelas plastik itu. Dalam hela napas, saya
mengambil dompet kembali yang terlanjur dimasukkan ke dalam ransel dan
menyerahkan uang lima puluh ribuan kepadanya. Saya sungguh ingin tergesa, tak
mau terjebak dalam gerimis namun waktu berkata lain. Begitu saya dorong pintu
minimarket itu, hujan lebat mengguyur tanah yang semula benar-benar kering.
Saya telah terjebak di depan Masjid Agung Baitul Makmur,
Kota Meulaboh. Rintik yang jatuh memutih dengan seindahnya godaan dalam dingin.
Siang berlalu dengan percuma. Kopi panas telah menghangat. Saya menatap ke
jalanan yang biasanya macet itu.

Tak ada pergerakan yang berarti. Cuma,
beberapa saja yang bertaruh dalam dinginnya hujan. Sebagian dari mereka tentu
membawa pulang banyak barang belanjaan. Pusat ekonomi di Aceh Barat adalah di
sini. Namun, transaksi dengan sistem konvensional masih menjadi best seller. Mungkin, karena pola barter
ini yang merakyat, saya tidak mudah menemukan toko maupun minimarket yang mau
menerima pembayaran melalui kartu flazz
atau lebih dikenal dengan uang elektronik.

Tentu, bukan ini pertama kali saya tidak bisa melakukan
transaksi dengan uang elektronik. Minimarket yang terkenal di seluruh Indonesia
ini saja tidak bisa melayani, saya tidak akan mungkin menggunakannya di toko
kecil lain.

Kartu untuk Uang Elektronik Beragam Model

Ngomong-ngomong uang
elektronik yang saya pegang saat ini, hanyalah kebetulan, keberuntungan atau
rejeki tiba-tiba yang saya dapat dari menulis blog. Saya memiliki kartu Flazz BCA dari Bank BCA dan kartu BRIZZI
dari Bank BRI. Kedua kartu ini memiliki fungsi yang sama dan bisa diisi ulang
kembali saldonya melalui ATM atau top up
online
.  

Kartu Flazz BCA dan BRIZZI
Uang elektronik yang tersimpan di dalam kedua kartu saya ini
sama dengan kartu kredit, bedanya cuma terletak pada model penyimpanan uang.
Jika kartu kredit kita bisa berbelanja secara langsung kemudian pembayaran
bulanan diakumulasi. Kartu jenis flazz
ini hanya bisa dilakukan pembayaran jika telah mengisi saldo yang mana maksimal
bisa terisi sampai Rp 1.000.000 untuk kedua kartu yang saya pakai.
Ngomongin
keuntungan, untuk saya yang tidak terbiasa dengan kartu kredit, sering kalap
kalau belanja, uang elektronik yang tersimpan dalam kartu flazz sangat berguna. Saya bisa menekan sistem belanja dan tidak
akan kalut ketika di akhir bulan tagihan dari bank terlampau banyak.

Untuk
sebagian orang yang ingin berhemat, kartu flazz
juga sangat bermanfaat di mana kita hanya akan membelanjakan uang yang telah
tersimpan di dalam kartu saja dan tidak akan ambil pusing dengan tagihan bank
tiap bulannya.

Baca Juga: 

Mengenal Sejarah Baju Cheongsam dan Tips Tampil Cantik Mengenakannya Saat Imlek

Untuk saya yang penghasilannya ‘pas-pasan’ dan sangat ingin
menabung, modal kedua kartu ini sangat optimal saat traveling. Saya cukup mengisi saldo sebelum berangkat dan sampai di
tempat tujuan – seperti Jakarta misalnya– mudah saja belanjakan tanpa perlu
membawa uang banyak di dompet.

Uang Elektronik Mudah Digunakan Di mana-mana

Masyarakat kita masih merasa takut menggunakan kartu kredit karena
akan sedih melihat potongan bank akhir bulan. Saat berbelanja, kita dengan
sukacita menarik ini itu ke dalam keranjang, lupa bahwa akhir bulan potongan
otomatis membengkak.

Pihak bank tentu saja tidak memedulikan hal ini karena
keuntungan di mereka. Namun, masyarakat yang gemar menabung untuk masa depan
mereka akan cuek saja dalam ‘iklan-iklan’ uang elektronik. Bagi mereka, uang
elektronik hanyalah kartu kredit semata.

Saya juga demikian, sebelum Flazz BCA dan BRIZZI tersimpan
dengan baik di dalam dompet, saya bukanlah tipikal orang yang tergoda dengan
rayuan customer service bank. Saya
selalu berujar “Cukup menggunakan ATM saja,” yang mana bisa dihemat secara
pengeluaran.

Namun, setelah Flash BCA dan BRIZZI memudahkan segala aktivitas,
saya mulai berpikir tidak perlu membawa uang cash dalam jumlah banyak saat bepergian. Saya cukup mengisi saldo
keduanya, masing-masing Rp 500.000 yang bisa dipakai untuk beli oleh-oleh atau
secangkir kopi di mal.

Kurangnya sosialisasi bank terkait kartu uang elektronik
mereka ini mungkin saja karena keuntungan yang didapat lebih sedikit. Belum
lagi soal top up tabungan ke dalam
kartu uang elektronik yang lebih ribet tanpa melalui potongan bulanan, sehingga
pengunaan kartu uang elektronik ini lebih sedikit.
Di Meulaboh, tempat yang saya pikir telah lebih modern
setelah ditinggal tsunami 14 tahun lalu, sudah terbuka akses untuk transaksi
melalui uang elektronik ini. Di mana-mana adalah toko ritel yang dikunjungi
banyak orang; terlebih remaja dan mereka yang gemar gaya hidup lebih stylish.

Toko ritel ini tentu saja
menerima pembayaran melalui kartu kredit yang mana kartu uang elektronik
sejenis yang saya pakai juga akan mudah diterapkan.

Kalangan remaja tidak hanya meminum secangkir kopi, mereka
juga gemar belanja tak terkendali sehingga dengan menggunakan kartu uang
elektronik akan membatasi keluar uang jajan dalam jumlah banyak. Remaja yang
gaya hidup mereka sudah mengarah ke kehidupan kota besar akan mendapat porsi
khusus dari orang tua.

Keuntungan Pakai Uang Elektronik untuk Orang Tua dan Anak

Orang tua cuma menyetor ke kartu BRIZZI – sebagai contoh
– dalam sebulan Rp 600.000 yang mana harian adalah Rp 20.000. Anak-anak masa
kini kemudian mengolah uang elektronik mereka dalam batasan itu saja. Namun,
sekali lagi, jika masih kurangnya sosialisasi dari bank terkait, di kota besar
sekalipun hal ini tidak mudah terwujud.

Hidup di daerah memang lebih sulit, meskipun bukan terpencil
di mana hampir 24 jam warung kopi terbuka dengan internet kencangnya. Meulaboh
adalah kota minipolitan yang ekosistem anak muda merambah ke gaya hidup mewah.

Mungkin
saat ini kasir terheran saat saya berbelanja dengan uang elektronik, bukan dari
kartu kredit. Beberapa tahun ke depan, saat bank-bank gencar dengan sosialisasi
mereka, maka di mana-mana adalah anak muda yang mengandalkan uang elektronik
ini untuk membayar ‘gaya hidup’ meskipun hanya secangkir kopi semata.

Masjid Agung Baitul Makmur, Meulaboh
Toko ritel terkenal seperti Indomaret dan KFC belum mampu
memenuhi pembayaran nontunai ini. Saya tidak tahu alasan yang pasti, barangkali
karena kebiasaan masyarakat yang lebih sering menggunakan uang tunai dalam
bertransaksi.

Meskipun Meulaboh adalah kota bekas tsunami, kota ini telah
memenuhi ragam kebutuhan perekonomian. Faktor yang menentukan sebuah kota kecil
tidak mengerti soal pembayaran dengan uang elekronik karena kurangnya
sosialisasi.

Misalnya, bank-bank besar seperti BNI, Mandiri maupun BRI tidak
memberikan pemahaman khusus kepada masyarakat. Masyarakat cuma tahu bahwa
transaksi bisa dilakukan melalui sistem tunai, sebagian mengerti dengan
penggunaan kartu kredit namun belum tentu ada yang paham dalam menggunakan uang
elektronik.

Ketidaktahuan masyarakat soal uang elektronik ini akan
membuat transaksi berkurang melalui jalur tersebut. Program dari Bank Indonesia
saja tidak cukup tanpa dibarengi oleh bank-bank terkait, apalagi di daerah
hanya beberapa bank saja yang berdiri.

Perlu Sosialisasi dari Bank Soal Keuntungan Uang Elektronik

Maka, bank-bank yang berada di bawah naungan
Bank Indonesia seharusnya melakukan sosialisasi terkait aman bertransaksi melalui
kartu uang elektronik. Tanpa sosialisasi, program ini akan berjalan di tempat
atau bahkan hanya mampu dinikmati oleh mereka yang telah terbiasa demikian di
kota besar. Padahal, kehidupan serupa telah terjadi di daerah, bahkan di
Meulaboh yang dulu hancur lebur oleh tsunami.

Perekonomian begitu pesat di Bumi
Teuku Umar ini. Warung kopi ada di mana-mana dengan akses internet cepat. Toko
ritel telah saya sebut menyemarakkan wajah ekonomi kota kecil kami. Belum lagi
SPBU yang berdiri beberapa kilometer saja. Jadi, pembayaran melalui uang
elektronik sangat membantu pertumbuhan ekonomi ke arah lebih baik.

Kenapa saya katakan lebih baik? Saya mengulang apa yang
disebut di atas, saya takut menggunakan kartu kredit karena tidak bisa mengerem
tiap saat mau belanja.

Maka, dengan menggunakan uang elektronik yang dibatasi penyimpanan
uang dalam satu kartu ini bisa menghemat, merencanakan keuangan lebih baik dan
mengatur uang jajan anak-anak yang mungkin saat ini tidak tertulis.

Orang tua
yang terbiasa langsung memberikan uang saat anak meminta, akan terbiasa
memberikan kartu uang elektronik tiap bulan yang telah terisi. Orang tua harus
tegas dalam hal ini di mana tidak akan memberikan lagi uang cash meskipun uang elektronik telah
habis.

Anak pun akan terbiasa membelanjakan uang mereka tiap bulan; kecuali
dalam pengeluaran beli buku, SPP dan lain-lain yang masih berada di ranah uang
tunai.

Secangkir kopi terbalik selalu terasa nikmat.
Makin hari, makin berubah sistem pembayaran. Namun, yang
pasti, secangkir kopi tidak akan pernah lekang. Akan menarik nantinya secangkir
kopi Aceh dibayar dengan menggunakan uang elektronik. Bukankah ini lebih aman
daripada membawa segepok uang tunai lalu lupa disimpan di mana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *